ENTAH sejenis perasaan apa yang sering mengusikku tatkala sedang melamun sendiri akhir-akhir ini. Di usiaku yang sebulan lalu baru saja menginjak sepuluh tahun, aku seringkali menyalahkan diri sendiri. Mungkin ini hanya sekedar perasaan saja. Kata ayah, rata-rata anak seusiaku sangat gemar berimajinasi dan berpikir hal-hal di luar kewajaran. Bisa saja ia benar. Tapi aku bukannya sedang menghayali keperkasaan Saint Seiya meluluhlantakkan musuh-musuhnya. Atau berandai-andai layaknya Songoku yang bisa terbang sana sini mencari bola naga. Jawaban itu tetap tak mampu meyakinkan aku sepenuhnya. Perasaan bersalah ini tentu aneh sebab:
Pertama, dari empat kakak adik (aku anak paling bungsu) semuanya rata-rata pernah, bahkan sering melakukan tindakan-tindakan yang merugikan orang tua. Kemarin saja Wesly di tampar ayah gara-gara ketahuan mencuri uang dari kantong seragam kerjanya. Aku patut berbangga karena tidak sekalipun tega melakukan hal-hal seperti itu. Kedua, (masih perbandingan dengan kakak-kakakku), aku satu-satunya yang tega mengembalikan separuh uang jajan karena merasa berlebihan dan tidak mau merepotkan orang tua yang hanya berpredikat sebagai pegawai negeri biasa. Konon, mama terharu setengah mati dengan aksiku ini. Ketiga, dari delapan belas murid laki-laki di kelasku, minus aku tentu, pernah mencicipi terik matahari selama berjam-jam lantaran tidak tahan dengan peraturan sekolah. Saking patuhnya, pak Fredy enggan mengalihkan posisi ketua kelas dua semester berturut-turut dari tanggungjawabku. Aku menerima dengan lapang dada dan tetap rendah hati seperti yang sudah menjadi ciri khasku.
Selain ketiga alasan di atas, masih ada seabrek lagi kebanggaan yang jika kuceritakan semua nanti akan mengkhianati kapasitas cerpen ini. Pastilah ada yang janggal bila seorang anak kecil yang dengar-dengaran seperti aku dikejar-kejar perasaan bersalah. Namun itulah yang terjadi. Belakangan ini, hatiku dibuat gelisah karenanya.
Berawal, ah, aku lupa kapan tepatnya. Kesibukan bermain membuatku tidak ambil pusing masalah waktu. Suatu siang saat pulang sekolah, saat itulah aku diserang segumpal perasaan bersalah yang hebat itu. Aku sendiri merasa sulit untuk menuturkannya dalam bahasa yang gamblang. Yang jelas sejenis perasaan sesal, resah, gelisah mungkin, sesuatu yang bagai menuding diri sendiri tak berguna, menebas kesadaran yang selama ini bertumbuh lebat di kepalaku. Aku tiba-tiba bertanya pada diri sendiri, untuk apa seharian menghabiskan waktu di sekolah?. Ah bercanda kau. Tudingku pada diri sendiri waktu itu. Sayangnya hatiku sepertinya serius. Barangkali sebagian orang akan menganggapku mengada-ada. Dan bila kukeluhkan, mereka tidak mengacuhkannya. Tapi bagiku ini penting. Tiada yang lebih buruk di dunia ini selain melakukan sesuatu tanpa tujuan yang jelas. Dari salah satu film perang yang kutonton, Hitler saja mempunyai dasar pemikiran atas kekejamannya. Sekarang aku baru saja naik kelas lima, sebelum lebih dan lebih lagi, sebelum enam, SMP, SMA, universitas, hingga istilah-istilah lain yang masih terlalu jauh dari pemahamanku, harusnya hal ini diselidiki sejak dini. Ada tiga jawaban dari tiga orang berbeda latar belakang yang pada awalnya sempat mengurangi rasa penasaranku.
Aris yang pertama. Ia teman sekelasku. Katanya ia rajin ke sekolah karena diiming-imingi orang tua dengan bermacam mainan yang berbeda setiap semesternya. Memang pada umumnya begitu. Mainan adalah motivasi utama setiap anak-anak, tak terkecuali aku sih, dalam memenuhi tuntutan orang tua. Kalau untuk itu, bukankah orang tua bisa membelikannya tanpa harus repot-repot anaknya sekolah? Jawaban tadi tidak mengena di hati. Yang kedua kakak tertuaku, tak ada salahnya mengharapkan jawaban bijak dari yang tersulung pikirku. Aku ingin sekolah sampai capek, supaya dapat kerja yang banyak duitnya. Tukasnya lantang. Kalau begitu orang yang sudah kaya tidak perlu repot-repot sekolah dong!. Lalu mengapa si Jenry yang rumahnya bertingkat tiga dan bermobil mewah dengan jumlah yang sama, masih juga kesekolah dengan cerianya?. Kalau kakakku jadi dia, pasti hanya tidur-tiduran di rumah. Barangkali opini ketiga ini ada benarnya juga. Wali kelasku yang memberi tahu. Tuntutlah ilmu setinggi langit, supaya berguna bagi nusa dan bangsa. Kira-kira setengah jam menafsirkan, kemudian aku tidak mempedulikan lagi pernyataan itu. Banyak pahlawan-pahlawan kemerdekaan yang tidak mengenyam bangku sekolah di masa lalu, Tetap saja mereka dikenang karena dianggap berguna bagi negara.
Hari demi hari berlalu tanpa sedikitpun mengurangi rasa penasaranku dengan masalah yang satu ini. Orang-orang pasti terbahak jika kukatakan hampir frustasi lantaran terus-menerus memikirkannya. Sebuah masalah pribadi. Ya, aku menyebutnya sebagai masalah pribadi. Karena tidak semua anak seusiaku mengalaminya. “Bocah ingusan sok tahu. Frustasi ni ye...Biasa jo”. Demikian olokan yang pasti kuterima. Teman-teman lain ada yang menyindir, jangan sok dewasa deh! Ini gara-gara kebanyakan nonton sinetronnya ketimbang serial anak. Begitulah, mereka sekejam itu padaku. Aku hanya menganggapnya sebagai angin lalu. Yang terpenting bagiku saat ini adalah bagaimana menemukan arti sekolah yang sebenar-benarnya. Tekadku sudah benar-benar bulat, selama belum kutemukan arti tersebut, aku akan mogok ke sekolah mulai sekarang. Semua resiko sudah siap kuterima. Amukan papa, yang pasti marah besar, teriakan mama, sampai kakak-kakakku yang paling kurang melototkan mata mereka untuk menakut-nakuti, atau nilai-nilai raporku yang pasti anjlok. Demi sesuatu yang hakiki semuanya harus kutanggung.
Seharusnya mereka tidak asing lagi dengan aksi-aksi di luar kewajaran yang belakangan ini lumayan aktif kulakukan. Tapi aku mampunyai alasan yang kuat melakukannya dan pada akhirnya mama papa mengakui kalau mereka yang salah. Mereka tahu betul aku tak akan sampai tega melawan tanpa alasan yang jelas.
Sebulan yang lalu karena sakit hati tak diizinkan ikut les piano, aku sampai tidak pulang kerumah selama tiga hari!, Iya, tiga hari! semuanya langsung kebakaran jenggot bingung mencariku. Tapi bujukan nenek begitu ampuhnya hingga memaksaku untuk pulang. Nenek memang selalu kompak denganku. Ia tidak memberi tahu papa selama aku mengungsi di rumahnya. “Biar mereka tahu mengekang minat anak adalah sesuatu yang salah” begitu jawabnya saat kutanya kenapa ia mendukungku. Tujuh hari berselang aku melakukan aksi yang sedikit lebih sopan, mengurung diri dua hari penuh di dalam kamar. Meski marah besar, mama sampai menangis membujukku keluar kamar lantaran khawatir aku kelaparan. Entah mengapa mama menganggap aku sebodoh itu. Sebelum menjalankan misi, tak kurang selusin roti kuboyong kekamarku. Di tambah dengan beraneka ragam snack dan minuman ringan tentu saja aku betah di kamar selama dua hari. Semua itu lagi-lagi karena mereka tidak mengizinkan aku bermain sepak bola dengan teman-teman sekolah. Sedangkan mereka tahu sendiri aku begitu tergila-gila dengan olah-raga ini.
Mereka sebetulnya baik padaku. Apalagi mama. Ia Tak pernah luput memperhatikan kebutuhan-kebutuhanku. Namun ya itu! kadang mereka terlanjur mengada-ada mengatur segala keinginanku untuk memajukan potensi diri. Dengan alasan yang itu lah, ini lah, semuanya di luar rasio.
Tapi kali ini tak seorangpun bisa membujukku kesekolah sebelum ada yang betul-betul memberikan jawaban memuaskan mengenai maksud aktifitas itu. Sekarang jam sepuluh. Tak terasa tiga jam sudah hal ini merampas pekerjaan pikiran di otakku. Suara ribut-ribut di ruang keluarga sudah tidak terdengar lagi. Barangkali semuanya sudah tidur. Yang terdengar tinggal sayup-sayup suara Televisi yang menandakan ayah sedang melakukan kebiasaan nontonnya sampai tengah malam. Jendela itu kubiarkan terbuka. Sinar bulan menyusup celah-celah dedaunan kemudian menyambar ruang tidurku dengan cahayanya yang tanggung. Purnama begitu kentara ketika lampu kumatikan. Satu dua bintang mencoba mencuri perhatianku lewat kemilaunya yang lucu. Aku tak peduli sambil merangkul boneka anjing di samping dan kemudian terlelap.
Bisikan-bisikan aneh mulai dapat kucium dari percakapan mama dan papa di luar.
“Dia mungkin sakit”
“Ah, barangkali cuma kelelahan latihan bola kemarin sore”
Kebiasaanku mengunci kamar sebelum tidur, membuat mereka sulit meraba apa yang terjadi.
“Sudah setengah tujuh Stevly, nanti terlambat” mama berteriak.
Aku tak bergeming. Dentuman pintu dan teriakan mama semakin tak terkendali menyayat telinga.“Stevly bangun cepat, kamu sakit ?”
Aku bangkit sayu. Gegas Membuka pintu kemudian berlalu kekamar mandi. Bilasan air sanggup menjernihkan peluh jiwa dan raga. Mama sudah di depan kamar mandi begitu aku keluar.
“Anak mama mau bikin aksi lagi ya” mimik yang kulihat jauh dari kesan marah.
“Tidak kesekolah sayang? lagi marah sama mama?” sikap itu selalu menyentuh hati.
“Tidak, aku memang tak mau kesekolah Ma” jawabku.
“Mengapa tak mau?”
“Aku tak mau lagi kesekolah” kalimat tadi membias ketelinga ayah. Mama menatapku bingung. “Aku tak mau lagi membuang waktu berjam-jam di sekolah mulai sekarang. Sebaiknya Mama daftarkan saja namaku di tempat les piano itu. Aku tak mau mempelajari sesuatu yang sia-sia. Aku ingin les piano saja. Itu memuaskan keinginanku”.
“Kamu bisa les piano sambil terus sekolah” ayah menyambung dari tempat duduknya.
“Mau jadi apa kamu kalau tak mau sekolah, orang yang tidak sekolah hanya akan menjadi sampah masyarakat”
“Sampah masyarakat itu apa, Pa ?”
“Orang-orang yang tak berguna dan cuma membuat bumi ini tambah sesak. Seperti preman-preman yang suka bikin onar itu. Atau pengemis yang cuma tahu meminta-minta tanpa mau bekerja keras. Papa bisa menyekolahkan kalian semua karena berhasil menyelesaikan sekolah dengan baik, sehingga mendapatkan pekerjaan yang lumayan baik pula. Mestinya kamu bersyukur, eh malah sok jago mau berhenti sekolah”.
“Jadi sekolah cuma untuk orang miskin Pa?”
“Semua orang harus sekolah supaya menjadi pintar.”
“Terus kalau sudah pintar?”
“Ya supaya kamu bisa menghasilkan uang yang banyak”
“Jadi guru yang mengajar di sekolah pintar-pintar semua dong”
“Ya iya mereka pintar-pintar semua”
“Mengapa gajinya sedikit? katanya orang pintar bisa menghasilkan banyak uang”
Aku tahu papa tergeragap meski ia mencoba meniadakan kesan itu.
“Sudah jangan banyak tanya, pokoknya kamu mesti terus sekolah” mama menyela.
“Aku tetap tak mau. Mama dan papa mesti memberikan alasan yang pas untukku, kenapa aku harus sekolah. Jika belum, aku benar-benar mau berhenti sekolah. Seperti aku, aku mempunyai alasan yang jelas mau les piano. Musik memberikan kepuasan tersendiri, membuatku senang dan tanpa beban melakukannya”.
Selanjutnya masalah ini secepat pesawat jet menyebar kesemua orang. Nenek, om, tante, sepupu, bahkan guru di sekolahku mendengar berita tentang pembangkangan yang kulakukan. Mama papa sibuk mencari orang yang pas untuk dapat merayuku kembali sekolah. Mereka kelabakan. Seperti itu situasi yang kuraba.
Ini hari yang ketujuh aku tak menginjakkan kaki di tempat yang katanya ruang pembelajaran itu. Di teras depan rumah mama sedang bercakap-cakap dengan seorang lelaki separuh baya. Sepertinya ia diundang khusus untuk menggagalkan konsistensi pemogokan ini. Hm.. setidaknya bisa kudengar dari nada pembicaraan mereka. Siasat-siasat sedang disusun rapi untuk membidikku.
“Stevly, kemari sebentar” mama memanggil.
Aku menghampiri setelah menanggal majalah olah-raga yang sedang asyik kuperhatikan gambarnya.
