SINOPSIS FTV SCTV ROCKER LABIL PUJAANKU

By: Dean Joe Kalalo


Sky, cowok cuek dan urakan merupakan vokalis band Black Heart yang sangat fanatik dengan musik rock. Ia sangat alergi dengan musik-musik alay dan norak terutama dangdut. Di kampus Black Heart memiliki musuh kebuyutan, Jonata, sebuah kelompok musik dangdut yang cukup beken. Permusuhan mereka begitu tajam, sehingga sering menimbulkan saling sindir dan menghina satu sama lain antara personel-personelnya. Bagai anjing dan kucing, mereka tak pernah bisa berpapasan kapanpun dan di manapun.
Suatu saat Sky naksir berat dengan Windy, cewek cantik dan manis yang baru pindah ke kampus itu. Cewek itu penggemar berat musik dangdut. Ia selalu medendangkan lagu-lagu dangdut favoritnya kapan saja dan dimana saja. Menyanyi dangdut baginya adalah cara yang paling sreg untuk meluapkan perasaan, sehingga Windy kerap terlihat menumpahkan isi hatinya dengan menyanyi lagu dangdut. Ketika pertama kali ia menonton Joneta manggung di kampus barunya, Windy langsung kesemsem, terutama dengan Farid, vokalisnya.
Karena tergila gila dengan Windy, Sky melakukan segala cara untuk mendapatkannya. Windy yang terobsesi dengan segala sesuatu yang berbau dangdut, menganggap rocker seperti Sky sebagai urutan ke 20 lelaki yang dipertimbangkannya untuk dijadikan pacar. Dia selalu menghindar setiap kali Sky melakukan pendekatan. Sky bukanlah cowok yang pantang menyerah, dengan segala cara ia berusaha merebut hati dan perhatian Windy. Menciptakan lagu, mendatangi rumah Windy dan memberinya bunga, sembari berupaya merebut hati ayahnya yang terkenal garang. Di luar dugaan, ayah Windy yang di masa mudanya merupakan anak band, merasa nyambung ngobrol dengan Sky. Ia curhat ke Sky tentang dua anaknya yang tergila-gila dengan musik dangdut sementera dirinya penggemar musik rock. Ia pun merestui apabila anak gadisnya berpacaran dengan Sky.
Meski tidak suka dengan cowok rocker, namun di sisi lain, Windy tertarik juga dengan lelaki yang pantang menyerah. Karena perjuangan yang begitu gigih, ia akhirnya memutuskan menerima cinta Sky. Apalagi sangat jarang ada cowok yang mampu menjinakkan hati ayahnya. Tapi keputusannya ini bukan tanpa mahar. Sky diwajibkan  merubah penampilannya seperti bintang dangdut idola Windy. Sky kebakaran jenggot. Ia menolak keras, dan memohon kepada Windy bahwa apa saja akan ia lakukan asalkan cewek itu tak merubah penampilannya seperti itu.
Apa kata dunia, jika seorang rock star sangar yang sangat tersohor di kampus berubah wujud layaknya bintang dangdut. Tetapi Windy tetap bersikukuh, ancamannya tak tanggung-tanggung, pemutusan hubungan sebagai sepasang kekasih. Sky tak punya pilihan. Ia pasrah saja ketika Windy memake over penampilannya. Rambut gondrong yang sudah menjadi trademark dirinya, amblas. Tak ada lagi celana kulit atau jeans kumal sobek-sobek serta sepatu kulit boot hitam.
Sejak saat itu perubahan besar terjadi dalam dirinya. Ia mulai kekurangan waktu untuk nongkrong bersama-sama dengan anak-anak Black Heart. Teman-teman bandnya pun mulai merasakan perubahan ini. Saat mereka ada jadwal latihan rutin di studio, Sky tidak menampakkan diri. Ia hanya sibuk menemani Windy dengan mengikuti apa yang diperintahkannya. Rere, sang gitaris terpaksa kerja rangkap mengisi vokal. Lea, basis cewek Black Heart adalah personel yang paling dongkol dengan perubahan Sky akhir-akhir ini. Maklum saja, sudah cukup lama ia memendam rasa terhadap sang vokalis. Tetapi selama ini Sky hanya menganggapnya sebagai teman biasa. Ia sudah curiga, kalau Sky menyukai Windy. Sebagian besar teman-teman bandnya juga tidak setuju Sky memacari cewek norak penggemar dangdut itu. Tetapi Sky selalu bilang kalau ia tidak menaruh hati pada gadis itu sama sekali.
