Homoseksualitas Dalam Novel “Supernova” (Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh) Karya Dewi Lestari (Suatu Tinjauan Sosial, Budaya, Moral)

Insting seksual lazimnya terjadi antara pria kepada wanita maupun sebaliknya. Namun, banyak juga didapati keinginan seksual yang menyimpang dari biasanya. Pria menyukai pria dan wanita menyukai wanita. Secara umum mereka dikategorikan sebagai pasangan homoseksual. Wikipedia bahasa Indonesia menjelaskan bahwa:

“Homoseksualitas mengacu pada interaksi seksual dan/atau romantis antara pribadi yang berjenis kelamin sama. Pada penggunaan mutakhir, kata sifat homoseks digunakan untuk hubungan intim dan/atau hubungan sexual di antara orang-orang berjenis kelamin yang sama, yang bisa jadi tidak mengidentifikasi diri mereka sebagai gay atau lesbian. Homoseksualitas, sebagai suatu pengenal, pada umumnya dibandingkan dengan heteroseksualitas dan biseksualitas. Istilah gay adalah suatu istilah tertentu yang digunakan untuk merujuk kepada pria homoseks. Sedangkan Lesbian adalah suatu istilah tertentu yang digunakan untuk merujuk kepada wanita homoseks” (http://id.wikipedia.org/wiki/Homoseksualitas).

Sigmund Freud mengkategorikan mereka yang memiliki insting seksual ke sesama jenis sebagai manusia berperilaku seksual terbalik, atau disebut juga dengan Invert (2003:2-3). Perilaku invert itu sendiri terbagi dalam beberapa jenis, sesuai sifat atau kecenderungan yang dimiliki. Jenis yang pertama adalah mereka yang memiliki kecenderungan terbalik dalam dua arah, atau psychosexually hermaphroditic. Kelompok ini memiliki orientasi seksual secara umum, baik terhadap lawan jenis maupun sesama jenis, sehingga karakter invert mereka tidak menampakkan kekhususannya. Kelompok ini dalam masyarakat kota juga kita kenal dengan sebutan biseksual, misalnya seorang lelaki yang bisa berhubungan seks dengan lelaki ataupun perempuan. Jenis yang kedua adalah mereka yang hanya sesekali saja menampakkan perilaku invertnya, atau occasionally inverted. Kelompok ini menunjukkan karakter invertnya hanya dalam situasi tertentu saja. Misalnya, ketika kebutuhan objek seksual lawan jenis tidak terpenuhi, sehingga mereka memilih sesama jenis sebagai objek pemuasan seksual mereka. Kasus seperti ini banyak terjadi di dalam lingkungan penjara. Banyak tahanan yang menjadi korban sodomi dari tahanan lain dikarenakan tidak adanya pelampiasan seksual kepada lawan jenis. Contoh yang sama juga terjadi di masyarakat metropolitan, demi tujuan-tujuan tertentu, seperti popularitas, uang, dan lain-lain, banyak lelaki yang mempunyai orientasi seksual normal, melakukan hubungan intim dengan seorang homoseks. Di dalam novel Supernova (Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh), Dhimas dan Ruben adalah pasangan Gay. Kedua tokoh ini termasuk dalam kategori ketiga yaitu, absolutely inverted, Freud menjelaskan bahwa:

“Objek seksual mereka harus selalu berasal dari jenis kelamin yang sama. Bahkan bagi kelompok ini, lawan jenis tidak akan pernah mampu menjadi objek kerinduan seksual; lawan jenis hanya akan diacuhkan, bahkan mungkin menumbuhkan rasa jijik. Kemunculan rasa jijik ini, bagi kaum pria, membuat mereka tidak mampu melakukan aktivitas seksual normal atau kehilangan segala kenikmatan dalam melakukannya” (2003:3).

Sejarah homoseksual dunia sudah sangat tua, dahulu kita kenal dengan peristiwa Sodom dan Gomorah yang terdapat dalam alkitab perjanjian lama. Homoseksualitas merupakan praktek universal, dilakukan di mana pun, dan dalam kebudayaan apapun. Bahkan, empat belas dari lima belas kaisar Roma yang pertama adalah gay. Menurut Dede Oetomo, homofilia atau homoseksualitas terdapat di mana saja dalam kehidupan manusia karena secara biologis-psikologis manusia dilengkapi dengan kemampuan untuk melakukan tindakan seks yang jauh lebih banyak macamnya daripada hanya senggama penis dengan vagina. (http://itha.wordpress.com/2007/08/27/menyikapi-masalah-homoseksualitas).