“Kenapa Ma?” sahutku santai.
“Ini kak Helli. Dia akan menjelaskan padamu pertanyaan konyol yang membuat mama dan papamu sebal”
“Akan kudengarkan kok”
Lelaki itu memasang senyuman kecil. Menebarkan gelagat meyakinkan.
“Katanya tak mau sekolah ya? Anak lincah harus rajin belajar” Kata lelaki itu.
“Kamu senang belajar?”
“Aku senang mempelajari semua yang aku suka”
“Bagus. Setiap manusia harus melakukan segala tugas yang telah diberikan Tuhan kepadanya. Belajar termasuk salah satu tugas yang dimaksud. Hewan dan tumbuhan pasti iri karena kita manusia diberikan akal budi untuk digunakan. Dan belajar adalah kegiatan di mana kita menggunakan akal budi tersebut. Karena sekolah adalah tempat belajar, setiap manusia harus menggunakan tempat itu untuk mengasah kemampuan akal budinya. Tapi semua belum berakhir sampai di situ. Kita juga harus tetap mempelajari pengetahuan yang tidak didapat di sekolah. Ilmu pengetahuan bersifat universal. Dalam kehidupan sosial sehari-hari juga adalah lingkungan belajar kita. Pendidikan berlangsung di mana saja, keluarga, pergaulan, serta lingkungan masyarakat lainnya”
“Terus pengetahuan yang tinggi untuk apa kak?”
“Untuk mengisi kehidupan. Kehidupan yang singkat ini jangan hanya berlalu begitu saja. Dengan pengetahuan, setiap orang akan memberikan sumbangsih bagi peradaban manusia. Jadi selain belajar itu ibadah, juga untuk kehidupan manusia seutuhnya”
“Sepertinya kakak tahu banyak, apa kakak calon guru?”
“Bukan. Kak Helli ini mahasiswa. Mereka yang sering menyuarakan kepentingan orang banyak” Potong mama.
“Seperti berita-berita di televisi ya ma.”
“Makanya kamu mesti terus sekolah supaya nanti bisa menjadi mahasiswa teladan seperti dia”
“Mahasiswa orang-orang yang hebat ya kak?”
“Semua orang terpelajar itu hebat. Karena mahasiswa belajar setiap hari jadi mereka hebat-hebat semua”
Betul juga. Belajar untuk kepentingan manusia seutuhnya. Lelaki ini telah meyakinkan aku dari ketidakmengertian.
“Iya, aku mau terus sekolah nanti jadi mahasiswa seperti kakak”
Memang sekolah itu penting. Ah, bodoh aku bertindak yang tidak-tidak. Untung saja ada kakak itu sementara baru seminggu aku absen di kelas. Dia cerdas. Mahasiswa memang cerdas-cerdas semua. Mulai besok dan seterusnya, tidak ada lagi mogok-mogokan. Aku mau kesekolah dengan semangat baru. Setidaknya aku punya pegangan sekarang.
Sejak saat itu, tidak ada yang paling menyenangkan untukku selain menikmati masa-masa SD yang ceria ini. Mama dan papa juga gembira melihat apiknya perangaiku sehari-hari. Satu kebiasaan yang jelas berubah padaku mulai saat itu, sepulang sekolah yang biasanya naik mikrolet, kini lebih doyan jalan kaki. Tentu bukan karena ingin olah-raga. Apalagi gara-gara kehabisan ongkos untuk mendanai pak supir. Sengaja kebiasaan ini kulakukan karena ingin memperhatikan mahasiswa-mahasiswa di universtas yang tidak jauh dari letak sekolahku. Satu hal yang tidak terjangkau kalau naik angkutan umum. Biasanya setelah melintasi tempat itu, aku sering membayangkan delapan tahun nanti ketika aku seperti mereka. Betapa gagahnya aku saat itu.
Siang itu lamunanku mendadak dihentikan oleh suara ramai-ramai di sekitar tempat kuliahan tadi. Ramai sekali untuk ukuran pendengaran telingaku. Ada bunyi teriakan, ada makian, dan kalau memang pendengaranku masih sehat, rasanya ada juga bunyi pecahan kaca. Sepertinya sedang ada perkelahian dengan skala besar. Mustahil.. gumamku. Di lingkungan universitas begini mana ada orang-orang berkelahi. Semisalkan lorong-lorong, gang-gang atau mungkin di pasar anggapan tadi cukup layak dibenarkan. Beberapa polisi juga terlihat berada di tempat itu. Pasti sedang ada unjuk rasa. Ah, aku lupa nama kerennya... o, iya, demo, iya, pasti mahasiswa-mahasiswa itu sedang demo. Setiap hari aku melihatnya di televisi. Aksi-aksi protes yang dibuat karena merasa tidak puas dengan kebijakan orang-orang penting. Demikian yang kubaca di koran. Jadi penasaran nih, bagaimana sih kalau mahasiswa bikin aksi. Akhirnya aku memutuskan melihat lebih dekat ramai-ramai itu.
Memang banyak orang di sana. Tapi ada yang aneh. Sejauh demo yang kutahu, mereka membawa atribut-atribut seperti seprai yang ada tulisan di dalamnya. Ada juga semacam kertas kartun bertulisan yang di acung-acungkan keatas. Tapi di sana tidak ada. Justru orang-orang itu menggenggam-genggam benda yang berbahaya. Apa tidak khawatir nanti melukai orang lain?. Sementara polisi sibuk melerai-lerai satu dua dari mereka. Mungkinkah ini perkelahian?.
Mendadak kebingungan menyerbu otakku. Siapa yang sedang berkelahi? Mahasiswakah? Yang kutahu tawuran hanya digemari anak-anak SMA. Tiba-tiba ketakutan ikut-ikutan menyerang perasaanku. Semakin menyerang dan menyerang hingga kurasakan benda keras menghantam entah bagian mana dari kepalaku. Di tengah hampir lenyapnya kesadaran, aku tahu pasti kalau itu batu. Tubuhku semakin lemah, kurasakan rasa pusing yang begitu hebat. Aku tak kuat lagi. Rasa takut itu kini berubah menjadi geram. Jahanam kalian. Umpatku. Aku tak mau seperti kalian. Semuanya bohong. Aku tak mau lagi sekolah. Aku tak mau jadi mahasiswa. Aku tak.......
Based on: Kumpulan Cerpen "He..Leh!?"
Stevly Tak Mau Sekolah
Label: Cerpen
Yang Ia Tinggalkan
LELAKI itu bangkit dari tidur. Jari telunjuk kanannya menyentuh daun jendela kayu hingga terbuka. Ia masih duduk memeluk kaki. Menyandarkan pipi kiri di atas lutut. Berita radio menggema dengan suara rendah, sesaat radio ia matikan dan bantal guling yang baru saja dilepas beberapa detik lalu kembali tenggelam di dadanya.
Jam sembilan lebih tiga puluh. Terasa begitu panjang. Tiga hari ia kembali ke rumah ini. Mencoba berpindah dari kungkungan waktu. Sama saja. Semua manusia di dunia ini pernah memaki waktu. Waktu yang jahanam. Kambing hitam yang paling pantas.
Mungkin ada yang salah?. Ah, aku tahu tak ada manusia yang sempurna. Namun prinsip-prinsip itu telah melewati segala yang masuk akal. Aku tak mungkin salah. Mereka yang salah. Mengapa tak ada satupun dari sekian banyak orang itu yang melihat sisi baik ini?. Sekarang kenyataannya aku yang diasingkan. Meski sebuah pembenaran besar tetap ada dan masih bisa diandalkan, lebih baik memang diasingkan. Tapi aku benci kesepian. Aku bukan Kurt Cobain yang menganggap kesepian sebagai pilihan. Ini Absurd. Aku harus berpikir lagi.
*
Ponsel bergetar meloncat-loncat kecil di atas meja. Randy meraih benda mungil itu tanpa membuka mata. Missed call. 06.14 pm. Sebuah nomor asing, selalu menyelinap di handphone tanpa permisi. Randy menoleh ke jendela. Langit mulai memayungi bumi dengan jubah hitamnya. Sepertinya membilas diri adalah pilihan paling baik. Segerombolan debu telah mendirikan pemukiman-pemukiman kecil di permukaan kulitnya. Sebelum pemukiman menjadi planet mini yang menciptakan sejumlah wabah penyakit, kamar mandi memang tujuan paling bijak.
Seperti baru saja keluar dari perangkap macet seharian, sekujur badannya serasa dilumuri salju. Randy menyeduh segelas kopi sambil bersiul-siul irama lagu yang kemarin berkali-kali menelusup telinganya setiap kali naik angkutan kota. Seisi rumah sepi membisu. Ia memajang diri di depan TV meski tahu jam begini adalah ajang pertunjukan tayangan-tayangan rating terbawah.
Kopi habis, TV dimatikan. Randy berbaring di sofa panjang. Memikirkan lagi siapa dirinya sekarang. Aku mencintai ketiga anakku. Ia terdiam. Hanya itu yang ku tahu saat ini.
Dengungan ponsel memberangus lamunannya. Sebait kiriman caci maki dari seorang perempuan yang merasa geram memperoleh suami seperti dia. Genap sudah empat belas pesan bernada serupa memenuhi kotak masuk. Randy tersenyum. Hal sederhana yang bisa dilakukan daripada meluapkan emosi tanpa arti.
Ia kembali menyandarkan kepala. Meraih koran nasional yang terbit beberapa hari lalu. Matanya menjalari setiap tabel-tabel kecil berisi lowongan kerja. Aku tak boleh semakin terpuruk. Setidaknya ada aktifitas yang bisa kuandalkan sekarang ini. Anak-anak. Di mata mereka aku tak boleh terpuruk.
Ponselnya menjerit lagi. Kali ini nada panggilan. Layar LCD menampilkan angka-angka yang mengusik tidurnya sore tadi. Di balik sana menggema suara perempuan bernada berat, saking rendahnya Randy seperti mendengar desahan perempuan yang baru saja selesai orgasme.
“Salah sambung ya, hm.. maaf”
Segumpal udara keluar serempak dari mulutnya. Untuk sekian waktu kepalanya terasa bergetar. Seperti ada kekuatan aneh tersimpan dari suara perempuan itu. Keanehan yang memuaikan gigilan dalam ruang imaji. Sesaat kemudian getar suara itu menghilang dari balik speaker digital. Meninggalkan sebuah nama. Tania. Katanya dia akan menelepon lagi. Randy tersenyum tipis. Suara ABG.
“Halo? Randy kan?”
“Ya. Saya kira yang tadi bercanda. Kamu tipe pemegang janji”
“Di rumah sepi. Kamu kerja?”
“Tahu dari mana?”
“Aku kenal suara pria dewasa”
“Oh ya? Aku baru tahu jika kedewasaan bisa dilacak lewat suara”
“Kenapa tidak? banyak hal bisa kita ketahui hanya dengan mendengar suara seseorang”
Asyik juga ngobrol dengan perempuan remaja. Manja dan lugu. Lumayan menghibur untuk situasi sesuntuk ini. Setengah jam percakapan yang menyenangkan.
Karena pikiran tak putus dikocok problem, Randy baru sadar lambungnya belum disuapi nutrisi sejak siang. Ia menggeledah lemari es. Cuma ada ikan kaleng. Dipanaskannya sebentar. Jam begini belum juga ada yang pulang. Biasanya mama gemar bawa nasi goreng bila pulang kerja. Daripada mati kelaparan, ia terpaksa merelakan lambungnya direcoki menu jauh dari standar gizi sempurna.
Tania menelepon lagi. Katanya di rumah belum ada orang. Basa-basi kembali berlanjut. Sebuah proses keakraban yang memang sering sulit dijelaskan membuat Randy merasa sudah cukup nyaman untuk menceritakan tentang dirinya. Ah, seperti alur film drama saja. Salah sambung. Tukar pikiran. Basa-basi. Akhirnya akrab. Masalah-masalah yang mengurungnya akhir-akhir ini dibeberkan tanpa putus. Kepada siapapun bukan masalah. Yang penting gundah gulana tak memfosil menjadi pagar beton di dalam otaknya. Di balik suara yang lugu ternyata Tania sanggup memberikan nasehat-nasehat yang bisa membuatnya merasa sedikit tenang. Jam sebelas malam. Pembicaraan mengalir. Bahkan mencapai pada titik paling pribadi.
“Kamu punya pacar?” tanya Tania lantang. Randy menggigit bagian bawah bibirnya.
“Aku sudah menikah” jawabnya dengan nada berat.
Keduanya terdiam.
“Mimpi indah ya. Ku hubungi lagi besok pagi” kata-kata terakhir yang menggema di speaker phone. Randy merebahkan badan. Garis-garis wajahnya tak lagi kusam.
Ia berdiri. Melangkah pelan ke pintu depan. Duduk di teras sembari menyalakan sebatang rokok. Memandang langit dan gemintang yang sesekali berenang di bawahnya. Beberapa bintang menukik ke bawah dan merayap lambat ke dalam kelopak mata Randy. Ketika mencapai titik paling dalam berpasang bintang itu bercinta dan menaburkan benih-benihnya. Randy merasakan sesuatu yang tak bisa ditahannya saat ini. Sesuatu yang telah lama tak dilakukannya, menulis cerita.
Kedua jari telunjuknya menari-nari di atas keyboard dengan irama dinamis. Tanpa bermodalkan ide di kepala, tanpa tahu hendak menulis apa. Yang jelas ia ingin menulis. Randy membiarkan kedua ibu jarinya bergerak sebebas mungkin. Tanpa mempedulikan alur, tema, atau segala tetek bengek lain yang menjadi aturan dalam merangkai kisah. Perjalanan intuitif yang tak jelas itu melahirkan sebuah cerita romantis. Sudah lama sekali tema ini terbang jauh dari perbendaharaan ide yang menggugah imajinasinya. Kondisi sosial yang carut-marut kerap meracuni setiap karya-karyanya yang terakhir. Randy tak mengerti kenapa justru malam ini ia berubah menjadi melankolis.