Lea memanas-manasi anggota Black Heart lain agar memberi peringatan keras kepada Sky, dan melarangnya berpacaran dengan gadis itu, karena hal ini dapat merusak reputasi band mereka. Rere termakan dengan provokasi Lea. Ia menelepon Sky, menegurnya dengan keras dan mengingatkan agar ia disiplin mengikuti jadwal latihan. Sky merasa tertampar dengan teguran itu, keesokan harinya ia datang mengikuti jadwal latihan.
Semua personel Black Heart terbelalak ketika Sky datang di studio dengan penampilan yang sama sekali beda. Sky mencoba bersikap biasa saja dan menganggap tidak terjadi apa-apa. Mereka kembali menanyakan kedekatannya dengan Windy. Lagi-lagi Sky menampik dan mengatakan tidak ada sesuatu yang spesial di antara mereka.
Menjalani hubungan “terlarang” dengan Windy, membuat Sky kelimpungan. Ia tak bisa leluasa ketemu Windy di kampus. Seringkali mereka berpapasan dengan anggota Black Heart, sehingga Sky panik dan berusaha mencari cara untuk menghindar.
Sore itu seperti biasa tanpa sepengetahuan teman-teman bandnya, Sky mengantar Windy pulang, sekalian mampir di rumah pacarnya itu. Di rumah, Rangga, adik Windy tampak berkumpul dengan teman-temannya sesama anak dangdut. Ia tampak gelisah, karena salah satu personel grup mereka tiba-tiba jatuh sakit, sementara dua hari lagi mereka harus tampil dalam lomba Mencari Bintang Dangdut Remaja. Setelah mengamati penampilan Sky, tercetus ide di kepala Rangga untuk meminta pacar kakaknya itu mengisi kekosongan personel grupnya yang sedang sakit. Seperti yang dapat diprediksi, Sky menolak setengah mati. Ia mendapat alasan yang pas karena umurnya sudah 21, sementara syarat peserta ajang ini maksimal 17 tahun. Tetapi Rangga mengatakan kalau hal itu bisa disiasati. Bujukan Rangga yang bertubi-tubi ditambah dukungan kuat dari Windy, membuat Sky menyerah. Ia pun langsung mengikuti latihan kilat menjadi personel grup vokal dangdut demi membantu adik pacarnya. Awalnya Sky kelabakan. Ia kesulitan mengikuti gerakan dance yang dikonsepkan mereka. Sky yang selalu tampil cool dan karismatik sebagai vokalis band rock di panggung merasa janggal dan konyol dengan hal ini. Namun dengan latihan berulang-ulang, ia akhirnya bisa menyesuaikan diri.
Hari perlombaan pun tiba. Grupnya Rangga bersiap-siap di belakang panggung. Sementara Windy di depan panggung untuk menyemangati mereka. Pembawa acara pun memperkenalkan ketiga juri Mencari Bintang Dangdut Remaja satu persatu. Ketika memandang para juri yang duduk di tengah, Windy terkejut. Ternyata salah satu juri perlombaan itu adalah Farid, pentolan Joneta yang sangat dikaguminya. Karena sumringah, Windy pun menghampiri Farid dan memperkenalkan diri.
Ia memberi tahu kalau mereka berdua satu kampus, dan ia sangat fans kepada Farid. Cowok itu bilang kalau ia baru tahu ternyata ada cewek secantik Windy di kampusnya. Windy tersipu malu namun hatinya berbunga-bunga. Ia lalu mengatakan bahwa sebentar lagi grup adiknya akan tampil. Farid yang terpukau dengan kecantikan Windy merasa betah berbincang dengannya. Ia pun meminta nomor handphone cewek itu.
Saat grupnya Rangga tampil, Farid terperanjat. Ia sama sekali tak percaya melihat Sky sebagai salah satu anggota mereka. Kesempatan ini pun tak disia-siakannya, ia memotret dan merekam dengan handphone aksi Sky di atas panggung. Selama beberapa saat Sky tak menyadari jika Farid ada di sana. Sesaat sebelum mereka selesai tampil, matanya baru bisa menangkap senyum licik Farid yang mengamatinya sejak tadi. Sky seperti ketiban durian jatuh namun ia berusaha tetap tenang.
Selesai mereka tampil Farid langsung menuju belakang panggung. Ia mencibir Sky habis-habisan. Sky menariknya ke tempat sepi dan mengancam Farid agar tidak mencari masalah dengannya. Sky menjelaskan kalau ia melakukan ini karena terpaksa.