Penggunaan pertama kata homoseksual yang tercatat dalam sejarah adalah pada tahun 1869 oleh Karl-Maria Kertbeny, dan kemudian dipopulerkan penggunaannya oleh Richard Freiherr von Krafft-Ebing pada bukunya Psychopathia Sexualis (-http://id.wikipedia.org/wiki/Homoseksualitas). Di dalam beberapa masyarakat, peran homoseksual bahkan dilembagakan. Seperti pada Suku Koniag, yang mensosialisasikan beberapa anak laki-laki sejak bayi untuk mengisi peran
wanita. Di kalangan Suku Siwan di Afrika, semua laki-laki dan anak laki-laki
diharapkan melakukan senggama anal dan ganjil bila tidak melakukannya (http://digilib.petra.ac.id/ads-cgi/viewer.pl/jiunkpe/s1/ikom/2006). Suku Dayak Ngaju mengharuskan tetua yang dipilih adalah seseorang yang berhubungan seks dengan sesama jenis kelamin. Pelembagaan Homoseksual yang kebanyakan terjadi pada masyarakat yang memiliki sedikit surplus sosial, identik dengan masalah produksi kebutuhan material masyarakat itu sendiri. Jumlah penduduk berlebihan pada kehidupan masyarakat yang masih memiliki metode kerja manual dan teknologi sederhana, akan menyebabkan kebutuhan material dengan jumlah penduduk mengalami ketimpangan. Hal ini menyebabkan munculnya mitos-mitos seputar masalah biologis yang melembagakan hubungan sesama jenis, dan melemahkan peranan hubungan heteroseksual, demi mengendalikan populasi penduduk.

Salah satu contoh suku bangsa Etoro, sebuah kelompok masyarakat yang bermukim di daerah Trans-fly Papua New Guinea, dengan jumlah penduduk sekitar 400 jiwa. Pandangan dan perilaku seksual orang Etoro berhubungan dengan kepercayaan-kepercayaan di sekitar siklus kelahiran, pertumbuhan fisik, kedewasaan, ketuaan, dan kematian (-http://www.e-samarinda.com/forum/index.). Kebudayaan Etoro menganggap perempuan adalah mahluk berbahaya dan tercemar, sehingga aktifitas persenggamaan bagi mereka adalah perilaku kotor. Hubungan seks heteroseksual hanya dilakukan untuk keperluan reproduksi, itu pun diperbolehkan hanya 100 hari dalam setahun. Di luar itu, persenggamaan dengan lawan jenis dianggap tabu. Mereka juga percaya anak-anak muda pria belum bisa menghasilkan spermanya sendiri, untuk itu membutuhkan sperma secara oral dari laki-laki yang lebih tua. Orang Etoro yakin sperma lelaki bisa memberi kekuatan hidup. Walaupun persenggamaan tidak disukai, aktifitas homoseksual diperbolehkan bahkan dianggap penting. Jadi, kehidupan homoseksual masyarakat seperti itu tidak didasari oleh dorongan patologi biologis, faktor genetika, atau hubungan emosional, tetapi lebih didasari oleh faktor kebudayaan, tradisi, yang memiliki kaitan erat dengan kondisi produksi material.

Sejak peristiwa Stonewall tahun 1969 yang dikenal sebagai peristiwa pembangkangan kaum homoseksual dalam memperjuangkan hak-haknya, yang juga bersamaan dengan gelombang kedua gerakan perempuan, homoseksual menjadi gerakan yang nyata, tidak lagi sembunyi-sembunyi, dan secara serius mulai menjadi bahan kajian studi sosial budaya. Di beberapa Negara tertentu seperti Belanda dan Kanada, pasangan homoseksual sudah bisa meresmikan ikatan hubungan mereka dalam pernikahan. Di Indonesia sendiri, homoseksual dalam beberapa tahun terakhir mulai berani dieksplorasi lewat media-media komunikasi massa, sebagai masalah sosial yang mau diterima atau tidak memang ada di sekitar kita. Contohnya lewat film dan karya sastra. Selain Supernova “Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh”, novel-novel Indonesia lainnya yang mengangkat homoseksualitas antara lain, “Relung-Relung Gelap Hati Sisi” karya Mira W, dan “Manusia-Manusia” karya Bagus Utama. Sejak zaman Balai Pustaka dan Pujangga Baru, para pengarang masih menganggap tema ini adalah tabu untuk ditampilkan dalam karya sastra. Sampai sekarang pun, meski tidak setabu dahulu, sastrawan yang mengangkat masalah tersebut masih tergolong minim.

