Ketika mendengar rencana kedatangannya ke Indonesia menuai kecaman, Maria Ozawa naik pitam.
“Bangsat, biadab, ini penghinaan besar” bibir seksinya tarik ulur meluap amarah.
“Ini pencemaran nama baik, penghinaan harga diri, pelanggaran hak asasi artis, dan yang terutama, penghinaan terhadap bangsa Jepang” bentak Maria Ozawa.
“Sabar Non, tenang, jangan terlalu ditanggapi serius, wajarlah kalau pro dan kontra itu ada, Non kan artis besar?” asisten pribadinya berusaha mendinginkan.
“Justru di situlah letak kepopuleran Non, mana mau orang-orang kampungan itu mengecam kalau Non hanyalah artis picisan” lanjut asistennya. Mendengar perkataan lelaki setengah maskulin yang telah bertahun-tahun mendampinginya Maria Ozawa sedikit bisa meredam emosi. Ia kembali menempelkan pantatnya di permukaan sofa empuk lalu menyalakan sebatang rokok. Tampak dua belah paha putihnya yang semulus sutra menganga begitu saja. Di saat santai seperti ini ia memang gemar mengenakan pakaian terbuka. Ia tak perlu khawatir diperkosa karena pemandangan indah ini sedikitpun tak akan membangkitkan libido asistennya yang lebih doyan kaum Adam.
“Apa saja jadwalku hari ini?” tanya Maria. Asistennya mengecek laptop di hadapannya.
“Eh, kebetulan agenda hari ini kosong Non”
“Bagus, kita ke Indonesia sekarang”
“Lho, kan jadwal syuting filmnya bulan depan Non?”
“Diam! Cepat pesan tiket pesawatnya sekarang” Sahut Maria dengan nada geram.
Beberapa jam kemudian pesawat nyaris menghampiri bandara Soekarno-Hatta. Rupanya berita kedatangannya telah secepat angin menyebar ke seluruh pelosok tanah pertiwi. Segerombolan wartawan TV, Radio, Koran, Infotaiment sudah siap siaga menyambutnya di gerbang bandara. Tak luput pula pada bagian lain beberapa kelompok masyarakat yang menentang kedatangannya tengah bersiaga menanti sang ratu porno asia memijakkan kaki.
Kerlap-kerlip lampu kamera dan teriakan histeris menggema begitu Maria Ozawa melewati pintu depan bandara. Maria hanya melemparkan senyum tipis sembari terus berjalan dengan santai, lalu memasuki sebuah Taxi. Asisten pribadinya sibuk menghadang para wartawan yang mulai meninju Maria Ozawa dengan deretan pertanyaan.
“Kita kemana ya?” tanya supir taxi dengan lagak bodoh. Mungkin ia tak menyangka ada gadis secantik itu di dalam taxinya. Ia juga tak tahu kalau perempuan mulus itu adalah bom sex Asia yang begitu masyhur namanya.
“Jalan dulu pak” perintah Maria.
“Iya, jalan dulu pak asal jangan lewat bundaran HI ya?” sambung asistennya.
“Kenapa tidak boleh?” tanya Maria.
“Eh, begini Non, saya baru menerima informasi kalau di sana telah dipenuhi beratus-ratus orang yang menentang kunjungan Non Maria ke sini”
“Oh, begitu, kita ke sana skarang pak” perintah Maria Ozawa pada supir.
“Tapi Non...”
“Diam!, jangan banyak membantah, nanti saya pecat kamu!”
Dengan santai taxi meluncur ke arah bundaran HI. Ketika mendekati tempat itu hiruk pikuk manusia mulai menyesaki jalan. Bermacam-macam poster dan spanduk yang mencaci maki Maria Ozawa tampak tersebar di seluruh penjuru. Rupanya massa telah mengetahui kalau Maria Ozawa berada di dalam taxi itu. Orasi-orasi yang mencaci maki dirinya semakin meriuh.
“Pergi kau, jangan kotori negeri kami. Pergi kau perusak moral” teriak pemimpin demo lewat mikrofon.
“Sebaiknya kita berbalik saja Non” sahut asistennya yang mulai ketakutan dengan rombongan massa yang tampak beringas itu.
“Jalan terus pak” Maria Ozawa tetap santai dengan sebatang rokok nangkring di bibirnya. Taxi tetap menembus kerumunan orang lalu kemudian berhenti di sekitar bundaran HI. Teriakan-teriakan dan makian semakin gencar terdengar. Maria Ozawa membuka pintu taxi dan melangkah turun. Keributan massa semakin tak terkendali. Namun Maria tak ambil peduli. Ia melangkah dengan santai ke arah pemimpin demo yang berdiri gagah di atas mobil open kap. Begitu melihat Maria tetap tenang dan tak ambil pusing dengan teriakan-teriakan mereka, suasana mendadak hening. Dengan mata tajamnya Maria menatap satu persatu wajah mereka. Entah terhipnotis dengan kecantikannya mereka pun tetap diam dan terpaku seperti mayat hidup.
“Apa yang kalian lakukan kawan-kawan?. Cepat usir dia dari sini” tukas pemimpin demo.
“Diam kau!!!” potong Maria Ozawa cepat. Ia lalu naik ke atas mobil open kap dan merampas megafon di tangan sang pemimpin demo. Lagi-lagi lelaki itu dibuat tak berdaya bahkan tampak linglung ketika Maria menohoknya dengan tatapan tajam.
“Selamat sore semuanya” sapa Maria Ozawa.
“Sore..”. jawab rombongan massa dengan setengah malu-malu.
“Kedatangan saya hari ini di negara anda bukan untuk kepentingan syuting film. Saya sudah mendengar selintingan kabar yang mengatakan bahwa saya tidak diterima negeri ini. Apakah hal itu benar!!!!?” ujar Maria Ozawa bak Soekarno era pasca kemerdekaan. Rombongan massa hanya diam membisu. Mereka yang sebelumnya begitu berkoar-koar mendadak ciut dan tampak pengecut.
“Saya juga mendengar kabar bahwa rencana kedatangan saya ke sini telah membuat heboh dan penuh dengan kontrovesi. Selama beberapa jam dalam perjalanan di pesawat saya terus menerus-merenungi hal ini. Renungan itu telah membuat saya tergugah dengan semangat kalian. Saya terharu dan hampir menangis. Ternyata walaupun negara kalian dalam keadaan terpuruk, diteror kemiskinan, korupsi di mana-mana, namun kalian masih sempat mengurusi masalah-masalah sepele ini. Kalian tahu? di negara asal saya Jepang. Saya hampir tidak dipedulikan sama-sekali. Orang-orang di sana terlalu sibuk berpikir, bekerja, dan berkreasi. Mereka terlalu angkuh untuk memperhatikan saya yang hanya bintang porno ini. Mereka selalu mengurusi hal-hal besar. Memang sih, mental seperti itu telah membuat Jepang menjadi bangsa besar, kaya, maju, bermoral, dan berkepribadian kuat. Tapi bagaimana dengan kami publik figur? Kami juga kan butuh perhatian. Namun memang menyedihkan nasib kami, di negara sendiri kami tidak dipedulikan sama sekali. Film-film yang saya perankan hanya menjadi tontonan di waktu senggang yang mereka anggap sekedar karya seni belaka. Saya benar-benar terharu ketika kedatangan saya hari ini disambut ratusan orang dengan sangat meriah seperti ini. Rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya saya ucapkan kepada kalian. Karena walaupun hanya bintang porno, kalian masih memperhatikan saya. Sekali lagi terima kasih”
Wajah Maria Ozawa tampak memelas. Setelah selesai berbicara ia turun dari mobil dan melangkah pergi. Kerumunan massa di sekitar tempat itu tetap diam tanpa kata. Dengan wajah bodoh mereka terbengong-bengong mendengar curhat sang bintang porno. Entah apa yang ada di dalam hati mereka. Malu?, terharu?, marah?. Entahlah............
Perkamil, 18 Oktober 2009......
Miyabi
Label: Cerpen
TAK ADA PAHLAWAN UNTUK INDONESIA
(monumen untuk Munir, Widji Thukul, serta seluruh pencetak cermin yang lenyap di negeri darah)
Wahai Indonesia,
Panggung sandiwara megah
lakon-lakon terpentas gagah
Skenario tersaji indah
Wahai Indonesia,
Rakyatmu penonton setia
Yang tak kunjung tercekik bosan
Walau wajahmu
Seperti film India
Di mana malumu Indonesia?
Kau telanjang di sana
Namun masih melenggok manja
Terus berkata,
“jaketku berwarna cerah”
Sudahlah, Indonesia
Kau bukan lagi balita
Terus sok melucu meski telah renta
Kenakan jubahmu
Jangan sok seksi
Seperti Maria Osawa
Tolonglah Indonesia
Bebaskan rakyatmu
Yang terus-menerus membeli kebenaran
Seperti transaksi DVD porno bajakan
Jangan lagi pengecut Indonesia
Marilah bercinta
kibarkan kelaminmu di udara
Meski gegarnya tak selincah
Peluru negeri eropa
Indonesiaku
Jangan lagi kau tipu diriku
Dengan berita-berita palsu
Yang membuatku gemas itu
Indonesiaku
Jangan lagi kau bunuh pahlawanmu
Cuma karena memajang cermin
di depan wajah kusammu
Aku mohon padamu
Sungguh
Januari 2008
Label: Puisi
Musik Lahir Dari Ketidakpuasan
Semua orang suka musik, Pasti. Tak terhitung alasan yang bisa dibenarkan mengapa kita semua menyukai salah satu bentuk seni paling agung yang diberikan Tuhan ini. Ada yang hanya sekadar suka, ada pula yang memvonisnya sebagai hobi, bahkan ada yang sampai rela menghabiskan bahtera hidupnya hanya untuk berkarya di bidang ini. Manusia memang secara alamiah menyukai keindahan. Media paling awal yang dapat merangsang naluri ini adalah musik. Bahkan, seorang bayi sudah dapat menikmati musik sejak masih dalam kandungan.
Perkembangan musik dunia memasuki puncak kemegahannya pada dekade 60-an. Sejak saat itu musik tidak saja hanya sekadar sebuah karya estetis yang menghibur, melainkan tersulap menjadi sebuah industri mengesankan yang mendobrak paradigma konvensional pada waktu itu. Ditandai dengan kemunculan The Beatles, supergrup paling fenomenal yang pernah ada. Musik bahkan menjadi senjata untuk meruntuhkan nilai-nilai tradisi yang dianggap konservatif dan tidak relevan lagi dengan kehidupan yang telah memasuki era modern. Musisi-musisi yang semula diremehkan keberadaannya karena dinilai sebagai profesi yang tidak mensejahterakan, saat itu mulai mendapat tempat terhormat dimata dunia. Tanpa mengesampingkan sang raja Rock and roll ‘Elvis’, Dalam hal ini kita patut berterimakasih pada The Beatles, empat pemuda asal liverpool yang nekat menuruti kata hati sebagai wujud pencurahan ekspresi terlarang pada masanya.
John Lennon pada masa kecilnya bahkan pernah berucap, ibuku akan memungut kembali puisi-puisi laguku yang ia buang ketempat sampah, setelah aku populer nanti. Sebuah pernyataan yang bagi saya jauh dari kesan lelucon bila melihat kepopuleran John Lennon beberapa tahun setelahnya. Orang tua-orang tua pada waktu itu selalu ingin menyekolahkan anaknya setinggi mungkin dengan harapan kelak bisa menjadi Dokter, BisnisMan, pengacara atau profesi-profesi lain yang mampu menghidupi dan meningkatkan nama baik keluarga. Tentu saja ibunya mencak-mencak melihat John Lennon cilik enggan sekolah dan lebih memilih berdiam diri dikamar sambil menulis lirik-lirik lagu. Namun pilihan yang berani serta kejeniusannya membuat karyanya terus abadi sampai saat ini.
Ya, berani menentukan pilihan. Dalam bidang apa pun setiap revolusi memerlukan orang-orang yang berani menentukan pilihannya. Dari kancah negeri sendiri masih teringat bagaimana Koes Plus dipenjarakan oleh presiden Soekarno lantaran jenis musik yang dibawakan dianggap terlalu kebarat-baratan. Benarkah seni ada batasnya ?
Memang benar kata-kata adalah senjata yang lebih menyayat ketimbang pisau belati. Dengan kata-kata dalam lirik lagunya tercatat sejumlah musisi tanah air diberangus oleh kaum penguasa. Sebut saja Iwan Fals atau Ebiet G Ade. Padahal mereka hanya mencoba jujur dalam berkreatifitas. Ketakutan tak jarang menimbulkan perilaku yang munafik. Dan penguasa adalah sumber ketakutan paling horor pada waktu itu.
Demam The Beatles memunculkan motivasi untuk timbulnya kelompok-kelompok musik yang mempunyai titik berangkat serupa, yaitu ketidakpuasan dengan apa yang sudah ada. Maka lahirlah The Doors, Rolling Stone, The Who, dan lainnya, untuk ikut memberanikan diri mengambil bagian dalam industri ini. Remaja-remaja saat itu mengalami imbas besar-besaran yang berpengaruh pada perubahan gaya hidup. Mereka seperti teracuni dengan tren musik yang berkembang karena kelompok-kelompok musik tersebut tidak hanya merefleksikan karya-karya mereka, melainkan menawarkan sebuah lifestyle baru yang segera mewabah dikalangan anak muda karena dianggap mengaspirasikan hasrat mereka yang lama terpendam. Imbas negatifnya, berbagai jenis narkoba merajalela, free seks sana-sini, semangat memberontak seperti terlecut dan mereka menuntut kebebasan seluas-luasnya. Nama-nama seperti Jimi hendrix, Janis joplin, Led zeppelin, bisa dikatakan sebagai avant garde dalam euforia ini. Setiap pertunjukan yang disuguhkan, tak luput dari bumbu-bumbu yang telah disebutkan diatas.
Pink Floyd, grup besar beraliran progresif rock, mewajibkan setiap penonton yang menyaksikan konser mereka untuk mengkonsumsi ganja terlebih dahulu, Agar dapat menikmati betul setiap lagu yang mereka suguhkan. Atau pentolan-pentolan The Beatles yang membagikan secara gratis LSD, sebuah jenis obat bius, saat konser mereka berlangsung. Hal-hal tadi hanya sebagian kecil dari kenakalan-kenakalan mereka. Belum lagi Jim Morison, bintang maha besar grup The Doors yang bermasturbasi ria di atas panggung. Keusilannya ini bahkan menghantarkan Morison berurusan dengan kepolisian. Ia kemudian mendekam dibalik terali besi karena perbuatan ini. Musik khususnya Rock and roll adalah sesuatu yang mempunyai daya magis tinggi. Bagaikan bola-bola api yang memporak-porandakan segala bentuk yang sifatnya normatif.
Rock and roll menuju ke tahap lebih garang pada era 80-an. Tampaknya Rolling stone, Deep purple, Led zeppelin, di masa puncak mereka, cukup berhasil memanas-manasi anak-anak muda yang masih hijau untuk melestarikan lantunan hingar-bingar mereka. Tidak hanya itu, seolah kurang puas oleh pendahulunya, pewaris-pewaris ini semakin liar berkarya dengan komposisi musik yang lebih menggetarkan telinga. Pada masa ini eksplorasi teknik gitar semakin menjadi-jadi. Muncullah grup-grup baru dengan gitaris-gitaris handal. Angus Young bersama AC DC, Joe Satriani, Steve Vai, Kirk Hammet, hingga Paul Gilbert bersama Mr Big, semuanya secara gagah berkreasi dengan mengatasnamakan panji Hard rock dan Heavy metal.
Boleh dibilang inilah masa klimaks dari perjalanan mengeksplorasi kegilaan musik rock hingga tahap tertinggi. Banyak aliran-aliran baru bermunculan. Death metal, grind core, thrash, dengan aksi-aksi panggung yang semakin gahar.
Tapi apakah rock selalu butuh teknik ?. Ternyata tidak.
Jenuh dengan liukan-liukan melodi yang menyayat, seorang remaja berlatar belakang suram asal Seattle merasa terusik. Bermodalkan kemauan keras serta dua orang teman yang berjiwa serupa, Kurt Cobain mengibarkan aliran baru. Ia mendirikan sebuah band yang akhirnya menjadi kelompok musik terbesar setelah dekade 80-an, Nirvana.
Tren kembali berubah. Kurt berhasil memberi pengaruh kepada semua orang bahwa dengan komposisi yang simpel, musik rock masih bisa menggigit. Dengan hanya mengandalkan 3 kord, grunge merajalela. Rasanya banyak rocker-rocker sebelumnya merasa sakit hati dengan pengkhianatan Nirvana. Tidak sedikit juga yang merasa mempunyai pegangan baru. Pearl Jam, Alice in Chains, Sound Garden ikut ambil bagian di dalamnya. Nuansa-nuansa pemberontakan yang terkandung pada lagu-lagu mereka menjadi panutan generasi muda pada waktu itu. Hingga pada saat ia meninggalpun (1994), pengaruh cita rasa musik Kurt cobain terus mewabah. Unsur alternative yang kental tak urung membuat band-band seperti Smashing Pumpkins, Stone Temple Pilots, hingga Creed masih mewarisi karakter yang dibangun band-band asal Seattle tadi.
Di sisi lain, timbul keinginan musisi-musisi generasi baru untuk menggabungkan musik Rock dengan unsur-unsur yang lain. Setelah Kurt, Band-band lebih memfokuskan diri bagaimana memberikan sound efek yang bagus pada lagu mereka, Dan tidak lagi terlalu memikirkan teknik permainan gitar yang menonjol. Perubahan lain yang signifikan, mereka semakin tenang di atas panggung. Jingkrak-jingkrakan mulai dikurangi takarannya pada setiap aksi panggung. Generasi ini memunculkan aliran Nu metal dan berkembang menjadi Modern Rock. Band-band macam Korn, Limp Bizkit, RATM, memberikan unsur Hip-hop pada karakter Rock mereka. Atau Blink, Green Day, hingga Simple Plan yang lebih memilih mengeksplorasi unsur Punk. Perkembangan selanjutnya ? kita nantikan saja.
Dimuat dalam Buletin Bengkel Musik edisi 1, September 2005.
Label: Catatan
SAJAK “PENYAIR” KARYA: WIDJI THUKUL SUATU TINJAUAN SEMIOTIK
Oleh : Dean Joe Kalalo, SS
Pendahuluan
Dalam menjalankan kehidupan sebagai mahluk sosial, manusia tak akan pernah terelakkan dari suatu proses komunikasi. Segala bentuk komunikasi yang terjadi dalam kehidupan memerlukan tanda-tanda yang akan dijadikan titik tolak manusia dalam bernalar. Ilmu semiotika selalu mengacu pada pandangan bahwa, tidak ada satupun di dunia ini yang bebas nilai. Mimik wajah seseorang, bunyi ban mobil yang pecah di jalan raya, atau pernyataan politik yang dikeluarkan para petinggi partai, merupakan tanda yang selalu memiliki makna yang bisa didapati secara langsung maupun makna tersembunyi di baliknya.
Salah satu bapak semiotika modern, Charles Sanders Peirce (dalam Panuti Sudjiman dan Aart Van Zoest, 1992:1) mengemukakan bahwa, logika harus mempelajari bagaimana orang bernalar. Penalaran itu, menurut hipotesis teori peirce yang mendasar, dilakukan melalui tanda-tanda. Tanda-tanda memungkinkan kita berpikir, berhubungan dengan orang lain, dan memberi makna pada apa yang ditampilkan oleh alam semesta.
Tanda-tanda bisa berupa apa saja. Bunyi, gambar, warna, kata-kata, baik verbal maupun nonverbal, dilakukan dengan sadar maupun tidak, dan lain sebagainya. Kajian semiotik bertugas untuk menelusuri makna dari setiap tanda tersebut.
Pada perkembangannya muncul ilmu semiotika yang memfokuskan penelitian pada penelusuran makna sekunder (konotasi) dari sebuah tanda. Ahli semiotika yang sangat terkenal dari aliran ini adalah Roland Barthes. Penelitian yang dilakukan adalah mencari makna tersembunyi yang sering tidak disadari bahkan oleh pembuat tanda itu sendiri. Makna-makna sekunder atau konotasi seperti itu banyak dijumpai dalam karya sastra, khususnya puisi.
Dalam mencari makna teks (puisi), perlu juga diperhatikan konteks atau teks lain yang menyertainya. Halliday menjelaskan bahwa, pengertian mengenai hal yang menyertai teks itu meliputi tidak hanya yang dilisankan atau ditulis, melainkan termasuk pula kejadian-kejadian nirkata (non-verbal) lainnya – keseluruhan lingkungan teks itu. Karena itu, pengertian ini merupakan jembatan antara teks dan situasi tempat teks itu betul-betul terjadi (M.A.K Halliday-Ruqaiya Hasan, 1992:6).
Dari sekian banyak tanda yang bisa menjadi kajian dalam semiotika, pembahasan ini akan memfokuskan pada objek karya sastra yaitu sajak, yakni sajak “penyair” karya Widji Thukul.
P E N Y A I R
1. jika tak ada mesin ketik
2. aku akan menulis dengan tangan
3. jika tak ada tinta hitam
4. aku akan menulis dengan arang
5. jika tak ada kertas
6. aku akan menulis pada dinding
7. jika aku menulis dilarang
8. aku akan menulis dengan
9. tetes darah!
sarang jagat teater
19 januari 1988
Sajak “Penyair” karya Widji Thukul ini adalah sebuah sajak pendek yang hanya terdiri dari 9 larik. Karya sastra, khususnya puisi, selalu kaya akan tanda-tanda. Bahkan, puisi memiliki komposisi tanda yang lebih rumit daripada bentuk tuturan bahasa lainnya. Makna tanda dalam puisi bisa ditelusuri lewat teks, atau sesuatu di luar teks.
Bagian yang terlebih dahulu dibahas dalam sajak ini adalah judul. Bagaimanapun judul sedikit banyak selalu memberikan gambaran tentang isi sajak. “Penyair”, yang menjadi judul sajak ini memiliki makna denotatif yang berarti penulis syair. Atau dalam perkembangannya lebih diartikan sebagai seseorang yang menulis puisi / sajak. “Penyair” adalah kata umum yang memiliki banyak sekali kategori, sehingga menimbulkan pertanyaan, penyair manakah yang dimaksud? Apakah penyair romantik?, penyair sosialis?, penyair pujangga baru, penyair angkatan 66?.
Untuk itu dalam hal ini perlu dikerucutkan maksud “penyair” yang dimaksudkan dalam sajak. Gaya “aku” lirik yang dipakai penulis segera menunjukkan bahwa penyair yang dimaksudkan tak lain adalah penulis sajak itu sendiri, yakni Widji Thukul. Hal ini diperkuat dengan tidak ditemukannya tanda-tanda yang mengindikasikan bahwa sajak ini didedikasikan atau terinsiprasi dari penyair lain. Setelah itu bisa ditelusuri pula, apa yang membedakan Widji Thukul dengan penyair Indonesia lainnya?. Hal ini dirasa perlu karena tidak semua penyair memiliki semangat atau jiwa seperti yang dirasakan Widji Thukul.
Apabila kata “penyair” memiliki makna yang luas, kenapa Widji Thukul menggunakan kata tersebut sebagai judul sajak, yang pada dasarnya adalah sebuah karya individual. Kenapa ia tidak menggunakan judul “aku” seperti yang digunakan Chairil Anwar misalnya, yang lebih bermakna individual. Dari sini bisa dilihat bahwa sang penyair seperti terkesan ingin memaksakan pandangannya bahwa semua penyair harusnya memiliki semangat seperti yang ia miliki. Keterlibatan Widji Thukul dengan banyak aktivis serta organisasi politik kerakyatan, tentu banyak berperan dalam proses kreatifnya sebagai penyair.
Di dalam sajak, “aku” lirik hadir sebagai satu-satunya pembicara yang mengungkapkan isi batin, penghayatan, dan semangat yang muncul berdasarkan pengalaman dalam kehidupan. Penggunaan kata “jika” dan “akan” secara bergantian dalam larik, menunjukkan sebuah pernyataan sikap penulis terhadap suatu keadaan:
Jika tak ada mesin ketik
Aku akan menulis dengan tangan
jika tak ada tinta hitam
aku akan menulis dengan arang
Kata “jika” dan “akan” memberikan persepsi akan sesuatu yang akan dilakukan Si “aku” lirik dalam merespon sebuah situasi yang bisa terjadi padanya. Prospeksi keadaan yang dibayangkannya menyiratkan kekhawatiran dari gejala yang sedang terjadi di dalam kehidupannya saat itu. Di samping itu, pola “jika” dan “akan” yang dipakai penulis, bermakna sebab akibat yang juga mengindikasikan semangat untuk menghadapi kekhawatiran tersebut. Frase “jika tak ada” yang diulang hingga tiga kali, dapat menjadi ikon yang menunjukkan kuatnya semangat sang penyair yang tetap ingin berusaha meskipun berada di tengah situasi “ketiadaan”.
Pada larik ke tujuh bisa didapati simpulan dari apa yang menjadi kekhawatiran penyair:
Jika aku menulis dilarang
Kilmaks dari inti sajak ini terdapat dalam tiga larik terakhir. Ternyata kekhawatiran yang dimaksud penyair adalah kekhawatiran akan terjadinya pelarangan menulis. Lalu siapa yang melarang?, Jenis tulisan bagaimana yang dilarang? Kenapa dilarang? Di dalam sajak ini tidak ada kata atau pun frase yang bisa dianggap sebagai ikon atau simbol yang menunjukkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tadi. Pemarkah deiksis seperti kata penunjuk waktu yang bisa dijadikan ikon informasi, juga tidak terdapat dalam sajak. Untuk bisa menelusuri jawaban tersebut perlu dibahas sisi ekstrinsik dari sajak ini.
Seperti bisa kita lihat di atas sajak ini ditulis pada tahun 1988. Widji Thukul terkenal sebagai penyair yang menyuarakan pemberontakan melawan penindasan dalam puisi-puisinya. Selain sebagai penyair, ia juga dikenal sebagai aktivis yang sering turun langsung dalam demonstrasi membela kepentingan rakyat bawah. Dapat kita ketahui pula pada masa ketika sajak ini ditulis pemerintahan orde baru masih menapaki puncak kejayaannya. Salah satu ciri rezim ini adalah merepresi segala bentuk tulisan yang menurut definisi pemerintah bisa mengganggu stabilitas keamanan negara. Banyak karya tulis yang mengandung unsur perlawanan dibakar atau dilarang terbit.
Seorang penulis tak akan mungkin membuat puisi kekhawatiran seperti itu jika tak ada suatu situasi yang mendorongnya. Prospeksi “aku” lirik yang ditandai dengan kata “akan”, tidak hanya bermakna futuristik. Ketika Si “aku” lirik melakukan proyeksi ke depan, hal itu memiliki korelasi dengan situasi masa sebelum dan ketika sajak ditulis.
Larik pertama, jika tak ada mesin ketik, menunjukkan bahwa Si “aku” lirik atau Si penyair sering menggunakan media mesin ketik dalam menghasilkan tulisan. Di tahun 1988 penggunaan komputer belum merakyat seperti sekarang ini. Barangkali bila Widji Thukul menulis sajak ini di tahun 2000-an, ia akan memilih diksi, jika tak ada komputer.
Pada larik ke tiga, jika tak ada tinta hitam, dan kelima, jika tak ada kertas, menunjukkan makna yang hampir serupa dengan larik pertama, tentang benda yang digunakan oleh Si “aku” lirik. Jika tak ada, memberi makna bahwa objek yang dimaksud sebelumnya ada atau digunakan.
Nomina yang digunakan penyair pada setiap larik yang menunjukkan pernyataan sikapnya, seperti “tangan”, “arang”, “dinding”, “tetes darah”, adalah nomina yang menyimbolkan propaganda perlawanan rakyat bawah. Ketika semuanya dirampas, rakyat hanya tinggal memiliki (yang oleh penyair) disimbolkan dengan tangan, arang, dinding, tetes darah, di mana bagian-bagian tersebut adalah elemen dasar rakyat tertindas yang tak bisa dirampas oleh penguasa.