Malam harinya Farid menelepon Windy. Ia mengatakan kalau grup adiknya mendapatkan nilai paling tinggi, namun mereka terancam gugur karena salah satu personelnya ternyata sudah melebihi batas umur. Tetapi Farid berjanji tidak akan membongkar jati diri Sky asalkan Windy menerima ajakan kencannya. Windy yang memang fans dengan Farid menerima tawaran itu. Saat mereka kencan Farid mengungkapkan kalau ia menyukai Windy.
Di kampus Farid membeberkan kepada semua orang bahwa sekarang Sky sudah insyaf dan telah menjadi anak dangdut. Ia menempel foto-foto Sky saat tampil di papan pengumuman kampus. Anak-anak Black Heart yang mengetahui hal ini naik pitam. Mereka mendamprat Sky dengan ganas. Mereka kecewa berat karena merasa harga diri band telah diinjak-injak. Sky dikeluarkan dari Black Heart saat itu juga.
Dipecat dari band yang telah melambungkan namanya membuat Sky frustasi. Ia diterpa perasaan bersalah dan rasa menyesal yang hebat. Di saat-saat seperti itu Windy malah bersikap apatis dan tidak mempedulikannya. Karena tidak suka dengan musik rock, Windy malah mendukung Sky untuk keluar dari Black Heart.
Sky mulai merasa seperti kehilangan jati dirinya selama berpacaran dengan Windy. Mereka berdua layaknya minyak dan air. Amarah Sky semakin memuncak saat ia memergoki Windy sedang makan bersama dengan Farid di kantin kampus. Setelah melampiaskan kemarahannya, ia memutuskan mengakhiri hubungan dengan Windy. Setelah itu kehidupan Sky menjadi semakin kelabu. Ia merasa sendiri karena semua orang seolah pergi dari kehidupannya. Namun ternyata Lea, pemain bass Black Heart masih setia datang menghiburnya.
Selama ini Black Heart berusaha mencari pengganti Sky. Namun tak ada satupun vokalis yang cocok dengan karakter band mereka. Karena bujukan Lea, anak-anak Black Heart akhirnya mau membuka pintu maaf kepada mantan vokalisnya. Sky pun kembali ke Black Heart dan berjanji tidak akan melakukan kesalahan yang sama.
Setelah putus dengan Sky, Windy menghabiskan hari-harinya bersama Farid. Lama-kelamaan keduanya semakin dekat. Tetapi di sisi lain, Windy merindukan masa-masa kebersamaannya dengan Sky. Meski saling bertolak belakang, Sky adalah cowok yang sangat perhatian dan mampu membuatnya nyaman. Ia pun sadar bahwa Farid hanyalah obsesinya sebagai fans kepada idola, dan bukan orang yang dicintainya.
Hari itu Farid berencana untuk menyatakan cintanya kepada Windy. Rangga yang mengetahui rencana itu segera menjumpai Sky. Rangga membujuk Sky untuk kembali kepada Windy. Sky yang awalnya ragu, berhasil diyakinkan setelah mendapat dukungan anak-anak Black Heart. Ia pun bergegas mencari Windy. Di sebuah restoran ia melihat Farid sedang menggenggam mesra tangan Windy. Cowok itu kemudian menyatakan cintanya kepada Windy. Setelah bergumul dengan bertumpuk rasa, Windy mengungkapkan bahwa ia memang penggemar dangdut, tetapi cintanya hanya untuk seorang rocker. Mendengar ucapan Windy, Sky diliputi kelegaan dan kebahagiaan. Ia pun mendekati mereka dan menatap Windy.
“Rocker yang selalu memahami dan membuatku nyaman” ucap Windy seraya menatap Sky yang sudah muncul dihadapannya. Farid mengikuti tatapan Windy. Saat melihat sosok Sky berdiri di sana, ia memukul meja dan sadar bahwa ia telah kalah dengan sang rocker untuk mendapatkan hati Windy. Cewek itu berdiri dan menghampiri Sky. Mereka saling berpelukan erat.
Tanpa disadari semua personel Black Heart dan Joneta telah berkumpul di tempat itu. Tidak ada lagi aroma perselisihan tercium di sana. Mereka akhirnya sadar bahwa permusuhan selamanya tidak akan pernah membawa manfaat apa-apa. Black Heart dan Joneta akhirnya berdamai, dan memutuskan untuk saling menghormati dan menghargai perbedaan masing-masing. Kedua grup musik itu kemudian mengadakan konser bersama-sama dalam satu panggung tanpa ada permusuhan.
