Secara umum harus diakui bila fenomena gay memang masih dianggap menyimpang dalam masyarakat Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan tidak adanya angka resmi mereka yang menyatakan diri sebagai gay. Agama-agama yang ada di Indonesia sendiri memang menentang keberadaan homoseksual. Masyarakat kita seolah masih terjebak pada dualisme antara ingin menolak fenomena kaum tersebut, dan harus menerima kenyataan bahwa mereka ada di tengah-tengah kita.

Di kota metropolitan seperti Jakarta, kaum pencinta sesama jenis sudah cukup bisa diterima dan bukan lagi menjadi sesuatu yang aneh di mata sebagian besar masyarakat. Salah satu faktor penyebabnya adalah banyaknya media audio visual yang merupakan sumber informasi paling besar bagi masyarakat, sudah sering mengangkatnya sebagai masalah sosial. Tetapi, di sisi lain eksistensi mereka memang seringkali ditanggapi dengan respon negatif. Di dalam kehidupan sosial sehari-hari kaum homoseksual sering kita jumpai memiliki profesi yang dianggap remeh masyarakat. Pekerja seks, atau keahlian-keahlian lain yang berhubungan dengan penampilan luar. Masyarakat beranggapan seorang homoseks tidak bisa melakukan apapun, selain hanya bisa mengumbar dan memuaskan dorongan seksual mereka. Tidak perlu heran bila keberadaan kaum homoseksual sering ditertawakan. Bahkan, belakangan dijumpai seorang homoseksual melakukan pembunuhan berantai dengan memutilasi korbannya. Contoh-contoh tersebut, mengakibatkan penempelan sebuah stigma sulit untuk dihindari. Kaum homoseksual dikutuk, dijauhi, bahkan ditakuti. Masyarakat kita seolah mengalami kebencian besar terhadap mereka.

Menurut Prof. Dr. Dadang Hawari, (http://muhsinlabib. Wordpress.com/2007/07/19/homoseksualitas-kawin-sejenis-atau-ganti-kelamin), perilaku homoseksual tidak hanya diakibatkan oleh faktor natural semata seperti kelebihan hormon, namun juga merupakan problema psikologis (kejiwaan), sebagai akibat dari interaksi dan komunikasi bebas serta hilangnya pembatas moral antar lawan jenis.
Ia menambahkan, ada dua faktor utama yang menjadi penyebab homoseksualitas. Pertama adalah pengalaman traumatik di masa lalu, misalnya seseorang pernah menjadi korban sodomi, sehingga ia ingin membalas apa yang telah dialami kepada orang lain. Itu sebabnya homoseksualitas kerap dianggap sebagai penyakit menular. Kedua, pengaruh budaya dan komunikasi yang bebas. Fenomena seperti ini sering terjadi di kalangan selebritis. Misalnya, para artis, pada saat akan melakukan pertunjukan, shooting film ataupun show lainnya, harus berganti busana dalam waktu yang singkat karena kejar waktu, meski harus ‘telanjang’ di hadapan lawan jenisnya. Intensitas kontak indra yang sering, membuat mereka menjadi bosan dengan pemandangan ini dan mencari ’sensasi’ baru dengan melepaskan kecenderungan biologisnya kepada sesama jenis yang mengalami hal serupa. Tetapi contoh tersebut tidak sepenuhnya benar, karena seorang lelaki yang telah menikah bisa dibilang setiap hari melihat istrinya tanpa pakaian, namun ia tidak mengalami kejenuhan apalagi sampai berubah orientasi seksualnya. Pengaruh lingkungan keluarga juga bisa menjadi penyebab, misalnya seorang anak laki-laki dididik dan diperlakukan sebagai perempuan oleh orangtua dikarenakan keinginan untuk memperoleh anak perempuan yang tidak kesampaian.