Kata “tetes darah” pada larik terakhir, memiliki makna konotatif yang mencitrakan tentang keberanian. Makna konotatif diperkuat oleh kehadiran larik sebelumnya, “jika aku menulis dilarang”. Di samping itu, aku akan menulis dengan tetes darah juga adalah metafora dari keinginan untuk rela berkorban sampai titik darah penghabisan. Tiga larik terakhir dalam sajak ini menjadi satu kesatuan yang membentuk sebuah slogan yang mempertegas inti dari makna sajak. Tiga larik tersebut juga mencitrakan manifesto “Penyair” yang menjadi judul sajak, manifesto versi sang penulis, Widji Thukul.
Kesimpulan:
Setelah dilakukan tinjauan semiotik makna sajak menjadi semakin jelas, namun tetap saja ada beberapa kemungkinan interpetrasi yang bisa terjadi sesuai dengan perkembangan waktu:
a. Aku adalah seorang penulis yang memiliki kegelisahan akan keleluasaannya memperjuangkan kepentingan rakyat tertindas melalui tulisan, dikarenakan adanya pihak lain yang merepresi kebebasannya.
b. Meski tidak terdapat pronomina lain selain aku, setelah dilihat sisi ekstrinsik yang mencakup situasi, waktu, dan aktivitas penulis, dapat disimpulkan bahwa pronomina aku mentujukan isi sajak terutama kepada pemerintah dan kepada sesama penyair sebagai pernyataan sikap akan kegelisahan sekaligus semangatnya untuk menghadapi kegelisahan itu.
c. Walaupun situasi “ketiadaan” datang membelenggu aku, semangatnya tak akan luntur. Bahkan, walaupun pihak lain yang lebih memiliki kekuatan dari dirinya (pemeritah penguasa) mengungkung kebebasannya.
Makna “penyair” yang diangkat penulis dalam sajak ini, adalah refleksi dari suatu situasi yang menekan, yang membuat dihasilkannya sebuah pernyataan sikap untuk pantang menyerah melawan tekanan tersebut.
Daftar Pustaka
Sudjiman, Panuti, dan Van Zoest, Aart. 1992. Serba Serbi Semiotika. Jakarta:Gramedia
Halliday, dan Hasan Ruqaiya.1992. Bahasa, Konteks, Dan Teks. Yogyakarta:Gadjah Mada
University Press
Label: Others
INOVASI NOVEL SUPERNOVA: KSATRIA, PUTERI, DAN BINTANG JATUH KARYA DEWI LESTARI SEBUAH TELAAH SASTRA 2000-AN
SKRIPSI: DEAN JOE KALALO
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan kesusastraan Indonesia tahun 90-an akhir hingga 2000-an ditandai dengan fenomena munculnya gerakan sastra perempuan. Sebuah gerakan yang jika ditinjau dari segi sosiokultural, dapat dikatakan sebagai wujud dari sebuah perlawanan terhadap budaya feodalisme yang sarat dengan karakteristik patriarkalnya. Kecenderungan tersebut bisa dilihat dari ciri khas setiap karya yang mengangkat masalah-masalah feminisme maupun seksualitas.
Selain isi yang sarat dengan pemberontakan budaya, bentuk yang dihasilkan juga sangat inovatif dan tergolong baru dalam khasanah prosa Indonesia. Bentuk-bentuk konvensional mulai ditinggalkan diganti dengan bentuk baru yang lebih menarik dan kreatif.
Munculnya gerakan ini menuai berbagai pro dan kontra. Beberapa pihak menganggap fenomena tersebut membawa angin segar dalam kesusastraan Indonesia modern yang dirasa mulai memiliki kecenderungan monoton. Selain itu, banyak yang menganggap generasi ini membangkitkan kembali spirit perjuangan yang telah dirintis para pejuang perempuan, seperti Tjut Nyak dien dan Walanda Maramis bertahun-tahun silam. Lewat medium karya sastra semangat perjuangan perempuan melawan penindasan kembali bergaung. Pihak yang lain lagi menganggap fenomena tersebut tak lebih dari imbas efek neoliberalisme yang semakin mengglobal. Oleh karena itu, sastra juga tak luput menjadi mangsanya. Seksualitas dieksplorasi secara vulgar dan sebebas-bebasnya tanpa mengindahkan kaidah-kaidah budaya ketimuran yang merupakan identitas Bangsa Indonesia.
Persoalan layak tidaknya seks ditampilkan secara gamblang dalam karya sastra, masih terus menjadi bahan diskusi yang tak kunjung tuntas. Namun, dalam hal ini penulis mencoba mengutip Goenawan Mohamad dalam bukunya Seks, Sastra, Kita, yang mengatakan bahwa:
“yang menjadi persoalan bukanlah hadir atau tidak hadirnya seks dalam sastra, tetapi wajar atau tidak wajarnya suatu pengucapan literer. Dengan demikian, kita tak bisa secara mudah menilai suatu kesusastraan yang tanpa seks sebagai kurang atau sebagai lebih, sebab yang menentukan di sini ialah sikap para pengarang terhadap masalah itu. Dan sikap adalah juga suatu peristiwa sosial. Seks atau tanpa seks bisa merupakan sekedar pose di hadapan publik“ (1980 : 4).
Terlepas dari pro dan kontra, gerakan tersebut menjadi sebuah fenomena yang menarik untuk diteliti lebih jauh. Di antara sejumlah nama, ada beberapa pengarang yang bisa dikatakan menjadi pelopor munculnya tren ini. Mereka adalah Dewi Lestari, Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Nova Riyanti Yusuf, Fira Basuki, dan lain-lain. Masing-masing pengarang mempunyai ciri khas penceritaan dengan keunikannya masing-masing. Namun, ada sebuah benang merah yang seolah menghubungkan mereka. Setiap pengarang mengangkat tema ataupun masalah yang hampir sama dalam karyanya.
Salah satu karya yang menjadi tonggak sejarah pada generasi tersebut adalah novel Supernova “Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh”. Supernova adalah nama serial novel karya Dewi Lestari. Setelah “Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh, Supernova selanjutnya adalah “Akar” dan “Petir”. Setiap novel berdiri sendiri karena ceritanya berbeda.
A. Teeuw, (dalam Pradopo, 1994:193) mengatakan bahwa karya sastra selalu berada dalam ketegangan antara konvensi dan inovasi, sastra yang lama dan yang baru. Sejak kemunculannya yang pertama pada tahun 2000, Supernova “Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh” mendapat sambutan hangat dari para pakar kesusastraan Indonesia. Novel ini dianggap membawa gairah baru dalam ranah kesusastraan Indonesia modern karena memiliki komposisi yang sangat inovatif. Para kritikus menganggap Dewi Lestari berhasil meramu cerita menarik, yang mengangkat nilai-nilai sains, filsafat, dengan menghadirkan konflik substansial manusia modern.
Faktor-faktor inilah yang menjadi pendorong bagi penulis untuk meneliti novel Supernova “Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh” lewat Kritik Historis. Melalui kritik historis seorang kritikus menempatkan karya sastra ke dalam suatu tradisi, konvensi, mode, atau jenis sastra, dan menentukan hubungannya dengan karya-karya lain yang sejenis. (Tarigan, 1984:207).
Melalui penulisan ini penulis akan memaparkan hubungan perbandingan antara novel Supernova “Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh” dengan karya-karya lain dari pengarang seangkatan Dewi Lestari. Berkaitan dengan tujuan tersebut, penulis memfokuskan perbandingan hanya pada dua unsur saja. Unsur yang akan dibahas adalah teknik penceritaan dan masalah sosiokultural yang terdapat dalam Supernova “Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh”. Fokus Pembahasan dibatasi supaya penulisan ini lebih terarah dan maksimal. Setelah itu, akan dijelaskan perbandingan kedua unsur tersebut dengan yang terdapat pada karya-karya lain dari pengarang seangkatan. Fokus perbandingan dibatasi hanya pada dua pengarang saja. Mereka adalah Ayu Utami dan Djenar Maesa Ayu. Hal ini bukan berarti pengarang yang lain tidak mempunyai posisi yang penting. Pembatasan dilakukan untuk mengefisiensikan fokus penulisan. Dari dua pengarang tersebut penulis juga membatasi masing-masing hanya pada satu karya, yang dianggap mewakili karakteristik gaya pengarangnya.
Karya Ayu Utami yang akan dijadikan bahan perbandingan ialah dwilogi novel “Saman” dan “Larung”. Kedua novel ini memiliki cerita yang masing-masing mempunyai keterkaitan, yang bisa dikatakan adalah karya masterpiece dari Ayu Utami. Novel “Saman” bahkan menjadi pemenang pertama pada sayembara roman Dewan Kesenian Jakarta tahun 1998. Kehadiran novel “Saman” dan “Larung” oleh banyak kritikus dianggap sangat berpengaruh pada perkembangan sastra Indonesia. Sedangkan karya Djenar Maesa Ayu yang akan dijadikan bahan perbandingan ialah novel “Nayla”. Sesungguhnya Djenar Maesa Ayu lebih dikenal sebagai seorang penulis cerpen. Kumpulan Cerpennya “Mereka Bilang Saya Monyet” dan “Jangan Main-Main Dengan Kelaminmu” mengundang banyak pujian, meski di satu sisi juga menimbulkan kontroversi di kalangan masyarakat penikmat sastra, karena punuturannya yang blak-blakan mengenai perilaku seksual tokoh-tokohnya.
1.2 Perumusan Masalah
Karya sastra adalah dunia imajinatif yang selalu mengundang beragam interpretasi. Setiap pembaca mempunyai interpretasi yang berbeda terhadap karya yang dihadapinya, tergantung dari sudut pandang penafsiran serta latar belakang ideologi yang dimiliki. Inilah salah satu ciri yang menjadi keunikan sebuah karya sastra. Di samping itu, karya sastra juga mempunyai banyak sekali aspek dan permasalahan yang sangat kompleks, dari sekian banyak masalah tersebut, yang akan dibahas dan menjadi fokus penelitian ini adalah:
1. Bagaimana teknik penceritaan pengarang yang terdapat dalam novel Supernova “Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh”.
2. Bagaimana masalah sosiokultural yang terkandung dalam novel Supernova “Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh”.
3. Bagaimana perbandingan kedua unsur yang disebutkan di atas, dengan unsur yang sama yang terdapat dalam dwilogi novel “Saman-Larung” karya Ayu Utami, dan novel “Nayla” karya Djenar Maesa Ayu.
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan teknik penceritaan novel Supernova “Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh”, dan masalah sosiokultural yang terkandung dalam novel tersebut. Kemudian, akan menjelaskan juga bagaimana perbandingan kedua unsur masalah tadi, dengan masalah yang sama yang terkandung dalam dwilogi novel “Saman-Larung” karya Ayu Utami, dan novel “Nayla” karya Djenar Maesa Ayu.
Penelitian ini diharapkan bisa memperkaya perspektif dan interpretasi maupun penilaian terhadap novel Supernova “Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh” karya Dewi Lestari, serta posisi dan pengaruhnya pada perkembangan kesusastraan Indonesia modern. Jadi, melalui penelitian aspek kritik historis diharapkan eksistensi sebuah karya sastra bisa dilihat melalui bukti hasil analisis yang bersifat ilmiah.
1.4 Tinjauan Pustaka
Pengkajian karya sastra lebih khusus novel sangat beragam jenis metode dan pendekatannya. Di Fakultas Sastra telah banyak mahasiswa yang melakukan penelaahan novel dari berbagai aspek, seperti aspek struktural, aspek kala, aspek sosiologis, dan lain-lain. Penelitian yang berhubungan dengan aspek historis sudah pernah dilakukan oleh Fredy Wowor, yang mengkaji novel Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer dalam sudut pandang sosiologis dan kesejarahan. Namun, penelitian aspek kritik historis yang memfokuskan pada perkembangan kesusastraan Indonesia periode tertentu, belum pernah dilakukan oleh Mahasiswa Fakultas Sastra Unsrat Jurusan Sastra Indonesia. Di samping itu, penelitian terhadap novel “Saman” karya Ayu Utami juga sudah pernah dilakukan oleh Reinhard Kela yang membahasnya dari aspek penokohan. Esei-esei maupun kritik terhadap novel Supernova sudah cukup banyak dibahas dalam majalah dan koran. Namun, setelah penulis melakukan tinjauan pustaka, belum ada mahasiswa di Fakultas Sastra yang meneliti novel Supernova “Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh” karya Dewi Lestari.
1.5 Landasan Teori
Peranan kritik sastra sangatlah penting dalam perkembangan kesusastraan. Selain dapat memberikan sumbangsih bagi kemajuan sastra, dengan kritik sastra kita bisa memahami eksistensi dan kondisi karya sastra dalam perjalanan sejarahnya. Karena permasalahan dalam sastra begitu luas, maka jenis dan pendekatan dalam kritik sastra pun sangat beragam. Masing-masing jenis dan pendekatan tersebut memiliki hubungan ketergantungan yang sering tak bisa dipisahkan. Jadi, meskipun penelitian ini menitikberatkan pada kritik historis, tidak menutup kemungkinan digunakan juga pendekatan kritik sastra yang lain.
Drs. M.E. Suhendar, M.Pd. dan Dra. Pien Supinah, memaparkan bahwa kritik sastra adalah suatu cabang dari ilmu sastra yang mengadakan analisis, penafsiran serta penilaian terhadap sebuah wacana sastra (1993:26).
Andre Hardjana, menjelaskan bahwa:
“Kritik sastra adalah suatu penyelidikan yang langsung berurusan dengan suatu karya sastra tertentu. Di samping menimbang bernilai dan tidaknya suatu sastra, penyelidikan ini menjernihkan pula segala macam persoalan yang meliputi karya sastra itu dengan memberikan penafsiran, penjelasan, dan uraian“(1991:37).
Jakob Sumardjo dan Saini KM, menjelaskan bahwa:
“Pada dasarnya ada dua jenis kritik sastra, yakni kritik sastra intrinsik dan kritik sastra ekstrinsik. Kritik sastra intrinsik menganalisis sebuah karya berdasarkan bentuk dan gayanya, atau membandingkan sebuah genre dengan genre lainnya (membandingkan karya komedi dengan tragedi atau puisi epik dengan lirik, misalnya). Kritik intrinsik mengupas unsur-unsur karya, menilai dan menyimpulkan kelemahan dan kelebihannya yang ada di dalam karya itu sendiri.
Kritik sastra ekstrinsik menghubungkan karya sastra itu dengan penulisnya, pembacanya atau masyarakatnya, yakni hal-hal di luar karya sastra itu sendiri. Kritik sastra ekstrinsik melibatkan disiplin ilmu sejarah, sosiologi, filsafat, agama, antropologi dan sebagainya“(1988:21).
Penelitian terhadap novel Supernova “Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh” ini menggunakan aspek kritik historis. Tarigan menjelaskan bahwa:
“Kritik historis dapat mengikuti segala sesuatu yang terjadi atas suatu bentuk sastra, ataupun mengadakan survei terhadap kegiatan sastra pada suatu periode sejarah tertentu, ataupun menempatkan seorang pengarang dalam kelompoknya serta menunjukkan hubungannya dengan kelompok tersebut, dan sebagainya” (1984:206).
Pandangan lain bisa dilihat dari pendapat Grebstein, (dalam Tarigan, 1984:206):
“Doktrin utama kritik historis adalah tempelakan atau tuduhan bahwa karya sastra takkan dapat didekati dengan selengkap-lengkapnya, seperti halnya karya itu sendiri telah lengkap dalam dirinya sendiri. Oleh karena itu setiap karya sastra haruslah diteliti dan ditelaah dengan bantuan atau acuan dari keterangan-keterangan yang ada sangkut-pautnya dengan karya tersebut“
Shipley, (dalam Tarigan, 1984:208) menambahkan bahwa kritik historis dapat menempatkan suatu karya (sastra) pada tempatnya, dapat memulihkan warnanya yang sejati sehingga kita dapat melihat nilai-nilainya dengan lebih jelas.
Bertolak dari pandangan bahwa dalam mengaplikasikan kritik historis, setiap karya sastra harus diteliti dengan bantuan atau acuan dari keterangan-keterangan yang ada sangkut-pautnya dengan karya tersebut. Maka dalam penelitian ini keterangan-keterangan yang dijadikan acuan adalah karya dari dua pengarang seangkatan dari Dewi Lestari. Mereka adalah Ayu Utami dengan dwilogi novel “Saman” “Larung” dan Djenar Maesa Ayu dengan novel “Nayla”. Perbandingan ini juga mengacu pada pemahaman bahwa dalam kritik historis seorang pengarang ditempatkan dalam kelompoknya, dan menunjukkan hubungan pengarang dengan kelompok tersebut.
Unsur yang akan dijelaskan dan menjadi bahan perbandingan adalah teknik penceritaan dan masalah sosiokultural yang terdapat dalam novel.
Teknik penceritaan merupakan bagian dari gaya penceritaan yang mempunyai banyak sekali model dan klasifikasi. Atar Semi mengatakan bahwa gaya penceritaan adalah tingkah laku pengarang dalam menggunakan bahasa. (1988:47). Saat menyajikan cerita, pengarang menggunakan berbagai teknik penceritaan. Panuti Sudjiman mengkategorikan teknik penceritaan karya prosa sebagai berikut:
1. Teknik Pemandangan. Jika suatu cerita disajikan dengan teknik pemandangan, latar fisiknya luas dan umum, lakuan digambarkan secara umum, dan jangka waktu yang panjang dikisahkan dengan satu kalimat atau di dalam satu paragraf. Dengan demikian, terasa adanya seorang pencerita yang memilih dan mengikhtisarkan peristiwa.
2. Teknik Adegan. Melalui teknik adegan, cerita disajikan serupa dengan penyajian sebuah adegan di dalam drama atau film. Dengan demikian, pada pembaca timbul perasaan seolah-olah dia sangat dekat dengan tempat kejadian dan melihat langsung peristiwa yang disajikan. Lain daripada itu, waktu yang diperlukan untuk membaca dan waktu yang diperlukan tokoh untuk melakukan tindakan yang dikisahkan berhubungan erat. Teknik adegan menyajikan lakuan atau peristiwa yang berlangsung di dalam waktu yang singkat di dalam bagian cerita yang juga cepat selesai dibaca. Latar fisiknya disajikan dengan jelas, tetapi terbatas pada yang perlu saja.
3. Teknik Montase. Di dalam kesusastraan teknik montase menghasilkan satu kisahan yang terputus-putus. Teknik ini sering digunakan untuk menciptakan suasana melalui serangkaian impresi dan observasi yang diatur secara tepat. Teknik ini digunakan di dalam penyajian ekacakap dalaman karena pikiran-pikiran yang susul menyusul di dalamnya sebenarnyalah tidak selalu mengikuti urutan yang logis. Kebingungan dan kekesalan yang mungkin timbul di dalam diri pembaca karena “kekacauan” ini disengaja, yaitu agar pembaca dapat merasakan kekacauan di dalam diri tokoh. Dengan teknik ini dapat direkam sifat kaotis yang menguasai kehidupan kota besar yang dirasakan oleh setiap penghuninya.
4. Teknik Kolase. Di dalam kesusastraan, teknik kolase menghasilkan cerita yang sarat dengan kutipan dari karya sastra lain, dengan alusi, atau ungkapan asing, yang biasanya dianggap tidak ada hubungannya yang satu dengan yang lain. Kisahan terputus oleh kisah atau peristiwa yang tidak berhubungan, bahkan berbeda ruang dan waktunya.
5. Teknik Asosiasi. Hasil penggunaan teknik penceritaan ini ialah serentetan episode atau peristiwa yang nampaknya tidak berkaitan dengan cerita inti. Namun, dengan asosiasi keterkaitan itu dapat dijelaskan. Asosiasi atau tautan itu dapat berlaku di dalam diri tokoh; misalnya, ucapan seseorang mengingatkan tokoh akan tugasnya yang belum dilaksanakan. Asosiasi atau tautan dapat juga terjadi di dalam diri pembaca: perumpamaan, pepatah, atau kata-kata mutiara yang umum dikenal yang ditempatkan di dalam teks, seakan-akan memutus kisahan; akan tetapi, sesungguhnya kata-kata itu menyiratkan peristiwa yang berikut atau yang selanjutnya. Asosiasi dapat juga terjadi di dalam diri si pencerita: kisahnya jadi sulit diikuti karena menurutkan alur pikiran yang secara asosiatif timbul di dalam benak pencerita. (1992:91-102).
Untuk menganalisis masalah sosiokultural yang terdapat dalam novel, penulis menggunakan pendekatan kritik sosiokultural. Edmund Wilson, (dalam Tarigan, 1984:210) menjelaskan bahwa:
“Kritik sosiokultural adalah interpretasi sastra dalam aspek-aspek sosial ekonomi dan politisnya. Yang merupakan pusat perhatian pokok pada kritik ini adalah interaksi karya sastra dengan kehidupan; dan interaksi ini tidak hanya mencakup implikasi-implikasi sosial, ekonomi serta politis karya tersebut, tetapi juga, dalam pengertian yang amat luas, mencakup implikasi-implikasi moral dan kulturalnya“
Bertolak dari teori tersebut, penulis berkesimpulan bahwa dalam menjelaskan persoalan sosiokultural yang terkandung dalam novel, harus dijelaskan pula korelasinya dengan kondisi sosiokultural yang berkembang dalam masyarakat.
1.6 Metode Dan Teknik Penelitian
Penulisan ini menggunakan metode deskriptif, yaitu metode yang dilakukan dengan cara menggambarkan ke dalam obyek penelitian sesuai dengan data yang tampak sebagaimana adanya (Hadani dan Martini,1994:74-75). Pertama-tama penulis memilih dua unsur dalam Supernova “Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh”, yakni teknik penceritaan dan masalah sosiokultural yang terdapat di dalamnya. Setelah itu, kedua unsur tersebut dideskripsikan dengan menggunakan bantuan teori-teori yang menunjang. Kemudian, penulis akan mendeskripsikan perbandingan kedua unsur tadi dengan unsur yang sama, yang terdapat dalam dwilogi novel “Saman-Larung” karya Ayu Utami, dan novel “Nayla” karya Djenar Maesa Ayu.
Sumber data yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah novel Supernova “Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh” karya Dewi Lestari. Novel ini diterbitkan oleh Truedee Books, November 2001, cetakan V. Sumber data pembanding yang digunakan adalah dwilogi novel “Saman” dan “Larung” karya Ayu Utami. Novel “Saman” diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia bekerja sama dengan Jurnal Kebudayaan Kalam, 2002, cetakan ke 20. Novel “Larung” diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia bekerja sama dengan Jurnal Kebudayaan Kalam, 2002, cetakan ke 2. Sumber data pembanding lain adalah novel “Nayla” karya Djenar Maesa Ayu. Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, 2005, cetakan pertama. Di samping itu penulis juga menggunakan sumber-sumber lain yang bisa mendukung usaha memaksimalkan hasil penelitian ini.
BAB II
PERBANDINGAN TEKNIK PENCERITAAN
Salah satu unsur yang paling penting dalam sebuah karya sastra khususnya novel adalah gaya penceritaan. Beberapa karya sastra bahkan diakui pencapaian literernya karena menawarkan pola ucap atau gaya bercerita yang apik dan unik. Pada dasarnya manusia adalah mahluk yang tidak pernah puas, selalu ingin menikmati sesuatu yang baru. Prinsip tersebut berlaku juga dalam seni. Dari waktu ke waktu setiap pengarang dituntut untuk semakin mempertajam daya kreatifitasnya dalam menyajikan bentuk setiap karya. Sebuah ide cerita yang menarik akan menjadi hambar bila dikemas dengan gaya penceritaan yang biasa-biasa saja. Oleh karena itu, karya sastra yang baik haruslah memadukan unsur bentuk dengan unsur isi yang masing-masing menarik. Lewat pembahasan ini, penulis akan memaparkan Teknik Penceritaan yang digunakan masing-masing pengarang.
2.1 TEKNIK PEMANDANGAN
a. Novel “Supernova” (Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh)
Teknik Pemandangan dalam novel ini bisa dilihat lewat kutipan-kutipan berikut ini:
“Sesempurna apa pun sebuah tatanan, dapat dipastikan Chaos selalu ada, membayangi seperti siluman abadi. Begitu sistem mencapai titik kritisnya, ia pun lepas mengobrak-abrik Bahkan dalam keadaan yang nampaknya ekuilibrium atau seimbang, sesungguhnya Chaos dan Order hadir bersamaan, seperti kue lapis, yang di antaranya terdapat olesan selai sebagai perekat. Selai itu adalah zona kuantum; rimba infinit di mana segalanya relatif; kumpulan potensi dan probabilitas” (2001: 6).
“Di kehidupan sehari-hari kehadirannya dapat terasa dalam bentuk intermittency atau ketidaksinambungan. Keterputus-putusan. Paradigma reduksionisme, yang telah berabad-abad mendominasi dunia sains, tidak pernah memberikan perhatian pada fenomena ini. Dan bagi manusia yang melihat dunia hanya hitam dan putih, maka ia harus siap-siap terguncang setiap kali memasuki area abu-abu dimensi kuantum. Karenanya, relativitas bagaikan kiamat bagi yang mengagung-agungkan objektifitas. Sains ternyata tidak selamanya objektif. Sains, seringkali harus subjektif.” (2001:6).
“Turbulensi dapat dianalogikan sebagai pigura hitam yang membingkai setiap kepingan gambar dalam reel film, yang ketika diputar dengan kecepatan 24 frame per detik mata kita tidak akan melihat bahwa sebenarnya film tak lebih dari potongan-potongan gambar dan bukannya kontinuitas. Dalam realita, turbulensi ibarat sebuah “Dapur Agung” yang transenden-tak terikat ruang dan waktu, berinteraksi dengan sinyal-sinyal nonlokal-tempat diraciknya semua probabilitas, potensi, serta loncatan kuantum. Lalu dari dapur tersebut tersajilah sup kehidupan yang nyata dan terukur, realita yang bisa dicicip ataupun dihirup baunya.” (2001:6-7).
“Turbulensi hadir di mana-mana, dalam hidup organisme sesederhana bakteri sampai ke interaksi antarplanet di Bimasakti. Tapi kehadirannya selalu dianggap sekadar keberisikan, tak lebih signifikan dari bunyi “kresek-kresek” gelombang radio yang tak pas atau gambar statis sesudah acara televisi habis. Namun sekarang, sudah saatnya dunia sains mengalami turbulensi yang sesungguhnya, bahwa cara pandang reduksionis dan fisika klasik para Newtonian tidak akan sanggup memblokir refleksi dari cermin kehidupan. Keteraturan mau tak mau harus berkaca, menemukan dirinya ternyata berasal dari sebuah Maha Ketidakteraturan. Sama halnya dengan otak yang merupakan organ nonlinear tulen, ataupun denyut jantung yang tak beraturan, telah menciptakan order untuk seorang manusia dapat hidup.” (2001:7).
“Ruben tak dapat melupakan bagaimana takjubnya ia ketika melihat peta fraktal Mandelbrot – dikenal dengan “Mandelbrot Set”- yang jadi sampul jurnal Scientific American milik profesornya dulu. “Mandelbrot Set” adalah rumusan matematis yang diklaim sebagai rumusan terkompleks dalam dunia matematika, terdiri dari dua variabel: C yang merupakan angka tetap, dan Z yang variatif. Rumusan tersebut kemudian diaplikasikan pada sebuah pola geometris sederhana. Untuk eksperimennya, Mandelbrot menggunakan semacam ilustrasi molekul yang terdiri dari bola-bola atom.” (2001:44).
Kutipan-kutipan di atas memperlihatkan cerita dengan latar fisik yang luas dengan mengetengahkan unsur sains di dalamnya. Teknik Pemandangan seperti ini belum pernah digunakan oleh pengarang Indonesia lain sebelumnya. Salah satu bagian yang memang menjadi kekuatan utama novel ini adalah gaya penceritaan. Belum ada pengarang yang dalam sejarah kesusastraan Indonesia melakukan eksperimen dengan menggabungkan teori-teori fisika dengan cerita fiksi. Membaca novel ini, setiap orang akan menghadapi unsur-unsur sains dengan segala kompleksitasnya. Membaca kutipan-kutipan di atas terasa seperti sedang membaca rangkaian teori fisika yang kompleks. Namun, terlepas dari kompleksitas tadi akan ditemukan kepuitisan dan kelugasan pengarang, ketika unsur tersebut dikorelasikan dengan nilai-nilai kehidupan.