Sabtu, 28 November 2015

Sama deng biasa
Hari sabtu nyanda ada depe libur
Banya sambutan Walikota yang musti
Kase klar
Akhir taong bagini memang depe padat padat
Banya agenda yang tajadwal
Apalagi kurang mo rekeng hari
Walikota periode 2010-2015, GSVL somo purna tugas
Siang menjelang sore kita kaluar rumah
Sebelum ka kantor basinggah dulu di 45
Mo permak kita pe sragam linmas
yang talalu basar depe tangan
jalang di pusat kota dapa tako depe macet
ini oto oto deng motor motor so nya dapa ba napas
Tiap baku lewat deng ini oto oto yang pe padat
Kita bahoba di jendela
Sebagian besar oto depe isi Cuma 1 orang alias sopir
Ternyata kote ini Manado pe macet bukang karna
Jalang so nda mampu
Manado taprop karna tingginya biaya makang puji
Coba kalo ini orang orang di oto so nae mikro ato motor
Nyanda ada istilah mo taprop bagini
Jalang manado sasa’ deng oto oto
Yang nyanda ada depe isi

Kamis, 26 November 2015

Seiring waktu yang baputar
Banya hal le yang baku iko tarubah
Bahkan cinta yang banya orang bilang abadi
Tetap mo pudar takikis deng waktu
Klo mo inga dulu dulu
Waktu torang masih parcaya klo cinta
Mati nda mo dapa ganti
Kurang mo beking tatawa sandiri skarang
Mar jaga beking rasa grap
Klo baku dapa deng orang yang lama
Nyanda baku dapa kong dorang masih
Anggap torang masih sama deng dulu
Padahal so deng taong ada tapisah
So dorang ini yang nyanda jaga blajar dari pengalaman
Karna orang yang salalu blajar pasti  trus berubah
Deng nyanda akan heran deng perubahan

PROBLEMATIKA PERTEATERAN DI SULAWESI UTARA



Oleh: Dean Joe Kalalo

 