Novel ini mengangkat sisi minor, atau sisi yang jarang dilihat dari kaum homoseksual. Lewat teks, pengarang ingin menjungkirbalikkan anggapan-anggapan negatif masyarakat yang telah menjadi stereotip tadi. Kaum homoseksual tidak selamanya seperti yang mereka pikirkan, tetapi banyak juga dari mereka yang menjadi pemikir dan memiliki visi yang hebat di bidangnya. Bahkan tokoh-tokoh besar dunia seperti Plato, Foucault, Alexander The Great, dan Leonardo Da Vinci adalah seorang gay. Di sini pengarang mencoba menekankan bahwa kaum pencinta sesama jenis juga sama seperti manusia-manusia lainnya, sama-sama bisa berpikir, mengkreasikan sesuatu, menciptakan konsep-konsep atau pemikiran-pemikiran yang cerdas, dan lain sebagainya, yang membedakan hanyalah bahwa mereka memiliki kecenderungan seksual bertolak belakang dengan manusia lainnya. Kaum gay juga memiliki sifat setia dan selalu ingin melindungi pasangannya. Sesuatu yang sudah jarang didapati dalam masyarakat heteroseksual. Berbeda dengan karakter kaum homoseksual yang umumnya memiliki orientasi utama pada pemuasan nafsu seks, Dhimas dan Ruben digambarkan sebagai sosok yang berbeda:

“Uniknya, sekalipun sudah sekian lama mereka resmi menjadi pasangan, Ruben dan Dhimas tak pernah tinggal seatap sebagaimana pasangan gay lain. Kalau ditanya, jawabannya: supaya bisa tetap kangen. Tetap dibutuhkan usaha bila ingin bertemu satu sama lain” (2001:13).

Dari kutipan tersebut bisa dilihat paradigma kedua tokoh yang mempunyai carapandangnya sendiri terhadap makna sebuah hubungan yang harmonis. Mereka menganggap bahwa hubungan yang mesra tidak hanya sekadar terekspresikan lewat hubungan seksual belaka. Hal ini berkaitan juga dengan wawasan dan kecerdasan yang dimiliki. Dhimas dan Ruben ditampilkan sebagai sosok berwawasan luas dan tergila-gila dengan ilmu pengetahuan. Hal ini bisa dilihat dari latar belakang pendidikan mereka yang tidak sembarangan. Ruben adalah seorang dokter lulusan Johns Hopkins Medical School dengan predikat cum laude. Sedangkan Dhimas mengenyam studi perguruan tingginya di George Washington University bidang ilmu sastra inggris. Hubungan mereka terjalin semenjak saling mengenal ketika menempuh studi perguruan tinggi di Washington DC. Tingkat pemikiran mereka yang di atas rata-rata tercermin dalam kutipan berikut ini:

“Dan Ruben pun masih tetap pahlawan Dhimas yang dulu. Si Indo-Yahudi bersemangat tinggi yang selalu sibuk menggabung-gabungkan ilmu psikologi dengan teori-teori kosmologi yang Cuma bisa ia mengerti sendiri. Ruben yang selalu menyebut dirinya sang psikolog kuantum. Kobaran semangatnya mampu menyalakan tungku banyak orang. Dengan ide-ide yang segar, Ruben adalah inspirator sekaligus kritikus paling sempurna buat Dhimas. Tak ada tulisan ataupun naskahnya yang tidak lebih dulu terplonco diskusi panjang dengan Ruben” (2001:12).

Lewat kutipan tersebut bisa dilihat bagaimana kualitas konsep berpikir kedua tokoh itu. Walaupun dalam hal ini tampak bahwa Ruben yang lebih dominan. Bisa kita lihat pula bahwa hubungan keduanya tidak hanya sebatas hubungan emosional, tetapi lebih dari itu, Dhimas dan Ruben masing-masing menganggap pasangannya sebagai partner hidup, tempat bertukar pikiran, tempat saling membelajarkan. Cara pandang seperti itu yang mengantarkan mereka pada sebuah cita-cita besar, yakni membuat sebuah roman masterpiece yang menghubungkan semua percabangan ilmu sains. Dengan latar belakang intelektualitas tinggi, cita-cita tersebut menjadi wajar dan masuk akal bagi keduanya. Proses penggarapan roman tersebut melahirkan tokoh-tokoh lainnya dalam novel ini. Supernova “Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh adalah cerita di dalam cerita. Pada beberapa bagian Dhimas dan Ruben berperan sebagai pencerita dalam novel.