Satu-persatu tokoh dihadirkan. Baru kali ini Randy merasa tidak kesulitan mengembangkan cerita. Perjalanan alur menyusur tenang di setiap baris. Inspirasi-inspirasi baru senantiasa menampakkan diri. Sesekali ia mengambil jeda. Mencicipi kopi dan membakar lagi dadanya dengan nikotin. Lalu memanjakan kembali imajinasi-imajinasi yang terus berseliweran.
Kini ia berhadapan dengan problem klasik seorang penulis. Bagaimana mengunci cerita dengan kesan yang mendalam. Ia terdiam. Layar komputer ditatapnya tanpa maksud apa-apa. Bermacam pilihan berkecamuk.
Kali ini rasa kantuk menyergap kepalanya. Randy menghamburkan diri di atas kasur. Membiarkan jiwa dan pikiran bergelinjah dalam peraduan mimpi. Di ujung imaji ia melihat Eric Martin berjingkrak di atas panggung dengan gaya rock N roll yang memukau. Matanya terbelalak. Seven impossible days, nada dering SMS yang tak pernah diganti. Rupanya Tania. Mengirimkan kata-kata pendek puitis.
Ia tak kecewa. Pikir Randy setelah membaca pesan pendek yang tendensius itu. Cuaca pagi menusuk pori-pori. Ia menyusupkan kembali tubuhnya ke dalam selimut. Ia enggan mengatupkan matanya. Pikirannya kembali bertamsya sesuka hati. Merecoki ketentraman batinnya. Sebagai seorang laki-laki Randy merasa tak bisa mempertanggungjawabkan apa-apa lagi. Harga dirinya serasa dicabik-cabik tanpa ampun. Sebagai suami? Hm, barangkali tak berlebihan jika ada yang menuduhnya seorang pecundang. Dua minggu lalu dengan tidak hormat ia dipensiunkan secara paksa di salah satu perusahan besar yang bergerak di bidang pertambangan. Padahal reputasi dan posisi penting telah digapainya di tempat itu. Semua buyar karena Randy bersikeras memprioritaskan pendiriannya. Prinsip. Tak peduli menghancurkan atau menyukseskan. Yang jelas ia harus dipegang teguh. Perbedaan prinsip dengan sang bos menyeretnya di pintu kehancuran.
Randy pulang ke rumah dengan langkah lunglai. Menyerahkan diri dihujani amarah murka para penghuni neraka kecil. Layaknya seorang pidana mati sedang menuju tempat eksekusi. Rumah mertua menjelma menjadi lokasi penyiksaan yang sudah tak sabar mencincangnya sampai halus. Senyum dan keramahan mereka hanya sudi diberikan kepada menantu bertanggungjawab, yang bisa menghidupi keluarga.
Setiba di rumah Randy hanya bisa pasrah dihajar bertubi-tubi lewat hujatan dan caci maki para hakim jadi-jadian. Dan akhir cerita yang sudah bisa ditebak, Ia melangkah keluar dengan hanya ditemani sebuah koper besar.
Seburuk apapun setiap bencana pasti menyisakan hikmah. Setelah terpental dari neraka kecil itu, Randy kembali berlabuh ke habitatnya. Menanggal satu-persatu kenangan pahit yang memagutnya. Aktivitas yang telah ditinggalkan sekian lama, kembali bisa dilakukan lagi di sini. Ia bisa memanjakan lagi jari-jemari bermain-main mengikuti gejolak imajinasi. Menulis adalah pekerjaan yang sangat ia cintai. Sejak menginjak sekolah dasar ia bahkan sudah mulai menulis cerita-cerita pendek sederhana. Seolah pensil dan kertas adalah sahabat karib yang selalu menemaninya setiap hari. Kegemaran ini terus berlanjut hingga ia beranjak dewasa.
Ketika untuk pertama kali cerpennya diterbitkan sebuah majalah remaja, Randy menancapkan tekad memilih menjadi pengarang profesional. Membuang jauh-jauh keraguan dan rasa tak percaya diri yang mengintai dari belakang. Namun tekad tinggalah tekad. Idealisme tak pernah sejalan dengan tuntutan hidup. Setelah menikah istrinya yang tercinta mewanti-wanti agar ia segera mencari aktifitas yang lebih mendatangkan laba, daripada setiap hari hanya berdiam di depan komputer berjam-jam mengerjakan sesuatu yang antah berantah.
Randy Cuma bisa pasrah. Apalagi setelah novel pertamanya ditampik penerbit, semangat menggebu-gebu itu ciut juga.
Empat tahun berlalu. Kerinduan itu muntah akhirnya. Ia bebas menulis kapanpun ia mau.
Jam sembilan pagi ia sudah kembali berhadapan dengan layar komputer. Segelas teh manis mengepul hangat di sampingnya. Seorang sastrawan pernah berucap, menulis di pagi hari merupakan salah satu kunci produktif, sebab tubuh dan pikiran kita masih terasa segar. Tapi sudah setengah jam ia di situ, tanpa menuliskan apa-apa. Randy berdiri. Menuju ambang jendela kamar. Memperhatikan setiap jenis orang yang lalu-lalang di jalan. Lalu kembali lagi. Kebuntuan yang ia rasakan tadi malam belum juga pergi. Padahal cerita itu tinggal melewati satu tahapan lagi. Entah kuman apa yang merecoki kepalanya hingga Mood yang mampir kemarin tanggal. Cerita ini menarik. Aku harus menutupnya dengan menarik pula. Bisiknya pada diri sendiri.
Randy kembali merenung. Ia teringat pada Tania. Perempuan ‘salah sambung’ yang sudah menginspirasinya untuk membuat cerita ini. Ide awalnya ia dapatkan dari pengalaman yang pernah dialami Tania. Persenggamaan kata-kata yang telah melahirkan inspirasi. Benarkah hanya sekedar inspirasi?. Entahlah, yang jelas Randy tak akan bisa memungkiri bila jantungnya berdegup lebih deras dari biasanya setiap kali mendengar getar suara perempuan itu.
Konyol. Aku bukan pria murahan yang sembarang saja jatuh hati pada wanita tak dikenal. Lagipula aku tak tahu dia seperti apa. Pembicaraan hanya terjadi lewat ketidaksengajaan di telepon. Otaknya secara spontan memberikan pendapat. Tapi rasa tetaplah rasa. Ia tak bisa dimanipulasi atau disembunyikan. Mungkin benar cinta tak selalu menerobos lewat mata. Setiap indera mempunyai hak yang sama untuk menstimulus sebuah rasa.
Randy manggut-manggut sambil senyum-senyum sendiri. Seolah menertawai hatinya yang tengah jatuh lunglai. Ia teringat ternyata sekarang tanggal dua belas. Dua hari lagi hari kasih sayang yang mereka agung-agungkan itu akan tiba. Bukankah romantis bila menghadiahkan sebuah cerita pendek pada seorang perempuan yang memiliki arti lebih?. Apalagi cerita itu berkisah tentang dirinya. Randy mencoba lagi menyugesti diri sendiri agar cerita itu bisa cepat selesai. Namun sesaat kemudian ia tak kuasa dipecundangi rasa kantuk yang hebat.
Kenyenyakannya kembali terusik oleh jeritan Steven Tyler di ponsel. Matanya langsung tertuju pada jam dinding yang tergantung di samping poster Vladimir Nabokov. Sudah jam delapan pagi. Itu berarti ia telah terlelap selama lima belas jam.
“Halo?” suaranya terdengar berat.
“Baru bangun ya?, aku rindu dengar suara kamu. Kemarin aku tak bisa telepon. Adikku minta ditemani seharian jalan-jalan. Kamu sehat kan?”
“Tania?, hm.. iya aku sehat, aku..., juga rindu dengar suaramu”
“Masih terus memikirkan diri sendiri?. Makanya cari kesibukan yang bermanfaat supaya tidak mengkhayal terus”
“Aku mulai menulis lagi”
“Hm.. buatkan aku cerita!”
“Maksudmu?”
“Cerita. Kisah yang mencerminkan tentang kehidupanku. Atau nantilah kalau kau sudah mengenalku lebih jauh”
“Aku sedang melakukannya. Cerita tentang dirimu”
“Serius?. Aku tak sabar melihat isinya. Kapan kau akan memberikannya padaku?”
“Besok” jawab Randy lantang.
“Besok, hm..Valentine?”
“Tidak ada yang salah kan?”
“Aku tunggu”
Kebekuan ini harus bisa kukalahkan. Hari ini cerita itu mesti selesai.
Setelah membilas wajahnya, Randy memutuskan mencari udara segar dengan menyusuri jalanan di sekitar tempat tinggalnya. Belakangan ini cuaca dingin membujuk orang-orang lebih memilih menghabiskan waktu di rumah. Ia menoleh situasi sekitar. Tidak ada perubahan berarti. Hanya memang warung yang selalu dijaga oleh pak tua itu sudah tidak ada lagi. Bangunannya banyak berubah karena direnovasi. Pak tua itu berteman karib dengannya sejak kecil. Selain baik hati, karena sering memberikan permen secara gratis, ia juga tak pernah pelit menaruh bantuan ke tetangga-tetangga sekitar. Katanya ia meninggal beberapa bulan lalu.
“Randy!” seseorang memanggilnya dengan suara lantang. Langkahnya terhenti. Tampak seorang lelaki melambai dari balik pagar. Jufry. Teman karibnya sejak masih kanak-kanak. Pembicaraan bertemakan nostalgia tak terelakkan lagi. Lelaki bertubuh hemat itu memang tak pernah kehabisan bahan obrolan. Lewat lidahnya pembicaraan yang menjemukan sekalipun menjadi menyenangkan.
“Mau minum apa?” Tanya Jufry setelah baru menyadari teman ngobrolnya belum disuguhkan apa-apa.
“Terserah. Yang panas-panas saja. Supaya badan bisa hangat” jawab Randy diiringi gerakan menggigil.
Jufry tersenyum tipis lalu melangkah ke dalam. Tak begitu lama ia kembali.
“Peninggalan hari raya kemarin” celetuknya sembari meletakkan dua botol Kasegaran di atas meja bundar.
Randy tersenyum mungil. Sebetulnya sudah lama ia tak mencicipi minuman keras. Memutuskan menarik diri dan menjadi suami yang baik untuk keluarga. Tapi untuk kawan lama sesekali tak masalah. Pikirnya.
Pembicaraan berlanjut tanpa jeda hingga sore. Meski kedua wajah mereka sudah terlihat memerah, suasana tetap santai diisi lelucon-lelucon konyol keduanya. Menertawai keusilan-keusilan yang mereka perbuat waktu masih sekolah dulu.
Randy menoleh penunjuk waktu di lengan kirinya. Ia teringat dengan janjinya besok. Dengan kepala sedikit pusing ia bergegas pulang. Berjalan cepat menuju dapur dan meneguk segelas penuh air putih. Komputer segera dihidupkannya. Tidak perlu menunggu semenit Randy tersandar tak berdaya di tempat duduk. Kembali tertidur.
Ibunya yang baru saja pulang membangunkannya karena komputer menyala begitu saja tanpa digunakan. Randy sekali lagi membilas wajahnya di wastafel dapur. Ditatapnya cermin itu. Ia meraih handphone di atas bantal. Satu pesan masuk. Besok aku tunggu di halte depan Bank. Jangan lupa bawa ceritanya Ya!, I LU.
Randy tertegun. Menatap kembali tiga huruf terakhir di pesan itu. I L U. Ia tak begitu mengikuti perkembangan terakhir istilah-istilah yang berkembang dalam sms. Namun, untuk memahami tiga abjad tadi rasanya siapapun tidak perlu repot-repot mengecek kamus khusus pesan pendek.
Sejauh itu perasaannya padaku?.
Tepat jam dua belas malam kalimat terakhir cerita pendek itu berhasil ia rampungkan. Randy menyandarkan punggung dan menarik nafas panjang. Pekerjaan yang unik. Mengasyikan sekaligus melelahkan. Senyum kepuasan terbit di wajahnya. Kini ia bisa benar-benar tidur tanpa beban apapun lagi.
Keesokan paginya Randy mengecek kembali karyanya. Melakukan revisi dan mengedit segala kekurangan agar hasilnya benar-benar utuh. Tania mengirim pesan singkat memberi tahu ia akan menunggunya jam sebelas. Randy meracik penampilan semenarik mungkin di depan cermin. Wajahnya berseri-seri, tak sabar menyambut kencan pertama dengan Tania. Bagaimana rupa perempuan itu?. Ia bertanya-tanya sendiri dengan perasaan gugup.
Ketika kaki kanannya melewati ambang pintu, suara mesin mobil terdengar menderum lembut. Seorang wanita muda dan kedua orangtuanya melangkah turun. Randy merapatkan keningnya. Samar terasa denyut jantungnya menggigil. Membelitkan sepersekian menit segaris tanda tanya. Baru saja hendak berbalik badan mereka sudah berada di ambang pintu.
“Kau mau kemana?” respon istrinya ketika mendapatinya sudah berpakaian rapi.
“Aku dan mama papa datang kemari mau minta maaf dan menjemputmu pulang” lanjut sang istri seraya menatap kedua orang tuanya. Mereka hanya diam dengan raut wajah menyesal.
Randy mematung tanpa secuil kalimat. Pikirannya galau. Ia tak mungkin menolak maksud baik ini. Apalagi setelah istrinya menuturkan kalau semalam kedua buah hati mereka merengek hebat meminta ayahnya pulang. Mereka duduk di ruangan itu sambil membicarakan semua permasalahan. Memikirkan jalan keluar yang terbaik untuk keluarganya. Segala sesuatu mulai dibahas dan diselesaikan dengan kepala dingin.