Kelugasan bertutur Dewi Lestari bisa dilihat lewat kutipan Teknik Pemandangan berikut:
“Berada di bawah kucuran shower, Re berdiri, memandangi tetesan-tetesan air yang bercahaya keperakan. Melamun. Satu hal yang dulu tidak pernah dilakukannya, tidak dengan pikirannya yang selalu padat dan terfokus. Namun malam ini sudah lain, begitu juga malam-malam terakhir selama sebulan ini. Ale pasti tertawa kalau tahu ia sudah bisa melamun lagi.” (2001:19).
Perubahan kebiasaan yang dialami tokoh Ferre yang memiliki jangka waktu panjang, dijelaskan secara singkat dan hanya dalam satu paragraf. Contoh lain dari Teknik Pemandangan terdapat dalam kutipan berikut:
“Setelah lima tahun mengonsumsi ilmu teknik industri yang sama sekali tak diinginkannya itu, ia akhirnya terbebas dari utang pada orang tua, sekaligus menghabisi masa lima tahun mereka membangga-banggakan anaknya yang lulus UMPTN, masuk ITB, dan kuliah teknik. Kini Rana bebas memilih. Terjun ke dunia jurnalistik, jadi reporter, sibuk ke sana-sini dan bertemu banyak orang. Tapi, bukan ini titik yang ia tuju. Rana yang barusan sudah terlampau palsu. Luwes cuma karena polesan. Paling-paling pekerjaannya ini cuma pelarian saja. pikirannya pun terus mencari...” (2001:37).
Kutipan di atas menggambarkan latar fisik yang luas tentang tokoh Rana yang melewati beberapa proses dalam hidupnya, yang juga dipaparkan secara umum oleh pencerita.
Contoh lain Teknik Pemandangan bisa dilihat lewat kutipan berikut:
“Anak-anak ini mungkin akan jadi gembrot di usia 17, tingginya mandek di usia 15, pemenang hari ini mungkin berubah pikiran dan jadi peneliti di LIPI, anak yang diklaim paling jelek hari ini mungkin akan menjadi top model di usia 20. Segala probabilitas dan ketidakpastian hidup tidak memberinya sedikit pun alasan untuk memilih pemenang. Menang akan apa? Untuk kemudian beberapa anak menjadi minder dan merasa dirinya jelek? Lalu kedua orang tua mereka setengah mati berusaha menghibur, mengirim mereka kembali ke berbagai perlombaan, kali ini dengan “persenjataan” lebih lengkap. Lebih direncanakan. Lebih dibuat-buat.” (2001:60).
b. Dwilogi Novel “Saman”-“Larung”
Teknik Pemandangan dalam novel ini bisa dilihat lewat kutipan berikut ini:
“Aroma kayu, dingin batu, bau perdu dan jamur-jamur - adakah mereka bernama, atau berumur? Manusia menamai mereka, seperti orangtua memanggil anak-anaknya, meski tetumbuhan itu lebih tua. Rafflesia Arnoldi, memang tidak mekar di Central Park, melainkan di hutan tropis dataran tinggi Malaya, tetapi kita tahu laki-laki Inggris kemudian menjadi ayah bunga itu. Orang-orang berbicara tentang segala sesuatu yang tumbuh, yang ditanam maupun liar, seolah mengenal mereka lebih daripada pokok-pokok itu sendiri mengenal dingin dan matahari, ataupun hangat bumi. Namun binatang tidak menghafal pohon-pohon karena namanya, seperti seekor induk atau sepasang tidak memanggil tetasannya atau susuannya dengan nama. Mereka mengenal tanpa bahasa” (Saman, 2002: 2).
Selain memiliki kekayaan unsur dari segi isi, novel ini juga menawarkan gaya bercerita yang tak kalah menariknya. Ayu Utami menggambarkan ataupun melukiskan setiap peristiwa lewat narasi-narasi yang dibumbui dengan bahasa yang sangat estetis. Baik lewat metafora atau pengandaian, maupun komposisi pilihan kata yang mampu memikat pembaca. Membaca “Saman” dan “Larung” seperti membaca fragmen-fragmen puisi yang panjang. Kutipan di atas merupakan bagian pembuka dari novel “Saman” yang sangat terkenal dan diakui sebagai salah satu pembuka terbaik karya prosa Indonesia. Perhatian pembaca langsung tercuri ketika cerita diawali dengan permainan bahasa yang penuh dengan simbol-simbol, mengundang pembaca untuk melakukan perenungan akan makna tersembunyi yang terkandung dalam serentetan kiasan yang artistik. Lewat gaya penceritaan seperti itu Ayu Utami tidak hanya membuat pembaca terhibur, tetapi juga mengajak pembaca terseret dalam dunia imajinatif yang diciptakannya dan ikut terhanyut pada suasana yang dibangun dalam cerita.
Contoh lain Teknik Pemandangan terdapat dalam kutipan berikut ini:
“Semakin kami dewasa, semakin terbukti pada Laila, Cok, dan diriku bahwa musuh utama kami adalah orangtua. Ketika itu waktu telah mengubah tubuh kami. Dada kami telah timbul dan Yasmin tumbuh menjadi tinggi dan langsing sehingga dialah yang terjangkung di antara kami sekarang ini. Laila tetap mungil seperti anak kecil yang belum kenal dosa.” (Saman, 2002:149).
Selain puitis, Ayu Utami mempunyai gaya bertutur yang lembut, seperti tercermin lewat kutipan di atas.
Bisa dikatakan tak ada perbedaan mendasar antara gaya penceritaan yang terdapat pada “Saman” dan “Larung”. Di dalam “Larung” Ayu Utami masih mempertahankan penggunaan bahasa-bahasa yang kaya akan makna. Kadang terasa rumit, kadang puitis, dan simbolik, dan di balik semua itu terdapat pesan-pesan mendalam yang membuat novel ini menjadi sangat hidup, seperti terdapat dalam Teknik Pemandangan berikut:
“Ketika orang menjadi tua maka keindahan pergi ke luar dirinya. Pada saat itulah kita tahu rasanya memiliki mata untuk melihat kecantikan hidup dari luarnya sebab kita telah berjarak dari hidup. Bayi-bayi yang lahir dan tumbuh, anak lelaki yang menyukai buah dada serta anak perempuan yang diam-diam membayangkan penis pamannya, mereka lincah seperti kijang, mereka menangis dan berkelahi untuk perkara sepele sebagai latihan (tanpa mereka ketahui) bagi masa dewasa yang tak mereka ketahui, di mana air mata dan kekejaman memang mempunyai alasan. Tapi menjadi tua adalah seperti bayangan yang pelan-pelan terlepas dari layar dan meninggalkan film yang terus berputar sementara ia terhirup ke kursi penonton dan menyaksikan cerita yang berjalan tanpa dirinya di sana lagi. (sebuah gedung bioskop, Nak, adalah layar lebar yang bercahaya dan ruang pemirsa yang gelap dan luas; kita tahu banyak kursi meski kita tak melihat warnanya.) Ketika orang menjadi tua maka ia menjadi mata. Dan hanya mata. Tak ada lagi saya. Hanya mereka“ (Larung, 2002:17).
Kutipan di atas mencerminkan ciri khas gaya bertutur Ayu Utami yang padat, sarat dengan nilai-nilai filosofis namun, tetap puitis, dan memiliki cita rasa tersendiri. Pengarang mengajak pembaca untuk mengolah imajinasi dan pikirannya agar dapat memetik nilai tersebut.
Contoh lain Teknik Pemandangan terdapat dalam kutipan berikut:
“Tahun 1964, ingatkah kau, jauh sebelum aku memandang ke arah laut, ketika kau belum punya rasa takut. Kita menempati sebuah rumah, tempat putraku – orang yang kau panggil bapak – diperintahkan tinggal. Ia masih begitu muda, pangkatnya pembantu letnan, paku satu di bahunya, tubuhnya ramping. Kita datang dari Jawa, ke Bali, dengan truk dan feri, ketika ia bergabung dengan Batalyon 741 di Kuta. Ia begitu muda, kau begitu gembira. Tapi bagiku, kau tak tahu, betapa telah lama aku meninggalkan pulau kanak-kanakku. Setengah abad kubiarkan masa lalu itu larut bersama kutukan sebab pada masa gadisku aku meninggalkan puri dan orangtuaku demi seorang Belanda petualang. Kini aku kembali, meski hanya di selatan, meski hanya ke arah kelod. Aku telah tua, dan seluruh keluargaku telah moksa bersama kegeraman mereka.” (Larung, 2002:63).
Contoh lain Teknik Pemandangan bisa dilihat lewat kutipan berikut:
“Sejak menstruasi pertama, aku merindukan penghukuman. Ketika aku bersetubuh dengan Lukas jauh sebelum kami menikah, barangkali kukira dia bisa memenuhi fantasi tentang lelaki yang dominan. Tapi barangkali aku melakukannya untuk melanggar hukum. Sebab dengan demikian aku pantas dihukum seperti seharusnya anak gadis yang bersundal di rumah bapanya dalam kitab Ulangan. Sebab melanggar dan dihukum adalah dorongan erotisku.” (Larung, 2002:160).
c. Novel “Nayla”
Teknik Pemandangan dalam novel ini bisa dilihat lewat kutipan berikut ini:
“Mata Nayla menatap tajam ke arah rangkaian peniti yang teronggok di atas meja tepat di depannya. Beberapa tahun lalu, Nayla masih gentar setiap kali melihat rangkaian peniti itu. Ia akan terdiam cukup lama sebelum akhirnya terpaksa memilih satu. Itu pun harus dengan cara ditampar ibu terlebih dulu. Beberapa tahun lalu, Nayla masih gemetar ketika tangan ibu menyalakan pemantik lantas membakar peniti yang sudah dipilihnya. Peniti dengan ukuran terkecil, tentunya. Dan ketika peniti yang menurut Ibu sudah steril itu ditusukkan ke selangkangannya, ia akan mengapit rapat-rapat kedua pahanya. Terisak. Meronta. Membuat Ibu semakin murka“ (2005:1).
Bila dalam Supernova “Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh” Dewi Lestari terkesan seperti mengumbar ilmu pegetahuannya, dan dalam dwilogi “Saman-Larung” Ayu Utami banyak menggunakan bahasa yang dibunga-bungakan, maka novel “Nayla” karya Djenar Maesa Ayu tampil lebih apa adanya. Pengucapan-pengucapan terkesan polos dan lugas namun, tak jarang menimbulkan kegetiran dalam diri pembaca. Tema-tema seksualitas yang merupakan ciri khas Djenar Maesa Ayu dipaparkan dengan gamblang namun utuh.
Teknik Pemandangan lain dalam novel ini terdapat dalam kutipan berikut:
“Namanya Nayla. Teman-temanku sesama pembina tak ada yang suka dengannya. Mereka merasa Nayla sombong karena keluarganya terkenal dan kaya. Sudah seminggu ia di sini. Di kala senggang kerjanya hanya tertawa-tawa sendiri, memilin-milin ujung rambut, dan menggigiti ujung jari.” (2005:18).
Contoh Teknik Pemandangan lain juga terdapat dalam kutipan berikut:
Senang sekali rasanya kembali menghirup udara kebebasan. Hampir tiga bulan saya terkurung di dalam barak itu, hanya melakukan upacara pagi, menjahit, mencuci, mengepel, dan menyapu. Heran, kenapa cuma ketrampilan itu yang mereka bekali ke perempuan. Tanpa diajari pun kami pasti bisa melakukannya. Tapi, sudahlah. Yang penting saya sudah bebas sekarang.” (2005:21).
Contoh lain Teknik Pemandangan dalam novel ini terdapat dalam kutipan berikut:
“Diskotek itu sering mengundang pengisi acara. Penyanyi lengkap dengan penari latar. Ternyata mereka kekurangan penari. Saya menawarkan diri. Saya pun diajari. Setelah beberapa kali latihan, saya resmi bergabung dengan mereka. Kami dapat kontrak menari tiap malam minggu di sebuah hotel berbintang lima. Setiap kali menari dibayar lima puluh ribu. Jadi saya mendapat uang ekstra dua ratus ribu dengan menari empat kali dalam sebulan. Sangat memadai untuk saya, ibu. Saya yakin semua ini bukan kebetulan, tapi pasti kemurahan Tuhan. Termasuk terbebasnya saya dari pergaulan sebelumnya yang begitu liar dan menyeret saya ke dalam berbagai tindak kriminal.” (2005:54).
Contoh lain kutipan Teknik Pemandangan juga terdapat dalam kutipan berikut:
“Saya juga punya pacar. Bukan laki-laki, tapi perempuan. Yang laki-laki Cuma untuk hit and run. Mereka benar-benar makhluk yang menyebalkan, sekaligus menggiurkan. Tapi untuk urusan perasaan, saya lebih merasa nyaman dengan perempuan. Entah salah atau benar, saya menemukan Ibu di dalam dirinya. Saya rindu Ibu. Tapi saya tahu, pasti ini bukan saatnya cengeng-cengengan. Seperti Ibu bilang, kita harus kuat jika ingin bertahan. Tak ada waktu untuk meratapi keadaan.” (2005:54-55).
Semua kutipan Teknik Pemandangan di atas mencerminkan gaya bercerita Djenar Maesa Ayu yang begitu lancar. Kalimat-kalimat yang dipakai tidak mengandung asosiasi-asosiasi rumit, sehingga pembaca dapat dengan mudah menangkap maksud yang disampaikan pengarang.
2.2 TEKNIK ADEGAN
a. Novel “Supernova” (Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh)
Rumitnya unsur-unsur sains yang dihadirkan barangkali akan membentuk anggapan di mata pembaca, jika Supernova “Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh” adalah sebuah karya fiksi ilmiah yang berat dan sukar dimengerti. Namun, jika membaca dengan seksama setiap bagian cerita maka kesan tersebut akan hilang. Di sinilah bisa dilihat bagaimana kecerdasan seorang pengarang. Ia menulis novel ini dengan bahasa yang cukup ringan dan sangat populer. Meski dengan bumbu-bumbu istilah fisika yang rumit, sandaran cerita yang ditampilkan mampu menjembatani istilah-istilah tersebut menjadi wacana yang cukup mudah dimengerti, sehingga membuat novel ini menjadi bacaan yang menggairahkan bagi penikmat sastra. Kehadiran novel ini membuat orang tak lagi mempedulikan dikotomi antara gaya sastra pop dan sastra serius. Novel ini adalah gabungan dari keduanya. Cerita dirangkai dengan bahasa yang populer dengan tetap mengindahkan hakikat nilai sebuah karya sastra. Kutipan Teknik Adegan berikut adalah contoh:
“Panjang antrean tiket sudah menyamai arak-arakan barongsai.
“Kalian duduk aja, atau jalan-jalan kek. Biar aku yang ngantre,” Re menawarkan diri.
“Nggak ah. Apaan sih kamu, Re. Kita ngantre bareng saja,” Lala langsung menolak.
“Lho! Jangan ditolak! Memang itu gunanya dia ikut. Supaya ada yang ngantre tiket, dan kita tetap bisa pacaran. Kalau enggak, apa untungnya kita ajak dia?” tukas Ale.
“Pergi sana...” Re tertawa, “kampret!”
Ale tergelak-gelak. Pasangan itu pun berjalan pergi“ (2001: 118).
Adegan bersetting di bioskop tersebut dipaparkan dengan lugas dan ringan. Kata-kata yang digunakan para tokoh juga adalah kata-kata yang dipakai dalam kehidupan masyarakat Jakarta sehari-hari. Jenis percakapan tersebut sering dijumpai dalam novel-novel pop seperti teenlit, dan lain sebagainya. Dewi Lestari mampu membuktikan bahwa karya sastra tidak selalu harus terkesan kering dan membosankan. Dengan teknik seperti itu ia mampu merangkul pembaca dari berbagai kalangan, baik remaja atau anak muda, hingga mereka yang benar-benar pembaca sastra atau para ahli sastra.
Seusai memasuki garasi rumah, ia tidak langsung turun dari mobil. Dicermatinya semua barang satu persatu. Diambilnya dengan penuh kesaksamaan. Ia tidak mau ada yang ketinggalan. Tas... kertas-kertas... Harvard Business Review... charger telepon genggam... tempat kacamata... ia masih mencari. Barang kecil itu.” (2001:18).
Contoh Teknik Adegan lain terdapat dalam kutipan berikut:
“Saking gugupnya, Rana malah mengeluarkan gumaman-gumaman aneh. Ia sungguh tidak tahu harus memulai darimana. Ini sangat memalukan.
“Maaf, kalau boleh tahu, umur Anda berapa?”
Keningnya langsung berkerut. “Dua puluh delapan. Kenapa?”
Re tertawa renyah.”Sori. Sori. Bukan kenapa-kenapa. Saya kira saya akan diwawancarai oleh reporter senior yang umurnya setidaknya 35-40 tahun.”
Rana mulai terusik. “Saya wakil pemimpin redaksi. Mungkin fenomenanya sama seperti Anda, hanya beda skala, beda bidang,” ia menjawab lugas. Sikap duduknya berubah santai. Suaranya memantap, pandangan menjadi berani.” (2001:24).
Teknik Adegan lain dalam novel ini bisa dilihat lewat kutipan berikut:
“Di kamarnya, memakai kaos oblong putih dan celana pendek, Diva duduk menghadap jendela. Tak ada lagi yang dapat ia lakukan selain memeluk bantal kecil, dan terus menangis. Ia ingin membiarkan semuanya lepas. Kepenatan itu. Tubuhnya masih cukup peka untuk memberikan sinyal bahwa ia tidak mampu menanggung semua. Karena itulah ia menangis.” (2001:125).
Teknik Adegan lain juga bisa dilihat lewat kutipan berikut:
“Di teras belakang menghadap kebun kecilnya, mereka berdua bercakap-cakap seperti sahabat lama. Kadang-kadang serius, kadang-kadang konyol. Terkadang kening keduanya berkerut-kerut, namun ada kalanya mereka terpingkal-pingkal.” (2001:193).
b. Dwilogi Novel “Saman”-“Larung”
Selain lewat penggambaran Teknik Pemandangan, kekuatan bentuk novel ini juga bisa dilihat dari cara pengarang melukiskan sebuah adegan. Meski unsur seksualitas dalam novel dipaparkan secara eksplisit, namun dengan gaya kepuitisannya Ayu Utami mampu mengemasnya menjadi menarik. Kekuatan tersebut bisa dilihat melalui kutipan Teknik Adegan berikut:
“Lalu kami berbaring di ranjang, yang tudungnya pun belum disibakkan, sebab kami memang tak hendak tidur siang. Dia katakan, dada saya besar. Saya jawab tidak sepatah kata. Dia katakan, apakah saya siap. Saya jawab, tolong, saya masih perawan. (Adakah cara lain.) Dia katakan, bibir saya indah. Ciumlah. Cium di sini. Saya menjawab tanpa kata-kata. Tapi saya telah berdosa. Meskipun masih perawan” (Saman, 2002: 4).
Kutipan tersebut sebetulnya hanya sebuah adegan yang sederhana, tentang bagaimana tokoh Laila bercumbu dengan tokoh Sihar, lelaki yang sudah beristri, serta situasi psikologis yang dialami Laila, sang pencerita. Di sinilah terlihat kepiawaian pengarang dalam membangun suasana. Ayu Utami mampu membuat adegan yang sederhana tersebut menjadi indah dan menarik melalui penemuan teknik yang menjadi ciri khasnya. Sangat detil dan estetis. Kedetilan Ayu Utami dalam melukiskan cerita juga bisa dilihat lewat kutipan-kutipan berikut:
“Rosano menatap tajam-tajam, mencoba mengendalikan diri. “Oke!” katanya setelah mengontrol nafasnya. “Saya coret nama kamu. Akan saya laporkan itu pada Seismoclypse sebagai permintaan kamu sendiri.” Ia menoleh kepada Iman yang ternganga di antara mereka berdua, lalu menunjuk anak itu. “Sekarang kamu yang in charge di sini. Run alat itu! Kalau tidak, Seismoclypse terpaksa bayar ganti rugi.” (Saman, 2002:14).
Contoh Teknik Adegan lain bisa dilihat lewat kutipan berikut:
“Wis terduduk dan menoleh ke belakang, ke arah ranjang. Tetapi suara itu hilang begitu ia melihat ibunya sedang terduduk pada kasur. Lampu yang buram menampakkan wajahnya yang rileks dan tersenyum. Wis seperti terjaga dari mimpi. Ditatapnya perempuan tua di sebelahnya. Lik dirah tidur nyenyak. Mulutnya menganga, mengeluarkan dengkur lembut. Ia pasti tak mendengar apa-apa. Bapak belum naik. Ia agak heran, tetapi kembali merebahkan diri.” (Saman, 2002: 52).
Contoh Teknik Adegan lain bisa dilihat lewat kutipan berikut:
“Sesaat kemudian Saman berdiri di muka dapur, menemukan Laila yang gemetar dalam bau minyak tanah. Perempuan itu telah menumpahkan tabung kompor.
“Ada orang. Bawa arit.” Suaranya terpatah-patah.
Saman mengambil parang dari lemari dapur dan menanti. Wajahnya tegang. Laila mendapatkan pisau, namun tangannya masih gemetar. Suara angin. Lalu keduanya melihat semak bergerak. Sosok itu muncul dan menyapa, “Abang! Bang Wis!”
Segera Saman mengenali suara itu. Anson.” (Larung, 2002:108-109).
Contoh Teknik Adegan lain juga bisa dilihat lewat kutipan berikut:
“Sihar menatap saya, mungkin tak lebih dari dua detik. Wajahnya lempang, namun pada sebentar tatapannya ia menyatakan sesuatu. Maafkan aku, Laila. Tetapi sudah kubilang aku lelaki beristri. Sihar, tak bisakah kamu tak mengajak istrimu barang dua jam?
“Ini Yasmin, Yang.”
Kamu memanggilnya “sayang”. Dan ia cantik.
“Ini Laila.”
Kamu perkenalkan Yasmin lebih dulu.
“Hai!” Ada percaya diri yang kuat padanya. “Sihar cerita banyak tentang kalian berdua di Perabumulih... Mana Saman?”
“Ini Cok, teman kami juga. Saman sebentar lagi datang.” Yasmin mengambil pembicaraan sebab ia tahu saya tak sanggup menyahut.” (Larung, 2002:123).
c. Novel “Nayla”
Di dalam novel ini Djenar banyak menggunakan gaya naratif untuk menampilkan cerita. Sehingga Teknik Adegan lebih banyak dalam bentuk naratif daripada dialog. Kutipan-kutipan berikut dapat menjadi contoh:
“Kerja apaan sampe jam dua pagi! Jual diri?! Iya gak, Mbak!”
Mbak-mbak penjaga toilet yang berdiri di samping Nayla Cuma bengong tak tahu harus menjawab apa ketika seorang perempuan bertubuh aduhai ngomel-ngomel setelah memutus pembicaraan di ponsel. Tak puas dengan reaksi mbak-mbak penjaga toilet, arah mata perempuan bertubuh aduhai itu pun beralih ke Nayla yang secara tak sadar sedang memperhatikannya.
“Bener gak, Say?! Kerja apaan sampe jam dua pagi kalo bukan jadi gigolo!?” (2005:59).
Teknik Adegan lain terdapat dalam kutipan berikut:
“Juli muncul di pintu kamar mandi yang tiba-tiba terbuka di depan Nayla. Matanya merah. Jalannya sempoyongan. Dengan sigap Nayla memapah Juli keluar dari dalam toilet menuju konsul DJ lalu memesan Coca Cola dicampur dengan garam. Di atas konsul, para juru lampu dan juru musik yang lain pun telah dibungkus mabuk. Selain sudah banyak mengonsumsi alkohol, mereka juga mengisap ganja yang sudah dicampur dengan cocaine.” (2005:60).
Teknik Adegan lain bisa dilihat lewat kutipan berikut:
“Dari kejauhan, Juli menatap Nayla yang sedang berjalan menghampiri. Jalannya tergesa. Sebuah tas besar menggantung di bahu kirinya, dan tas kecil menggantung di bahu kanannya. Tangan kanannya memegang sebatang rokok. Hak sepatunya yang tinggi semakin lama semakin jelas terdengar berbunyi tik tok tik tok.” (2005:65).
Teknik Adegan lainnya bisa dilihat dalam kutipan berikut:
“Ben menghampiri Nayla yang masih serius di depan komputernya. Ben memeluk Nayla dari belakang sambil mengecup kepalanya. Mata Ben tertumbuk pada tulisan Nayla di layar monitor dan sekilas membacanya. Sejenak ia diam, lalu melangkah kembali menuju sofa. Ben mengambil majalah, membuka-buka halamannya, pura-pura serius. Nayla memperhatikan gelagat Ben dengan tak kalah serius.” (2005:87).
Teknik Adegan lain bisa kita lihat lewat kutipan berikut:
Ibu mengambil baju dari tangan Nayla lalu melangkah ke arah Om Deni. Om Deni segera membayar semua barang termasuk belanjaan Ibu. Setelah pembayaran selesai, Om Billy menghampiri Nayla. Sekali lagi menjabat tangannya dan tak lupa memasukkan sejumlah uang ke dalam tasnya sambil berbisik,
“Ini untuk jajan ya, Sayang...”
Lalu mengedipkan matanya.”(2005:97).
2.3 TEKNIK MONTASE
a. Novel “Supernova” (Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh)
Meski sangat jarang, Teknik Montase juga digunakan Dewi Lestari dalam novel ini, seperti dalam kutipan berikut:
“Tirai jendela di seberang rumahnya tertutup jua. Hari itu tiba sudah, dan Supernova agaknya kurang suka perpisahan. Ia hanya menyelipkan secarik kertas di pintu depan:
Segalanya ada padamu. Di dalam dirimu.
Termasuk aku.
Ada getar yang menoreh perih dalam hatinya, sekalipun Re tahu mereka tidak terpisah. Sayup-sayup terdengar alunan lagu dari putaran piringan hitamnya. Dan betapa ia merindukan Diva, berandai kalau saja bisa memeluknya, mengajaknya berdansa meniti kata-kata terindah:
“... Love is free, free is Love / Love is living, living love ...”
Namun siapa kiranya yang dapat menahan Bintang Jatuh? Dia telah datang menyalakan langitnya, dan kini dirinya sendirilah yang memegang kunci cahaya itu. Re memejamkan mata. Sebuah perasaan mahaindah merasuki setiap kelumit batin. Menggerakkannya bangkit. Melebur dalam langit pagi“ (2001: 224).
Pemaparan mengenai Supernova yang menyelipkan secarik kertas terputus begitu saja. Cerita dilanjutkan dengan pemaparan suasana hati yang sedang dirasakan tokoh Ferre. Setelah itu kisahan terputus lagi, dan dilanjutkan dengan penggambaran mengenai sosok Bintang Jatuh, yang akhirnya kembali dihubungkan dengan suasana hati tokoh Ferre tadi.
Di dalam dwilogi novel “Saman”-“Larung” dan novel “Nayla” penulis tidak menemukan adanya penggunaan Teknik Montase.
2.4 TEKNIK KOLASE
a. Novel “Supernova” (Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh)
Di tengah-tengah cerita Dewi Lestari banyak menggunakan Teknik Kolase. Ia sering menyisipkan puisi atau lirik lagu untuk memperkuat suasana psikologis yang dialami para tokoh, seperti yang terdapat dalam kutipan berikut:
“Malam yang larut pun membawanya ke pos terakhir sebelum tidur: kamar kerja.
“Love is real, real is Love / Love is wanting to be loved /
Love is you / You and me /
Love is knowing / You can be...”
Piringan hitam album John Lennon-nya yang sudah belasan tahun kembali diputar“ (2001:20).