Sigmund Freud mengatakan, para invert juga menampakkan perilaku yang berbeda-beda dalam menilai keganjilan insting seksual mereka (2003:4). Sebagian pelaku invert menganggap kecenderungan seksual atau libido yang mereka miliki adalah sesuatu yang wajar, sama halnya dengan mereka yang bukan invert, sehingga mereka menuntut perlakuan yang sama dalam lingkungan sosial. Namun, sebagian lagi bagaimanapun juga mengganggap ada yang tidak normal dengan dirinya, dan berusaha mengeluarkan diri dari karakter invert mereka. Di dalam novel ini Dhimas dan Ruben adalah pelaku invert yang mengganggap kecenderungan seksual mereka sesuatu yang wajar. Mereka samasekali tidak memusingkan apakah libido yang mereka miliki tersebut menyimpang atau tidak. Bagi mereka eksistensi seorang manusia tidak perlu dilihat dari asal-usul kecenderungan seksualnya. Sebagai manusia yang berpendidikan, mereka lebih memilih untuk sibuk mengurusi ilmu pengetahuan dan membuat sebuah karya monumental yang menggabungkan beberapa cabang ilmu sains.

Ada dua term utama dalam wacana homoseksualitas modern, berkaitan dengan tingkat keterlibatan kaum homoseks di dalam masyarakat secara umum maupun di lingkungan homoseks secara khusus, yaitu ‘closet’ (kloset) dan ‘coming out’ (keluar). Nuraini Juliastuti menjelaskan bahwa:

“Term 'kloset' digunakan sebagai metafor untuk menyatakan ruang privat atau ruang subkultur dimana seseorang dapat mendiaminya secara jujur, lengkap dengan keseluruhan identitasnya yang utuh. Sedangkan term 'coming out' digunakan untuk menyatakan ekspresi dramatis dari 'kedatangan' yang bersifat privat atau publik. Pemakaian term 'closet' dan 'coming out' disini bermakna sangat politis. Narasi 'coming out of the closet' menciptakan pemisahan antara individu-individu yang berada didalam dan diluar kloset. Kategori yang pertama diberi makna sebagai orang-orang yang menjalani hidupnya dengan kepalsuan, tidak bahagia, dan tertekan oleh posisi sosial yang diterima dari masyarakat. 'Kloset' kemudian bermakna strategi akomodasi dan pertahanan yang diproduksi untuk menghadapi norma-norma masyarakat heteroseksual di sekitarnya” (http://www.kunci.or.id/esai/nws/05/gay.htm).

Seperti dikatakan di atas, dikotomi dua term tersebut sarat dengan nuansa politis budaya heteroseksual, yang bertujuan untuk melestarikan keterpencilan dunia homoseksual dengan realitas kehidupan sehari-hari. Di dalam hal ini, ‘closet’ kemudian bermakna sebagai strategi akomodasi dan pertahanan yang diproduksi untuk menghadapi norma-norma masyarakat heteroseksual di sekitarnya (http://digilib.petra.ac.id/ads-cgi/viewer.pl/jiunkpe/s1/ikom/2006). Strategi represif yang diterapkan masyarakat heteroseksual untuk mengeluarkan homoseksual dalam kehidupan masyarakat melahirkan istilah ‘Closet Practice’. Strategi ini mulai dilakukan sejak tahun 1940-an, dan semakin intens berkembang pada dekade 1950-an dan 1960-an. Di dalam Supernova “Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh”, meski tidak secara langsung, sosok Dhimas digambarkan sebagai seorang homoseks yang masih berada di bawah bayang-bayang term ‘closet’ ini. Saat perkenalan pertamanya dengan Ruben, Dhimas terkesan ragu untuk mengakui kalau dirinya seorang homoseks, seperti dalam kutipan berikut:

“Ruben... katamu tadi, serotonin adalah deterjen otak?”
“Itu baru hipotesis, atau Cuma metafora. Kenapa?”
“Bisa jadi kamu benar. Kepalaku juga rasanya jernih. Aku kok jadi ingin jujur tentang sesuatu. Tentang diriku,” terdengar suara menelan ludah, “aku sebenarnya...”
“Gay?”
Dhimas terlongo. “Lho, gimana kamu bisa...?”
Ruben tertawa keras. “It was so obvious! Dari teman-teman hang out kamu, apartemen kamu yang katanya di Dupont Circle... dan kamu harus fly dulu untuk ngaku? Ha-ha-ha!”(2001:11).