Di dalam mobil pikirannya tak bisa tenang. Membayangkan nasib Tania yang pasti sudah bosan menunggunya sejak tadi. Ia pasti tak akan pernah memaafkanku. Valentine tahun ini hanya akan menjadi Valentine terburuk dalam ingatannya. Dan semua itu gara-gara aku. Desisnya penuh penyesalan. Randy meraih kertas di kantong luar koper hitam. Ditatapnya setiap baris delapan halaman kertas itu. Aku harus tetap memberikan ini padanya. Tidak mesti sekarang. Ini kubuat hanya untuk dia. Semuanya sia-sia bila cerita ini tidak sampai ke tangan Tania.
Setiba di rumah kedua putrinya yang lucu meloncat kegirangan dan menyambut kepulangan sang ayah dengan pelukan erat.
Randy meraih ponselnya di saku. Ia berjalan ke halaman depan rumah.
“Halo. Tania? Randy. Kamu di mana?”
“Halo?” sahutan perempuan bersuara berat.
“Tania. Ini Randy. Kamu di mana sekarang?”
“Ini mamanya Tania, anda siapa?”
“Maaf tante. Saya ada janji ketemu dengan Tania tadi siang. Tapi ada keperluan penting yang membuat saya tak bisa datang. Saya cuma mau berbicara sebentar meminta maaf.”
“Kamu temannya?”
“Iya tante, maaf mengganggu”
“Kalian janjiannya kapan?
“Pagi tadi”
Pembicaraan terhenti lima belas detik.
“Halo?”
“Kamu yakin bikin janji dengan anak saya?”
“Iya tante. Kami memang baru kenal beberapa hari lalu”
“Tania sudah meninggal sebulan lalu karena kecelakaan” tutur perempuan itu terputus-putus. Randy terpaku. Bahkan ketika perempuan itu menangis tersedu-sedu di telepon, ia tetap diam tanpa sepatah kata.
Based on: Kumpulan Cerpen "He..Leh!?"
Label: Cerpen
Menyeberang Kabut
(Yang Sebentar singgah)
I
Sore itu tak kutemukan apa-apa
selain leher matamu yang diam
dan renyai-renyai dendam cakrawala
menyapu racau lidah-lidah amis
Serupa prajurit yang entah maut khianat
Serupa aku dungu di ambang bedil
siap muntah merajam, cinta.
Siapakah rerumput yang tega jangkau hutan dengan runcingnya
dalam alur udara pekat mencekam gemetar nyali?
Pak tua tersenyum
Gigi kuningnya menukas, jangan tunduk!
Diam, lidahmu tak sanggup mengukir cinta, kataku.
Tiba-tiba pohon-pohon mati
Sejumput salju terbang intai kebuntuan
sapa penghabisan
II
Waktu melingkar-lingkar dalam dingin
Tomohon menjamu tunas-tunas renta
yang mengawinkan usia dengan onggokan kulit kacang
Aku mencium wangi yang sama
kembang tak terkejar
dua minggu silam
Woi, kelopaknya tak lagi bisu
sebait ungkap mau mengalir tak ragu
Keringat seho menyekapku di tebing khayal
Naluri mengebal
rupanya lidah juga ikut pegal
Dan gelap mendandani senjakala yang jatuh
tepat di putik sesal yang terbaring di dasar sukmaku
Kau beranjak tanpa kurestui senyum
III
Di atas kanvas kerinduan aku menjelma sisifus
melegitkan lipatan warna dalam kisaran daun-daun kemboja
Hasrat-hasrat laknat setubuhi musim
yang selalu berakhir di ufuk yang sama
Kutemui rambut berganti helai
Kutemui dinding rinduku berganti warna
Kutemui wajahmu
Kutemui kau dalam penungguan
November 2005
Based On : Kumpulan Puisi "Jangan Malu Pada Sepi"
Label: Puisi
Kepada Telingamu Yang Lemah
Dengan kata,
Perempuan tertidur
Dengan kata,
Perempuan bermimpi
Dengan kata,
Perempuan tersenyum
Dengan kata,
Perempuan menangis
Dengan kata,
Cinta terbunuh
2007
Based On : Kumpulan Puisi "Jangan Malu Pada Sepi"
Label: Puisi
Sesal
Masih pagi sekali kau sudah mengajakku berkencan
Bibirku belum mekar
Untuk mengulum sentuhan panjangmu
Lagipula aku mesti kembali
Memungut ciumanku yang tertinggal
Di pelukan matamu
Malam tadi
Juli 2007
Based On: Kumpulan Puisi "Jangan Malu Pada Sepi"
Label: Puisi
Malam Jatuh Di Nafasmu
Aku menjemput malam
saat melintasi getar nafasmu
di sana, di ujung pipimu
sebuah perjalanan lelah melesat
mengekori telapak hitam
yang ditinggalkan dentingan airmata
Cukup jauh, keningku terlipat gemuruh
di antara cengkerama sungai kata-kata
dan tercantumlah prasasti usang
yang mungkin terlanjur
kau titipkan pada ikrar keabadian
Rahasia tak pernah bernama
namun ia bersabda di mana-mana
lindap percikkan bara
dan rintik-rintik pelangi
yang selalu gagal terlukis
sebuah samudera penantian
melingkari pori-pori malam
menunggu perjalanan debu yang tak pernah usai
Aku telah terbiasa menghitung kerikil
di pucuk dendam
yang kau simpan di taman hati
hingga semua yang kau ludahi selalu bernama asa
sudahlah, berhenti menoleh cermin retak
karena masa akan menemui ajal
kuharap saat itu kau masih digendong sepetak salju
pada satu geliat mimpiku
meski tak ada bingkai mutiara yang kau sulam
untuk gerhana rindu di atas lelahku
hari yang dingin, telah kau pilih
sebagai dermaga kesedihan
dan tanggal-tanggal itu lenyap dalam tiupan
dongeng tua
Bila kau ingin menjemput dahagaku
jemputlah ia dengan sisa kemilau terpilih
sebab diam-diam semua jejak telah berkhianat
dalam desiran sajak-sajak amis. Aku ingin terpental menyinggahi gerbong-gerbong tua
yang dijanjikan pembunuh-pembunuh waktu
agar kata-kata tak lagi culas
mengarungi linau senja ketika purnama
tergantung di matamu
22 februari 2007
Based On: Kumpulan Puisi "Jangan Malu Pada Sepi"
Label: Puisi
Asap Rokok
SORE hampir saja terlelap. Keramaian di setiap sisi ruangan perlahan mulai susut. Satu persatu mahasiswa telah beranjak meninggalkan rutinitas wajibnya. Pada jam-jam seperti ini paling yang tertinggal hanya kegaduhan kecil lewat suara kursi berdentaman yang berarti pak Tinus tengah membereskan peralatan kantin. Tempat itu tidak lagi diisi hingar bingar bermacam obrolan layaknya beberapa jam yang lalu. Sunyi. Namun di antara kursi-kursi yang berjejer di sana ternyata terdapat sebuah yang masih berpenghuni.
“Belum pulang Val?” sapaan lelaki tua tak diacuhkannya. Ia tetap memaku dengan sepasang mata dingin entah menatap siapa. Sela lima belas detik satu lagi kepulan asap terbang dari mulutnya. Sudah puluhan batang zat nikotin menerobos ke dalam paru-parunya hari ini.
“Terus memikirkan itu tak ada labanya. cuma bikin pening” pak Tinus mencoba menghibur. Pria itu tetap tak bergeming. Beberapa menit mereka terdiam. Pak tinus tampak tidak tega meninggalkan ia sendirian. Ia menunda kepulangan.
“Konyol. Orang pintar jaman sekarang makin tambah konyol” lidah Valdo mulai berkokok. Pak Tinus mengambil duduk di sebelahnya.
“Apa gunanya sekolah di luar negeri Pak?. Belajar tinggi-tinggi hanya sekedar menumpuk-numpuk gelar di depan dan belakang nama saja. Kenyataannya, cara berpikir masih sekerdil ayam!. Aku tak bisa terima pak. Semuanya tinggal selangkah lagi. Penyandang modal sudah mengangguk iya berkali-kali, teman-teman lain juga telah susah payah menguras tenaga untuk pagelaran ini. Pokoknya tidak boleh gagal cuma karena tidak ada kata setuju dari perawan tua itu” ujarnya berapi-api.
“Ha..haa... Kamu bisa dikeluarkan dari sini kalau sampai ia mendengar sebutan perawan tua tadi”
“Lha, ini kan fakta?. Gelar boleh setinggi langit, tapi kalau belum pernah mencicipi surga dunia sama juga nihil! Barangkali ini pangkal pemicu mengapa ia sukar dapat jodoh. Masak membikin sesuatu untuk kemajuan kita sendiri saja harus dipilah-pilah dulu. Apa kegiatannya, bagaimana pelaksanaannya, dan yang paling menggelikan adalah, siapa sponsornya?. Rokok?. No way katanya. Siapa pun tahu perusahaan rokok paling tidak segan mencurahkan dana besar untuk kegiatan seperti ini”
Pak tinus tersenyum mendengar keluh kesah Valdo yang sedari tadi siang belum pula berubah tema. Masih dengan sakit hati yang sama.
“Bapak pulang saja. Saya masih ingin berlama-lama dulu di sini. Kalau sudah bosan nanti pulang juga”
Pak Tinus bergegas pergi setelah memberi kenang-kenangan setengah bungkus rokok gratis untuk menemaninya. Setengah jam berikut Valdo menyerah juga pada kegelapan dan rombongan nyamuk yang mulai bergerilya. Ia pulang dengan rasa kesal yang tak kunjung padam. Hal yang lumrah. Mimpinya untuk mengadakan pagelaran eksperimental musik di kampus lama tertahan, dan sudah kebelet untuk direalisasikan. Namun usaha yang tinggal sejengkal lagi ini pupus karena pimpinan fakultas tidak selera dengan segala sesuatu yang berbau rokok. Jenis sponsor yang telah siap memuntahkan dananya dengan segera.
Wajah sang dekan terus mengiang-ngiang di benaknya. Setiap orang yang ia temui tiba-tiba saja berubah tampangnya menjadi seperti tampang dekan. Valdo mendadak gelisah. Ini benar-benar aneh. Mobil angkot yang ditumpanginya hanya dihuni beberapa orang. Matanya menerawang keluar jendela. Parahnya, Setiap papan iklan yang ada gambar orangnya pun bernasib sama, menyerupai wajah dekan lagi. Ia mengucek-ngucek matanya pelan, lalu menggerakannya ke segala arah. Hasilnya tetap sama. Segala bentuk rupa manusia yang dijumpai kepalanya benar-benar menyerupai wanita tua yang meneror hati dan pikirannya belakangan ini.
Barangkali cuma sugesti sesaat. Valdo mencoba menenangkan diri. Syukurlah setelahnya ia bisa bernafas lega. Pemandangan abnormal tadi tak dijumpainya di rumah. Semua berwujud normal. Ibu, pembantu, tante Lina, terlihat seperti sediakala. Valdo menyegarkan diri di kamar mandi, apa yang dilewati hari ini sudah cukup membuat gerah.
Sekitar dua jam ia hanya menghibur diri dengan kebisingan lagu-lagu Rock di dalam kamar. Melenyapkan rasa kesal dalam waktu singkat memang sebuah perkara sulit. Besutan melodi-melodi Jimi Hendrix yang di malam-malam kemarin menjadi santapan musik favorit, kali ini berubah wujud menjadi penambah rasa kesal.
Valdo memiliki ibu yang paling peka dengan perangai orang-orang rumah. Dengan keahlian tersebut, ia dengan sigap menyikapi segala penyimpangan tindak-tanduk yang terjadi. Sampai-sampai penghuni rumah itu pernah berpikir hidup mereka tak melenceng beda dengan ujian semester. Kondisi ini acapkali merajai chart untuk hal yang paling membikin Valdo sebal. Berkali-kali sang bunda mengetuk-ngetuk pintu kamarnya, ia merabai kejanggalan pada si buah hati hari ini. Kadar perhatian itu tak pernah berkurang sejak ia kecil.
“Aku sehat walafiat Ma” Valdo mengajukan pembenaran. Ujaran yang ke sebelas sang bunda luluh dan langsung beringsut ke tempat tidur.
*
Prof. Dr. Monowati menyelesaikan sarapan ayam panggangnya dengan lega. Ia menyeka mulut penuh kepuasan. Sementara Junaidy masih keasyikan melahap aneka santapan lezat yang terhidang. Barangkali pria berkumis tebal itu adalah supir paling beruntung di dunia. Satu-satunya pengemudi yang bisa sarapan semeja dengan sang pemberi gaji. Tentu tanpa mengesampingkan Tince dan Jefry, pembantu dan tukang kebun yang dianugerahi kehormatan sama. Mau bagaimana lagi, kalau ketiga orang itu tidak ikut gabung, suasana meja makan bisa sesenyap kuburan. Ibu Wati dengan tulus hati mempersilahkan mereka untuk selalu bersanding dengannya di meja makan setiap hari. Hanya mereka yang bisa menjadi penawar rasa sepinya di rumah. Rumah megah milik sendiri.
Bermacam opini hadir simpang siur menanggapi keputusan ibu Wati mengapa hingga seuzur ini belum berkeluarga. Contohnya ada yang beranggapan ia terlalu sibuk menggerayangi ilmu pengetahuan sampai lupa memadu asmara. Yang lain menganggap ia mempunyai pengalaman traumatik dengan percintaan. Terus membekas dan terlanjur meneror. Kubu yang lain lagi menduga kalau kondisi itu memang adalah pilihan hidupnya. Sejauh ini ibu Wati tetap berpendirian bahwa biarlah misteri ini menjadi rahasia pribadinya.