Pencerita menggambarkan tentang tokoh yang memasuki kamar kerjanya. Cerita terputus, lalu dilanjutkan dengan penggalan lagu berjudul Love dari John Lennon. Penempatan teks lagu tersebut bukannya tanpa tujuan. Pencerita memiliki alasan tersendiri, seperti ia juga mempunyai alasan kenapa penggalan lagu itu yang dipilih dan bukan lagu-lagu yang lain. Terpotongnya cerita dengan teks-teks seperti itu jika kita amati sesungguhnya mempunyai hubungan yang maknanya implisit.
Selain lirik lagu, Dewi Lestari juga menyisipkan penggalan puisi dalam novel ini, seperti kutipan Teknik Kolase lain berikut:
“Alam begitu murung, sekaligus indah. Hujan terlihat rapat di hamparan lapangan golf itu. Rasanya ia sedang berkaca...
Aku merasa begitu kecil di tengah keluasanku.
Rintikmu raksasa dalam mungil tetesmu.
Engkau menyelimuti dengan dingin.
Dan semakin kau merapat, semakin membara alam ini.
Jutaan engkau kini turun membanjiriku.
Tak akan pernah aku meluap, Puteri.
Kugali tanahku lebih dalam dan kubuka semua celah untuk menyergapmu.
“Rana... jangan pulang.”
Ia tidak menjawab. Tapi tubuh itu mengirimkan getaran-getaran yang sudah sangat ia hafal“ (2001:85).
Di bagian awal kutipan, pencerita menggambarkan latar, kemudian cerita terpotong dengan sebuah puisi (huruf miring). Setelah itu, cerita kembali berlanjut dengan perkataan sang tokoh, yang dilanjutkan lagi dengan narasi pencerita. Penampilan puisi seolah tak mempunyai hubungan dengan cerita namun dengan asosiasi keterkaitan bisa terlihat.
Contoh Teknik Kolase lain dalam novel ini terdapat dalam kutipan berikut:
“Inspirasi. Kata itu mengempaskannya kembali ke lorong-lorong gelap masa lalu. Kenangan beranak kenangan.
Dulu aku adalah pujangga.
Seorang arwah pujangga tersasar masuk ke dalam tubuh mungilku.
Dulu aku berkata-kata bak mutiara nan wangi.
Dan mutiara sangatlah aneh di tengah batu kali.
Pikiranku adalah seribu persimpangan dalam sekotak korek api.
Karena itulah aku anomali.
“Kamu pasti kalah, sayang. Jadi siap-siap merancang puisi dari sekarang,” bisik Rana manja.” (2001:75-76).
Sama seperti kutipan sebelumnya, kutipan di atas pun adalah kisahan yang terpotong oleh sebuah puisi (huruf miring). Penempatan puisi di tengah-tengah cerita juga terdapat dalam kutipan Teknik Kolase berikut:
“Diam-diam tangan kirinya mencoretkan garis-garis di selembar kertas. Hampir dua menit sekali.
Karena ini ia dinamakan si jantung hati.
Memompa lembut seperti angin memijat langit.
Berdenyut lincah seperti buih yang terus berkelit.
Dan darah cinta adalah udara,
Dengan roh rindu yang menumpang lewat di dada.
Orang-orang di sekitarnya mulai sadar. Bos mereka bolak-balik menghela napas. Persis sedang senam waitankung.” (2001:76-77).
Contoh lain Teknik Kolase yang menempatkan puisi di tengah-tengah cerita juga terdapat dalam kutipan berikut:
“Ngaco,” dumel Re pelan. Kepalanya makin merunduk mendekati piring.
Semua orang menyimpan sebongkah matahari dalam dirinya.
Ada yang terbit dan ada yang terbenam.
Matahariku bersinar nonstop dua puluh empat jam.
Masih adakah cucian yang belum kering?
Adakah sampah yang ingin kalian bakar?
Mari, dekatkan pada wajahku.
Baginya, gejolak 24 jam itu adalah kemajuan. Bagi Ale, itu dekadensi besar dan sudah kenyang Re dimakinya. Pembuangan waktu seperti ini juga akan jadi bahan omelan empuk.” (2001:78).
b. Dwilogi Novel “Saman”-“Larung”
Hampir tidak ada Teknik Kolase digunakan Ayu Utami dalam dwilogi novel ini. Meski sangat jarang, teknik ini terdapat dalam “Saman” ketika cerita mengisahkan tentang tokoh Shakuntala yang bertemu dengan seorang raksasa. Kisahan terputus dengan ditampilkannya sebuah almanak, seperti di dalam kutipan berikut:
“Di negerinya orang-orang beranggapan bahwa manusia di tanah Timur hidup dengan norma-norma yang ganjil. Lelakinya suka mengenakan perhiasan pada penisnya, di permukaan atau ditanam di bawah kulitnya. Wanita tanpa malu-malu membangkitkan gairah lawan jenis, bahkan orang asing, sebab mereka begitu menikmati seks tanpa pernah merasa tabu. Lalu ia menyodorkan aku sebuah almanak. DI TANAH DI MANA TUHAN KITA BELUM DIKENAL, BANGSA-BANGSA MEMUJA PERCABULAN. MEREKA MEMBUAT BERMACAM RAMUAN AKAR-AKARAN DALAM TEMPAYAN GERABAH,.....”(Saman, 2002:134-135).
Ketika pencerita tengah menggambarkan tentang anggapan negeri barat terhadap manusia yang hidup di tanah timur, kisahan diputus oleh sebuah almanak tentang sebuah cerita legenda mengenai dosa seksualitas lelaki dan perempuan. Almanak tersebut terasa seperti tidak ada hubungan langsung dengan cerita, karena kaitannya lebih bersifat implisit.
Teknik Kolase juga terdapat dalam novel “Larung” seperti terdapat dalam kutipan berikut:
“Aku tahu kamu belum pernah mengalami orgasme. Juga ketika bercumbu dengannya. Kini tak kubiarkan kamu menemui lelaki itu sebelum kamu mengetahuinya. Sebelum kamu mengenali tubuhmu sendiri.
Setelah ini kamu boleh pergi:
SEBAB VAGINA ADALAH SEJENIS BUNGA KARNIVORA SEBAGAIMANA KANTONG SEMAR. NAMUN IA TIDAK MENGUNDANG SERANGGA, MELAINKAN BINATANG YANG LEBIH BESAR, BODOH, DAN TAK BERTULANG BELAKANG, DENGAN MANIPULASI AROMA LENDIR SEBAGAIMANA YANG DILAKUKAN BAKUNG BANGKAI....” (Larung, 2002:153).
Pada kutipan di atas kisahan terputus oleh sebuah fragmen yang berbeda ruang dan waktunya. Kisahan dan fragmen tidak berhubungan secara langsung tetapi, memliki hubungan yang implisit.
c. Novel “Nayla”
Terdapat beberapa penggunaan Teknik Kolase dalam novel ini. Pengarang menyelipkan bentuk-bentuk lain di tengah-tengah cerita, seperti skenario dan naskah drama. Selipan-selipan ini memang terkesan tidak mempunyai hubungan langsung dengan kisah sebelumnya, tapi bila dilihat melalui konteks keseluruhan, kaitan tadi bisa kita dapati. Kutipan berikut adalah contoh:
“Suara langkah Ayah dan Mbak Ratu makin sayup. Mata Nayla mulai mengatup. Kenangan tentang ibu mulai meredup.
DI ANTARA DUA BENTUK
EKSTERIOR – PANTAI KUTA- SIANG HARI
Pantai Kuta ramai dipenuhi turis internasional maupun lokal. Terik matahari dengan leluasa memanggang tubuh yang berpakaian setengah telanjang. Mobil berjalan merayap di atas aspal. Terlihat satu mobil van mewah dengan cat hitam dan kaca super gelap berada di antara mobil-mobil yang merayap itu.” (2005:169).
Setelah Nayla selesai bergelut dengan potongan-potongan kenangan yang pernah ia alami, tentang ibu maupun ayahnya, cerita terhenti dan dilanjutkan dengan sebuah cerita skenario yang terlihat tak mempunyai hubungan dengan aktifitas Nayla yang sedang mengenang orangtuanya. Tapi, isi cerita skenario tersebut ternyata terinspirasi dari kenangan Nayla bersama ibunya di Bali.
Contoh lain penggunaan Teknik Kolase di dalam “Nayla” terdapat dalam kutipan berikut:
“Waktu saya sudah mengenal minuman, saya tidak pernah tidak jujur. Saya marah ketika mau marah. Saya memaki ketika mau memaki. Saya melakukan apa yang saya anggap benar dan tidak mendendam. Saya merasa seperti bidadari!
NAYLA: Bukan itu loh maksud mereka. Jangan marah dong. Mereka kan gak tau apa-apa.
KINAR: Nah, itu dia maksud gue, kalau gak tau apa-apa jangan sok tau!” (2005:162).
Kisahan tentang tokoh Nayla yang mempunyai pandangan kontradiktif dengan orang lain, tentang kesan dirinya ketika sedang dipengaruhi alkohol, tiba-tiba terputus dan dilanjutkan dengan sebuah dialog berbentuk naskah drama. Naskah drama ini adalah perwujudan dari respon Nayla terhadap perspektif orang lain yang bertolak belakang dengan perspektifnya tersebut.
2.5 TEKNIK ASOSIASI
a. Novel “Supernova” (Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh)
Teknik Asosiasi adalah teknik penceritaan yang sangat jarang digunakan oleh pengarang. Teknik ini biasanya didapati pada novel-novel dengan genre eksperimental. Meski begitu, teknik tersebut terdapat juga dalam novel ini:
“Untung saja ia menerima permohonan wawancara itu... kalau tidak... untung saja jadwal hari itu kosong... kalau tidak... untung saja ia bekerja di kantornya... kalau tidak... untung saja ia hidup... kalau tidak...
Semua berawal dari satu gerakan
Semua berawal dari satu ide.
Semua berawal dari satu getar sel abu-abu.
... Re tidak pernah mau diwawancara. Deretan majalah dan surat kabar berburu untuk memuat artikel tentang dirinya. Dari mulai majalah bisnis betulan sampai majalah wanita yang ingin menjadikannya pria bulan ini.” (2001:21).
Asosiasi atau tautan dapat berlaku di dalam diri tokoh, pembaca, atau pencerita. Asosiasi dalam kutipan di atas adalah asosiasi dalam diri pembaca. Kisahan seolah terputus oleh tiga baris kata-kata mutiara atau pepatah, yang sesungguhnya memiliki makna tersirat terhadap kisahan selanjutnya. Makna tersirat ini akan terungkap lewat asosiasi yang dilakukan pembaca.
b. Dwilogi Novel “Saman”-“Larung”
Teknik Asosiasi hampir tidak ditemukan dalam dwilogi novel ini. Namun, Teknik ini terdapat juga dalam novel “Larung” seperti dalam kutipan berikut:
“Namun hujan tiba-tiba, begitu deras, sehingga matahari tak jadi terbit. Pagi berhenti di tengah jalan. Lalu mas ojek membatalkan perjalanan sebab ia takut masuk angin.
Saya kira tukang ojek tak bisa masuk angin – kataku. Bukankah kedap angin adalah syarat kedua, SIM-C adalah syarat ketiga, dan miskin adalah syarat pertama? Awalnya saya kira juga begitu – ia menjawab. Tapi kawan saya Tukijo meninggal karena kemasukan angin-duduk sehabis narik hujan-hujan. Badannya biru dan kaku, ia tak bisa bernafas sebelum berpulang. Saya tak mau mati – katanya.
Kasihan Tukijo. Tetapi Ibu mau Simbah mati” (Larung, 2002:22-23).
Asosiasi dalam kutipan di atas adalah asosiasi dalam diri tokoh. Asosiasi bisa dijelaskan melalui kata penghubung yang digaris miring. Mas ojek yang membatalkan perjalanan sebab ia takut masuk angin, menimbulkan tautan pada pemikiran bahwa tukang ojek tak boleh masuk angin. Kemudian anggapan bahwa kedap angin merupakan syarat kedua, mengingatkan pada sosok Tukijo yang meninggal karena masuk angin sehabis narik hujan-hujan. Peristiwa itu menimbulkan tautan akan ketakutan terhadap kematian. Gagasan tentang kematian mengingatkan bagaimana Ibu Larung justru menginginkan simbah atau neneknya mati.
Di dalam novel “Nayla”, penulis tidak menemukan adanya penggunaan teknik asosiasi.
BAB III
PERBANDINGAN MASALAH SOSIOKULTURAL
Walaupun hanya merupakan hasil imajinasi atau rekayasa manusia, sebuah novel merupakan perwujudan dari persentuhan pengarang dengan masalah-masalah yang terdapat dalam lingkungan sekitarnya. Bertolak dari prinsip kritik sosiokultural yang mengatakan bahwa masalah sosiokultural berimplikasi dengan masalah sosial, budaya, politik, ekonomi, maupun moral. Disadari atau tidak masalah-masalah itu memang dapat berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung dalam diri pengarang. Berkaitan dengan itu, karya sastra bisa dikatakan sebagai salah satu media yang digunakan untuk mengungkap realita yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.
Masalah sosiokultural yang terdapat dalam karya sastra sangat luas dan kompleks. Oleh karena itu, penulis mengambil masalah paling menonjol yang terdapat pada setiap unsur sosiokultural yang terkandung dalam novel-novel yang akan dibahas. Pembahasan akan mengacu pada dua kategori implikasi. Kategori pertama adalah implikasi sosial, budaya, dan moral. Ketiga unsur tersebut sangat berkaitan dan tak bisa dipisahkan satu sama lain dalam novel-novel ini. Membicarakan unsur sosial akan berkaitan dengan masalah budaya maupun moral, demikian pula sebaliknya. Kategori kedua adalah implikasi ekonomi dan politik. Melalui kategori yang kedua ini, penulis akan membahas masalah sosial dan politik yang terdapat dalam novel-novel yang menjadi objek kajian.
3.1 MASALAH SOSIAL, BUDAYA, DAN MORAL
A. Novel “Supernova” (Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh)
1. Homoseksualitas
Insting seksual lazimnya terjadi antara pria kepada wanita maupun sebaliknya. Namun, banyak juga didapati keinginan seksual yang menyimpang dari biasanya. Pria menyukai pria dan wanita menyukai wanita. Secara umum mereka dikategorikan sebagai pasangan homoseksual. Wikipedia bahasa Indonesia menjelaskan bahwa:
“Homoseksualitas mengacu pada interaksi seksual dan/atau romantis antara pribadi yang berjenis kelamin sama. Pada penggunaan mutakhir, kata sifat homoseks digunakan untuk hubungan intim dan/atau hubungan sexual di antara orang-orang berjenis kelamin yang sama, yang bisa jadi tidak mengidentifikasi diri mereka sebagai gay atau lesbian. Homoseksualitas, sebagai suatu pengenal, pada umumnya dibandingkan dengan heteroseksualitas dan biseksualitas. Istilah gay adalah suatu istilah tertentu yang digunakan untuk merujuk kepada pria homoseks. Sedangkan Lesbian adalah suatu istilah tertentu yang digunakan untuk merujuk kepada wanita homoseks” (http://id.wikipedia.org/wiki/Homoseksualitas).
Sigmund Freud mengkategorikan mereka yang memiliki insting seksual ke sesama jenis sebagai manusia berperilaku seksual terbalik, atau disebut juga dengan Invert (2003:2-3). Perilaku invert itu sendiri terbagi dalam beberapa jenis, sesuai sifat atau kecenderungan yang dimiliki. Jenis yang pertama adalah mereka yang memiliki kecenderungan terbalik dalam dua arah, atau psychosexually hermaphroditic. Kelompok ini memiliki orientasi seksual secara umum, baik terhadap lawan jenis maupun sesama jenis, sehingga karakter invert mereka tidak menampakkan kekhususannya. Kelompok ini dalam masyarakat kota juga kita kenal dengan sebutan biseksual, misalnya seorang lelaki yang bisa berhubungan seks dengan lelaki ataupun perempuan. Jenis yang kedua adalah mereka yang hanya sesekali saja menampakkan perilaku invertnya, atau occasionally inverted. Kelompok ini menunjukkan karakter invertnya hanya dalam situasi tertentu saja. Misalnya, ketika kebutuhan objek seksual lawan jenis tidak terpenuhi, sehingga mereka memilih sesama jenis sebagai objek pemuasan seksual mereka. Kasus seperti ini banyak terjadi di dalam lingkungan penjara. Banyak tahanan yang menjadi korban sodomi dari tahanan lain dikarenakan tidak adanya pelampiasan seksual kepada lawan jenis. Contoh yang sama juga terjadi di masyarakat metropolitan, demi tujuan-tujuan tertentu, seperti popularitas, uang, dan lain-lain, banyak lelaki yang mempunyai orientasi seksual normal, melakukan hubungan intim dengan seorang homoseks. Di dalam novel Supernova (Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh), Dhimas dan Ruben adalah pasangan Gay. Kedua tokoh ini termasuk dalam kategori ketiga yaitu, absolutely inverted, Freud menjelaskan bahwa:
“Objek seksual mereka harus selalu berasal dari jenis kelamin yang sama. Bahkan bagi kelompok ini, lawan jenis tidak akan pernah mampu menjadi objek kerinduan seksual; lawan jenis hanya akan diacuhkan, bahkan mungkin menumbuhkan rasa jijik. Kemunculan rasa jijik ini, bagi kaum pria, membuat mereka tidak mampu melakukan aktivitas seksual normal atau kehilangan segala kenikmatan dalam melakukannya” (2003:3).
Sejarah homoseksual dunia sudah sangat tua, dahulu kita kenal dengan peristiwa Sodom dan Gomorah yang terdapat dalam alkitab perjanjian lama. Homoseksualitas merupakan praktek universal, dilakukan di mana pun, dan dalam kebudayaan apapun. Bahkan, empat belas dari lima belas kaisar Roma yang pertama adalah gay. Menurut Dede Oetomo, homofilia atau homoseksualitas terdapat di mana saja dalam kehidupan manusia karena secara biologis-psikologis manusia dilengkapi dengan kemampuan untuk melakukan tindakan seks yang jauh lebih banyak macamnya daripada hanya senggama penis dengan vagina. (http://itha.wordpress.com/2007/08/27/menyikapi-masalah-homoseksualitas).
Penggunaan pertama kata homoseksual yang tercatat dalam sejarah adalah pada tahun 1869 oleh Karl-Maria Kertbeny, dan kemudian dipopulerkan penggunaannya oleh Richard Freiherr von Krafft-Ebing pada bukunya Psychopathia Sexualis (-http://id.wikipedia.org/wiki/Homoseksualitas). Di dalam beberapa masyarakat, peran homoseksual bahkan dilembagakan. Seperti pada Suku Koniag, yang mensosialisasikan beberapa anak laki-laki sejak bayi untuk mengisi peran
wanita. Di kalangan Suku Siwan di Afrika, semua laki-laki dan anak laki-laki
diharapkan melakukan senggama anal dan ganjil bila tidak melakukannya (http://digilib.petra.ac.id/ads-cgi/viewer.pl/jiunkpe/s1/ikom/2006). Suku Dayak Ngaju mengharuskan tetua yang dipilih adalah seseorang yang berhubungan seks dengan sesama jenis kelamin. Pelembagaan Homoseksual yang kebanyakan terjadi pada masyarakat yang memiliki sedikit surplus sosial, identik dengan masalah produksi kebutuhan material masyarakat itu sendiri. Jumlah penduduk berlebihan pada kehidupan masyarakat yang masih memiliki metode kerja manual dan teknologi sederhana, akan menyebabkan kebutuhan material dengan jumlah penduduk mengalami ketimpangan. Hal ini menyebabkan munculnya mitos-mitos seputar masalah biologis yang melembagakan hubungan sesama jenis, dan melemahkan peranan hubungan heteroseksual, demi mengendalikan populasi penduduk.
Salah satu contoh suku bangsa Etoro, sebuah kelompok masyarakat yang bermukim di daerah Trans-fly Papua New Guinea, dengan jumlah penduduk sekitar 400 jiwa. Pandangan dan perilaku seksual orang Etoro berhubungan dengan kepercayaan-kepercayaan di sekitar siklus kelahiran, pertumbuhan fisik, kedewasaan, ketuaan, dan kematian (-http://www.e-samarinda.com/forum/index.). Kebudayaan Etoro menganggap perempuan adalah mahluk berbahaya dan tercemar, sehingga aktifitas persenggamaan bagi mereka adalah perilaku kotor. Hubungan seks heteroseksual hanya dilakukan untuk keperluan reproduksi, itu pun diperbolehkan hanya 100 hari dalam setahun. Di luar itu, persenggamaan dengan lawan jenis dianggap tabu. Mereka juga percaya anak-anak muda pria belum bisa menghasilkan spermanya sendiri, untuk itu membutuhkan sperma secara oral dari laki-laki yang lebih tua. Orang Etoro yakin sperma lelaki bisa memberi kekuatan hidup. Walaupun persenggamaan tidak disukai, aktifitas homoseksual diperbolehkan bahkan dianggap penting. Jadi, kehidupan homoseksual masyarakat seperti itu tidak didasari oleh dorongan patologi biologis, faktor genetika, atau hubungan emosional, tetapi lebih didasari oleh faktor kebudayaan, tradisi, yang memiliki kaitan erat dengan kondisi produksi material.
Sejak peristiwa Stonewall tahun 1969 yang dikenal sebagai peristiwa pembangkangan kaum homoseksual dalam memperjuangkan hak-haknya, yang juga bersamaan dengan gelombang kedua gerakan perempuan, homoseksual menjadi gerakan yang nyata, tidak lagi sembunyi-sembunyi, dan secara serius mulai menjadi bahan kajian studi sosial budaya. Di beberapa Negara tertentu seperti Belanda dan Kanada, pasangan homoseksual sudah bisa meresmikan ikatan hubungan mereka dalam pernikahan. Di Indonesia sendiri, homoseksual dalam beberapa tahun terakhir mulai berani dieksplorasi lewat media-media komunikasi massa, sebagai masalah sosial yang mau diterima atau tidak memang ada di sekitar kita. Contohnya lewat film dan karya sastra. Selain Supernova “Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh”, novel-novel Indonesia lainnya yang mengangkat homoseksualitas antara lain, “Relung-Relung Gelap Hati Sisi” karya Mira W, dan “Manusia-Manusia” karya Bagus Utama. Sejak zaman Balai Pustaka dan Pujangga Baru, para pengarang masih menganggap tema ini adalah tabu untuk ditampilkan dalam karya sastra. Sampai sekarang pun, meski tidak setabu dahulu, sastrawan yang mengangkat masalah tersebut masih tergolong minim.
Secara umum harus diakui bila fenomena gay memang masih dianggap menyimpang dalam masyarakat Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan tidak adanya angka resmi mereka yang menyatakan diri sebagai gay. Agama-agama yang ada di Indonesia sendiri memang menentang keberadaan homoseksual. Masyarakat kita seolah masih terjebak pada dualisme antara ingin menolak fenomena kaum tersebut, dan harus menerima kenyataan bahwa mereka ada di tengah-tengah kita.
Di kota metropolitan seperti Jakarta, kaum pencinta sesama jenis sudah cukup bisa diterima dan bukan lagi menjadi sesuatu yang aneh di mata sebagian besar masyarakat. Salah satu faktor penyebabnya adalah banyaknya media audio visual yang merupakan sumber informasi paling besar bagi masyarakat, sudah sering mengangkatnya sebagai masalah sosial. Tetapi, di sisi lain eksistensi mereka memang seringkali ditanggapi dengan respon negatif. Di dalam kehidupan sosial sehari-hari kaum homoseksual sering kita jumpai memiliki profesi yang dianggap remeh masyarakat. Pekerja seks, atau keahlian-keahlian lain yang berhubungan dengan penampilan luar. Masyarakat beranggapan seorang homoseks tidak bisa melakukan apapun, selain hanya bisa mengumbar dan memuaskan dorongan seksual mereka. Tidak perlu heran bila keberadaan kaum homoseksual sering ditertawakan. Bahkan, belakangan dijumpai seorang homoseksual melakukan pembunuhan berantai dengan memutilasi korbannya. Contoh-contoh tersebut, mengakibatkan penempelan sebuah stigma sulit untuk dihindari. Kaum homoseksual dikutuk, dijauhi, bahkan ditakuti. Masyarakat kita seolah mengalami kebencian besar terhadap mereka.
Menurut Prof. Dr. Dadang Hawari, (http://muhsinlabib. Wordpress.com/2007/07/19/homoseksualitas-kawin-sejenis-atau-ganti-kelamin), perilaku homoseksual tidak hanya diakibatkan oleh faktor natural semata seperti kelebihan hormon, namun juga merupakan problema psikologis (kejiwaan), sebagai akibat dari interaksi dan komunikasi bebas serta hilangnya pembatas moral antar lawan jenis.
Ia menambahkan, ada dua faktor utama yang menjadi penyebab homoseksualitas. Pertama adalah pengalaman traumatik di masa lalu, misalnya seseorang pernah menjadi korban sodomi, sehingga ia ingin membalas apa yang telah dialami kepada orang lain. Itu sebabnya homoseksualitas kerap dianggap sebagai penyakit menular. Kedua, pengaruh budaya dan komunikasi yang bebas. Fenomena seperti ini sering terjadi di kalangan selebritis. Misalnya, para artis, pada saat akan melakukan pertunjukan, shooting film ataupun show lainnya, harus berganti busana dalam waktu yang singkat karena kejar waktu, meski harus ‘telanjang’ di hadapan lawan jenisnya. Intensitas kontak indra yang sering, membuat mereka menjadi bosan dengan pemandangan ini dan mencari ’sensasi’ baru dengan melepaskan kecenderungan biologisnya kepada sesama jenis yang mengalami hal serupa. Tetapi contoh tersebut tidak sepenuhnya benar, karena seorang lelaki yang telah menikah bisa dibilang setiap hari melihat istrinya tanpa pakaian, namun ia tidak mengalami kejenuhan apalagi sampai berubah orientasi seksualnya. Pengaruh lingkungan keluarga juga bisa menjadi penyebab, misalnya seorang anak laki-laki dididik dan diperlakukan sebagai perempuan oleh orangtua dikarenakan keinginan untuk memperoleh anak perempuan yang tidak kesampaian.
Novel ini mengangkat sisi minor, atau sisi yang jarang dilihat dari kaum homoseksual. Lewat teks, pengarang ingin menjungkirbalikkan anggapan-anggapan negatif masyarakat yang telah menjadi stereotip tadi. Kaum homoseksual tidak selamanya seperti yang mereka pikirkan, tetapi banyak juga dari mereka yang menjadi pemikir dan memiliki visi yang hebat di bidangnya. Bahkan tokoh-tokoh besar dunia seperti Plato, Foucault, Alexander The Great, dan Leonardo Da Vinci adalah seorang gay. Di sini pengarang mencoba menekankan bahwa kaum pencinta sesama jenis juga sama seperti manusia-manusia lainnya, sama-sama bisa berpikir, mengkreasikan sesuatu, menciptakan konsep-konsep atau pemikiran-pemikiran yang cerdas, dan lain sebagainya, yang membedakan hanyalah bahwa mereka memiliki kecenderungan seksual bertolak belakang dengan manusia lainnya. Kaum gay juga memiliki sifat setia dan selalu ingin melindungi pasangannya. Sesuatu yang sudah jarang didapati dalam masyarakat heteroseksual. Berbeda dengan karakter kaum homoseksual yang umumnya memiliki orientasi utama pada pemuasan nafsu seks, Dhimas dan Ruben digambarkan sebagai sosok yang berbeda:
“Uniknya, sekalipun sudah sekian lama mereka resmi menjadi pasangan, Ruben dan Dhimas tak pernah tinggal seatap sebagaimana pasangan gay lain. Kalau ditanya, jawabannya: supaya bisa tetap kangen. Tetap dibutuhkan usaha bila ingin bertemu satu sama lain” (2001:13).