Berbicara mengenai problematika perteateran di Sulawesi Utara, mungkin sudah merupakan sesuatu yang basi. Kenapa basi? Karena hal ini sudah seringkali dibahas, didiskusikan, diperdebatkan di setiap forum pertemuan seniman, baik forum resmi, maupun forum santai-santai sambil minum kopi atau Cap Tikus. Bahkan saya, bersama kawan-kawan di Theater Club Manado, setiap kali berkumpul untuk sekadar bersilahturahmi hampir selalu mengungkit-ungkit mengenai hal ini. Segala kekurangan dikaji, berbagai solusi dirumuskan. Namun memang untuk merubah sesuatu yang skalanya besar, tidak hanya membutuhkan dialog dan rencana-rencana, tidak hanya membutuhkan keseriusan dalam berdiskusi, tapi juga keseriusan dalam berbuat. Meskipun basi, saya tetap tergerak untuk mengulasnya dalam tulisan ini, dengan harapan kebasian ini dapat menjadi refleksi bagi kalangan yang lebih luas.
Lalu apa target yang harus dicapai perteateran Sulawesi Utara paling tidak agar menapaki fase aman untuk bisa survive secara berkesinambungan. Saya sendiri berpendapat bahwa, iklim perteateran sudah bisa dikatakan terbentuk apabila setiap seniman atau kelompok teater telah mampu mewujudkan kemandirian. Kemandirian di sini memiliki makna, bahwa selain mampu menghidupi peradaban, teater harus mampu menghidupi diri sendiri. Cara menghidupi peradaban, ya tentu dengan pertunjukan-pertunjukan yang intens dan berproses. Berproses dalam hal ini berarti harus lebih baik dari waktu ke waktu. Untuk bisa menjadi lebih baik dari waktu ke waktu tentu harus ada evaluasi, dialog atau diskusi di setiap pasca pertunjukan. Dialog ini tidak hanya hal-hal seputar proses produksi atau teknis pertunjukan, tetapi juga menyangkut kualitas pementasan secara keseluruhan, baik dalam hal komunikasi pertunjukan dengan penonton, relevansi pentas dengan kondisi aktual, persoalan bentuk dan isi, dan lain sebagainya. Hal ini paling tidak harus dilakukan antar sesama seniman, jika apresiasi kritis dari para kritikus atau pelaku media memang sulit diharapkan. Dan tentu saja, harus ditumbuhkan sikap kedewasaan dalam menerima kritik, selama kritik yang disampaikan menyentuh unsur-unsur substansial dalam pementasan. Ini penting, karena berdasarkan pengalaman, kritik seringkali diterjemahkan sebagai sebuah sikap permusuhan, kecurigaan adanya kecemburuan, atau adanya ketidaksenangan satu sama lain.
Memang kendala yang dihadapi di daerah ini adalah minimnya peteater-peteater yang memiliki referensi atau cakrawala ilmu perteateran yang memadai. Kebanyakan praktisi teater di Sulut adalah praktisi otodidak yang hanya mengandalkan kemampuan intuitif semata, sehingga dalam mengapresiasi sebuah pertunjukan hanya mengandalkan asumsi-asumsi subjektif saja. Dan dialog pasca pentas pun hanya seputar basa-basi yang tidak substansial. Kurangnya kesadaran memperluas cakrawala / wawasan ilmu perteateran meyebabkan banyak pementasan secara konseptual jalan di tempat, minim kebaruan yang inovatif, berputar-putar dengan gaya itu-itu saja. Padahal stok seniman teater yang mumpuni di daerah ini cukup banyak, yang mengindikasikan harapan bahwa persoalan krisis pertunjukan paling tidak bisa teratasi, tinggal bagaimana menumbuhkan kesadaran kolektif dari mereka untuk memperkaya wawasan perteaterannya. Di era di mana informasi dapat menyebar secepat cahaya ke seluruh penjuru bumi seperti saat ini, serta bahan-bahan pustaka bersileweran menganggur di rak perpustakaan atau toko buku, tentu tidak ada alasan lain, selain kemalasan, yang menjadi kendala kurangnya kesadaran untuk memperkaya wawasan ilmu perteateran.