Masih pagi sekali Junaidy sudah mencuci bersih Toyota kijang keluaran 90-an di garasi. Ia bisa kena damprat kalau kendaraan itu belum mengkilat ketika sarapan selesai. Lumrah saja, majikannya memilki karakter keras dan disiplin dalam segala persoalan. Selain itu, takaran kolesterol yang menyusup dalam darahnya memang tergolong parah. Dengan kompak ia dan pembantu lain menjaga sebisa mungkin supaya sang majikan bisa mengontrol emosi.
Pria itu membukakan pintu belakang mobil.
“ACnya mati?” tanya majikannya.
“Dari kemarin Bu” jawab Junaidy seraya menyalakan sebatang rokok kretek. Ia tahu majikannya tak akan komplain kalau ia merokok saat AC tak berfungsi. Mobil melesat dalam sisiran pagi yang terang. Memasuki jalan raya pusat kota mobil-mobil tampak menyesaki jalan. Lima belas menit terjebak perangkap macet wajah majikannya lambat-lambat berubah warna. Junaidy mulai gelisah. Sejak bensin dijadikan bahan eksklusif oleh pemerintah beberapa hari lalu, jalanan di sekitar pusat kota memang selalu padat sejak pagi. Dihidupkannya lagi sebatang rokok untuk mengusir rasa bosan. Ibu Wati mulai gerah.
“Kita lewat jalan sebelah saja”
“Maaf Bu, jalan sudah terlanjur sesak, saya tak mungkin lagi memutar balik”
Tiga batang sudah asap nikotin terbang dari mulutnya. Mereka masih terperangkap macet. Ruangan dalam mobil mulai pengap. Udara yang minim menyebabkan asap rokok yang dilumat Junaidy memenuhi seisi mobil. Ibu Wati tak tahan sampai akhirnya ia batuk-batuk hebat. Tak perlu menunggu lama Junaidy segara didampratnya dengan umpatan-umpatan tajam. Bak singa terluka, kemarahan itu ditumpahkannya bertubi-tubi. Junaidy yang sebelumnya terdiam menjadi panik ketika penyakit asma majikannya kumat. Ibu Wati terserang sesak nafas hingga tak mampu mengeluarkan sepatah kata lagi. Lengkingan-lengkingan kecil terdengar mendecit di tenggorokannya. Kepanikannya mencapai klimaks karena jalanan semakin sesak. Ia tak bisa melarikan majikannya ke Rumah Sakit karena terkurung gerombolan mobil. Tak ada jalan lain Junaidy menelepon tukang kebun di rumah dengan menggunakan ponsel majikannya. Tak lama kemudian tukang kebun datang menjemput dengan taksi dan mereka segera ke rumah sakit.
Ibu Wati akhirnya bisa bernafas lega setelah dokter memberikan obat. Mereka bisa langsung pulang hari itu juga.
“Saya minta maaf Bu” kata Junaidy menyesal.
“Lupakan saja. Mulai sekarang saya tak mau lagi melihat kamu merokok di dalam mobil mengerti?” ketus ibu Wati tegas. “gara-gara kamu saya tidak masuk kerja hari ini”
Junaidy hanya mengangguk-angguk bodoh. Perasaan bersalah yang dalam membuatnya malu setengah mati. Sorenya pria berhati lembut itu mengantar ibu Wati berbelanja keperluan dapur di pasar. Kali ini ibu Wati ingin memilih sendiri bahan-bahan untuk makan malam nanti. Tugas yang semula diemban secara rutin oleh Tince. Barangkali ia berpikir tidak ada salahnya sekali-sekali terjun langsung ke lapangan.
Sedang asyik melakukan tawar-menawar dengan penjual ikan, seorang lelaki kekar berjenggot, entah sengaja atau tidak, tiba-tiba menyenggol lengan kanan ibu Wati dengan api rokok di tangannya. Ibu Wati menjerit kesakitan. Lengan kanannya yang putih melepuh. Sementara lelaki itu tetap berjalan di tengah keramaian tanpa sedikitpun merasa bersalah. Wanita tua itu menjadi geram. Sarafnya membaja. Niat berbelanja seketika dibatalkan.
Di dalam mobil Junaidy kelabakan mencari kotak P3K. Lama tak dipakai benda itu raib entah kemana. Ia berlari cepat membeli obat pencegah infeksi kulit di toko-toko kecil sekitar pasar. Tapi rupanya obat yang jarang laku itu sulit beredar di area perbelanjaan seperti ini. Junaidy tergesa-gesa kembali ke mobil. Pikirannya tak lagi tersentuh ketika kedua bahunya berkali-kali melabrak orang-orang. Hal utama yang dipikirkannya saat ini adalah bagaimana memulihkan kembali suasana tegang yang kerap ia lewati dengan majikannya belakangan ini. Untuk kedua kalinya hari ini ia kena damprat lantaran terlalu lama kembali. Bersalah atau tidak ia mengerti telah menjadi orang benar di tempat dan waktu yang salah. Hanya itu yang memotivasinya agar tetap sabar.
“Kita ke apotik terdekat saja Bu?” usulnya. Ibu Wati hanya mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandang.
Junaidy membesut mobil ke apotik atau toko obat yang bisa secepat mungkin ditemui. Pada belokan pertama mereka bisa langsung mendapati papan besar yang ada gambar gelas dan ularnya. Ia menepikan mobil dan secepat motor balap masuk ke dalam. Rupanya penjaga apotik termasuk orang yang tipenya lamban mengerjakan sesuatu. Tak dapat mengimbangi kesabaran Junaidy yang sedang terburu-buru. Ia pun menjadi tak bergairah menuturkan rasa terimakasih setelah menebus obat cair dan kapas itu.
Baru saja hendak menghidupkan mesin mobil, seorang polisi datang menghampiri.
“Tahu kesalahan anda kan?” kata polisi setelah mengangkat tangan kanannya di jidat.
Situasi seperti ini membuat rambu dilarang parkir menjadi tidak menarik untuk diperhatikan. Junaidy terlambat menyadarinya. “Maaf pak, sebetulnya tahu, tapi jadi lupa gara-gara buru-buru”
“Surat-surat anda?”
Junaidy menyusupkan telapak tangan pada rak kecil sebelah setir. Matanya membeliak begitu merasai kelima jarinya tak menyentuh apapun. Ia sadar sering lupa pada masalah-masalah sepele akhir-akhir ini.
“SIM dan STNK saya tertinggal di rumah Pak”
“Kalau begitu untuk sementara mobil anda saya tahan”
Ibu Wati yang sedang sibuk mentotol lukanya dengan kapas terperanjat.
“Anda tidak bisa seenaknya saja menahan mobil saya” ujarnya protes.
“Itu sudah merupakan prosedurnya nyonya. Kami hanya menjalankan tugas” balas polisi dengan gelagat hipokrit. Mengharapkan korban tilangnya berinisiatif menawarkan sogokan. Ibu Wati yang sudah terlanjur meninggi darahnya, meninggalkan mobil tanpa banyak omong.
“Kamu bereskan dulu masalah ini. Saya mau naik angkutan umum saja” ketusnya dan bergegas pergi. Junaidy tampak tolol, seperti anak ayam yang ditinggal induknya. Sebetulnya masalah akan segera selesai kalau negosiasi dengan petugas lalulintas berjalan mulus. Namun rasa kesal yang dalam membuat hal itu tak lagi diperhitungkan.
Di dalam angkutan kota ibu Wati merenungi apa yang secara beruntun menimpanya hari ini. Kemudian ia teringat kalau sudah lumayan lama tidak menggunakan sarana transportasi umum. Sekian tahun dirinya dimanjakan tempat duduk empuk serta ruangan mobil yang berAC. Mengingat hal itu ia tersenyum. Saat yang bersamaan seorang lelaki gemuk bertampang teroris naik lalu duduk di kursi paling belakang. Dengan santai lelaki itu menyalakan sebatang rokok, tanpa mengambil pusing penumpang lain telah memenuhi seluruh tempat duduk. Kehadirannya jelas mendatangkan satu lagi rasa sebal bagi ibu Wati. Semakin menggenap ketika kepulan asapnya mulai memancing penyakit asmanya. Kali ini ia telah menyiapkan obat hirup dari dokter yang bisa meredakan sesak nafas dalam sekali hirup. Beruntung.
Rumah yang sehari-harinya dipenuhi ketentraman kini terlihat membeku. Raut sang empunya rumah menyerupai lukisan gunung meletus di depan TV. Perban kecil menempel lengan kanannya. Suasana seisi ruangan yang disesaki perabotan mewah itu memang sangat bergantung pada sikap majikannya. Setiap orang mendadak diam bila sang majikan enggan membuka mulut. Dan tak ada satu orang pun yang berani mengambil resiko untuk melakukan usaha penghiburan. Akibatnya besar kemungkinan fatal.
*
Valdo duduk santai dengan segelas kopi kental di kantin pak Tinus. Jarang-jarang pemuda berambut cepak itu masih pagi sudah terlihat batang hidungnya. Satu persatu berita sepakbola pada halaman belakang koran ia cicipi. Suasana kampus lambat-lambat ramai. Sehabis mencukur tuntas informasi-informasi berbobot di surat kabar, pak Tinus kembali mengajaknya ngobrol, bernostalgia tentang perang zaman dahulu. Topik andalan yang acapkali diperbincangkan si lelaki tua. Muka Valdo berseri-seri. Kemurungan yang dua hari lalu memagutnya sudah enyah. Sedang keasyikan ngobrol, salah seorang pegawai administrasi datang mencari Valdo.
“Kamu di tunggu dekan di ruangannya” kata pegawai itu.
Valdo terlihat linglung menanggapi apa yang baru saja didengarnya. Dicari dekan?. Mungkinkah ia akan menghadiahi skors padaku karena keranjingan menentang kebijakannya?. Untuk mengusir rasa penasaran Valdo bergegas ke ruangan orang penting yang mencarinya. Ia melangkah masuk dengan rasa percaya diri setengah-setengah. Ditariknya nafas dalam demi memperkokoh mental. Mewaspadai kemurkaan yang bisa saja telah siap menerkamnya.
“Silakan duduk” sambut dekan dingin. “Kamu kan yang getol membikin pagelaran musik itu?
“Iya Bu” jawab Valdo tegar.
“Begini, kali ini saya mengizinkan kalian bekerja sama dengan perusahaan rokok untuk mendanai pagelaran itu”
Valdo tampak bingung. Nafasnya mulai labil. “jadi ibu mengizinkan?”
“Sebentar, jangan senang dulu. Ada syarat yang harus dipenuhi. Segera lakukan kesepakatan dengan perusahaan rokok itu, dan sepuluh persen dananya serahkan pada saya”
“Sepuluh persen? Tt..tapi”
“Jangan banyak komentar. Pokoknya itu syarat mutlak yang tak bisa ditawar lagi. Oh, iya kamu tentu ingin tahu akan saya kemanakan uang itu?. Gara-gara perusahaan mereka penyakit asma saya kambuh dan tangan saya terbakar begini. Bilang ini sebagai ganti rugi” lanjut ibu dekan tegas sambil menunjuk lengannya yang terbalut perban.
Entah tak tahu lagi mengatakan apa, Valdo menyetujui saja kesepakatan itu. Di lain sisi ia gembira lantaran mimpinya bisa terlaksana. Di lain sisi ia berpikir ekstra keras menafsir apa yang baru saja dialaminya.
Based On: Kumpulan Cerpen "He..Leh!?"
Label: Cerpen
Sebuah Lukisan Sunyi
PAGI yang jernih. Kabut tipis menggenang di atas bau aroma tanah. Langit cerah meski malu-malu. Bunyi derap langkah kuda bergantian dengan suara langkah kaki orang yang masih terdengar satu-satu. Sebentar lagi jam delapan. Waktu di mana bocah-bocah kecil mulai sibuk bermain di hari minggu, orang-orangtua sedang bersiap-siap merapikan diri ke gereja, sementara yang lain masih memikirkan bagaimana menghabiskan hari libur dengan kesenangan masing-masing.
Aku memiliki skema aktifitas yang berbeda dari biasanya di akhir pekan begini. Kebanyakan orang merasa bisa bernafas selega-leganya jika hari yang memang disediakan untuk beristirahat ini datang. Bagiku tak ada bedanya. Ayah telah menyusun jadwal kerjaku secara sistematis hingga sore. Ia menganggapku seolah pekerja suruhan yang digaji setiap bulan. Mulai dari memberi makan ternak di belakang rumah, hingga mencuci sebuah mobil yang menjadi senjata utama ayah memburu nafkah.
Di sekitar tempat tinggal kami sangat sulit menemukan air besih. Satu-satunya sumber air yang bisa diandalkan adalah sebuah mata air buatan yang terletak di ujung jalan kompleks perumahan ini. Seluruh penduduk berlomba-lomba membangunkan diri sepagi mungkin agar bisa menampung air dengan nyaman. Semakin cepat ia terjaga, maka semakin leluasa ia karena biasanya orang-orang yang menampung masih sedikit.
Suasana pagi sesejuk puncak Mahawu, membujuk kedua mataku supaya tidak lekas-lekas melihat dunia. Ini tentu petaka. Karena aku harus antri kurang lebih satu jam di penampungan itu. Jika bisa memilih, aku lebih suka seminggu penuh ke sekolah saja. Hanya itu satu-satunya cara agar jadwal sepadat ini tak lagi meneror dari belakang. Pada hari-hari biasa kegiatanku cenderung enteng. Rutinitas yang menyebalkan tadi diambil alih kedua Sepupuku.