Sebelum Dhimas hendak berkata jujur bahwa dirinya Gay, Ruben telah lebih dulu mengetahuinya setelah mengamati ciri-ciri dan kebiasaan yang dilakukan Dhimas. Setelah berkenalan dengan Ruben, Dhimas seolah merasa menemukan seorang teman sekaligus pahlawan yang sejati, yang memberinya kepercayaan diri sebagai seorang homoseks. Berbeda dengan Dhimas, Ruben digambarkan lebih berani menampilkan diri sebagai Gay, dijelaskan pula ia telah setahun ‘coming out’, seperti terdapat pada lanjutan kutipan tadi:

“Dhimas ikut terbahak. Merasa konyol.
“Tenang saja. Memangnya aku bukan?” Ruben berkata enteng.
Untuk kedua kalinya Dhimas terlongo. “Tidak mungkin... kamu kelihatannya sangat...”
“Sangat ‘laki? Siapa bilang jadi gay harus klemak-klemek atau ngomong pakai bahasa bencong! Gini-gini aku sudah ‘coming out’ dari setahun yang lalu. Orangtuaku juga sudah tahu. Malah mereka sudah kompak, katanya kalau sampai aku dipanggang di neraka bersama para pemburit seperti nasib Sodom dan Gomorah, mereka bakal minta ke Yahweh untuk ikut dibakar. Soalnya kalau aku dianggap produk gagal, berarti mereka juga. Hebat, ya?” (2001:11).

Ada banyak faktor yang menyebabkan seorang homoseks tetap setia hidup di bawah term ‘closet’. Misalnya, mereka takut ditolak dalam lingkungan sosialnya seperti lingkungan keluarga, pergaulan, dan lain-lain, sehingga mereka memilih hidup dengan dunianya sendiri dan tetap merasa nyaman dengan kepura-puraannya. Hal ini disebabkan masih begitu kuatnya masyarakat heteroseksual merepresi keberadaan mereka. Selain dampak sosial banyak juga kerugian-kerugian lain, misalnya dampak ekonomi, seperti contoh ketika seorang pengusaha yang mengatakan dengan jujur kalau dirinya gay, bisa saja ia kehilangan karirnya karena lingkungan pekerjaan yang tidak bisa menerima keberadaan gay. Namun, banyak juga yang dengan berani ‘coming out’ atau menyatakan sikap sebagai seorang homoseks kepada masyarakat luas. Dengan ‘coming out’ orang lain akan tahu bahwa di tengah-tengah mereka terdapat kaum minoritas homoseksual, yang benar-benar ada, namun seperti tidak terlihat. ‘Coming out’ sendiri adalah sebuah proses, di mana seorang homoseks akan melewati tahapan-tahapan tertentu, hingga eksistensi dirinya diterima di lingkungan masyarakat. ‘Coming out’ bisa dilakukan dengan sengaja, atau bisa juga tidak. Pada kasus Dhimas, sesungguhnya secara tidak sengaja ia telah melakukan ‘coming out’ lewat kebiasaan-kebiasaan dirinya yang secara tidak sadar diamati oleh orang lain, yang membuat orang lain tahu kalau ia seorang gay, meskipun hal tersebut tidak diungkapkannya secara verbal. Berbeda dengan Ruben yang melakukan ‘coming out’ atas dasar kesengajaan atau melalui pilihan sikap dirinya.

Respon orang-orang di sekitar bisa bermacam-macam dalam menyikapi seorang homoseks yang melakukan ‘coming out’. Ada yang menanggapinya dengan bijaksana tanpa sikap negatif untuk meminggirkannya, seperti sikap keluarga Ruben saat mengetahui kalau dirinya seorang homoseks. Orangtuanya tidak merasa malu atau menyesal telah memperoleh seorang anak yang ternyata gay. Bahkan, mereka membela mati-matian keberadaan Ruben. Namun, tak jarang juga kita dapati tindakan ‘coming out’ yang ditanggapi dengan respon negatif. Seperti orangtua yang begitu mengetahui anaknya homoseks, merasa malu dan mengucilkannya dalam lingkungan keluarga, atau teman-teman yang mendadak memusuhi begitu mengetahuinya.

3 komentar:

Witho 28 Agustus 2010 13.00  

nah ini dia topik yang luar biasa menarik: homoseksualitas!

Luar biasa kemampuan menulis bung Dean. Ribuan kata dalam satu posting blog.

Salut!

Mengingatkan saya akan sosok seorang penulis Nanusa.

Dean Joe Kalalo 28 Agustus 2010 22.47  

ha..ha.., ini tulisan penggalan qt pe skripsi wit,... wajarlah kalu panjang...

Anonim 25 April 2011 08.23  

aku gay term, sebenarnya aku mau mengungkapkan kepada semua org klo aku gay tp aku takut gax di terima masyarakat, menurut kalian gmana?

Poskan Komentar