Lalu bagaimana dengan menghidupi diri sendiri?. Teater yang mandiri adalah teater yang bisa berdiri sendiri dalam memproduksi pertunjukan-pertunjukannya. Artinya, campur tangan pihak lain hanya sebatas pembantu atau sponsor, bukan penyelenggara utama. Bertolak dari prinsip ini jelaslah, bahwa di dalam pentas proyek atau pentas festival (lomba) tidak ada kemandirian. Pentas proyek bergantung dari pesanan para pemilik proyek. Pentas lomba bergantung dari penyelenggara festival. Jika tidak ada proyek atau festival, maka pertunjukan pun tidak ada. Setelah festival Teater PATSU (Persatuan Artis Teater Sulawesi Utara) maupun Festival yang diselenggarakan Taman Budaya tutup buku beberapa tahun lalu maka geliat kelompok-kelompok teater yang begitu mewabah pada waktu itu pun ikut kandas. Beruntunglah Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) sampai saat ini masih secara rutin setiap tahun menggelar Festival Teater Remaja (FTR) dan Festival Seni Pemuda GMIM (FSPG) di mana teater adalah salah satu cabang yang dilombakan. Saya tak bisa membayangkan andaikan FTR dan FSPG suatu waktu tidak lagi dilaksanakan, maka para praktisi teater yang tidak memiliki kesadaran kemandirian ini akan menjelma menjadi sekumpulan orang-orang terlantar yang kehilangan panggung.  
Di daerah ini orang yang menggemari serta terlibat dalam aktifitas teater tak terhitung jumlahnya, bahkan sebagian di antaranya telah memilih untuk mengabdikan hidupnya untuk “panggung sandiwara”, dengan tidak menekuni pekerjaan lain di luar teater. Tapi sangat disayangkan, sangat sedikit yang memiliki kesadaran untuk membangun kemandirian dan profesionalitas. Teater dipandang hanya sebatas ruang untuk mengekspresikan diri, ruang untuk menampung minat semata. Mereka merasa sudah puas dengan rutinitas pentas dalam skala yang itu-itu saja. Teater tidak hanya sekedar menjalani proses latihan lalu kemudian pentas. Untuk membangun iklim dibutuhkan visi, dibutuhkan prinsip berkesenian (untuk apa saya berteater, apa yang akan saya perjuangkan). Di samping urusan konsep dan estetika, urusan ideologi merupakan roh sebuah kelompok teater. Roh yang membuatnya senantiasa hidup, senantiasa berproses dan berkembang, tidak seperti mesin yang bergerak dengan pola-pola yang sama dari waktu ke waktu. Kelompok teater yang sejak awal dibentuk tanpa didasari visi dan ideologi, adalah teater yang dilahirkan untuk mati. Kita tidak perlu berharap banyak, karena ia akan gugur pada waktunya tanpa menorehkan sesuatu yang berarti. Seperti kata Proverbs, di mana tidak ada visi, di situ orang-orang binasa.
Tetapi perlu diingat, visi dan ideologi saja tidak cukup, perlu ada usaha kerja keras untuk memperjuangkannya. Perlu ada sasaran-sasaran yang dieksekusi secara bertahap untuk mewujudkannya. Bagi saya tidak ada salahnya jika setiap kelompok teater memakai metode yang dipakai pemerintahan, di mana ada target jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang. Target ini kemudian disusun dalam bentuk rencana kerja tertulis. Misalnya dalam kurun waktu lima tahun sudah berhasil merangkul penonton / penikmat tetap, dalam jumlah  tertentu, yang stabil di setiap pementasan produksi yang dilaksanakan secara rutin, dengan harga tiket yang cukup memuaskan. Atau dalam kurun waktu 20 tahun sudah berhasil mempunyai gedung pertunjukan sendiri yang cukup representatif, sehingga tidak lagi bergantung pada gedung milik pemerintah atau gedung lain yang sudah tidak memadai dan strategis, dipungut uang sewa pula.
Setiap kelompok teater tentunya memiliki target yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi masing-masing. Agar target ini bisa dicapai dengan baik harus ada evaluasi, misalnya setiap tiga bulan sekali, melihat apa saja tantangan  yang dapat menghambat tercapainya tujuan yang sudah ditetapkan, untuk kemudian disolusikan bersama. Teater harus mengalami kemajuan dari waktu ke waktu, tidak boleh jalan di tempat. Baik dari segi pencapaian artistik, perluasan dan peningkatan kuantitas penonton, kemantapan infrastruktur, kemantapan apresiasi, dan lainnya. Seniman teater tidak boleh terjebak dalam zona nyaman antara hidup dan mati. Jika klub sepak bola atau sebuah grup band rock and roll memiliki ribuan penggemar fanatik yang selalu memenuhi stadion atau arena konser, tanpa perlu “dibujuk” atau dipengaruhi sedemian rupa, maka pada suatu waktu kita berharap teater di Sulawesi Utara memiliki ribuan penggemar fanatik yang tanpa merasa rugi membeli tiket untuk menonton pertunjukan teater. Hal ini bukanlah sesuatu yang mustahil. Jika klub sepak bola dan grup musik bisa, kenapa grup teater tidak?. Selama ini harus diakui teater belum bisa mencuri hati publik secara luas, meskipun potensi dan kemungkinan untuk itu bagi saya sangat terbuka lebar.