Dari kutipan tersebut bisa dilihat paradigma kedua tokoh yang mempunyai carapandangnya sendiri terhadap makna sebuah hubungan yang harmonis. Mereka menganggap bahwa hubungan yang mesra tidak hanya sekadar terekspresikan lewat hubungan seksual belaka. Hal ini berkaitan juga dengan wawasan dan kecerdasan yang dimiliki. Dhimas dan Ruben ditampilkan sebagai sosok berwawasan luas dan tergila-gila dengan ilmu pengetahuan. Hal ini bisa dilihat dari latar belakang pendidikan mereka yang tidak sembarangan. Ruben adalah seorang dokter lulusan Johns Hopkins Medical School dengan predikat cum laude. Sedangkan Dhimas mengenyam studi perguruan tingginya di George Washington University bidang ilmu sastra inggris. Hubungan mereka terjalin semenjak saling mengenal ketika menempuh studi perguruan tinggi di Washington DC. Tingkat pemikiran mereka yang di atas rata-rata tercermin dalam kutipan berikut ini:
“Dan Ruben pun masih tetap pahlawan Dhimas yang dulu. Si Indo-Yahudi bersemangat tinggi yang selalu sibuk menggabung-gabungkan ilmu psikologi dengan teori-teori kosmologi yang Cuma bisa ia mengerti sendiri. Ruben yang selalu menyebut dirinya sang psikolog kuantum. Kobaran semangatnya mampu menyalakan tungku banyak orang. Dengan ide-ide yang segar, Ruben adalah inspirator sekaligus kritikus paling sempurna buat Dhimas. Tak ada tulisan ataupun naskahnya yang tidak lebih dulu terplonco diskusi panjang dengan Ruben” (2001:12).
Lewat kutipan tersebut bisa dilihat bagaimana kualitas konsep berpikir kedua tokoh itu. Walaupun dalam hal ini tampak bahwa Ruben yang lebih dominan. Bisa kita lihat pula bahwa hubungan keduanya tidak hanya sebatas hubungan emosional, tetapi lebih dari itu, Dhimas dan Ruben masing-masing menganggap pasangannya sebagai partner hidup, tempat bertukar pikiran, tempat saling membelajarkan. Cara pandang seperti itu yang mengantarkan mereka pada sebuah cita-cita besar, yakni membuat sebuah roman masterpiece yang menghubungkan semua percabangan ilmu sains. Dengan latar belakang intelektualitas tinggi, cita-cita tersebut menjadi wajar dan masuk akal bagi keduanya. Proses penggarapan roman tersebut melahirkan tokoh-tokoh lainnya dalam novel ini. Supernova “Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh adalah cerita di dalam cerita. Pada beberapa bagian Dhimas dan Ruben berperan sebagai pencerita dalam novel.
Sigmund Freud mengatakan, para invert juga menampakkan perilaku yang berbeda-beda dalam menilai keganjilan insting seksual mereka (2003:4). Sebagian pelaku invert menganggap kecenderungan seksual atau libido yang mereka miliki adalah sesuatu yang wajar, sama halnya dengan mereka yang bukan invert, sehingga mereka menuntut perlakuan yang sama dalam lingkungan sosial. Namun, sebagian lagi bagaimanapun juga mengganggap ada yang tidak normal dengan dirinya, dan berusaha mengeluarkan diri dari karakter invert mereka. Di dalam novel ini Dhimas dan Ruben adalah pelaku invert yang mengganggap kecenderungan seksual mereka sesuatu yang wajar. Mereka samasekali tidak memusingkan apakah libido yang mereka miliki tersebut menyimpang atau tidak. Bagi mereka eksistensi seorang manusia tidak perlu dilihat dari asal-usul kecenderungan seksualnya. Sebagai manusia yang berpendidikan, mereka lebih memilih untuk sibuk mengurusi ilmu pengetahuan dan membuat sebuah karya monumental yang menggabungkan beberapa cabang ilmu sains.
Ada dua term utama dalam wacana homoseksualitas modern, berkaitan dengan tingkat keterlibatan kaum homoseks di dalam masyarakat secara umum maupun di lingkungan homoseks secara khusus, yaitu ‘closet’ (kloset) dan ‘coming out’ (keluar). Nuraini Juliastuti menjelaskan bahwa:
“Term 'kloset' digunakan sebagai metafor untuk menyatakan ruang privat atau ruang subkultur dimana seseorang dapat mendiaminya secara jujur, lengkap dengan keseluruhan identitasnya yang utuh. Sedangkan term 'coming out' digunakan untuk menyatakan ekspresi dramatis dari 'kedatangan' yang bersifat privat atau publik. Pemakaian term 'closet' dan 'coming out' disini bermakna sangat politis. Narasi 'coming out of the closet' menciptakan pemisahan antara individu-individu yang berada didalam dan diluar kloset. Kategori yang pertama diberi makna sebagai orang-orang yang menjalani hidupnya dengan kepalsuan, tidak bahagia, dan tertekan oleh posisi sosial yang diterima dari masyarakat. 'Kloset' kemudian bermakna strategi akomodasi dan pertahanan yang diproduksi untuk menghadapi norma-norma masyarakat heteroseksual di sekitarnya” (http://www.kunci.or.id/esai/nws/05/gay.htm).
Seperti dikatakan di atas, dikotomi dua term tersebut sarat dengan nuansa politis budaya heteroseksual, yang bertujuan untuk melestarikan keterpencilan dunia homoseksual dengan realitas kehidupan sehari-hari. Di dalam hal ini, ‘closet’ kemudian bermakna sebagai strategi akomodasi dan pertahanan yang diproduksi untuk menghadapi norma-norma masyarakat heteroseksual di sekitarnya (http://digilib.petra.ac.id/ads-cgi/viewer.pl/jiunkpe/s1/ikom/2006). Strategi represif yang diterapkan masyarakat heteroseksual untuk mengeluarkan homoseksual dalam kehidupan masyarakat melahirkan istilah ‘Closet Practice’. Strategi ini mulai dilakukan sejak tahun 1940-an, dan semakin intens berkembang pada dekade 1950-an dan 1960-an. Di dalam Supernova “Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh”, meski tidak secara langsung, sosok Dhimas digambarkan sebagai seorang homoseks yang masih berada di bawah bayang-bayang term ‘closet’ ini. Saat perkenalan pertamanya dengan Ruben, Dhimas terkesan ragu untuk mengakui kalau dirinya seorang homoseks, seperti dalam kutipan berikut:
“Ruben... katamu tadi, serotonin adalah deterjen otak?”
“Itu baru hipotesis, atau Cuma metafora. Kenapa?”
“Bisa jadi kamu benar. Kepalaku juga rasanya jernih. Aku kok jadi ingin jujur tentang sesuatu. Tentang diriku,” terdengar suara menelan ludah, “aku sebenarnya...”
“Gay?”
Dhimas terlongo. “Lho, gimana kamu bisa...?”
Ruben tertawa keras. “It was so obvious! Dari teman-teman hang out kamu, apartemen kamu yang katanya di Dupont Circle... dan kamu harus fly dulu untuk ngaku? Ha-ha-ha!”(2001:11).
Sebelum Dhimas hendak berkata jujur bahwa dirinya Gay, Ruben telah lebih dulu mengetahuinya setelah mengamati ciri-ciri dan kebiasaan yang dilakukan Dhimas. Setelah berkenalan dengan Ruben, Dhimas seolah merasa menemukan seorang teman sekaligus pahlawan yang sejati, yang memberinya kepercayaan diri sebagai seorang homoseks. Berbeda dengan Dhimas, Ruben digambarkan lebih berani menampilkan diri sebagai Gay, dijelaskan pula ia telah setahun ‘coming out’, seperti terdapat pada lanjutan kutipan tadi:
“Dhimas ikut terbahak. Merasa konyol.
“Tenang saja. Memangnya aku bukan?” Ruben berkata enteng.
Untuk kedua kalinya Dhimas terlongo. “Tidak mungkin... kamu kelihatannya sangat...”
“Sangat ‘laki? Siapa bilang jadi gay harus klemak-klemek atau ngomong pakai bahasa bencong! Gini-gini aku sudah ‘coming out’ dari setahun yang lalu. Orangtuaku juga sudah tahu. Malah mereka sudah kompak, katanya kalau sampai aku dipanggang di neraka bersama para pemburit seperti nasib Sodom dan Gomorah, mereka bakal minta ke Yahweh untuk ikut dibakar. Soalnya kalau aku dianggap produk gagal, berarti mereka juga. Hebat, ya?” (2001:11).
Ada banyak faktor yang menyebabkan seorang homoseks tetap setia hidup di bawah term ‘closet’. Misalnya, mereka takut ditolak dalam lingkungan sosialnya seperti lingkungan keluarga, pergaulan, dan lain-lain, sehingga mereka memilih hidup dengan dunianya sendiri dan tetap merasa nyaman dengan kepura-puraannya. Hal ini disebabkan masih begitu kuatnya masyarakat heteroseksual merepresi keberadaan mereka. Selain dampak sosial banyak juga kerugian-kerugian lain, misalnya dampak ekonomi, seperti contoh ketika seorang pengusaha yang mengatakan dengan jujur kalau dirinya gay, bisa saja ia kehilangan karirnya karena lingkungan pekerjaan yang tidak bisa menerima keberadaan gay. Namun, banyak juga yang dengan berani ‘coming out’ atau menyatakan sikap sebagai seorang homoseks kepada masyarakat luas. Dengan ‘coming out’ orang lain akan tahu bahwa di tengah-tengah mereka terdapat kaum minoritas homoseksual, yang benar-benar ada, namun seperti tidak terlihat. ‘Coming out’ sendiri adalah sebuah proses, di mana seorang homoseks akan melewati tahapan-tahapan tertentu, hingga eksistensi dirinya diterima di lingkungan masyarakat. ‘Coming out’ bisa dilakukan dengan sengaja, atau bisa juga tidak. Pada kasus Dhimas, sesungguhnya secara tidak sengaja ia telah melakukan ‘coming out’ lewat kebiasaan-kebiasaan dirinya yang secara tidak sadar diamati oleh orang lain, yang membuat orang lain tahu kalau ia seorang gay, meskipun hal tersebut tidak diungkapkannya secara verbal. Berbeda dengan Ruben yang melakukan ‘coming out’ atas dasar kesengajaan atau melalui pilihan sikap dirinya.
Respon orang-orang di sekitar bisa bermacam-macam dalam menyikapi seorang homoseks yang melakukan ‘coming out’. Ada yang menanggapinya dengan bijaksana tanpa sikap negatif untuk meminggirkannya, seperti sikap keluarga Ruben saat mengetahui kalau dirinya seorang homoseks. Orangtuanya tidak merasa malu atau menyesal telah memperoleh seorang anak yang ternyata gay. Bahkan, mereka membela mati-matian keberadaan Ruben. Namun, tak jarang juga kita dapati tindakan ‘coming out’ yang ditanggapi dengan respon negatif. Seperti orangtua yang begitu mengetahui anaknya homoseks, merasa malu dan mengucilkannya dalam lingkungan keluarga, atau teman-teman yang mendadak memusuhi begitu mengetahuinya.
2. Pelacur
Ditinjau lewat aspek penokohan, maka akan ditemukan bahwa Diva adalah tokoh utama dalam novel ini. Sosok bintang jatuh yang digambarkan pengarang (Dewi Lestari) maupun pencerita (Dhimas dan Ruben) tak lain adalah perempuan cantik yang sering menjajahkan tubuhnya kepada banyak lelaki ini. Menurut kacamata masyarakat umum, apalagi dalam konteks budaya Indonesia, perempuan yang menjajahkan tubuhnya pada lebih dari satu lelaki tanpa ada ikatan resmi dan menerima imbalan berupa uang disebut pelacur.
Encyclopaedia Britannica (dalam Dam Truong, 1992:15) mendefinisikan pelacuran sebagai:
“praktek hubungan seksual sesaat, yang kurang lebih dilakukan dengan siapa saja (promiskuitas), untuk imbalan berupa upah. Dengan demikian pelacuran dikarakterisasikan oleh tiga unsur utama: pembayaran, promiskuitas, dan ketidak acuhan emosional”
Definisi tersebut khususnya tiga unsur yang dipaparkan di atas sangat sesuai dengan karatkteristik yang terdapat pada tokoh Diva. Meskipun definisi ini mempunyai kelemahan karena dua dari tiga unsur tadi tidak bisa diterapkan di semua situasi. Kita tidak bisa mengatakan setiap aksi pelacuran selalu dilandasi ketidak acuhan emosional ataupun pembayaran. Bagaimana dengan kasus ketika seorang perempuan melakukan hubungan intim dengan banyak lelaki (tanpa ikatan resmi), namun ia sendiri melibatkan unsur emosional dan menerima bayaran?. Jelas bahwa dalam hal ini kriteria ekonomi semata juga memang tidaklah memadai. Kita juga tidak bisa mengatakan bila hubungan intim dalam sebuah ikatan resmi sama sekali bebas dari tindakan pembayaran. Banyaknya tarik menarik mengenai konsepsi pelacuran oleh banyak ilmuwan dikarenakan setiap konsep tidak selalu bisa diterapkan pada semua kebudayaan masyarakat. Semua bergantung dari etos budaya yang terdapat di pusat konstruksi sosial norma-norma seksual (Dam Truong, 1992:13). Secara lebih luas istilah pelacur kadang ditempelkan kepada seseorang yang menjual keahliannya untuk sesuatu yang tak berharga. Contohnya, seorang seniman yang mempunyai potensi besar di bidangnya, namun lebih condong membuat karya-karya yang sifatnya komersil. Ia dianggap melacurkan diri karena mengorbankan idealismenya. Di dalam etika kristen juga terdapat makna pelacuran yang lebih luas, yakni tindakan penyembahan terhadap dewa-dewa lain selain Allah. Hal ini dijelaskan dalam kitabYehezkiel pasal 23 dan kitab Hosea (1:2-11).
Dijelaskan Ihsan (dalam Wakhudin) para antropolog mengatakan, adanya pembagian peran antara laki-laki dan perempuan yang sudah terjadi sejak zaman primitif, menyebabkan pelacuran menjadi realitas yang tak mungkin terelakkan. (http://akhmadsudrajat.wordpress.com) Tugas perempuan diarahkan untuk melayani kebutuhan seks lelaki. Sedangkan kaum feminis menjelaskan bahwa penyebab terjadinya pelacuran karena kuatnya sistem dan budaya patriarkhi. Sementara kaum marxis menganggap pelacuran merupakan resiko dari sistem kapitalisme.
Pada perkembangannya kedudukan pelacur mengalami naik turun. Menurut sejarah, bentuk pelacuran tertua ditemukan di negara-negara kuno seperti India dan Babilonia Kuno (Dam truong, 1992:20). Waktu itu tindakan pelacuran identik dengan berbagai ritus keagamaan. Sebagai contoh di Babilonia Kuno, perempuan-perempuan yang berafiliasi dengan monumen yang dianggap keramat, seperti candi, melakukan hubungan seks (melacurkan diri) dengan para pengunjung tempat tersebut. Hal ini sebagai wujud pemujaan atas kesuburan dan kekuasaan seksual para dewi. Untuk hal tersebut diberikan sumbangan untuk candi. Contoh lain ditambahkan Ihsan (dalam Wakhudin), adalah perempuan-perempuan yang menjajahkan dirinya diberbagai tempat, dan penghasilannya diberikan kepada pendeta untuk kepentingan kuil. (http://akhmadsudrajat.wordpress.com). Mereka dikenal dengan istilah “pelacur kuil” (temple prostitutes). Pelacuran zaman tersebut identik dengan pengabdian untuk kepentingan keagamaan. Jadi, kedudukan sosialnya dianggap terhormat. Contoh lain yang tidak ada hubungannya dengan religi terdapat di negara-negara Asia Timur. Di Jepang terkenal dengan Geisha, perempuan penjajah seks yang dibekali dengan berbagai kemampuan seni, seperti memainkan bermacam alat musik, menari, berpuisi, dan lain-lain. Geisha berasal dari kata Gei yang artinya seni, dan Sha yang berarti pribadi. Budaya Jepang menganggap Geisha adalah artis. Perempuan-perempuan yang menjadi Geisha memiliki latarbelakang kelas yang beragam. Namun, pengaruh sosial dan hak istimewa yang mereka dapatkan tergantung juga dengan pria siapa mereka melakukan hubungan. Dari contoh tadi kita bisa melihat, demi kepentingan-kepentingan tertentu, seperti kepentingan keagamaan dan penguasa, pelacuran tidak dicerca melainkan menjadi sesuatu yang dihargai.
Pelacuran di mata masyarakat Indonesia adalah sesuatu yang buruk, haram, hina, dan lain-lain. Wanita yang menjadi pekerja seks dianggap sebagai sampah masyarakat, perusak moral, penyebar berbagai macam penyakit. Baik agama maupun hukum melarang praktek prostitusi. Meski, di daerah-daerah tertentu seperti Surabaya terdapat lokalisasi PSK yang legal. Augustinus dari Hippo 354-430), seorang bapak gereja pernah mengatakan bahwa, pelacuran itu ibarat "selokan yang menyalurkan air yang busuk dari kota demi menjaga kesehatan warga kotanya."(http://id.wikipedia.org/wiki/Pelacuran). Sesuatu yang ironi memang, ternyata di tengah stigma yang disandangnya, pelacur juga dibutuhkan, dan sebagai solusi dari sebuah problem sosial untuk mengurangi kasus-kasus pemerkosaan di tengah masyarakat. Anggota masyarakat yang menggunakan jasa pekerja seks sama sekali tak menanggung stigma seperti yang dikenakan pada pelacur.
Rowbothan (dalam Dam Truong, 1992:17) berpendapat bahwa istilah pelacuran merupakan perwujudan dari hegemoni kultural. Pemisahan antara istri (perempuan terhormat, gundik (perempuan piaraan), pelacur (perempuan sundal) tak lain demi kepentingan dominasi pria. Karakter Diva, berkaitan dengan pendapat tadi bisa dikatakan sebagai media pengarang untuk melawan hegemoni kultural tersebut. Diva berprofesi sebagai peragawati kelas atas. Imbalan yang dimintanya setiap kali naik panggung jumlahnya tidak sembarangan. Di samping itu, ia juga selektif dalam memilih acara. Bahkan, hanya majalah-majalah bona fide saja yang bisa memamerkan foto-fotonya. Standar tinggi tersebut sepadan dengan profesionalitas dan disiplin yang dijalankannya. Hingga kesan yang akan timbul selanjutnya adalah Diva tipe perempuan pekerja keras dan konsisten dengan pekerjaannya. Tokoh Diva merupakan refleksi pengarang akan kenyataan yang sudah menjadi rahasia umum dalam kehidupan kota metropolitan, banyaknya model yang juga berprofesi sebagai wanita penghibur. Pelacuran terselubung kelas tinggi yang hanya bisa dinikmati kalangan tertentu, yaitu mereka yang memiliki kemampuan ekonomi mapan. Satu hal yang menarik, sebagian dari para pelacur ini memiliki kemampuan ekonomi yang mencukupi. Jadi, menganggap masalah ekonomi sebagai satu-satunya faktor yang melatarbelakangi tindakan pelacuran adalah keliru. Banyak faktor lain yang bisa dkatakan menjadi penyebab, seperti lingkungan pergaulan, gaya hidup yang konsumtif (membuat setiap orang ingin memperoleh uang dengan cepat dan mudah), lingkungan keluarga, dan lain-lain.
Diva memiliki hubungan intim dengan beberapa lelaki, dan ia juga menuntut upah untuk hubungan tersebut. Dari seorang pengusaha kaya bernama Dahlan hingga seorang pemuda kaya beristeri seperti Nanda. Tindakan “menjual diri” tidak dianggapnya sebagai sesuatu yang tidak terhormat. Ia mempunyai sebuah pembenaran yang ia yakini sebagai dasar pemikiran atas tindakannya itu. Kemampuan berpikir dan luasnya wawasan yang dimiliki Diva memang sangat kontradiktif dengan profesi sampingan yang dijalankannya. Bagaimana mungkin perempuan cerdas dan berkepribadian kuat seperti dirinya rela menjual tubuhnya untuk dinikmati banyak lelaki?. Tapi ia pun memiliki pembenaran atas semua itu. Gambaran ideologi yang mendasari pilihan hidupnya terdapat dalam kutipan berikut ini:
“Wanita itu tersenyum mencemooh. “Justru karena saya lebih pintar dari kamu dan CEO kamu, makanya saya tidak mau bekerja seperti kalian. Apa bedanya profesi kita? Sudah saya bilang, kita sama-sama berdagang. Komoditasnya saja beda. Apa yang kamu perdagangkan buat saya tidak seharusnya dijual. Pikiran saya harus dibuat merdeka. Toh, berdagang pun saya tidak sembarang...”(2001: 57).
Dari perkataan tokoh tersebut bisa dilihat konsep ideologi yang dipegang olehnya. Bagi Diva, apa yang diperdagangkan oleh para kapitalis adalah sesuatu yang seharusnya tidak dijual, karena sesuai dengan prinsip marxisme, semua itu seharusnya adalah kepemilikan bersama. Sementara ia sendiri menjual tubuhnya, kecantikannya, menurutnya adalah sesuatu yang wajar. Karena keindahan tubuh dan kecantikannya adalah miliknya sendiri. Ia memiliki kemerdekaan untuk menjualnya kepada siapapun.
Diva adalah tipe perempuan yang nyaris sempurna. Memiliki kecantikan, keindahan tubuh, karir yang sukes, kecukupan ekonomi, kecerdasan, dan menjunjung tinggi kebebasan perempuan. Selain itu, ia juga perfeksionis dalam segala hal, baik dalam hal pekerjaan, maupun pandangan tentang hidup. Namun, ia pun sadar, ia hidup pada masa ketika uang memiliki peranan utama bagi setiap orang untuk dapat mempertahankan diri. Semua hal yang ia lakukan baginya adalah resiko hidup di zaman kapitalis, termasuk “memperdagangkan” tubuhnya sendiri:
“Ia tahu, pekerjaannya membutuhkan fisik yang selalu fit, penampilan yang prima. Tapi semua itu dilakukannya semata-mata karena ia merasa berkewajiban mengurus jasad – kendaraannya untuk menghadapi hidup. Dan kendaraan ini bukan kendaraan rombeng. Ia tidak akan pernah memperlakukannya demikian. Setiap tubuh adalah perangkat yang luar biasa menakjubkan.” (2001:92).
Di zaman kapitalis manusia hampir tidak lagi mempedulikan masalah ketulusan cinta dan hati nurani. Segala sesuatu diukur dengan uang. Orang kaya semakin kaya, dan orang miskin makin terpuruk ke dalam jurang kemiskinan. Bila ingin tetap bertahan hidup semua orang harus rela membiarkan dirinya terseret dalam arus tersebut. Tapi, Diva beranggapan bahwa bagaimana pun cinta tak akan bisa diperjualbelikan. Nanda, lelaki beristri yang berkencan dengannya, sangat mengagumi kepribadian Diva. Hingga ia pun mengatakan, ia lebih memilih uangnya dibayar untuk merasakan kasih sayang Diva, daripada bersetubuh dengannya:
“Ketulusan bukan ketulusan lagi kalau kita mulai memperjualbelikannya. Saya memang punya dagangan, sama seperti kamu. Kita sama-sama harus begitu untuk bertahan di dunianya tukang dagang. Tapi jangan cemari satu-satunya jalan pulangmu untuk keluar dari semua sampah ini, kembali ke diri kamu sebenarnya. Sorot mata yang hidup tadi, digerakkan kejujuran yang berontak dari dalam sana. Terkutuklah Diva si pelacur begitu ia mulai memunguti uang di atasnya. Ya, terkutuklah dia.” (2001:66).
Karakteristik tokoh yang paradoksal merupakan ciri khusus novel ini. Eksplorasi jenis tokoh seperti ini tampaknya dilakukan dengan sadar oleh pengarang, sebagai perlawanan terhadap norma-norma yang ada di tengah-tengah masyarakat. Dalam kacamata masyarakat, tindakan pelacuran pada umumnya dilatar belakangi pergaulan yang tidak baik atau kondisi ekonomi yang di bawah standar. Anggapan ini jelas sangat bertolak belakang dengan karakteristik seorang Diva. Sebagai seorang peragawati papan atas, kondisi ekonomi yang menopangnya cukup memadai. Di dalam cerita juga tidak digambarkan jika dirinya memiliki pergaulan buruk, yang menyeretnya pada kebiasaan seperti itu. Diva bahkan ditampilkan pengarang sebagai sosok perempuan cerdas dan memiliki wawasan luas, juga peka terhadap masalah-masalah yang terjadi di sekitarnya. Stigma yang menempel pada pelacur coba dijungkirbalikan pengarang lewat tokoh Diva, namun di sisi lain, sang pengarang pun tidak bermaksud untuk mengubahnya menjadi positif, yang ditonjolkan di sini adalah sebuah sikap, pemikiran yang dimiliki sang tokoh.
3. Perselingkuhan
Secara umum perselingkuhan bisa diartikan sebagai penyelewengan yang terjadi pada suatu pasangan yang membangun sebuah hubungan, baik hubungan dalam ikatan pernikahan maupun yang tidak. Namun, pengertian secara khusus, yang paling sering dibahas dalam studi sosial budaya, selingkuh berarti, suami atau istri yang telah terikat dalam lembaga perkawinan, menjalin hubungan dengan laki-laki atau wanita lain dengan tanpa ikatan perkawinan. Unsur tanpa ikatan perkawinan harus ditegaskan mengingat di Indonesia poligami diperbolehkan.
Perselingkuhan adalah problem sosial yang terjadi di mana saja sejak zaman dahulu kala, dan dilakukan oleh semua lapisan masyarakat, miskin atau kaya, tua atau muda, dari pengusaha hingga pejabat. Problem ini berkaitan erat dengan masalah moral, agama, etika, institusi, dan lain-lain. Bahkan, banyak sekali konflik-konflik kekuasaan dalam sejarah dunia disebabkan oleh perselingkuhan. Salah satu contoh adalah perselingkuhan yang dilakukan mantan presiden Amerika Serikat, Bill Clinton, menjadi skandal besar yang menghebohkan dunia. Di tengah masyarakat urban, perselingkuhan sudah menjadi gaya hidup. Kondisi ini tak terelakan mengingat seksualitas merupakan unsur alamiah yang terdapat pada manusia. Aktifitas pemuasan hasrat seks menjadi kebutuhan yang tak terhindarkan. Setiap manusia berkecenderungan mencari objek pemuasan seks lain ketika ia tak lagi mendapat kepuasan dengan pasangan yang sebelumnya. Selain faktor dorongan biologis dan lingkungan sosial, perselingkuhan juga banyak disebabkan oleh faktor psikologis, pencarian akan rasa nyaman ketika pasangan terdahulu dirasa tidak cukup memberikan kebahagiaan. Akar dari masalah perselingkuhan memang kompleks.
Unsur perselingkuhan dalam novel ini ditampilkan pengarang lewat tokoh Ferre dan Rana. Kedua tokoh inilah yang oleh pengarang (Dewi Lestari) dan pencerita (Dhimas dan Ruben) disimbolkan sebagai Ksatria dan Puteri. Ferre dan Rana adalah dua sosok dengan latar belakang keluarga dan kehidupan yang berbeda. Ferre adalah seorang eksekutif muda tampan yang tengah menapaki puncak karirnya. Di usianya yang masih relatif muda ia telah memiliki segalanya, kekayaan, kesuksesan, kepopuleran, dan lain-lain. Karakternya sebagai sosok pekerja keras dan mandiri terbentuk sejak masih kecil. Ibunya meninggal ketika ia masih berumur 5 tahun. Sejak saat itu ia hidup bersama kakek dan neneknya yang juga meninggal ketika ia berumur 11 tahun. Kondisi tersebut membentuk dirinya menjadi sosok yang memiliki keperibadian kuat:
“Banyak yang mengira ia menjalani kehidupan jet set, bergelimang wanita cantik, dan pesta-pesta gila. Apa yang dibayangkan kebanyakan orang jauh berbeda dengan apa yang sesungguhnya ia jalani.