Sehabis melumat pisang goreng dan segelas kopi di teras rumah, aku bergegas menyiapkan deretan galon tampungan air. Kutenteng dua sekaligus untuk mempercepat kerja. Jalanan masih sunyi. Siulan burung yang kerap menemani pagi sepertinya juga absen hari ini. Hanya satu dua orang saja yang tampak tengah menyapu halaman rumahnya. Di ujung lorong pun ternyata sama, di sana kutemui pemandangan yang tak terpredikisi sebelumnya. Tak ada jejeran tangan-tangan yang berhimpitan menenteng penampung air. Di sana hanya ada seorang gadis dan seorang anak kecil. Perempuan pendiam yang tinggal di sebelah rumah kami.
Gadis itu menyanyi-nyanyi kecil sambil membilas rambutnya yang berkilau panjang. Ia terlihat ceria seperti biasa. Kecantikannya yang alami sempat membuatku gentar meneruskan langkah. Begitu melihat ada yang datang ia berhenti menyanyi dan mempercepat membilas rambut. Mereka berdua bagai sepasang sandal. Terpisah hanya bila salah satu mampir ke kamar kecil. Bony dengan nakal memancar-mancarkan air ke pakaian kakaknya. Meski kadang jengkel dengan ulah sang adik, ia terus bekerja tanpa menghiraukan gangguan itu. Aku senang memanggilnya Sunyi, nama yang cocok untuk gadis pendiam seperti dia. Meski, ia tak nyaman dengan nama itu.
“Kok sepi ya” tukasku membuka percakapan.
“Penduduk lain sedang bekerja bakti di lapangan” Jawabnya tanpa mengangkat kepala.
“Kamu sendiri tidak kesana?”
Sunyi menggeleng dan sembari menenteng ember berisi tumpukan baju melangkah pergi. Seberapa seramkah aku hingga tak ada secuilpun keinginannya untuk sekadar berbincang. Pikirku sedikit kesal. Sejak tiga tahun lalu kami pindah kesini setahuku ia memang sangat pendiam. Beberapa kali telah kucoba mengajaknya ngobrol dengan segala cara yang sekiraku cukup ampuh, tapi gagal. Ia tak tertarik membicarakan sesuatu lebih dari tiga kalimat. Begitulah yang kuperhatikan. Seperti dewi keindahan yang terpasung.
Di sini kuperoleh lumayan banyak teman. Di antara banyak itu, yang paling dekat adalah Kurt, kakak Sunyi. Proses pertemanan kami yang “mesra” bahkan telah melahirkan anggapan di mata orang banyak kalau kami kakak beradik. Kurt gemar menyanjung-nyanjung kedua adiknya, dengan mengumbar-ngumbar kalau mereka adalah orang-orang tangguh dan tak gampang menyerah. Dan aku sedikitpun tak pernah merasa kalau ia sedang membual ketika mengatakan hal itu.
Ketiga mereka memang pekerja keras. Setiap harinya membanting keringat membantu sang ibu yang kini lebih sering sakit-sakitan. Usia senja telah memaksa wanita rendah hati itu lebih banyak mendekam diri di rumah. Berkutat dengan bermacam jenis penyakit yang menggerogoti. Tak ada lagi yang bisa diandalkannya untuk menopang hidup selain sebuah lahan perkebunan di seberang jalan. Satu-satunya peninggalan suami yang sangat berharga. Satu-satunya sandaran hidup yang masih tersisa. Panen gagal tak jarang merampas kebahagiaan keluarga malang itu.
Namun yang membuatku kagum, dalam kondisi apa pun Sunyi tak pernah bermuram durja. Ia selalu terlihat menikmati hidup. Barangkali karena ia seorang seniman. Ya, Sunyi adalah seorang pelukis. Aku berani bertaruh, dialah satu-satunya pelukis di perkampungan ini. Setiap sore, saat matahari menepi ke barat, kudapati dirinya dengan wajah penuh noda tinta berwarna saat mencuci tangan setelah selesai melukis. Aku mengintip hasil guratan tangannya yang berjejer di teras, dan kurasakan ada sesuatu yang istimewa di sana. Di tangannya kanvas seolah menjadi sepetak taman yang dihidupi sekumpulan malaikat. Sayang bakat sebesar itu terbuang percuma hanya karena tidak ada biaya untuk mengembangkannya ke jenjang akademik. Menjual seluruh harta merekapun tak akan sanggup membiayainya menyelesaikan studi di sekolah seni. Kemampuan tanpa kesempatan sama saja ingin terbang tanpa sayap. Berbahagialah mereka yang mempunyai potensi dengan fasilitas ekonomi memadai. Sering kubayangkan alangkah membanjirnya orang-orang besar di dunia ini jika persoalan materi bukan lagi sebuah penghalang. Mungkin itu terjadi ketika zaman kapitalis “meninggal” suatu masa nanti. Semuanya masih mimpi. Entah sampai kapan.
Dengan wajah belepotan cat begitu ia terlihat lucu. Rumah kami hanya dibelah sebuah pagar rendah. Aku bisa leluasa memperhatikan ia bergelut dengan kesibukannya dari bawah pohon mangga rimbun di depan rumah. Lagi-lagi Sunyi merasa rikuh jika tiba-tiba saja menyadari dirinya sedang diperhatikan. Aku merasa jarak antara kami semakin membentang ketika tiga bulan lalu Kurt memutuskan mencari pengalaman dengan mengincar nafkah di luar kota. Tanpa Kurt, Sunyi menjelma laut atlantik dengan dasar tak terjangkau. Sejauh ini, memang hanya Kurtlah yang sanggup membuat Sunyi tersenyum. Kadang kebekuan aku dengannya mencair dengan lelucon-lelucon yang acapkali diguyonkan kakaknya. Seorang pendiam biasanya membutuhkan seseorang yang bisa membuatnya merasa nyaman untuk berinteraksi dengan orang lain. Dan semua itu hanya ada dalam diri sang kakak. Mereka begitu dekat.
Hari memasuki klimaks. Terik mentari di luar bagai ribuan jarum kecil menghujam-hujam pori-pori. Sehabis menyantap menu makan siang, aku ingin tidur sebentar, menikmati senandung angin sepoi di bawah pohon. Menyelesaikan serial cerita silat yang kubaca tadi malam. Novel-novel klasik koleksi ayah semakin tak terdeteksi jumlahnya. Bertumpuk-tumpuk menyesaki lemari tua di ruang tengah yang kian lapuk terhantam usia. Beberapa di antaranya bahkan kini berhamburan di lantai. Dari Ko ping ho sampai Pendekar Rajawali tak ada satu seripun yang luput dikoleksi. Kecanduannya membaca cerita fiksi sebanding dengan ketergantungannya pada tembakau kretek maupun segelas kopi.
Sahutan ibu menunda niatku untuk berleha-leha. “antarkan ini ke rumah sebelah” perintahnya. Senampan kue tart disodorkannya padaku. Kami memiliki kebiasaan membagi-bagi suatu yang kebetulan lebih, ke tetangga-tetangga sekitar. Apapun itu. Tradisi ini telah menjalar turun temurun. “Jangan menyimpan-nyimpan sesuatu yang berhamburan terlalu lama” tutur kakek suatu waktu. Kakek bak Soekarno di keluarga kami. Gemar mengkreasikan petuah-petuah yang memaksa orang-orang terbengong-bengong sampai akhirnya memutuskan untuk patuh. Hingga kini ia tetap menjadi idola anak-anak maupun cucu-cucunya sebagai sosok yang tak henti dielu-elukan. Momen-momen berkumpulnya keluarga tanpa kehadiran kakek seperti menghidupkan kompor yang tak ada sumbunya.
Perempuan tua itu sedang menjahit pakaian di teras rumah. Senyumnya terbit ketika aku menyapa gerbang pagar.
“Makanan kecil, buatan ibu”
“Bilang ke ibu makasih ya” ujarnya ramah. Setelah memindahkan nampan ke tangan wanita itu, aku menoleh separuh mencuri ke arah jendela. Kulihat Sunyi tengah asyik bercengkrama dengan adik kecilnya. Pemandangan itu menerbangkan imajinasiku pada sepasang merpati yang tengah bermain-main dengan riang di tepian sungai. Berkuntum senyuman berdendang mesra di wajah mereka yang polos. Dalam hati kuberharap, dapat memetik senyum polos yang menghangatkan itu. Ia mungkin tak pandai berkata-kata. Tapi tidak dalam senyuman. Dengan senyumannya Sunyi tak memerlukan secuilpun kata untuk memikat setiap hati. Senyum sederhana yang mencerminkan sebuah kedewasaan yang amat kaya. Senyuman yang membuat ia sangat disayangi semua orang. Tapi aku hanya bisa menatap senyuman itu dari sini. Dari dunia yang tak bisa kujelaskan dengan senyuman. Pun dengan kata-kata.
Aku teringat kenangan lampau saat menjelang sore, Kurt selalu mengajakku melemparkan kail di sebuah danau kira-kira tiga kilometer jauhnya dari perumahan ini. Danau dengan sejuta pesona dan kisah, yang selalu membenamkan pengunjungnya ke dalam khayalan luas tanpa jarak. Ya, Danau Tondano. Di tempat itu aku bisa melepaskan apa saja. Beban, hasrat, ataupun gairah yang terpendam dalam jiwa. Sebuah perjalanan singkat mengayuh kenikmatan yang amat romantis. Sepenggal memori yang tak akan pernah terulang sampai kapan pun.
Sebelum senja lebih dulu undur diri, kami buru-buru menampung air untuk dijual kerumah-rumah penduduk sekitar. Sebagian besar orang lebih memilih membuang secuil uang, daripada merelakan keringatnya lelah bercucuran di sore hari. Penghasilannya cukup lumayan, paling tidak bisa menebus dua botol Cap Tikus. Aku dan Kurt menuntaskannya berdua saja.
Ketika menjelang subuh Kurt kembali ke rumah, kesadarannya benar-benar tenggelam diterkam alkohol. Ia sering tanpa sengaja merusak lukisan-lukisan adiknya yang berderet teratur di ruang tengah. Sunyi tentu sedih karena lukisan yang telah rusak sangat sulit ia kerjakan lagi. Dan malam-malam seperti itu adalah malam di mana ia dan kakaknya seperti dua sosok mahluk yang tak saling mengenal. Ketika pagi hari barulah mereka sadar kalau mereka kakak beradik. Dan di saat itulah Kurt baru menyadari kalau dirinya telah melakukan satu lagi sebuah kesalahan yang sama.
Sore itu suasana lebih redup dari kebiasaan. Kedua mataku masih mengidap sisa-sisa keletihan. Kurentangkan sepasang daun jendela agar udara bisa leluasa menghambur masuk. Menelusup setiap kisi-kisi kamarku yang pengap. Jika kebanyakan orang lebih merasa nyaman bila ruang tidur mereka rapi dan bersih, entah mengapa aku lebih suka membiarkan tempat istirahat itu sedikit berantakan. Ini bukan sebuah pembenaran karena mungkin orang mengira aku pemalas. Bagiku ini sebuah pilihan. Kamar yang kocar-kacir menyembulkan pesonanya tersendiri.
Sehabis mandi begini paling nyaman berdiam diri di kamar. Mencicipi simfoni blues dari BB King, salah satu dari puluhan musisi veteran favoritku. Karena gangguan nyamuk semakin ganas, jendela kukatupkan kembali. Tapi pemandangan sekilas di luar sejenak mencuri perhatianku. Di antara rimbunan dedaunan hijau, masih bisa kutangkap jelas gadis itu duduk terkulai di sebelah rumah. Ia menangis. Sebuah lukisan tersandar dalam pelukan Sunyi. Sementara anak-anak kecil tertawa dan mengejek karena wajah dan rambutnya yang berlumuran cat warna. Salah satu dari mereka berkata, “sudah besar kok cengeng”, yang lain memancar-mancarkan air ke wajahnya yang polos. Aku terus memperhatikan dan tertawa geli melihat peristiwa yang jarang terjadi itu. Namun ia terus menangis sehingga membuatku berubah prihatin. Suasana di sekitar rumah itu terlihat senyap, ibunya sedang tidak ada mungkin. Rasa penasaranku untuk menghampiri gadis berambut panjang itu perlahan membumbung. Ia masih saja duduk di sana dengan lukisan yang sama di dadanya. Sunyi terkejut saat melihatku datang, kemudian dengan tergesa-gesa masuk ke dalam rumah. Ia tak kembali selama beberapa menit sementara aku terus berdiri di teras dengan menggendong sejumlah perasaan tak nyaman. Ia belum kembali juga.
Situasi ini membuatku berubah khawatir. Setelah mematung dan menimbang-nimbang selama beberapa menit, kuputuskan memberanikan diri dan melangkah masuk. Tidak ada siapapun di dalam. Hanya beberapa peralatan melukis sederhana, sebuah kursi, dan beberapa buku tergeletak hambar di atas meja. Kulangkahkan kaki ke ruangan lain sembari secara perlahan memanggil-manggil namanya. Namun tidak kurasakan kehadiran satu orang pun.
Setiap kamar terkunci. Hanya satu pada ujung ruangan yang pintunya terbuka setengah. Sentuhan tanganku membuat pintu bercat muram itu terentang dengan sempurna. Kamar yang sepi. Di meja belajar yang tampak reot berjejer rapi deretan novel-novel cinta. Sebuah boneka beruang mungil tersenyum di sampingnya. Pada dinding tripleks tepat di atas tempat tidur, mataku tertumbuk pada sebuah lukisan besar yang terpajang indah. Lukisan yang membuat dadaku berdegup cepat, nafasku bergerak lambat, di situ ada wajahku.
Based On: Kumpulan Cerpen "He..Leh!?"