Di Sulawesi Utara sendiri teater masih dianggap cabang seni kelas ke sekian jika dibandingkan dengan musik atau film yang memiliki penikmat fanatik dari berbagai kalangan. Hampir setiap hari orang berbondong-bondong ke bioskop, dengan enteng mengeluarkan 50.000 rupiah untuk menonton sebuah film. Sedangkan rata-rata harga tiket pentas produksi teater di Sulut sejauh ini berkisar antara 10.000-15.000. Itu pun penonton yang datang hanya sebatas jaringan antar sesama kelompok teater. Bertolak dari kenyataan ini, maka kunci agar sebuah kelompok teater dapat menghidupi diri sendiri adalah dengan menciptakan penonton. Penonton yang dimaksud bukan sekedar penonton biasa yang datang ke gedung pertunjukan karena diajak teman atau dirayu tim pemasaran produksi, tetapi penonton tetap yang datang secara terus-menerus dengan loyal.
Oleh sebab itu teater harus menjadi magnet, harus menjadi produk istimewa yang selalu dinanti-nantikan, seakan-akan menonton teater sudah menjadi kebutuhan, sudah menjadi gaya hidup bagi masyarakat luas. Usaha untuk menciptakan penonton bukanlah sesuatu yang mudah yang bisa diwujudkan dalam waktu singkat. Perlu strategi tersendiri, perlu kerja keras secara terus-menerus, perlu mengusahakan pementasan produksi secara reguler. Misalnya setiap satu bulan atau dua minggu sekali digelar pementasan teater. Produksi reguler ini tidak boleh timbul tenggelam, harus stabil agar kebiasaan menonton teater lambat laun membudaya. Maka dari itu, selain menerapkan asas-asas manajemen, sebuah pentas produksi teater juga harus memadai secara kualitas, aktual secara ide, membumi secara kultural, berbobot secara artistik, mampu mewakili masyarakat, sehingga dapat menjawab kebutuhan mereka, merefleksikan memori aktual mereka, mencerminkan dan menjawab kegelisahan-kegelisahan yang dirasakan oleh mereka.
Memang keuntungan secara finansial tidak akan langsung diperoleh dalam waktu singkat. Upaya merangkul penonton sebanyak-banyaknya dan meningkatkan harga tiket pertunjukan pada taraf yang pantas bukan pekerjaan satu dua tahun saja. Pada awal berdirinya pun Teater Koma, teater yang menjadi besar karena berhasil menciptakan kemandirian melalui pementasan produksi, tidak memperoleh keuntungan sama sekali secara finansial bahkan kerap merugi. Butuh bertahun-tahun bagi Teater Koma untuk berada pada tahap dimana mereka dapat melaksanakan pentas produksi selama dua minggu berturut-turut dengan naskah yang sama, dengan jumlah penonton yang tetap stabil setiap hari dan dengan harga tiket yang jauh mengalahkan harga tiket bioskop Studio 21. Agar dapat mencapai tahap seperti ini dibutuhkan pekerja-pekerja seni yang betul-betul total dan seyogyanya tidak memiliki profesi atau pekerjaan lain di luar seni pertunjukan. Karena membangun iklim bukanlah pekerjaan part time yang bisa dilakukan setengah-setengah. Membangun iklim adalah pengabdian secara menyeluruh. Untuk itu Teater Sulawesi Utara membutuhkan, dalam bahasa Radhar Panca Dahana, pekerja-pekerja yang memiliki “kekhusyukkan kreatif”, dedikasi, loyalitas, atau sikap berkesenian yang menganggap teater sebagai satu disiplin yang ketat dan perlu diperjuangkan (Homo Theatricus, 2001:5).
Seperti sudah disinggung sebelumnya, praktisi teater yang secara total mengabdikan hidup untuk teater dengan tidak menekuni profesi lain di daerah ini sebetulnya cukup banyak. Sungguh sayang jika akhirnya totalitas mereka menjadi mubazir karena tidak ditunjang dengan visi yang tepat. Dan ujung-ujungnya mereka hanya berputar-putar pada lingkaran setan, kemudian menjadi tua tanpa menjadi apa-apa, tanpa menghasilkan apa-apa, tanpa meninggalkan apa-apa. Dengan visi yang tepat dan jelas, maka peteater-peteater seperti ini akan menjadi kekuatan kolektif yang luar biasa untuk membangkitkan perteateran di Sulawesi Utara. Dengan manajemen yang baik, dengan eksistensi yang konsisten, maka publik penikmat teater akan terbentuk, dan teater pun dapat menghidupi diri sendiri, sehingga para seniman tidak perlu mencari pekerjaan lain untuk menopang hidupnya. Apakah ini sebuah utopia?, rasanya tidak. ini adalah sebuah idealisme yang telah terbukti secara empiris.
    