Ia selalu mendapatkan fasilitas nomor satu. Terbang dengan first class, mobil dinas setidaknya harga lima ratus jutaan, dan akomodasinya hampir selalu bintang lima. Namun ia melewati semuanya dalam keadaan berpikir, membuka-buka lembaran faks, menerima laporan ini-itu, telepon dari sana-sini yang tak mengizinkannya menikmati pemandangan jalan.” (2001:22).
Namun, di tengah puncak kesuksesan, Ferre belum juga mempunyai seorang pasangan hidup yang mendampinginya. Telah banyak wanita cantik mendekatinya tetapi tidak ada satu pun yang bisa memikat hatinya. Ia terlalu sibuk mengurusi pekerjaannya sebagai managing director di sebuah perusahaan multinasional. Suatu waktu seorang wartawan sebuah majalah perempuan menemuinya untuk diwawancara. Wartawan itu adalah seorang wanita yang telah menikah bernama Rana. Wawancara tersebut menjadi awal kisah cinta mereka. Saat berkenalan dengan Ferre, Rana sudah tiga tahun menikah. Bertolak belakang dengan Ferre, Rana dibesarkan oleh keluarga yang dipenuhi dengan aturan. Sejak kecil kehidupan Rana dikendalikan oleh orangtuanya.
Dr.Willard Harley (dalam Ni Luh Putu Suciptawati, Made Susilawati) mengemukakan bahwa faktor yang menyebabkan perselingkuhan adalah:
“Tidak bertemunya kebutuhan suami dan isteri dalam rumah tangga. Kebutuhan isteri meliputi kebutuhan akan kasih sayang (affection), percakapan (conversation), ketulusan dan keterbukaan (honesty and openness), komitmen finansial (financial commitment), dan komitmen keluarga (Family commitment). Sedangkan kebutuhan suami meliputi kebutuhan seksual (sexual fulfillment), kebersamaan dalam rekreasi (recreational companionship), memiliki pasangan yang menarik (an attractive spouse), dukungan dalam rumah tangga (domestic support), dan kekaguman (admiration)”. (http://ejournal.unud.ac.id).
Uraian di atas meski terlalu umum, memang cukup memadai untuk dijadikan acuan, karena cukup sesuai dengan realita yang terjadi di lapangan. Satu faktor yang menjadi persamaan dan titik berat kebutuhan suami maupun isteri adalah faktor psikologis. Satu hal yang menarik, dan tentu saja bisa menimbulkan tarik menarik, yakni adanya dua unsur pembeda pada kebutuhan suami dan isteri. Kebutuhan seksual dan kebutuhan ekonomi. Secara tidak langsung bisa dikatakan bahwa perempuan lebih memprioritaskan kebutuhan ekonomi, sedangkan pria lebih memprioritaskan kebutuhan seksual. Dari sini bisa ditarik kesimpulan bahwa secara seksual perempuan memiliki kekuasaan lebih untuk mengendalikan laki-laki, sedangkan secara ekonomi laki-laki memiliki kekuasaan lebih untuk mengendalikan perempuan. Bila dilihat pada kasus-kasus yang terjadi di lapangan hal tersebut dapat dibenarkan. Laki-laki kaya sering memanfaatkan kekayaannya untuk memperoleh wanita cantik dan menarik supaya ia bisa memperoleh kepuasan sempurna secara seksual. Wanita pun sebaliknya, sering memanfaatkan kecantikannya untuk memikat hati pria-pria yang mapan secara ekonomi. Ditinjau dari sudut pandang sosiokultural pembagian kebutuhan tersebut sarat dengan politik budaya patriarkal, yang tidak memperhitungkan eksistensi perempuan.
Perselingkuhan dalam Supernova “Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh” memiliki dimensi tersendiri, karena pihak yang telah menikah adalah sosok perempuan. Bertolak belakang dengan kasus-kasus yang biasa terjadi di masyarakat, di mana kebanyakan hal tersebut dilakukan oleh pria yang telah menikah. Kasus tersebut identik dengan prinsip budaya patriarkal, laki-laki yang mapan meski telah berkeluarga bisa leluasa memperoleh pasangan selingkuh yang diinginkannya, dan perempuan mau saja dijadikan selingkuh asalkan laki-laki yang telah menikah tersebut memiliki kekayaan.
Pada umumnya perselingkuhan dapat dibagi menjadi dua tipe, Pertama, perselingkuhan dengan keterlibatan emosional yang rendah. Kedua, perselingkuhan dengan keterlibatan emosional yang tinggi dan mendalam (http://www.geocities.com/dien_99/data1/sebab.html). Sifat yang membedakan kedua tipe ini adalah perasaan yang dimiliki kedua pihak. Tipe pertama relatif hanya menitikberatkan pada kecocokan seksual. Sedangkan tipe kedua, selain kecocokan seksual, terdapat juga kecocokan kepribadian, dan kecocokan pemikiran atau ideologi. Frekuensi pertemuan bukanlah faktor penentu yang membedakan kedua tipe ini.
Perselingkuhan dalam novel ini termasuk pada tipe yang kedua. Rana, adalah pihak yang melakukan selingkuh. Sementara Ferre, pasangan selingkuhnya adalah lelaki yang tidak mempunyai pasangan. Pengarang dengan sengaja membuat perselingkuhan tersebut menjadi konflik yang unik. Faktor-faktor umum penyebab perselingkuhan seperti masalah ekonomi, kurang komunikasi, kurang kasih sayang, komitmen keluarga, tidak terdapat dalam novel ini. Suami Rana yaitu Arwin, adalah pria mapan dengan latarbelakang keluarga baik-baik. Arwin dengan tulus selalu memperhatikan kebutuhan Rana dan keharmonisan hubungan mereka seperti terdapat dalam kutipan berikut:
“Arwin memandangi istrinya yang sedang menunduk menghadapi piring, menunggu saat-saat tepat untuk mulai berbicara.
“Rana...,” panggilnya lembut.
“Ya, Mas?”
“Kamu kok jadi pendiam sih akhir-akhir ini? Ada masalah yang bisa aku bantu?”
Rana menunduk lagi. Ya, Mas. Aku jatuh cinta dengan pria lain. Bisakah kita kembali ke masa lalu dan tidak perlu menikah?
“Kalau Mas ada salah sama kamu, bilang saja. Jangan dipendam-pendam. Komunikasi di antara kita harus dijaga tetap lancar,” dengan lebih lembut Arwin berkata.
“Mas Arwin nggak ada salah apa-apa, kok?.” Itulah satu-satunya kesalahanmu, Mas.
“Kamu sehat-sehat, kan? Kapan terakhir kali check-up ke dokter?” (2001:40).
Kalimat-kalimat yang bergaris miring dalam kutipan di atas adalah ungkapan isi hati Rana. Lewat kutipan tersebut dapat dilihat bahwa Arwin sangat sayang dan perhatian pada istrinya. Jadi, bisa dikatakan bahwa apa yang dibutuhkan Rana pada seorang lelaki, semuanya ada dalam diri Arwin, kecuali satu, cinta. Bagi masyarakat modern dewasa ini alasan Rana mungkin terlalu naif. Tetapi, itulah sisi yang coba diangkat pengarang, di tengah arus budaya kapitalis yang semakin dahsyat dewasa ini, di mana segala sesuatu diukur dengan materi Dewi Lestari menyisipkan sesuatu yang menjadi nilai hakiki manusia yakni cinta. Meski, demi merebut cinta tersebut banyak hal yang harus dikorbankan, perkawinan, perasaan suami, orangtua, dan lain-lain.
Namun, seperti dijelaskan sebelumnya, keputusan Rana menikahi Arwin memang lebih banyak dipengaruhi orangtuanya. Karena sejak kecil gerak-geriknya dikendalikan penuh oleh orangtua. Ia tak mempunyai kebebasan menentukan pilihan hidupnya sendiri. Sebelumnya ia merasa nyaman-nyaman saja hidup di bawah aturan seperti itu. Tetapi, setelah bertemu dengan Ferre ia baru menyadari bahwa ia telah dikungkung begitu jauh, dan ia pun menemukan cintanya.
Dapat dilihat bahwa kisah cinta Rana dan Ferre mengandung beragam konflik. Konflik terbesar tentu dialami tokoh Rana, ia harus bergelut dengan pertentangan batin, moral, agama, institusi, dan lain-lain, seperti yang tampak dalam kutipan berikut ini:
“Ikatan saya banyak. Bukan hanya pernikahan dua orang, tapi saya juga menikah dengan keluarganya. Dengan segenap lapisan sosialnya. Saya tidak seperti kamu yang punya banyak kebebasan. Kamu tidak bisa membandingkan...”
Re memutar tubuh Rana, menatapnya lurus-lurus. “Saya tidak membandingkan, karena saya tahu persis pembandingan tidak akan membawa kita ke mana-mana. Tapi saya bisa melihat kamu memilikinya. Kekuatan untuk mendobrak. Membebaskan diri kamu sendiri.”
“Mendobrak apa? Moralitas? Norma sosial? Kita hidup di dalamnya, Re. Saya cuma ingin mencoba realistis...” (2001:85).
Perselingkuhan bagaimanapun di dalam masyarakat Indonesia memang dianggap haram, amoral, dan melawan hukum. Tetapi, di satu sisi rasa cinta tulus yang mereka punyai adalah sesuatu yang hakiki, menyangkut kebahagiaan mereka sebagai manusia, seperti dalam lanjutan kutipan tadi:
“Tidakkah kamu menyakiti dirimu sendiri dengan menempatkannya demikian? Apa yang jahat di sini, Rana? Jahatkah saya mencintai kamu mati-matian? Begitu amoralkah semua perasaan ini?”
Rana mendapatkan dirinya dalam dilema yang sama, lagi dan lagi. Ia lelah.” (2001:86).
Di dalam hal ini pengarang mencoba menjelaskan bahwa sistem yang terdapat dalam masyarakat, baik sistem hukum, agama, sosial, kadang menjadi penghambat bagi setiap orang dalam menempuh sebuah nilai yang substansial.
Satu hal yang di luar dugaan, ketika mengetahui istrinya menjalin hubungan gelap dengan lelaki lain, tidak ada setitik pun amarah meluap dalam diri Arwin. Karena begitu besar cintanya kepada Rana, Arwin pasrah asalkan istrinya bisa merasakan kebahagiaan. Suasana hati Arwin tampak dalam kutipan berikut ini:
“Tak ada kebencian yang bisa ia keruk dari dalam hatinya untuk Rana. Tidak juga untuk pria itu. Yang ada hanyalah kebencian pada dirinya sendiri.
Ya, aku memang tidak pernah pantas memilikinya. Bertahun-tahun aku tahu itu, tapi aku diam saja. Egois. Tidak pernah satu detik pun aku mampu membuat Rana bersinar bahagia seperti itu. Aku pikir aku telah seluruhnya mencintai, padahal aku hanyalah batu penghalang bagi kebahagiaannya. Maafkan aku Rana. Hanya sebeginilah kemampuanku. Andaikan aku bisa berbuat lebih...”(2001:113).
Ketabahan dan kerelaan tokoh Arwin memiliki nilai filosofis yang mendalam, bahwa kadang perselingkuhan ternyata tidak butuh sebab, tidak butuh alasan, terjadi begitu saja ketika hal tersebut sudah menyangkut masalah cinta dan kebahagiaan individu manusia. Ketabahan seperti itu sudah sangat jarang, atau bahkan tidak mungkin sama sekali ditemukan dalam masyarakat sekarang ini. Arwin pun merelakan istrinya menentukan pilihannya sendiri. Ia tak ingin menghalang-halangi kebahagiaan istrinya. Baginya cinta seharusnya membebaskan:
“Lama aku berusaha menyangkal kenyataan ini, tapi sekarang tidak lagi. Kamu memang pantas mendapatkan yang lebih. Maafkan aku tidak pernah menjadi sosok yang kamu inginkan. Tidak menjadikan pernikahan ini seperti apa yang kau impikan. Tapi aku teramat mencintaimu, istriku...atau bukan. Kamu tetap Rana Yang kupuja. Dan aku yakin tidak akan ada yang melebihi perasaan ini. Andaikan saja kamu tahu.” (2001:161).
Ketabahan ini pula yang menimbulkan hikmah besar pada Arwin, yang membuat Rana melihat Arwin sebagai sosok yang baru, yang mengerti arti cinta sesungguhnya. Rana begitu tersentuh dengan kerelaan suaminya:
“Ada satu makna yang secara aneh terungkap: cinta yang membebaskan. Ternyata Arwin yang punya itu. Bukan dirinya, bahkan bukan pula kekasihnya.
Giliran Arwin yang terenyak ketika istrinya malah menghambur jatuh, mendekapnya erat-erat. Rasanya itu bukanlah pelukan perpisahan, melainkan sebaliknya, pelukan seseorang yang kembali.” (2001:162).
Kisah cinta yang dialami Rana dengan Ferre seolah terkesan mencapai titik antiklimaks. Namun, itulah klimaks yang sesungguhnya ketika Rana mulai belajar mengerti makna cinta yang sebenarnya di saat ia mengkhinati suaminya. Ia pun akhirnya kembali ke dalam pelukan sang suami yang mencintainya tanpa menuntut Rana membalas cintanya. Ini justru terjadi ketika Rana sudah mendapatkan kebebasan untuk bahagia bersama Ferre. Secara implisit pengarang coba menyampaikan bahwa tidak ada yang pasti di dunia ini, semuanya serba relatif, penuh dengan kemungkinan-kemungkinan, termasuk masalah cinta.
B. Dwilogi novel “Saman”-“Larung”
1. Perselingkuhan
“Saman” dan “Larung” adalah novel dengan tokoh-tokoh perempuan yang melakukan perlawanan terhadap norma-norma mapan yang telah ada. Bagi mereka, sistem kebudayaan dan konstruksi moral yang ada di dalam masyarakat sangat mengungkung kebebasan perempuan. Lembaga perkawinan, masalah keperawanan, adalah beberapa contoh di antaranya. Tidak ada keadilan gender di dalam semua itu. Dengan tokoh-tokoh seperti itu, maka perselingkuhan adalah unsur paling dominan yang terdapat dalam kedua novel ini.
Di dalam Supernova “Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh”, perselingkuhan menjadi konflik yang krusial karena yang berselingkuh adalah tokoh perempuan. Masyarakat patriarkal menganggap laki-laki yang berselingkuh adalah laki-laki kurang ajar, tidak berperasaan, namun di satu sisi masih terselip rasa maaf karena perselingkuhan yang dilakukan lelaki dianggap sesuatu yang masih bisa diterima. Sedangkan perempuan yang berselingkuh dianggap perempuan hina, tak bermoral, tidak bertanggungjawab, bahkan kadang dianggap pelacur.
Laila Gagarina adalah seorang fotografer yang jatuh cinta kepada Sihar Situmorang, seorang insinyur perminyakan yang telah beristri. Laila begitu terobsesi dengan Sihar, ia sama sekali tak mempedulikan meskipun ia akan sulit mendapatkan lelaki itu sepenuhnya karena lembaga perkawinan yang mengikat Sihar. Ia juga tak mengambil pusing dengan dampak sosial yang akan diterimanya karena mengejar-ngejar suami orang. Ia hanya ingin bahagia sebagai perempuan dengan memperjuangkan rasa cintanya kepada Sihar. Di dalam masyarakat umum, standar nilai yang berlaku di kalangan perempuan, berhubungan dengan lelaki adalah dalam rangka mengejar sebuah ikatan resmi, kubutuhan ekonomi tercukupi, atau bisa juga urusan seks. Sosok Laila bertolak belakang dengan motivasi seperti itu:
“Jadi, apa sebetulnya yang kamu cari? Perkawinan bukan, seks bukan.”
“Aku cuma pingin sama-sama dia.”
“Laila, kalau kamu kencan dengan dia di sini, kamu pasti akan begituan, lho! Kamu sudah siap?”
“Enggak, enggak tahu...”
“Dia pasti minta. Kamu mau gimana?”
“Aku cuma pingin sama-sama dia. Aku capek menahan diri.” (Saman, 2002:145).
Terjadi perubahan perspektif tentang masalah seksualitas dan gender antara Laila remaja dan Laila dewasa. Waktu masih remaja Laila sangat membenci laki-laki, ia menganggap laki-laki lah sumber masalah bagi perempuan:
“Apa salah laki-laki?
Jawab Laila: sebab mereka mengkhianati wanita. Mereka cuma menginginkan keperawanan, dan akan pergi setelah si wanita menyerahkan kesucian.” (Saman, 2002:148).
Laila remaja adalah perempuan yang bersikap berdasarkan perspektif yang terdapat dalam sistem nilai di lingkungan sekitarnya. Berasal dari keluarga Minang-Sunda, yang masih memegang nilai-nilai tradisi, sangat mempengaruhi sikap hidupnya. Artinya, belum ada kesadaran untuk memberontak akan sistem nilai tersebut. Cara pandangnya berubah ketika ia menemukan cinta pertamanya:
“Dia jatuh cinta pertama kali pada Wisanggeni, dengan demikian ia sendiri membatalkan lelaki sebagai penjahat. Waktu itu pemuda itu mahasiswa seminari yang ditugaskan membimbing rekoleksi tentang kesadaran sosial di SMP kami. Dan terbukti lelaki itu tidak menginginkan keperawanan.” (Saman, 2002:149-150).
Laila sendiri tidak mempunyai pacar. Kendala yang akan menghambat hubungannya dengan Sihar adalah kedua orangtuanya, yang sudah pasti tak menginginkan anak gadisnya berhubungan dengan pria yang sudah kawin. Tapi, Laila sama sekali tidak mempedulikan masalah perkawinan.
Hubungan Laila dan Sihar meskipun bertentangan dengan hukum negara dan hukum agama mengandung sesuatu yang paradoks. Ada semacam nilai yang masih dipegang Laila sebagai perempuan, yang bisa disebabkan beban moralnya terhadap orangtua. Meski, telah beberapa kali bercumbu dengan Sihar, Laila masih menjaga keperawanannya:
“Di perjalanan pulang dia bilang, sebaiknya kita tak usah berkencan lagi (saya tidak menyangka). “Saya sudah punya istri.”
Saya menjawab, saya tak punya pacar, tetapi punya orangtua.
“Kamu tidak sendiri, saya juga berdosa.”
Ia membalas, bukan itu persoalannya. “Orang yang sudah kawin, tidak bisa tidak begitu.”
Saya mengerti. Meskipun masih perawan.” (Saman, 2002:4).
Laki-laki yang memutuskan berselingkuh biasanya didorong oleh keinginan untuk mendapatkan kepuasan yang tak lagi ia rasakan bersama istrinya. Kepuasan itu bisa berupa kepuasan seks, kasih sayang, dan lain sebagainya. Namun, dalam hal ini meskipun hanya sebagai pasangan selingkuh, Sihar menghormati Laila, walau pun di satu sisi ia ingin berhubungan seks dengan perempuan itu, ia tak memaksa Laila menyerahkan keperawanannya. Mereka pun menggunakan cara lain (selain senggama) untuk memuaskan hasrat seksual keduanya.
Ketika mengetahui Sihar mendapatkan tugas perusahan untuk berangkat ke Amerika, Laila memutuskan untuk menyusulnya. Di negara ini Laila merasakan suasana yang berbeda. Kendala-kendala yang menghambat hubungannya dengan Sihar terasa seperti hilang. Di sini ia merasakan kebebasan yang tak didapatkan sebelumnya. Bahkan, kali ini ia berangan-angan untuk menyerahkan keperawanannya kepada lelaki itu:
“Dia akan terheran dan bertanya, dari mana kini saya mendapat keberanian itu. Juga dari teman-teman? Saya akan katakan, kita ini seperti burung yang bermigrasi ke musim kawin. Sihar, umurku sudah tiga puluh. Dan kita di New York. Beribu-ribu mil dari Jakarta. Tak ada orangtua, tak ada istri. Tak ada dosa. Kecuali pada Tuhan, barangkali. Tapi kita bisa kawin sebentar, lalu bercerai. Tak ada yang perlu ditangisi. Bukankah kita saling mencintai? Atau pernah saling mencintai? Apakah Tuhan memerintahkan lelaki dan perempuan untuk mencintai ketika mereka kawin? Rasanya tidak. (Saman, 2002:29-30).
Di sini kita bisa mendapatkan perbedaan kondisi dalam dua kebudayaan yang berbeda, yang bisa mempengaruhi sikap seseorang. Ketika berpindah ke lain tempat yang memiliki kultur yang berbeda, yang menjunjung tinggi kebebasan manusia, terjadi perubahan sikap pada diri Laila. Laila yang sebelumnya hati-hati dalam melakukan hubungan terlalu jauh dengan Sihar, kini merasa dirinya terlepas bagaikan seekor burung. Sebelumnya, ketika bercumbu dengan Sihar, meski tetap menjaga keperawanannya, Laila merasa telah berdosa. Karena ia masih berada di bawah aturan sistem nilai yang berlaku di Indonesia. Tetapi, kini situasinya menjadi lain:
“Setelah itu, Sayang, kita tertidur. Dan ketika terbangun, kita begitu bahagia. Sebab ternyata kita tidak berdosa. Meskipun saya tak lagi perawan.” (Saman, 2002:30).
Laila tidak lagi memusingkan masalah keperawanannya. Karena di Amerika, orang sama sekali tidak mempedulikan apakah perempuan masih perawan atau tidak, dan status pernikahan juga tidak terlalu penting di sini. Laila telah membayangkan bagaimana ia akan mendapatkan kebebasan untuk mendapatkan Sihar tanpa ada halangan.
Akan tetapi, ia harus membuang jauh keinginannya itu. Ternyata Sihar datang ke Amerika bersama istrinya. Hal ini menimbulkan kekecewaan yang mendalam pada diri Laila. Selama di sana pun Sihar tak pernah memberikan kabar, atau membuat janji untuk bertemu dengannya. Apa sesungguhnya motivasi Sihar untuk mengencani Laila menjadi tanda tanya besar bagi perempuan itu. Apakah Sihar benar-benar mencintainya? Namun, bagaimanapun sebagai kepala rumah tangga ia mempunyai beban dan tanggung jawab lain yang harus diprioritaskan? Ataukah ia hanya menganggap Laila sebagai selingan untuk mengisi kekosongan di waktu senggang. Tapi, nyatanya Laila akhirnya tidak lagi memusingkan masalah itu. Ia hanya memikirkan perasaannya sendiri, dan bagaimana agar ia bisa berkencan lagi dengan Sihar. Ada sebuah kenyataan ironi di dalam hubungan mereka. Dari sikap Sihar yang selalu menghindar, tidak memaksa Laila untuk melakukan senggama dengannya waktu di hotel, dan menyeret Laila pada sebuah ketidakpastian, secara tidak langsung mengisyaratkan bahwa Sihar adalah tipe laki-laki yang tidak terlalu memusingkan masalah keperawanan. Istrinya sebagai seorang janda beranak satu, semakin mempertegas hal itu. Sedangkan Laila, adalah perempuan yang begitu protektif dengan keperawanannya. Usaha protektif tersebut harusnya membuat Laila menjadi perempuan yang istimewa, sebab laki-laki pada umumnya mengincar keperawanan dari pasangannya. Namun, Laila Justru sebaliknya, ia terombang-ambing oleh rasa cintanya kepada laki-laki yang telah beristri.
Sikap setengah hati Sihar, membuat kebimbangan besar di dalam hati Laila. Kebimbangan yang akhirnya melahirkan keraguan. Ia sebelumnya begitu menggebu-gebu untuk bisa bercumbu dengan lelaki itu, sampai ia pun menyusul Sihar ke Amerika. Namun, di sana kesempatan itu tak kunjung datang karena keberadaan istri Sihar. Akan tetapi, keraguan tadi justru muncul setelah istrinya kembali ke Indonesia dan peluang melakukan selingkuh terbuka begitu lebar:
“Istrimu sudah pulang?”
“Udah.” “Kamu mau ke sini?”
“Memang kamu mau saya ke situ?”
“Laila, saya kan menelepon kamu,” “Tapi, kalau ke sini, kamu jangan menginap di staff house. Kita cari hotel.”
“Kenapa?”
“Nggak begitu enak aja.”
“Kalau saya di hotel, kamu sibuk training di staff house, kamu tak selalu bisa menengok saya, untuk apa saya ke sana?”
“Saya usahakan menengok kamu tiap sore.”
“Saya lihat dulu saya bisa apa tidak.”
Pembicaraan telepon dengannya tak pernah diakhiri oleh kecupan.” (Larung, 2002:127-128).
Pembicaraan tersebut mengindikasikan ketidakjelasan sikap Sihar, dan Laila pun merasa ia tidak terlalu dibutuhkan oleh lelaki itu. Ini merupakan ironi karena sebelumnya Laila bahkan tak menuntut Sihar untuk mencintainya. Terjadi perubahan sikap di dalam dirinya setelah ia melewati proses bersama Sihar. Obsesi Laila pada lelaki itu seolah mencapai titik antiklimaks.
Tokoh lain yang melakukan selingkuh dalam dwilogi “Saman”-“Larung” adalah Yasmin Moningka, seorang pengacara yang juga salah satu sahabat dekat Laila sejak masih kecil. Meski, telah menikah dengan Lukas Hadi, Yasmin melakukan hubungan gelap dengan Athanasius Wisanggeni atau Romo Wis, yang kemudian berganti nama menjadi Saman saat menjalani status buronan. Kasus perselingkuhan Yasmin dan Saman memiliki banyak persamaan dengan Ferre dan Rana dalam Supernova “Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh”. Di dalam konteks Yasmin, konflik moral yang ditonjolkan lebih kompleks karena Saman adalah seorang pastor. Yasmin berkutat dengan konflik batin dan sosial yang berhubungan dengan status perkawinannya. Sedangkan Saman berkutat dengan konflik aturan agama, yang mengharuskan ia sebagai pastor untuk hidup selibat.
Tetapi, di dalam novel “Saman” kondisi tersebut tidak ditonjolkan sebagai konflik utama dalam cerita. Saman lebih sibuk mengurusi pelariannya ke Amerika atas kasus tuduhan penghasutan. Sedangkan Yasmin, bersama teman-temannya membantu Saman dalam proses pelarian itu. Agak berbeda dengan novel Supernova “Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh”, Latar belakang dan status Ferre ataupun Rana menjadi konflik yang dominan di dalam cerita. Yasmin dan Saman melakukan hubungan intim yang pertama kali dengan tanpa beban:
“Namun, tanpa kupahami, akhirnya justru akulah yang menjadi seperti anak kecil: terbenam di dadanya yang kemudian terbuka, seperti bayi yang haus. Tubuh kami berhimpit. Gemetar, selesai sebelum mulai, seperti tak sempat mengerti apa yang baru saja terjadi. Tapi ia tak peduli, ia menggandengku ke kamar. Aku tak tahu bagaimana aku akhirnya melakukannya. Ketika usai aku menjadi begitu malu. Namun ada perasaan lega yang luar biasa sehingga aku terlelap.” (Saman, 2002:177).
Saman sendiri adalah seorang pelayan Tuhan yang memilki jiwa sosial tinggi. Ia juga terlibat dalam organisasi yang oleh pemerintah dianggap kiri. Keinginannya untuk turun langsung membantu permasalahan yang ada di dalam masyarakat begitu besar. Ia jenuh dengan segala aturan gereja dan hirarki organisasi yang membatasi ruang geraknya. Teguran pun disematkan padanya karena sering mengabaikan tugas parokial:
“Wis terdiam. Lalu ia meminta maaf. “Saya sama sekali tidak bermaksud menyepelekan pekerjaan gereja. Saya cuma tak bisa tidur setelah pergi ke dusun itu.” Ia ingin mengatakan, rasanya berdosa berbaring di kasur yang nyaman dan makan rantangan lezat yang dimasak ibu-ibu umat secara bergiliran. Bahkan rasanya berdosa jika hanya berdoa. Ia tak tahan melihat kemunduran yang menurut dia dapat diatasi dengan beberapa proposalnya. Dengan agak memelas ia memohon diberi kesempatan melakukan itu.” (Saman, 2002:81-82).