Label: Cerpen
Catatan Karenina
NAMAKU Karenina. Sebuah nama yang ayah curi dari perempuan yang pernah sangat ia cintai dulu. Ibu baru mengetahui asal-usul ini sekitar dua tahun yang lalu. Sifatku yang cenderung usil dan kekanak-kanakan adalah biang keladi mengapa rahasia itu meleleh.
Suatu pagi seperti biasa, ayah bersiul-siul sendiri di depan rumah sambil bercengkerama dengan ayam jago kesayangannya. Mereka selalu berdiskusi. Bahkan mimik ayah jauh lebih serius ketika berbicara dengan si jago daripada dengan kami keluarganya. Waktu itu aku terbangun pukul setengah delapan. Sudah bisa ditebak, tak mungkin lagi diterima oleh penjaga pintu gerbang sekolah yang cukup ketat peraturannya. Sambil jongkok di bawah pohon jambu aku menggodanya.
“Yah, kok kasih aku nama Karenina sih. Bukannya Angelina, Monica, Natalia, atau apa kek yang gaulan sedikit”
“Nama kamu bagus tahu! beruntung tidak ayah kasih nama Saiful atau Syamsudin”
“Tapi teman-teman lebih suka memanggilku Nina, bukan Karen seperti yang ayah dan ibu panggil”
“Nina juga bagus”
“Bagusnya di mana ?”
“Dulu ayah sering mencium jidatnya dan bilang, aku sayang kamu Nina”
“Siapa Yah, ayah kan tak pernah melakukan itu padaku?!”
Saat itu untuk pertama kalinya aku mendapati ayah tersipu malu. Serupa detektif yang haus informasi aku memaksa ayah menjelaskan siapa Nina yang ia maksud. Akhirnya ayah menutup penuturannya dengan kalimat, “jangan sampai ibu kamu tahu!”
Banyak teman-teman bilang kalau aku sangat cerewet, keranjingan mementalkan kata-kata tanpa mempedulikan batasan-batasan ataupun perasaan orang lain. Karakter buruk itu semakin terbukti ketika aku dengan gamblangnya membeberkan curahan hati ayah pagi itu pada ibu. Syukurlah reaksi ibu jauh dari kesan kecewa, dan di luar dugaan ia malah tersenyum sendiri. Usut punya usut akhirnya aku bisa paham mengapa ibu hanya tersenyum juga. Rupanya Nelly, adik lelakiku satu-satunya, namanya juga ia curi dari mantan kekasihnya dulu. Jadilah kami berdua pelampiasan kasih tak sampai mereka di masa muda.
Enam bulan lalu aku menanggalkan seragam putih abu-abuku untuk selama-lamanya. Meski berat, harus kuterima kenyataan berpisah dengan teman-teman yang begitu aku cintai. Aku memeluk mereka satu-persatu sambil menumpahkan air kesedihan layaknya adegan perpisahan Rangga dan Cinta pada ending romantis kisah “AADC” yang masyhur itu. Banyak yang tak tahu, kalau aku adalah orang yang paling sensitif di dunia ini. Mereka hanya melihat sisi luarku saja yang cenderung asal dan urakan. Mungkin satu hal yang betul-betul kuketahui tentang diriku adalah kenyataan bahwa aku tak pernah bisa membenci orang lain. Kalaupun itu sampai kulakukan, pasti tak akan berlangsung lama. Pernah terpikir kalau aku lebih menghiraukan orang-orang di sekitar, daripada mengurus diri sendiri. Hingga kini belum kumengerti apakah itu sebuah kelebihan atau kekurangan yang melekat pada diriku.
Ibu menyarankan agar aku memperdalam bahasa asing di sebuah universitas di luar kota kami. Walau sebenarnya aku ingin sekolah psikologi. Mempelajari bermacam-macam karakter manusia yang bagiku sangat menantang dan mengasyikan. Sayangnya di kota kami belum ada lembaga pendidikan yang mengajarkan bidang itu. Karena tak ada yang lebih mulia selain mengikuti keinginan orang tua, serta beberapa pertimbangan lain yang menurutku masuk akal, kuputuskan mendaftarkan diri menjadi mahasiswa di Fakultas Bahasa Universitas negeri terfavorit yang ibu maksud.
Mulut yang enggan berhenti meracau tidak selalu mendatangkan malapetaka. Di lain sisi bakat alami yang satu ini ternyata menjadi nilai tambah bagiku. Aku lebih mudah akrab dengan lingkungan baru daripada teman-teman yang lain. Dalam kurun yang tidak begitu lama, hampir semua senior di kampus menjadi sahabat karibku.
Umurku delapan belas tahun. Untuk seorang perempuan, berarti aku sedang berada pada titik di mana kebahagiaan belum menampakkan definisinya secara pasti. Dan cenderung menganggap laki-laki sebagai mahluk yang lebih pantas dipuja ketimbang diwaspadai. Lazimnya seorang mahasiswa baru, serupa mereka yang lain, aku mengagumi beberapa kakak tingkat yang menarik hati. Simpatiku yang pertama tertambat pada seorang “kakak” bernama Willie. Menurutku ia sosok pria dewasa yang mampu membimbingku meninggalkan sifat kekanak-kanakan. Selain itu orangnya baik, sosok yang tepat untuk dimintai nasehat-nasehat. Waktu ospek, ada sebuah tradisi kirim-kiriman surat cinta dari junior kepada senior yang dirasa memikat hati. Tentulah catatan klasik itu aku layangkan untuk kak Willie tersayang.
Dari gelagatnya bisa kutangkap kalau ia juga menyukaiku. Kami sering jalan-jalan bersama, menghabiskan waktu-waktu kosong selesai jam kuliah, memadu kasih layaknya cerita-cerita remaja yang tengah ngetrend di televisi.
Tapi romantisme picisan itu tak berlangsung lama. Ternyata ia tak semerdu yang didengungkan, tak semanis yang diceritakan, rasa simpatiku mendadak memudar setelah peristiwa siang itu.
Kantin tak lagi bising oleh bibir-bibir yang gemar bergosip. Karena hari Jumat, suasana kampus menjelma sepi secara prematur. Di atas meja kecil yang membelah jarak kami, terhidang dua kaleng minuman ringan. Willie tampak menikmati batang demi batang rokok yang setahuku, adalah merek yang biasa dikonsumsi para pekerja bangunan atau orang-orang tua. Kami hanya membicarakan hal-hal sepele yang tak penting. Tentang tayangan TV favorit, warna pakaian dalam kesukaan, sampai binatang peliharaan di rumah masing-masing.
Sehabis menyeruput bagian terakhir minuman itu, sesuatu yang tak kuduga terjadi. Willie melayangkan bibirnya tepat ke permukaan daun bibirku. Yang membuatku kaget, kejadian itu berlangsung begitu cepat. Jelas peristiwa ini membuatku Shock. Aku tak kuasa berbuat apapun. Dan secara alamiah meladeni saja serangan berkecepatan tinggi tadi. Toh aku juga menyukai dia. Pikirku kemudian. Sebetulnya aku tak asing lagi berciuman dengan laki-laki. Ritual percintaan ini telah beberapa kali ku praktekkan dengan mantan-mantan pacarku semasa SMA dulu. Hanya kali ini memang beda. Dari segi cara, maupun pendekatan awalnya. Tak ada acara rayu-rayuan yang telah berlaku secara konvensional di antara semua laki-laki pencinta di dunia ini.
Malamnya aku tak bisa tidur. Coba-coba menganalisa maksud Willie yang sebenarnya dari insiden tadi. Apakah ia betul-betul melakukannya dengan landasan kasih sayang, atau barangkali sekadar sebuah permainan, mungkin juga adalah tindakan pelecehan. Sel-sel pekerja di dalam otakku tak henti mengadakan penelitian. Hingga mentari meninggi, kedua indera penglihatku tak jua terkatup. Sementara jadwal kuliah pagi siap menusuk dari belakang.
Tak ada cara lain, aku harus membicarakan masalah ini secara serius dengannya. Jalan keluar satu-satunya yaitu mengkonfirmasi secara langsung kepada si pelaku. Dengan sekujur tubuh yang letih aku memaksakan diri untuk tetap kuliah hari ini. Bukan gara-gara dorongan menuntut ilmu setinggi langit, tapi karena rasa penasaran yang terus membuntuti.
Di dalam angkutan umum aku tak kuasa menahan kantuk. Kebetulan jarak rumahku menuju kampus setara dengan pergerakkan jam selama empat puluh lima menit. Durasi yang lumayan untuk diisi dengan tidur.
Di dalam kelas virus keletihan tadi terus menggerogoti dengan kejamnya. Sudah bisa kuperkirakan sebelumnya. Maka kuputuskan duduk di pojok paling kiri kursi baris belakang. Kuminta Yudiet segera membangunkanku begitu jam belajar usai.
Dan rasa letih itu akhirnya berpindah menjadi rasa geram. Aku mencarinya di tempat biasa ia dan teman-teman sekonconya nongkrong sambil memperbincangkan obrolan laki-laki. Tempat itu tak begitu jauh dari kantin utama kami. Menurutku ia telah melihatku ketika dengan sengaja aku melewati area nongkrong mereka. Sebagai perempuan, menunjukkan gengsi kadang terasa penting bagiku. Biasanya laki-laki lebih menghargai perempuan yang menjaga gengsi. Sebab itu aku tak ingin menyapanya terlebih dahulu. Di luar predikisi, ia juga melakukan hal yang sama. Willie yang kubanggakan beberapa waktu lalu seperti ditelan bumi. Ia menghindar sesudah merenggut rasa sayangku. Minggat sehabis mencicipi manis bibirku. Kini kesan yang bisa ku ingat darinya hanyalah potongan-potongan pahit yang menghasut rasa dendamku.
Ah, sudahlah. Barangkali ini peringatan keras bahwa beberapa dari sekian banyak orang memang menyebalkan. Percuma memikirkan masalah tak berguna itu berlarut-larut. Aku mencoba menyabarkan diri setelah menangis lima jam penuh malam itu. Syukurlah, seiring tenggelamnya waktu, datangnya peristiwa-peristiwa yang menggembirakan, barangsur-angsur rasa sayangku untuk Kak Willie mencair. Selanjutnya kami tetap menjaga hubungan dalam garis persahabatan yang harmonis. Segala sesuatu kembali bergerak apa adanya.
Mungkin aku termasuk satu dari segelintir perempuan muda yang beruntung. Dari kacamata umum, tidak semua gadis bisa merasakan keluwesan bergaul layaknya yang aku dapat. Ayahku seorang pendeta. Profesi itu tak serta merta menjadikannya sebagai orangtua yang berpikiran kolot. Kami seperti sahabat. Tak ada batas-batas yang kerap membuat seorang anak merasa asing dengan orangtuanya. Aku dengan lugas bisa membagi segala persoalan yang menggumuli hati tanpa khawatir mereka marah atau tersinggung. Bahkan sampai masalah percintaanku mereka tak sungkan membagi saran dan pendapat. Meski dalam hal-hal tertentu aku tetap mengambil jarak. Biasanya hal-hal tertentu itu menyangkut kebahagiaan mereka. Aku tak sanggup membayangkan melihat wajah ayah ibu tak lagi dihiasi senyum kehangatan yang telah kunikmati selama bertahun-tahun. Kebahagiaan mereka adalah kebahagiaanku juga.
Aku bukan termasuk perempuan yang gemar memendam-mendam perasaan. Itu adalah karakter umum yang mendominasi kepribadian perempuan umumnya. Sebagian besar perempuan lebih memilih tersiksa oleh perasaannya daripada harus berterus terang dan menerima segala resiko yang siap menantang.
Menyerah setelah gagal tak ada dalam kamusku. Untuk kedua kalinya aku jatuh cinta lagi. Hingga saat ini aku tak pernah bisa menjelaskan jika ada yang menanyakan mengapa aku menyukai seseorang. Yang pasti, aku menyukainya karena dia adalah dia. Hanya itu. Persoalan ini mengemuka setelah aku menolak, ketika seorang pria yang bertetangga denganku menyatakan cintanya suatu waktu. Awalnya muncul perasaan risih. Tapi kuputuskan memberanikan diri dan dengan lantang mengatakan kalau hatiku telah tersangkut untuk orang lain. Setelah penampikkan itu, jelas sekali perubahan sikap yang sangat signifikan. Ia tampak membenciku setengah mati. Mengapa sebuah penolakan mesti dianggap sedemikian seriusnya ?. Cinta tak bisa, dan tak akan mungkin bisa dipaksakan. Sebuah paksaan hanya akan menghasilkan kisah romantis yang menjijikkan. Seseorang dengan kedewasaan di atas rata-rata mampu mengerti kenyataan ini.
Suatu saat aku menemukan momen yang pas untuk bersikap jujur dan mengubur dalam-dalam perasaan kikuk. Saat di mana menyatakan cinta bukan lagi pokok yang tabu untuk diutarakan. Dan menurutku ia cukup dewasa menghadapi kondisi seperti itu. Usianya terpaut lumayan jauh denganku. Maklum, ia adalah dosen di kampusku.
Pria itu tetap tenang sesaat setelah kututurkan yang sebenarnya. Ia tidak mengiyakan ataupun menolak. Bahwa ia sudah mempunyai tambatan hati, aku tak ambil peduli. Prinsip kalau cinta harus diperjuangkan menjadi peganganku. Sementara itu ia tetap memberikan harapan. Lewat sikapnya yang mesra dan perhatian yang menunjukkan bahwa, aku juga menyayangimu.
Perlakuan-perlakuan menghanyutkan yang kuterima semakin memperkeruh getaran-getaran rasa di dalam dada. Malam minggu itu pertama kali kami kencan. Aku yang mengajak. Walaupun aku mendapat giliran kedua, karena sebelumnya ia harus main kucing-kucingan dulu dengan pacarnya, membujuk dengan rangkaian kata-kata meyakinkan.