Sabtu, 14 Desember 2013


Setelah 10 taong lewat

Yang kita inga
Torang dua pernah baku dapa
Di muka perpustakaan Unsrat malang-malang
Ngana pernah bilang
mo baku riki pulang
karna sebe da pesan
jang lupa kase makang anjing
ngana pernah cirita ada laki-laki
da dusu-dusu pa ngana
sampe mangamu deng peda di muka rumah

yang kita inga
torang dua pernah nae ojek batiga
so malang pigi pa kita pe rumah
kita pernah pigi pa ngana pe rumah
kong ngana kase makang kolombi
torang dua pernah bacirita
di fakultas sastra sampe pagi
kong ngana tatidor pa kita pe pala-pala

yang kita inga
ngana pernah kase tunjung
ngana pe puisi-puisi
pas torang dua dudu di muka ngana pe rumah
torang dua sempat baku janji
mo bauni Slank di stadion Klabat
mar nda jadi gara-gara
kita nda angka-angka ngana pe telepon

yang kita heran
kita tiba-tiba inga pa ngana
ini malang

Rabu, 11 Desember 2013


banya hal yang seharusnya sederhana

di dunia ini
walau nyanda samua hal itu sederhana
banya yang torang nda perlu beking
mar torang beking
banya yang torang musti beking
torang nda beking
torang slalu tagila-gila deng penyesalan
tagila-gila deng tanda tanya
mar hidop trus baputar
torang nimbole badiang
badiang berarti tumbang
tumbang, sama jo deng nda pernah hidop