Sikap Saman adalah bentuk perlawanan terhadap tubuh organisasi gereja yang baginya terlalu sibuk mengurusi urusan internal, dan sangat sedikit memberikan perhatian langsung terhadap masalah-masalah masyarakat secara luas. Ketika ia melarikan diri dari Indonesia, ia mengundurkan diri dari segala aktifitas pastoral, dan lebih aktif dengan LSM yang memberi perhatian terhadap masalah-masalah sosial.
Kekecewaannya terhadap gereja serta perkenalannya dengan Yasmin membuat hidup Saman berubah. Ia mulai meragukan kebenaran-kebenaran yang selama ini ia yakini:
“Yasmin,
Aku tak tahu lagi apakah masih ada dosa.
Seks terlalu indah. Barangkali karena itu Tuhan begitu cemburu sehingga Ia menyuruh Musa merajam orang-orang yang berzinah?
Tetapi perempuan selalu disesah dengan lebih bergairah. Ke manakah pria yang bersetubuh dengan wanita yang dibawa orang-orang Farisi untuk dilempari batu di luar gerbang Yerusalem?
Aku mencintai kamu. Aku mencintai kamu.
Aku tidak ingin kamu dihukum.” (Saman, 2002:183-184).
Saman menyadari bahwa apa yang dilakukannya bersama Yasmin adalah dosa di mata agama. Tapi, sesuatu yang ia rasakan bersama perempuan itu memiliki kekuatan yang terlalu besar, dan akhirnya ia pun menyerah. Ia terjabak pada dilema antara harus menjalankan hidup selibat, dan mengetahui bahwa persetubuhan adalah sesuatu yang indah. Meski, di satu sisi ia juga masih merindukan kehidupannya yang dulu sebagai seorang yang hidup menahan diri dari segala nafsu. Baginya seks adalah sesuatu yang sukar untuk ditafsirkan, yang membuat dirinya terjebak dalam kebingungan, dan semua itu disebabkan oleh seorang perempuan bersuami bernama Yasmin. Ketika jarak memisahkan mereka, komunikasi pun terjalin lewat email. Bahkan, karena membaca surat-surat Yasmin, Saman sampai terangsang dan melakukan masturbasi. Yasmin pun tak bisa melupakan Saman hingga ia terkena apa yang dinamakan aloerotisme:
“Saman,
Aku terkena aloerotisme. Bersetubuh dengan Lukas tetapi membayangkan kamu. Ia bertanya-tanya, kenapa sekarang aku semakin sering minta agar lampu dimatikan. Sebab yang aku bayangkan adalah wajah kamu, tubuh kamu.” (Saman, 2002:194).
Akan tetapi kepuasan seksual di mata Yasmin bukan hanya sebatas hubungan kelamin saja. Ia mempunyai pandangan sendiri tentang makna sebuah kepuasan seksual:
“Saman,
Orgasme dengan penis bukan sesuatu yang mutlak. Aku selalu orgasme jika membayangkan kamu. Aku orgasme karena keseluruhanmu.” (Saman, 2002:195).
Sama halnya dengan tokoh-tokoh perempuan lain dalam dwilogi novel ini, sikap Yasmin adalah perlawanan atas ketidakadilan. Laki-laki mempunyai kebebasan untuk memanjakan keliaran imajinasi seksualnya tanpa harus memusingkan efek moral di luar dirinya. Sedangkan perempuan terjebak dalam hegemoni budaya patriarki yang merepresi kebebasannya untuk menikmati nilai estetika seksualitas. Sebagai perempuan, Yasmin ingin kembali pada memori tentang naluri purbanya, dan baginya semua perempuan selama ini mengingkari insting alamiahnya karena dipasung oleh pengaruh di luar dirinya. Dengan Saman ia seolah menemukan kembali naluri itu dan bebas melampiaskannya:
“Bertahun-tahun aku hidup dengan fantasi itu, tanpa pernah mewujudkannya. Hingga hari aku bertemu kamu lagi. Kamu membangkitkan kembali khayal kanak-kanakku yang lama kukhianati. Tanpa kamu ketahui terlepaskanlah keperempuananku yang telah dipenjarakan hampir dua puluh tahun. Kini ia datang dengan memori purbanya. Seakan-akan ingatan primitif dari masa oral, ketika tubuhku belum diracuni oleh kekuatan luar yang mengagung-agungkan fallus dan memitoskan kesucian wanita. Ia datang dengan agresivitas yang murni, polos, inosen, yaitu dorongan untuk memakan, menghisap, mengconsume, mengexploit, memasukkan ke dalam dirinya benda-benda yang menarik hatinya. Juga kelamin laki-laki.” (Larung, 2002:161-162).
Saman yang hidup dalam kesendiriannya, dengan ketaatannya terhadap agama mampu dilumpuhkan Yasmin dengan naluri primitifnya. Di situlah letak kepuasan Yasmin terhadap Saman. Penaklukan atas keangkuhan soliternya. Hal tersebut juga yang menyebabkan Yasmin sangat tergila-gila kepada Saman dan bukan lelaki lain, termasuk suaminya sendiri. Dari sini bisa dilihat bahwa perselingkuhan yang dilakukan Yasmin selain disebabkan oleh alasan emosional dan seksual, juga merupakan wujud pemberontakan.
Berbeda dengan Laila dan Yasmin, perselingkuhan tokoh Cokorda Gita Magaresa tidak menjadi unsur penting di dalam dwilogi novel ini. Namun, Cok adalah tokoh perempuan yang paling membangkang dengan segala aturan yang ada di sekitarnya. Dialah sosok yang paling liar di antara teman-temannya, Laila, Yasmin, dan Shakuntala. Sejak remaja ia mempunyai kebiasaan gonta-ganti pacar. Meski, Shakuntala adalah orang pertama yang kehilangan keperawanan di antara mereka berempat, tetapi Cok yang lebih dulu melakukannya atas dasar keinginan dan kepuasan:
“Paling tidak, aku bisa menyombong bahwa akulah satu-satunya dari kami berempat yang pertama kali melakukan hubungan seks karena sadar dan suka. Shakuntala menghabisi keperawanannya lebih karena pemberontakan. Dia tidak menikmatinya. Laila masih suci-hama sampai sekarang. Dan Yasmin berbuat karena keterusan.” (Larung, 2002:86).
Karena keberanian Cok untuk membangkang dan melakukan seks bebas, ia dipindahkan dari sekolahnya di Jakarta ke Bali, dengan alasan pergaulan di Jakarta sudah rusak. Kedua orangtuanya menemukan kondom di dalam tasnya. Apa yang dialami Cok merupakan resiko sosial yang harus diterimanya ketika ia melanggar sistem nilai yang berlaku. Hal ini yang menyebabkan mengapa Laila begitu takut untuk melepaskan keperawanannya, keberanian pada dirinya nanti timbul ketika ia berada jauh dari Indonesia.
Cok melakukan selingkuh dengan seorang tentara, Brigjen. Rusdyan Wardhana. Sama halnya dengan pacar-pacarnya yang lain, dengan lelaki ini ia juga tak merasakan ketergantungan emosional. Di dalam setiap hubungan Cok selalu mengincar kepuasan-kepuasan lain di luar rasa cinta: seksual, kepentingan bisnis, dan lain-lain. Tetapi, sama halnya dengan perselingkuhan-perselingkuhan lain dalam dwilogi novel ini, tidak ada motivasi ekonomi yang mendasarinya. Cok adalah seorang pengusaha yang mengelola sebuah hotel miliknya sendiri.
Meski, perilaku seksual Laila dan Yasmin adalah pemberontakan, tapi hubungan mereka masih dilandasi dengan unsur perasaan yang mendalam, berbeda dengan Cok:
“Bagus, elu udah putus dari laki orang itu. Carilah bujangan, Cok. Jangan lakor. Bahaya.”
Masa?
“Lihat aja kasus Laila. Aku rasa dia dimain-mainkan saja oleh Sihar. Dijadikan selingan. Selingkuhan ringan.”
Lho, justru lakor itu aman, Min. Mereka nggak posesif karena punya keluarga. Bujangan cenderung mau menguasai kita. Dengan lakor, kita bisa putus dengan gampang.” (Larung, 2002:89).
Kutipan di atas bisa dilihat kalau Cok adalah perempuan yang tidak ingin terikat dengan laki-laki. Ia ingin bebas menikmati apapun tanpa ada sebuah ikatan. Ia pun tak akan menuntut lebih atau memaksakan setiap lelaki memberikan apa yang ia harapkan seperti yang dialami Laila. Cok adalah tipe perempuan yang mampu memerdekakan dirinya dari laki-laki.
2. Biseksual
Sama halnya dengan lesbian, kaum biseksual atau psychosexually hermaphroditic dari kalangan perempuan juga sangat jarang kita temui. Kalaupun ada, mereka hanya ada terbatas dalam lingkungan pergaulan masyarakat hedonis yang identik dengan kehidupan malam. Di dalam pergaulan seperti itu hubungan heteroseksual adalah sesuatu yang sudah sangat biasa, bahkan mungkin membosankan. Keinginan untuk mencoba sesuatu yang baru, menjadi dasar kuat merebaknya gaya hidup seks non heteroseksual.
Sebuah penelitian mengatakan, orientasi biseksual cenderung terdapat pada perempuan. Tetapi, seperti yang dikatakan Lisa Diamond, (http://www.sinarharapan.co.id/iptek/kesehatan/2003/0627/kes2.html), orientasi seksual sesungguhnya merupakan sebuah fenomena yang jauh lebih kompleks daripada yang terlihat di permukaan. Orientasi ini sangat dipengaruhi oleh berbagai variasi emosi dan faktor fisik, terutama pada perempuan. Hal tersebut pula yang menyebabkan mengapa kecenderungan biseksual pada kebanyakan perempuan tidak tampak ke permukaan, dan hanya menemukan kebebasan eksistensinya di dalam lingkungan-lingkungan tertentu seperti dalam gaya hidup kehidupan malam kaum hedonis. Padahal perempuan memiliki orientasi seks jauh lebih kaya daripada lelaki.
Salah satu sahabat dekat Laila selain Yasmin adalah Shakuntala. Seorang perempuan bertubuh semampai yang juga seorang penari. Identitas Shakuntala sebagai seorang biseks langsung dipaparkan pengarang pada penggalan pertama ketika cerita memaparkan narasi tentang dirinya:
“Namaku Shakuntala. Ayah dan kakak-perempuanku menyebutku sundal.
Sebab aku telah tidur dengan beberapa lelaki dan beberapa perempuan. Meski tidak menarik bayaran. Kakak dan ayahku tidak menghormatiku. Aku tidak menghormati mereka.” (Saman, 2002:115).
Lewat kutipan yang sangat eksplisit tersebut langsung diketahui latar belakang kehidupan sang tokoh, dan permasalahan yang ia alami akibat dari perilaku seksualnya. Kepribadian Shakuntala dan kecenderungan seksual ganda yang dimilikinya juga dilukiskan pengarang lewat ciri khas berikut ini:
“Aku mahir merubah suaraku. Kadang aku ini kera Sugriwa dengan geram egresif maupun ingresif dalam trakhea. Kali lain aku adalah cangik yang suaranya yang klemak-klemek seperti kulit ketiaknya yang lembek. Ketika remaja aku selalu menari sebagai Arjuna dalam Wayang orang, dan gadis-gadis memujaku sebab tanpa sadar mereka tak menemukan sisa-sisa femininiti dalam diriku. Tapi aku juga Drupadi, yang memurubkan gairah pada kelima pandawa.” (Saman, 2002:117-118).
Lewat suara dan tariannya Shakuntala digambarkan memiliki sisi feminim maupun sisi maskulin.
Hampir sama dengan Laila, Shakuntala hidup di bawah didikan orangtua yang mempunyai standarisasi tertentu tentang bagaimana tingkah laku perempuan yang dianggap baik. Sejak kecil ia tidak merasa nyaman dengan pandangan orangtuanya mengenai pembagian etika lelaki dan perempuan. Seperti wewejang ayahnya tentang cinta yang dinasehatkan padanya berikut ini:
“Pertama. Hanya lelaki yang boleh menghampiri perempuan. Perempuan yang mengejar-ngejar lelaki pastilah sundal. Kedua. Perempuan akan memberikan tubuhnya pada lelaki yang pantas, dan lelaki itu akan menghidupinya dengan hartanya. Itu dinamakan perkawinan. Kelak, ketika dewasa, aku menganggapnya persundalan yang hipokrit.” (Saman, 2002:120-121).
Nasehat ayahnya di atas adalah nasehat orangtua konservatif pada umumnya. Cara pandang seperti itu masih terus berkembang karena diwariskan turun-temurun. Setiap anak diharuskan untuk patuh terhadap orangtua, bagi yang melawan dianggap anak durhaka dan tak tahu diuntung. Sistem kepatuhan tanpa ada proses penyaringan inilah yang menyebabkan cara pandang ini terus berkembang. Dari orang tua ke anak, dan dari anak menyebar ke lingkungan pergaulan sosial. Di dalam diri Shakuntala terdapat keinginan untuk memberontak, tidak hanya ayahnya, ibunya memiliki perspektif yang tak jauh beda:
“Ibuku berkata, aku tak akan retak selama aku memelihara keperawananku. Aku terheran, bagaimana kurawat sesuatu yang aku belum punya? Ia memberitahu bahwa di antara kedua kakiku, ada tiga lubang. Jangan pernah kau sentuh yang tengah, sebab di situlah ia tersimpan. Kemudian hari kutahu, dan aku agak kecewa, bahwa ternyata bukan cuma aku saja yang sebenarnya istimewa. Semua anak perempuan sama saja. Mereka mungkin saja teko, cawan, piring, atau sendok sup, tetapi semuanya porselin. Sedangkan anak laki-laki? Mereka adalah gading: tak ada yang tak retak. Kelak, ketika dewasa, kutahu mereka juga daging.” (Saman, 2002:124).
Shakuntala merasa ada yang janggal dengan kodrat yang diberikan kepada wanita, di sana terdapat diskriminasi. Keperawanan hanya boleh diberikan kepada suami, tanpa harus menuntut sang suami menyerahkan hal yang sama. Doktrin tersebut tertanam ke dalam pikiran sampai ke alam bawah sadar. Hal ini yang menyebabkan perempuan merasa sakit ketika berhubungan seks untuk pertama kali, karena yang ada dalam benaknya adalah rasa takut ketimbang menikmati senggama.
Shakuntala adalah sosok yang memiliki kehidupan unik. Ia memiliki jiwa sebagai seorang seniman yang menikmati keindahan menurut tafsirannya sendiri. Kapan ia menyadari ada sisi kelaki-lakian dalam dirinya dan apa penyebabnya juga bagai misteri:
“Tetapi lelaki dalam diriku datang suatu hari. Tak ada yang memberi tahu dan ia tak memperkenalkan diri, tapi kutahu dia adalah diriku laki-laki. Ia muncul sejak usiaku amat muda, ketika itu aku menari baling-baling.” (Larung, 2002:133).
Sosok Shakuntala oleh pengarang dijadikan sebagai wujud metaforis dari jiwa manusia dengan dua dimensinya. Lelaki dan perempuan. Pembagian tersebut tidak hanya sebatas pada jenis kelamin yang dimiliki, tapi memiliki makna lebih di luar hal-hal fisik. Daya tarik kepribadian atau karisma, dan lain-lain. Laila, sahabatnya bisa secara spesifik merasakan unsur kelaki-kelakian dalam diri Shakuntala ketika Shakuntala mempertunjukan kemampuan menarinya yang bisa menampakkan dua kepribadian sekaligus:
“Lalu musik berhenti. Telah satu jam. Telah satu jam kami berdansa. Kami saling melepas pelukan. Saya melihat ia berkeringat. Ia mencopot kamejanya begitu saja seperti seorang lelaki menanggalkan pakaiannya yang telah basah. Dan tengkurap. Saya melihat otot punggungnya. Titik-titik peluh. Ia berbalik. Lalu saya menemukan wajah saya telah bersandar pada siku lehernya. Dan saya menangis. Sebab sesungguhnya saya tahu saya terluka oleh sikap Sihar. Sebab kini saya tak tahu lagi siapa dia. Apakah Tala apakah Saman apakah Sihar. Hangat nafasnya terasa. Cahaya rendah.” (Larung, 2002:131-132).
Laila yang baru saja mengalami kekecawaan terhadap Sihar terhipnotis oleh daya tarik yang ditunjukkan Shakuntala lewat kemampuan menarinya, begitu terhipnotis hingga ia pun secara alamiah larut dalam pelukan sahabatnya itu. Ia melepaskan hasrat seksual dengannya. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang mengatakan, bahwa pada kaum perempuan, pengalaman atraksi seks tidak tergantung pada gen pasangannya saja, tapi juga terpengaruh oleh segala sesuatu di sekitarnya. Itulah yang dialami Laila, atraksi seksualnya dengan Shakuntala lebih dipengaruhi oleh faktor situasi yang mereka berdua lewati. Jadi, meski Laila memiliki orientasi seks normal, ia bisa saja mendapatkan kenikmatan seks dengan Shakuntala.
C. Novel “Nayla”
1. Seksualitas Remaja
Masa remaja adalah masa peralihan bagi seorang manusia, dari anak-anak menuju dewasa. Masa ini adalah masa yang rentan dengan konflik psikologis, karena manusia mengalami proses pembentukan diri, dan pencarian identitas dirinya. Di tengah situasi tersebut kepribadian manusia menjadi labil, mudah menerima berbagai bentuk pengaruh. Usia Remaja adalah 12 hingga 21 tahun. Di usia ini seksualitas mulai menampakkan eksistensinya secara penuh. Aktifitas reproduksi memasuki fungsinya yang maksimal, dan lawan jenis mulai memberikan daya tarik yang utuh. Hubungan dengan lawan jenis menjadi lebih matang dari sebelumnya.
Dijelaskan Ratna Eliyawati, pada saat ini juga remaja sudah mampu menghayati makna rangsangan seksual terlepas dari apakah rangsangan seksual tersebut berasal dari proses persentuhan hati dengan lawan jenis (sosio-erolik) atau akibat berfantasi (auto-erotik), (http://yudhim.blogspot.com)
Para ahli psikologi mengatakan pada masa ini informasi yang benar tentang masalah seksualitas penting untuk diberikan, karena saat periode remaja rasa ingin tahu kita mengenai seksualitas sedang membumbung tinggi. Jika tidak mendapatkan informasi yang benar, remaja akan akan mencari sendiri informasi-informasi di luar yang bisa saja keliru, yang dapat berpengaruh pada kejiwaannya. Pendapat sebagian besar masyarakat yang mengatakan bahwa masalah seksualitas adalah hal alamiah yang akan diketahui dengan sendirinya ketika seseorang melakukan pernikahan harus segera dikikis. Terjadinya kasus aborsi, hamil di luar nikah atau penyakit kelamin adalah akibat dari kurangnya informasi mengenai seksualitas terhadap anak muda. Peran orangtua untuk pemberian informasi tersebut dalam hal ini sangat penting.
Fakta menunjukkan bahwa sebagian besar remaja kita tidak mengetahui dampak dari perilaku seksual yang mereka lakukan, seringkali remaja sangat tidak matang untuk melakukan hubungan seksual terlebih lagi jika harus menanggung resiko dari hubungan seksual tersebut (http://agoesramdhanie.wordpress.com/2008/12/19/psikologi-pendidikan-seks-pada-remaja).
Nayla, tokoh utama dalam novel ini adalah seorang perempuan yang melewati masa kecil hingga remaja dengan berbagai pengalaman pahit. Masa tersebut ia lewati dengan tekanan batin dan tekanan psikologis yang ia alami di lingkungan sekitarnya. Sejak kecil ibunya sering menusukkan peniti ke selangkangannya setiap kali Nayla ngompol di celana. Ia tak mengerti mengapa ibunya melakukan cara-cara seperti itu untuk menghukumnya. Padahal, Nayla mengharapkan ibunya memperlakukannya layaknya ibu-ibu lain memperlakukan anak mereka. Lahir dari keluarga broken home membuat Nayla berusaha mencari kebahagiaannya tanpa bantuan orang lain. Di usia yang rentan seperti itu Nayla tak mempunyai pegangan ketika ia tak mampu berdiri sendiri. Di tengah situasi psikologis yang sangat labil, Nayla berkenalan dengan Juli, seorang perempuan yang sama-sama bekerja dengannya di sebuah diskotek. Nayla bekerja sebagai juru lampu, dan Juli sebagai juru musik. Juli adalah seorang wanita yang memiliki sisi kelaki-lakian dalam dirinya. Ia seorang lesbian, dan dengan Juli Nayla seperti mendapatkan seorang sahabat sejati. Ia merasa mendapatkan kasih sayang yang tidak ia dapatkan dari ibunya:
“Tak pernah saya mencintai satupun laki-laki. Tidak sebagai ayah, tidak sebagai kekasih. Saya pernah belajar mencintai perempuan. Mencintai Ibu. Tapi sayangnya, Ibu tak pernah belajar mencintai saya. Ia lebih senang belajar mencintai kekasih-kekasihnya. Bersama Juli, saya merasakan kehangatan kasih yang pernah ingin saya berikan kepada Ibu” (2005:5).
Lewat kutipan tersebut kita bisa mendapatkan kesan bahwa, problem psikologis seseorang dapat mempengaruhi kehidupan seksualnya. Karena hidup tanpa mendapatkan kasih sayang dari sosok ayah, Nayla dikatakan tidak bisa mencintai laki-laki. Bersama Juli, Nayla merasakan kenyamanan dan tempat berlabuh dari tekanan yang terus menerus ia terima. Bahkan, ia merasa cemburu ketika melihat Juli bermesraan dengan kekasihnya.
Tekanan psikologis dalam dirinya semakin bertambah ketika ia secara paksa dimasukkan dalam rumah perawatan anak nakal dan narkotika. Nayla tidak pernah mengerti kenapa dirinya dimasukkan ke sana. Ibu memasukkan ia ke sana karena mendapati Nayla mabuk dan dipengaruhi obat-obatan terlarang. Padahal Nayla hanya mencoba mencari ketenangan dengan teman-temannya. Terjeblos di tempat itu bagi Nayla seperti keluar dari satu neraka dan masuk ke neraka lainnya. Di sana ia terpaksa menjalani rutinitas-rutinitas yang sedikitpun tak memberi pengaruh positif dalam dirinya:
“Pada saat berada di kamar tak ada yang diperbolehkan berbicara. Tak boleh melakukan aktifitas apa pun. Tampaknya mereka tak diperbolehkan berinteraksi dengan dunia luar. Tak boleh ada kertas. Tak ada pensil. Tak ada televisi. Tak ada majalah. Bahkan sendok garpu pun tak disediakan. Mereka menyantap makanan berkuah sekali pun dengan tangan. Tak ada kehidupan. Selain mematuhi peraturan.” (2005:15).
Nayla semakin merasa tersiksa, ia pun akhirnya memutuskan melarikan diri dari rumah perawatan tersebut. Tapi setelah itu, pengalaman hidup kelam Nayla justru semakin bertambah ketika ia berurusan dengan polisi:
“Kepala Nayla terjungkal ke belakang ketika seorang polisi yang sedang berdiri menjambak rambutnya.
“Kecil-kecil sok mau jadi preman kamu, ya! Ngapain jalan-jalan bawa senjata tajam?!”
“Bukan punya saya, Pak!”
“Eh, perek kecil! Temen kamu udah ngaku kalo itu senjata tajamnya dia. Jadi kamu jangan bohong!”
Nayla melirik ke arah Luna yang sedang diinterogasi di meja sebelah. Luna memberi kode supaya tidak mengaku.” (2005:73).
Di usianya yang ke empat belas tahun Nayla begitu terobsesi untuk bisa merasakan cinta. Rasa cinta baginya seolah menjadi sesuatu yang amat langka sejak kecil. Pengalaman-pengalaman pahit membuatnya ingin mandiri dan merasa benci ketika Juli memperlakukannya seperti seorang remaja yang harus dilindungi:
“Saya sering kesal setiap kali Juli bersikap ingin melindungi. Di matanya, saya hanyalah perempuan berumur empat belas tahun yang frustasi dan sedang mencari jati diri. Padahal saya mampu mencinta dan bercinta. Saya ingin belajar merasa. Tapi saya tak ingin memberi cinta saya kepada orang-orang yang tak semestinya menerima. Lebih baik saya memilih mencintai Juli ketimbang laki-laki yang menginginkan selaput dara saja” (2005:6).
Pengalaman traumatik membuat Nayla selalu curiga dan tidak mudah mempercayai orang lain. Meski, ia ingin sekali mencintai maupun dicintai oleh seseorang, dibutuhkan sebuah proses untuk meyakinkan Nayla bahwa orang tersebut pantas ia cintai. Baik Nayla maupun Juli merupakan tokoh yang oleh pengarang digambarkan sebagai sosok yang membenci laki-laki. Mereka menganggap laki-laki hanyalah mahluk berpikiran kerdil yang di otaknya cuma ada senggama belaka. Masalah seksualitas perempuan dalam novel ini tampak bersumber pada laki-laki. Sebuah bentuk perlawanan yang menyebabkan sosok lelaki menjadi unsur yang tidak penting dan tidak perlu dikaitkan dengan eksistensi perempuan. Tokoh-tokoh perempuan bergelut mencari kebahagiaan tanpa melibatkan lelaki sebagai bagian untuk memperoleh semua itu:
“Otak laki-laki memang kerdil. Senggama bagi mereka hanya berkisar di seputar kekuatan otot Vagina,” kata Juli.
Saya sependapat dengannya. Karena itu saya tak terlalu bangga ketika banyak tamu laki-laki dan juru musik yang lain mengaku tergila-gila pada saya. Mereka berlomba-lomba mendapatkan tubuh saya. Mereka pasti bangga jika berhasil merobek selaput dara saya. Bodoh. Mereka mengira saya perawan. Padahal hati saya yang perawan, bukan vagina saya. Meskipun usia saya masih sangat muda” (2005:5).
Secara implisit tergambar rasa sinis Nayla bahwa laki-laki hanya melihat perempuan untuk urusan fisik semata. Lelaki di matanya tidak pernah memusingkan perasaan perempuan. Ia menganggap tidak ada gunanya memberikan cinta kepada orang yang tidak mengerti perasaan perempuan. Baginya hanya Juli yang mengerti isi hatinya. Bila dilihat lebih jauh sesungguhnya akar dari permasalahan Nayla dan ibunya terletak pada ayahnya.
Masa remaja adalah masa di mana setiap manusia harusnya memperoleh pendidikan seks secara benar, baik mengenai peranan seks, fungsinya, serta hubungannya dengan masalah moral, etika, ataupun agama. Telah dipaparkan bahwa untuk urusan yang satu ini orangtua mempunyai peran yang sangat vital. Namun, semua itu tidak didapatkan Nayla. Hal ini menyebabkan dirinya bertindak sesuai dengan respon yang ia dapatkan dalam lingkungan sosialnya. Selain pendidikan secara langsung, sikap orangtua terhadap seksualitas juga berpengaruh terhadap sikap seksual seorang anak. Ibu Nayla adalah sosok berkarakter keras yang memiliki dendam terhadap lelaki. Ia mendidik Nayla seorang diri, karena suaminya meninggalkannya dengan alasan bahwa Nayla bukanlah anak dari benihnya. Rasa dendam terhadap suaminya itu berimbas pada perkembangan psikologi Nayla. Gadis itu dididik secara keras agar kelak tidak menjadi korban kesia-siaan lelaki.
2. Homoseksualitas
Jika dalam “Supernova” (Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh) homoseksualitas ditampilkan lewat unsur gay, novel “Nayla” menampilkan unsur lesbian. Sama seperti kaum gay, pada masyarakat Indonesia lesbian juga belum mendapatkan kedudukan sosial yang sesuai sebagai manusia. Keberadaan mereka juga masih terkesan samar, mengingat kaum lesbian memiliki interaksi sosial tak seaktif kaum gay. Sesuai dengan karakteristiknya, bagaimanapun lelaki memiliki perilaku seksual lebih agresif daripada perempuan. Lesbian yang melakukan ‘coming out’ juga sangat minim, jika boleh dibilang tidak ada sama sekali. Untuk bisa mengidentifikasi mereka secara langsung juga sangat sulit, berbeda dengan gay yang ciri-cirinya bisa terlihat lewat pembawaan atau cara berbusana. Sedangkan perempuan yang memiliki ciri-ciri kelaki-lakian atau tomboi tidak bisa langsung divonis sebagai lesbian.
Bila melihat sejarah, citra buruk lesbian di Indonesia mulai terkonstruksi sejak masa organisasi wanita, Gerwani masih berkiprah. Citra gerwani yang kejam, melakukan praktek prostitusi dan berhubungan sesama jenis berpengaruh pada citra kaum lesbian secara keseluruhan. Tetapi, sesungguhnya jika kita coba mengkaji kembali sumber-sumber sejarah, yang terjadi di tubuh Gerwani bertolak belakang dengan stigma seperti itu. Dijelaskan Oryza Sativa bahwa:
“Konstruksi tersebut adalah perjalanan panjang yang muncul dari kombinasi: usaha untuk maju dan sejajar dengan lelaki serta tidak menelan mentah-mentah konsep kodrat dan dinamika politik Indonesia. Namun dengan beraneka alasan, tujuan-tujuan itu malah menjadi semacam bumerang yang dipicu oleh faktor eksternal yakni rezim Orde Baru” (http://sepocikopi.blogspot.com).
Rezim Orde Baru yang terkenal dengan sifat feodalismenya, dengan tujuan-tujuan politis memanipulasi perjuangan kaum Gerwani sebagai gerakan negatif di mata masyarakat. Manipulasi tersebut berkaitan dengan ideologi yang dipegang organisasi ini, yang menurut pemerintahan Orde Baru dapat mengancam stabilitas negara. Konstruksi moral yang dibangun terus berlaku dan masih dirasakan sampai saat ini.
Di dalam novel “Nayla” terdapat dua tokoh dengan tipikal invert berbeda. Juli dan Nayla. Tidak dijelaskan latar belakang mengapa Juli menjadi lesbian. Ia digambarkan telah memiliki orientasi seksual ke sesama jenis sejak masih remaja:
“Saya memperhatikan Juli. Perawakan dan sikap Juli tak ubahnya seorang laki-laki. Ia memang pencinta sesama jenis. Tapi kelainannya bukan faktor genetis. Keluarganya normal-normal saja, akunya. Normal dalam pengertian, bukan pencinta sesama jenisnya. Tapi Juli mempunyai karisma. Banyak tamu perempuan tergila-gila padanya. Yang laki-laki pun tak jarang ingin menaklukkannya. Pasti enak meniduri perawan, pikir mereka. Padahal sebagai sahabatnya, saya tahu Juli sudah tidak perawan. Semenjak remaja ia suka memasukkan benda-benda ke dalam vaginanya sambil membayangkan perempuan yang ia idamkan. Sekarang pun dengan kekasihnya yang seorang model mereka sering bercinta dengan cara saling memasuki vagina satu sama lain dengan jari mereka” (2005:4-5).
Melalui kutipan tersebut kita bisa mendapat kesan bahwa Juli adalah perempuan yang masuk dalam kategori absolutely inverted. Kesan itu diperkuat karena di dalam novel tidak dijelaskan apakah dirinya menyukai, atau pernah menjalin hubungan dengan lelaki.
Sedangkan Nayla termasuk dalam kategori psychosexually hermaphroditic, atau seorang biseksual. Sebelumnya Nayla adalah seorang perempuan yang mempunyai orientasi seks normal. Karakter invertnya muncul akibat adanya konflik psikologi yang mempengaruhi kejiwaannya. Perkenalannya dengan Juli menjadi faktor penting yang mempengaruhi proses peralihan tersebut. Dengan Juli ia merasakan kasih sayang dan rasa nyaman yang tidak ia peroleh dari kedua orangtuanya. Karena sejak kecil sangat jarang merasakan kasih sayang seperti itu, cinta Nayla kepada Juli menjadi berlebihan. Hal ini disebabkan oleh perasaan takut kehilangan akan perlakuan dan rasa nyaman yang jarang ia dapati tersebut. Bahkan, ia memutuskan menjadikan Juli sebagai kekasihnya. Di sini kita bisa melihat bahwa Perilaku invert Nayla lebih cenderung bersifat emosional daripada seksual. Ketika hubungannya dengan Juli berakhir, dampaknya dalam diri Nayla terasa begitu besar:
“Akhirnya Juli pergi. Kembali, saya sendiri. Tak pernah saya bayangkan akan merasa sangat kehilangan seperti ini walaupun secara moril materiil saya sudah mempersiapkan diri” (2005:104).
Selain menjalin hubungan dengan Juli, Nayla juga berhubungan dengan laki-laki pengunjung diskotek yang tertarik padanya. Akan tetapi, dengan mereka Nayla tidak pernah mendapatkan kepuasan seperti yang ia dapatkan ketika berhubungan seks dengan Juli. Ia lebih menikmati ketika melihat semua laki-laki itu berada di bawah cengkramannya, ketika mereka semua mengemis ingin mendapatkannya. Nayla merasa senang karena ia merasa bisa memperbudak kaum lelaki.
3.2. MASALAH EKONOMI DAN POLITIK
A. Novel “Supernova” (Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh)
Masalah politik tidak diangkat pengarang dalam novel ini. Sedangkan persoalan ekonomi meskipun tidak terlalu menonjol sempat disinggung pengarang, tentang bagaimana sistem kapitalisme saat ini membuat keberadaan negara-negara berkembang seperti Indonesia sulit terlepas dari jurang keterpurukan. Prinsip kapitalisme dijelaskan Frans Magnis-Suseno dalam buku “Pemikiran Karl Marx”:
“Apa kekhasan sistem ekonomi kapitalisme dibandingkan sistem produksi sebelumnya? Dari segi proses, kapitalisme hanya mengakui satu hukum: hukum tawar-menawar di pasar. Jadi kapitalisme adalah ekonomi yang bebas: bebas dari pelbagai pembatasan oleh raja dan penguasa lain (orang boleh membeli dan menjual barang di pasar mana pun), bebas dari pembatasan-pembatasan produksi (orang bebas mengerjakan dan memproduksikan apa pun yang dikehendakinya), bebas dari pembatasan tenaga kerja (orang boleh mencari pekerjaan di mana pun , ia tidak terikat pada desa atau tempat kerjanya). Yang menentukan semata-mata keuntungan yang lebih besar.” (2001:165-164).
Dampak dari mekanisme proses kapitalisme dalam masyarakat modern bisa dilihat lewat kutipan dialog tokoh Diva berikut ini:
“Memakai jubah handuk, Diva mengambil air mineral dari kulkas. Dahlan berbaring santai dengan selimut yang membungkusnya dari pinggang ke bawah.
“Coba bayangkan, Pak. Pendapatan satu bulan pekerja pabrik otomotif di Malaysia sama besarnya dengan pekerja di Illinois satu hari. Satu pekerja Prancis sama dengan 47 pekerja Vietnam. Satu montir Amerika seharga 60 montir Cina. Itulah pembandingan paling baru dari harga manusia. Tidak diumumkan di brosur saja,” Diva berceloteh sambil menenggak minumannya. “Pergerakan produksi akan selamanya berputar di isu yang sama: mana yang lebih murah? Mesin atau Manusia? Jawabannya masih sama: manusia. Kalau lokasi pabrik di Jepang, maka harus berbasis mesin, soalnya manusia di sana mahal. Sementara untuk apa buru-buru menanamkan kapital sedemikian besar untuk mesin? Kapabilitasnya berkompetisi bisa kedodoran duluan. Jadi, intinya, siapa yang punya stok manusia paling murah? Soal kebijakan politik dan kawan-kawan bisa diatur kemudian,” ia terkekeh, “Marx pasti sekarang sedang meringis di liang kuburnya.”(2001:54-55).
Setelah melakukan hubungan seks, pasangan tanpa status itu terlibat dalam sebuah pembicaraan tentang kapitalisme yang semakin buas dewasa ini. Dari dialog di atas kita bisa melihat cara pandang dari seorang yang memiliki metode berpikir Marxisme. Diva mengkritisi bagaimana di negara-negara pusat kapitalis harga tenaga manusia membumbung tinggi, sedangkan di negara-negara lain manusia sebagai pekerja dihargai sangat murah. Sesuai dengan prinsip pergerakan produksi yang diungkapkannya, para kapitalis akan selalu memprioritaskan, siapa yang lebih murah?. Di negara-negara tertentu seperti Indonesia, memang harga manusialah yang lebih murah. Tak terkendalinya sistem kapitalisme bahkan oleh institusi negara bisa dilihat lewat kutipan berikut:
“Jadi, boleh dibilang institusi negara tinggal aksesori, maksudmu?”
“Atau tepatnya, kotoran hidung yang masih menganggap dirinya Grand Canyon. Kapitalisme sudah menciptakan format demokrasinya sendiri, kok. Dengan pertama-tama membuat transisi kedaulatan dari negara ke perusahan transnasional. Dan jangan lupa magic spell-nya: dari konsumen, oleh konsumen, untuk konsumen. Tapi, yah, setidaknya negara harus tetap kelihatan punya peran, di depan mata warga-warganya yang belum sadar dan dijaga untuk tetap tidak sadar itu. Entah sampai kapan.” (2001:55).
Sistem kapitalisme yang telah merasuki berbagai sendi kehidupan membuat semua pihak tak mungkin terlepas dari sistem ini. Pemerintah pun tak akan bisa terlepas dari hegemoni kapitalisme tersebut. Jelas di sini bahwa kapitalisme hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu saja, yaitu mereka sang penguasa-penguasa modal. Sedangkan masyarakat miskin semakin terjerumus dalam jurang keterpurukan.
B. Dwilogi novel “Saman”-“Larung”
Selain menitikberatkan pada masalah-masalah seksualitas, pada novel “Larung” Ayu Utami secara sekilas juga mengangkat tentang masalah politik yang pernah melanda negeri ini. Masalah politik yang diangkat adalah Peristiwa 27 Juli 1996 yang merenggut banyak korban. Beberapa tokoh dalam “Larung” diceritakan melewati konflik yang mengenaskan itu, sebagai aktivis yang dijadikan kambing hitam oleh pelaku sesungguhnya, yakni pemerintahan Suharto. Tokoh-tokoh tersebut adalah Wayan Togog, Bilung, dan Koba. Mengingat keberadaan mereka di dalam negeri sangat terancam, Yasmin dan teman-temannya memutuskan untuk melarikan mereka ke luar negeri. Demi tujuan tersebut mereka membutuhkan satu orang lain yang sudah berada di luar negeri untuk membantu pelarian ini. Orang yang membantu mereka adalah Saman. Di bagian ini Ayu Utami mengungkap kronologi dan beberapa hal yang menyangkut peristiwa tersebut. Poin utama yang diungkapkannya adalah bagaimana keterlibatan pemerintahan orde baru dalam sengketa internal yang terjadi antara Partai Demokrasi Indonesia kubu Megawati Soekarnoputri, dan kubu Soerjadi:
“Meskipun para penyerbu kantor DPP PDI menggunakan atribut partai, nyata indikasi keterlibatan aparat militer orde baru di sini. Nama Megawati Soekarnoputri mulai muncul sebagai simbol perlawanan terhadap Suharto sejak ia secara de facto menjadi ketua umum partai dalam musyawarah nasional luar biasa di Surabaya, yang disahkan Kongres III di Kemang, Jakarta, tahun 1993. Sejak itu wanita pendiam ini berpotensi menjadi ancaman bagi Suharto dalam Pemilu 1997 mendatang. Pemerintah Suharto mencoba menjatuhkan putri presiden pertama itu dengan merekayasa perlawanan dari dalam yang berpuncak pada kongres IV di Medan Pertengahan Juni 1996 lalu. Kongres ini mengangkat kader jenggot Soerjadi menjadi ketua umum partai.” (Larung, 2002:176).
Kutipan di atas bisa dilihat bahwa peristiwa 27 Juli 1996 adalah sebuah strategi politik yang dilakukan rezim orde baru demi kepentingan kelanggengan kekuasaannya. Indikasi-indikasi keterliban Suharto dalam perebutan secara paksa kantor DPP PDI Jakarta Pusat yang dikuasai kubu Megawati terdapat dalam kutipan berikut:
“Beberapa saksi mata mengatakan, Komandan Kodim Jakarta Pusat Letkol. Zul Effendi terlihat berada di sana dan ikut mengatur menit-menit awal penyerbuan.
Sepuluh menit kemudian sekitar 500 personil pasukan anti huru hara berseragam lengkap telah tiba. Kapolres Jakarta Pusat Letkol. Abu Bakar bersama mereka. Pasukan membagi diri menjadi dua kelompok, dan menutup lokasi kejadian di ruas Megaria dan jalan Surabaya. Akibatnya, pendukung Mega dari luar lokasi tak bisa memberi bantuan. Di lokasi, penyerangan terhadap markas PDI terus berlangsung. Setelah lebih kurang sepuluh menit dua panser AD ditempatkan di bawah jembatan layang kereta api.” (Larung, 2002:174).
Lewat kutipan di atas dapat dilihat bahwa penyerbuan tersebut dilakukan secara terencana, dan disiapkan secara matang. Keterlibatan TNI maupun POLRI adalah sebuah fakta yang tak terbantahkan. Peristiwa ini meluas menjadi kerusuhan di beberapa wilayah di Jakarta, terutama di kawasan Jalan Diponegoro, Salemba, dan Kramat. Beberapa kendaraan dan gedung dibakar massa yang tak terkendali. Selain terjadi sejumlah pelanggaran Hak Asasi Manusia, hasil penyelidikan Komnas HAM menemukan data bahwa dalam tragedi ini, 5 orang meninggal dunia, 149 orang (sipil maupun aparat) luka-luka, dan 136 orang ditahan.
Keterlibatan pemerintah orde baru juga diungkapkan Komnas HAM seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini:
“Dokumen dari Laporan Akhir Komisi Nasional Hak Asasi Manusia menyebut pertemuan tanggal 24 Juli 1996 di Kodam Jaya dipimpin oleh Kasdam Jaya Brigjen Susilo Bambang Yudhoyono. Hadir pada rapat itu adalah Brigjen Zacky Anwar Makarim, Kolonel Haryanto, Kolonel Joko Santoso, dan Alex Widya Siregar. Dalam rapat itu, Susilo Bambang Yudhoyono memutuskan penyerbuan atau pengambilalihan kantor DPP PDI oleh Kodam Jaya.
Dokumen tersebut juga menyebutkan aksi penyerbuan adalah garapan Markas Besar ABRI c.q. Badan Intelijen ABRI bersama Alex Widya S. Diduga, Kasdam Jaya menggerakkan pasukan pemukul Kodam Jaya, yaitu Brigade Infanteri 1/Jaya Sakti/Pengamanan Ibu Kota pimpinan Kolonel Inf. Tri Tamtomo untuk melakukan penyerbuan. Seperti tercatat di dokumen itu, rekaman video peristiwa itu menampilkan pasukan Batalion Infanteri 201/Jaya Yudha menyerbu dengan menyamar seolah-olah massa PDI pro-Kongres Medan. Fakta serupa terungkap dalam dokumen Paparan Polri tentang Hasil Penyidikan Kasus 27 Juli 1996, di Komisi I dan II DPR RI, 26 Juni 2000.” (http://id.wikipedia.org/wiki/peristiwa 27- Juli.htm)”.
Pemerintah orde baru pada peristiwa tersebut mencoba memanipulasi fakta sejarah dengan menjadikan para aktivis PRD sebagai kambing hitam yang menjadi dalang dari kerusuhan ini. Akibatnya beberapa aktivis PRD dijebloskan ke dalam penjara. Pemerintah dengan ini mencoba membentuk opini publik untuk menutupi keterlibatan mereka:
“Wayan Togog, Bilung, dan Koba ada di Jakarta bulan Juli lalu. Dan seperti Budiman Sudjatmiko serta yang lain, mereka juga terpanggil untuk berbicara di mimbar bebas jalan Diponegoro, di depan kantor PDI, saling memperkuat antara orang-orang yang melawan Suharto. Di situlah intel-intel mencatat dan merekam wajah mereka.” (Larung, 2002:183).
Setelah rezim orde baru tumbang proses hukum untuk menyelesaikan masalah ini juga terkesan angin-anginan. Beberapa tokoh militer yang dianggap terlibat pun divonis bebas oleh pengadilan. Tidak tuntasnya penyelesaian kasus ini adalah cermin penegakan hukum di Indonesia yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Dari sini masyarakat bisa melihat, bila sudah berhadapan dengan penguasa, hukum pun tidak bisa berbuat apa-apa. Peristiwa 27 Juli juga mencerminkan karakteristik kediktaktoran pemerintahan orde baru yang selalu menghalalkan segala cara untuk mempertahankan kekuasaannya.
Di dalam novel “Nayla” penulis tidak menemukan adanya masalah politik maupun ekonomi yang terkandung dalam cerita.
BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN
4.1 Simpulan
Setelah mengadakan perbandingan mengenai Teknik Penceritaan dan Masalah Sosiokultural yang terdapat dalam novel Supernova (Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh) karya Dewi Lestari, dan dwilogi novel Saman-Larung karya Ayu Utami, serta novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu yang ditinjau lewat kritik historis, maka penulis dapat menyimpulkan sebagai berikut :
1. Teknik Pemandangan dalam Novel Supernova (Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh) memiliki sisi inovasi karena menggabungkan unsur-unsur sains dengan unsur fiksi. Gaya tersebut menjadikan novel ini terkesan rumit sekaligus lugas. Hal ini disebabkan gaya bercerita pengarang yang juga populer. Bentuk seperti itu menjadikan novel ini berbeda dari karya-karya novel Indonesia lainnya. Tentang Teknik Pemandangan dalam dwilogi novel Saman-Larung, ditemukan tidak sedikit penggunaan simbol-simbol dan pengandaian puitis pada setiap penggambaran cerita. Teknik Pemandangan dalam novel Nayla memiliki gaya penceritaan yang lugas, gamblang, namun tetap memiliki keutuhan.
2. Teknik Adegan dalam novel Supernova (Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh) dipaparkan dengan lugas dan ringan. Hal tersebut membuat tindakan atau aksi setiap tokoh bisa ditangkap dengan mudah oleh pembaca. Teknik Adegan dalam dwilogi novel Saman-Larung, meski dipaparkan dengan lugas, pada bagian tertentu juga dipaparkan dengan lebih lembut dengan menggunakan pilihan kata yang menyentuh hati pembaca. Teknik adegan dalam novel Nayla didominasi oleh narasi-narasi daripada dialog. Dengan demikian tindakan tokoh lebih banyak dituturkan oleh pencerita. Sama halnya dengan Teknik Adegan dalam novel-novel pembanding lainnya, seperti pada novel Nayla juga dipaparkan dengan lugas dan lancar.
3. Teknik Montase dalam novel Supernova (Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh) adalah kisahan terputus-putus yang dipaparkan secara puitis yang mencerminkan situasi psikologis tokoh dengan konflik batinnya. Di dalam dwilogi novel Saman-Larung dan novel Nayla tidak ditemukan penggunaan Teknik Montase.
4. Teknik Kolase dalam novel Supernova (Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh) banyak menggunakan selipan puisi dan lirik lagu di tengah-tengah cerita. Teknik Kolase dalam dwilogi novel Saman-Larung menggunakan selipan penggalan cerita lain yang menggambarkan sejarah sesuatu. Teknik Kolase dalam novel Nayla menggunakan selipan naskah drama dan skenario cerita di tengah-tengah kisahan.
5. Teknik Asosiasi dalam novel Supernova (Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh) adalah asosiasi yang terdapat dalam diri pembaca. Makna tersirat dari kisahan yang terputus bisa ditemukan lewat asosiasi pembaca. Teknik Asosiasi yang terdapat dalam dwilogi novel Saman-Larung adalah asosiasi dalam diri tokoh. Di dalam novel Nayla tidak ditemukan penggunaan Teknik Asosiasi.
6. Masalah sosiokultural dalam novel Supernova (Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh) didominasi unsur seksualitas, yang ditampilkan lewat unsur Homoseksualitas (gay), pelacur, dan perselingkuhan. Ketiga unsur tersebut mencakup masalah sosial, budaya, dan moral, yang masing-masing saling berhubungan. Di samping itu, terdapat juga masalah ekonomi yakni mengenai ketidakadilan sistem kapitalis yang hanya menguntungkan para pemilik modal saja.
7. Masalah sosiokultural dalam dwilogi novel Saman-Larung juga didominasi masalah seksualitas yang ditampilkan lewat unsur perselingkuhan dan biseksual, yang keduanya termasuk dalam ruang lingkup budaya, sosial, dan moral. Di samping itu, terdapat juga masalah politik yakni peristiwa 27 Juli 1996 yang merenggut banyak korban. Hal ini juga menjadi penanda kebebasan berekspresi lewat karya sastra yang sejak rezim feodalistik orde baru masih berkuasa begitu terkungkung, bahkan karya-karya yang dianggap subversif dan mengungkapkan kenyataan sejarah dilarang untuk terbit.
8. Masalah sosiokultural dalam novel Nayla memiliki kesamaan dengan novel pembanding lainnya, yakni didominasi masalah seksualitas yang ditampilkan lewat unsur homoseksualitas (lesbian), dan seksualitas remaja.
9. Masalah sosiokultutral dalam keempat novel ini masing-masing mengeksplorasi problem seksualitas yang diangkat melalui sudut pandang perempuan modern, yang kesemuanya mengandung konflik yang bersifat paradoksal, dikarenakan pertentangan moral, budaya, maupun nilai-nilai sosial yang terdapat dalam masyarakat, dengan masalah yang dihadapi tokoh-tokoh dalam novel-novel ini.
10. Masalah seksualitas dalam novel-novel ini dipaparkan secara gamblang. Meskipun begitu, pengeksplorasian unsur ini bukan dimaksudkan sebagai bumbu penyedap dalam cerita, namun, sebagai perlawanan terhadap budaya masyarakat patriarki yang munafik dan cenderung mendiskreditkan eksistensi perempuan, dan kehidupan seks non heteroseksual.
4.2 Saran
Keempat novel yang menjadi bahan kajian dalam penulisan ini masing-masing memiliki kekayaan bentuk maupun isi yang dapat diteliti lewat berbagai sudut pandang kritik sastra. Salah satu ruang yang masih perlu dikaji lebih dalam lagi adalah masalah gender. Penulis menyadari penulisan ini tidaklah cukup untuk menggali kekayaan nilai yang terkandung dari karya ketiga pengarang wanita Indonesia kontemporer ini. Penulisan ini dimaksudkan sebagai pintu awal untuk kedepan lebih banyak lagi mahasiswa yang akan mengupas novel-novel perempuan kontemporer, dengan pendekatan teori sastra yang lebih bervariasi. Dengan lebih banyaknya pendekatan yang digunakan, maka akan semakin banyak pula manfaat dan nilai yang bisa dipetik dalam sebuah karya sastra.
Penulis menyarankan agar lebih banyak lagi akademisi sastra yang mengambil peran sebagai kritikus sastra. Ini sangat penting karena seorang kritikus sastra dapat menjembatani komunikasi yang lebih dalam antara karya sastra dengan masyarakat pembacanya. Dengan demikian karya sastra bisa memperoleh publik dan ruang yang lebih terhormat dalam masyarakat, dan bukan menjadi sesuatu yang asing bagi mereka.
DAFTAR PUSTAKA
Dam Truong, Thanh. 1992. Seks, Uang dan Kekuasaan. Jakarta : Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial.
Eliyawati, Ratna. 2008. Seksualitas Remaja: http://yudhim.blogspot.com
Freud, Sigmund. 2003. Teori Seks. Yogyakarta : Jendela.
Hadani, H, Martini, Mimi. 1994. Penelitian Terapan. Jakarta : BPK Gunung Mulia.
Hardjana, Andre. 1991. Kritik Sastra Sebuah Pengantar. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Juliastuti, Nuraini. 2000. Studi Gay/Lesbian: http://www.kunci.or.id
Lestari, Dewi. 2001. Supernova “Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh”. Bandung : Truedee Books.
Maesa Ayu, Djenar. 2005. Nayla. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Magnis-Suseno, Franz. 2001. Pemikiran Karl Marx. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Mohamad, Goenawan. 1980. Seks, Sastra, Kita. Jakarta : Sinar Harapan.
Ni Luh Putu Suciptawati, Made Susilawati. Faktor-Faktor Penyebab Perselingkuhan Serta Tindak Lanjut Mengatasinya: http://ejournal.unud.ac.id
Pradopo, Rachmat Djoko. 1994. Prinsip-Prinsip Kritik Sastra. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Sativa, Oryza. 2008. Lesbian Dalam Sejarah Indonesia: http://sepocikopi.blogspot.com
Semi, A. 1993. Metode Penelitian Sastra. Bandung : Angkasa.
-----------1988. Anatomi Sastra. Padang : Angkasa Raya.
Sudjiman, Panuti. 1992. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta : Pustaka Jaya
Suhendar, M.E, Supinah, Pien. 1993. Pendekatan Teori Sejarah dan Apresiasi Sastra Indonesia. Bandung : Pionir Jaya.
Sumardjo Jakob, K.M Saini. 1988. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta : Gramedia.
Tarigan, H.G. 1984. Prinsip-Prinsip Dasar Sastra. Bandung : Angkasa.
Utami, Ayu. 2002. Saman. Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia bekerjasama dengan Jurnal Kebudayaan Kalam.
---------------- 2002. Larung. Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia bekerjasama dengan Jurnal Kebudayaan Kalam.
Wakhudin. 2008. Sekilas Tentang Sejarah Pelacuran Dunia: http://akhmadsudrajat.wordpress.com
http://digilib.petra.ac.id/ads-cgi/viewer.pl/jiunkpe/s1/ikom/2006
http://id.wikipedia.org/wiki/Homoseksualitas
http://muhsinlabib.wordpress.com/2007/07/19/homoseksualitas-kawin-sejenis-atau-ganti-kelamin
http://www.e-samarinda.com/forum/index
http://agoesramdhanie.wordpress.com/2008/12/19/psikologi-pendidikan-seks-pada-remaja
http://itha.wordpress.com/2007/08/27/menyikapi-masalah-homoseksualitas
http://id.wikipedia.org/wiki/Pelacuran
http://www.geocities.com/dien_99/data1/sebab.html
http://www.sinarharapan.co.id/iptek/kesehatan/2003/0627/kes2.html
(http://id.wikipedia.org/wiki/peristiwa 27- Juli.htm)
Label: Others
Setelah Pertemuan
Dengan mata
aku tlah mencintaimu
dengan hati
aku tlah mencintaimu
tapi bukan oleh mata dan hati
kau mencinta
sebab cintamu
adalah serentetan
angka-angka bisu
(untuk perempuan yang tak bisa kubeli dengan hati)
Label: Puisi
Kata-Kata
Adakah puisi dicipta
untuk menaklukkan hati?
Adakah hati mencintai puisi?
“Mereka bukan pasangan romantis”
Kata hujan pada siang
Karena setiap pujangga menyimpan kesepian
dan baginya zaman berlinang membawa nista
Adakah puisi dicipta untuk hati?
Jangan kawinkan mereka
Sebelum langit diselimuti luka
Hingga hujan berganti airmata
2006
Based on: Kumpulan Puisi "Jangan Malu Pada Sepi"
Label: Puisi
Pelacurku
Pelacurku
Yang mencucup nafas dalam
Selembar sayang
Menikam wajah dengan senyum
Terbang, rindu malamku
Yang merekah oleh dosa
Dosamu yang lugu
Tersumpal helaian kertas berwarna
Merdu...
Nafas pelacurku
Mencambuk dunia
Sampai pagi ini
Kutemukan setetes airmata
Di atas bantal
Dan kau tersenyum di sofa
sambil menamainya nurani
Pelacurku
Penjajah yang ulung
Kukembarai bibirmu
Hingga bersimbah darah
Terbanglah..
Basuhi lidah-lidah pengkhotbah
Yang najis itu
Based on: Kumpulan Puisi "Jangan Malu Pada Sepi"
Label: Puisi