Setiap pasangan yang tengah memadu kasih rasanya mesti lebih kreatif lagi menemukan ritual yang lebih variatif menghabiskan malam panjang. Nonton bioskop, makan malam, merupakan tradisi yang perlu direvolusi. Kegiatan-kegiatan tadi mulai terasa usang dan membosankan. Bagaimana misalnya, jika kita bermalam minggu di puncak gunung?, atau bermesraan di tepi laut sambil memancing ikan?. Dalam alam pikirku semua itu terbayang amat menyenangkan. Namun, lelaki dan perempuan modern cenderung menganggap kegiatan ini lebih menyiksa daripada kerja rodi.
Memang tak ada gagang pancing dalam genggaman kami. Angin laut berhembus dengan gemuruh kesejukkan malam. Bintang-bintang menyulap tempat itu semegah pantai Aleksandria. Satu jam lebih duduk di atas batu besar tak membuat pantatku pegal. Belaian jemarinya yang menyapu rambutku mampu membunuh rasa pegal sedahsyat apapun. Sebagai seorang perempuan, kali itu aku betul-betul merasakan nikmatnya terbenam dalam buaian pesona cinta. Sesuatu yang selama ini masih sebatas bayang-bayang kabur di atas alam khayalku. Keindahan yang hanya sekadar pengisi lamunan setelah selesai menonton film-film drama romantisnya Hollywood. Sebab sejauh ini, menjalin hubungan dengan laki-laki tak lebih dari penggalan-penggalan roman picisan tanpa klimaks cerita. Selesai sebelum bertanding. Berakhir tanpa bumbu-bumbu penyedap.
Ciuman penutupan yang dilayangkannya adalah penghabisan yang membuat seisi bumi seperti mati.
Setiba di rumah kembali sepasang indera penglihatku terjerumus oleh suasana hati. Mereka enggan buru-buru istirahat. Merayakan euforia kebahagiaan hingga akhirnya lelah setelah mentari kembali terjaga. Aku kasmaran. Demikian kalimat singkat yang bisa mendeskripsikan gejolak aneh yang tengah menghantamku saat ini. Namun sesaat segera kuarahkan pikiran untuk tidak tenggelam terlalu jauh. Pengalaman pahit yang mendera sebelumnya bukan pelajaran yang pantas diabaikan. Bukankah ia telah mempunyai pacar ?. Sejauh ini tak ada gejala yang menunjukkan ia akan menegaskan sebuah pilihan. Ia seperti menikmati posisi di antara dua perempuan yang menyayanginya.
Ini kondisi yang tidak baik. Pikirku siang itu di dalam sebuah angkutan kota. Cepat atau lambat hubungan jenis begini harus segera diakhiri. Jenis hubungan yang hanya menguntungkan satu pihak saja. Sialnya, pihak yang diuntungkan itu bukanlah aku. Ya, pria itu yang mereguk kenikmatan dari situasi ini. Barangkali saja ia sedang tersenyum sekarang seraya membangga-banggakan diri di hadapan semua orang telah menundukkan dua wanita sekaligus. Lalu mereka terbahak bersama-sama membayangkan betapa tololnya dua wanita itu.
Mendadak kebahagiaan tadi menjelma menjadi rasa bimbang. Kembali lagi aku diperhadapkan pada sebuah dinding kokoh tanpa jalan keluar. Masalah-masalah yang setelah dikunyah dengan akal sehat, harusnya tak perlu terjadi. Jika sudah berbicara cinta, metode berpikir mengandalkan logika acapkali terpinggirkan. Cinta bahkan mampu membujuk kita terjun ke dalam lubang yang nyata-nyata telah membentang jelas di depan mata kita.
Aku melamun sendiri di teras samping rumah dengan seribu tanya tanpa jawab. Sesekali mempidana diri sendiri dengan jutaan tuduhan yang menggema di lorong hati. Aku memang tak berguna. Dan seperti kata banyak orang, terlalu kekanak-kanakan untuk melakukan sesuatu yang sifatnya dewasa. Sepertinya butuh banyak waktu lagi untukku agar bisa menyikapi segala sesuatu dengan lebih matang. Akhirnya aku mengerti bahwa semuanya memang tak sesederhana yang dibayangkan.
Benakku terus melayang. Mengais-ngais kehampaan dalam ruang yang kaku, membuat pikiranku tanpa sengaja meloncat pada seseorang. Seorang lelaki yang kukenali di sebuah pameran seni instalasi yang digelar seorang seniman lokal tiga minggu silam. Ketika itu aku sedang mengamati setiap karya yang dipamerkan dengan penuh kebingungan. Aku memang salah satu dari sebagaian besar masyarakat kota ini yang memiliki insting buruk dalam menilai karya seni. Kalaupun kunjungan ini bukan agenda wajib mata kuliah seni dan kebudayaan yang kukontrak, mustahil aku berada di sana waktu itu.
Di tengah kebingungan yang tak kunjung mencair seorang lelaki membantuku menjelaskan bagaimana seni instalasi ini. Syukurlah, aku lupa membawa alat tulis, sehingga aksi meminjam pulpen menjadi tonggak terjadinya perbincangan itu. Perbincangan yang selanjutnya terus berlangsung lewat telepon, karena sebelum meninggalkan tempat ini, turut pula kutinggalkan nomor ponselku padanya.
Beberapa kali ia mengajakku menemaninya melihat-lihat novel terbaru di toko buku. Meski pendiam, ia cukup menyenangkan sebagai lelaki. Walau kadang apa yang dibicarakannya sama sekali tak kumengerti. Barangkali karena timpangnya wawasan seni yang kupunya dibanding dirinya.
Tapi saat bersamanya, aku merasakan kenyamanan yang tak biasa. Entahlah, mungkin karena kepribadiannya yang cukup unik jika dibanding lelaki lain. Ia juga tak pernah jenuh menampung keluh kesah yang menguap dari lidahku. Kehangatan itu kerap memaksaku tersenyum-senyum sendiri di dalam kamar. Sebelumnya aku sempat khawatir, jangan-jangan ia sebal dengan perempuan banyak tingkah sepertiku. Namun kekhawatiran tadi ternyata tidak terbukti. Harus kuakui, aku sempat jatuh hati padanya. Ah, apakah ini salah?. Sudah terlalu seringkah aku jatuh hati?. Terlalu mudahkah hatiku dirampas oleh orang lain?. Mungkin memang demikian. Karena itu aku tak terlalu menanggapi serius kata hatiku kali ini. Apalagi saat itu statusku masih sebagai kekasih simpanan si dosen.
Aku pernah mendengar kalimat guyonan yang pernah dilontarkan salah seorang teman. Katanya sesuatu yang diperoleh secara instan, akan terlepas secara instan juga. Apakah ini petanda baik?. Kegagalan-kegagalanku sebelumnya mungkin karena sifatnya yang terlalu instan.
Rasanya cukup. Aku membutuhkan cukup waktu untuk mengintrospeksi diri. Mereshufle cara-caraku dalam menyikapi hidup. Keinginan menggebu-gebu menikmati masa muda dengan bunga-bunga cinta sementara waktu dipendam dulu.
Benarkah komitmen itu bisa terus kupertahankan?. Tampaknya jawaban pertanyaan ini menjadi tak pasti pagi itu.
“Kau tak perlu marah mendengar penuturanku ini” Ucapnya dengan nada datar.
Aku tak mungkin marah. Sampai kapanpun aku tak akan bisa marah pada orang lain. Hatiku terlampau lembut untuk manaruh amarah.
“Barangkali bukan hal penting bagimu. Tapi bagaimanapun harus kukatakan, karena hal ini penting bagiku. Hm.. mungkin tak ada lagi kesempatan lain selain sekarang” Lanjutnya.
Kedua matanya yang tajam seolah selaras dengan pernyataan yang meluncur dari mulutnya. Sungguh di luar daya kiraku ia akan menyatakan cintanya saat itu. Raut yang aku lihat jauh dari kesan main-main. Nada suara itu menandakan ketulusan yang alami. Dan semuanya itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku hilang energi mengeluarkan rangkaian huruf. Harusnya aku bahagia. Karena cinta yang selama ini mengusik alam pikirku telah datang dengan sendirinya. Aku tak perlu repot-repot lagi mencari cinta yang kuimpikan itu. Namun komitmen tetaplah komitmen. Jika aku melanggarnya, maka satu lagi tabiat buruk yang akan menempel, gadis yang plin-plan.
Seperti mendorong sebuah truk seorang diri, dengan berat hati aku mengatakan belum ingin menjalin hubungan, dan ingin menjalani segala sesuatunya sendiri dulu. Meski kukatakan dengan jujur kalau aku menyukainya juga. Setelah masalah demi masalah yang tak henti memagutku, kesadaran yang muncul bahwa aku memang belum siap untuk mencintai dan dicintai.
Ia tersenyum. Senyum sederhana yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku tak menyangka ia hanya tersenyum. Tak ada nada sesal atau kecewa yang menguap di wajah itu.
“Terserah kamu saja” responnya singkat lalu kami berpisah.
Ia tampak lega. Setelah menumpahkan isi hatinya ia seperti baru saja menanggalkan sebuah gunung di atas punggungnya. Aku hanya memandanginya dari belakang seakan memandangi ribuan daun kemboja bertebaran di segala penjuru. Kecamuk batin kembali mengaduk-aduk isi otakku. Benarkah keputusan yang kuambil ini?. Yakinkah bahwa ini yang terbaik untukku?
Penyesalan dan keragu-raguan tengah bertarung sengit di dalam batin. Aku terkulai di atas tempat tidur meratapi gelombang tsunami yang tak kunjung surut. Ibu berkali-kali mengetuk pintu menyelidiki apa yang terjadi. Kembali hal itu ia lakukan setelah sepuluh menit berselang. Saat-saat seperti inilah aku merasakan betul betapa bernilainya kehadiran orangtua. Semuanya luluh. Aku membuang jauh kegagahan yang selalu kupasang di hadapan ayah dan ibu. Karenina yang tak pernah menangis di depan mereka terbang jauh ke ujung bumi. Dalam lingkaran lengannya ibu menumpahkan sejuta kehangatan, menyuntikku dengan tetesan-tetesan semangat menatap hari depan.
“Cinta seperti musim. Dan manusia harus pandai mengawinkan rasa yang tepat di musim yang tepat” ucap ibuku dengan kepuitisan yang tak pernah kuduga sebelumnya. Aku tak pernah tahu ibuku mengoleksi kata-kata seperti itu.
“Setiap orang punya kesempatan mendapatkan kebahagiannya. Jangan pernah menyesal sepanjang hidup hanya karena mengabaikan satu dari sedikit kesempatan itu. Tapi ingat, di setiap musim cinta selalu punya warnanya sendiri” lanjut ibu hangat.
Setelah itu aku bisa tidur nyenyak. Seolah merasakan kembali nikmatnya tidur yang akhir-akhir ini lenyap. Dengan sejumput asa untuk menyambut hari esok dengan secuil senyum.
Memang benar. Pagi begitu menyenangkan. Cicitan nuri terdengar semerdu simfoni Mozart. Angin pagi yang menggelayut menerpa sejuk di setiap sisi kamarku yang berantakan. Dedaunan menggigil tertimpa cakrawala yang tengah siap-siap menumpahkan dendamnya. Aku tak gentar sedikitpun. Keinginanku untuk mencicipi udara luar hari ini berbanding lurus dengan ketidaksabaranku untuk cepat-cepat menemuinya. Lebih baik kalau aku ke rumahnya saja. Hari sabtu pagi biasanya ia hanya menghabiskan waktu dengan membaca atau nonton serial anak di rumah. Pernah kupergoki aktifitas ini tatkala mengembalikan buku filsafatnya yang kupinjam dua minggu lalu.
Seorang wanita separuh uzur membuka pintu. Aku memaku sejenak. Setahuku ia hanya tinggal berdua bersama kakak perempuannya. Ibunya telah lama meninggal hingga tak mungkin ada wanita lain di rumah ini.
“Mereka berdua sudah kembali ke tempat tinggal ayahnya kemarin. Pesawatnya berangkat tengah malam” ucap wanita yang rupanya penghuni baru rumah itu.
“Tidak ada apa-apa. Cuma ingin berkunjung” balasku singkat seraya melangkahi pagar besi tua yang mengurung halaman rumah. Hujan yang perlahan kian menderas tak menghasut kedua kakiku untuk mempercepat langkah. Linangan air mata tak lagi terasa getirnya karena bercampur aduk dengan gemuruh air hujan. Setelah sekian lama malam itu akhirnya aku menulis catatan harian lagi. Kata-kata mengalir baris demi baris memenuhi deretan halaman yang lama tak terisi. Tak seorangpun bisa mengetahui isi catatan ini. Hanya aku yang berhak. Catatan dengan judul yang kutulis besar-besar, “LOVE IS SUCKS”.
Label: Cerpen
"Tolak" (Naskah Drama Bahasa Manado dimainkan oleh 4 orang)
Cat: mementaskan naskah drama ini harus seizin penulis.
Sebuah panggung. Meja, kursi, peralatan kantor, beserta tumpukan kertas. Ungke memasuki panggung dengan memegang sebuah amplop. Ia mondar-mandir di sekitar ruangan. Memandang amplop di tangannya dengan gelagat tak biasa, antara bimbang, gelisah, bingung. Tiba-tiba warna mukanya berubah. Ia menggeram naik pitam. Wajahnya dipenuhi amarah. Ia menggebrak meja lalu menuding-nuding amplop di tangannya.
UNGKE
(geram)
Cukurungan.. jadi dang, tiap hari kita lalah-lalah, korbankan jiwa deng tenaga, cuma for ini kertas-kertas soe ini? Stiap hari kita pe suar tacurah-curah cuma demi mo dapa ini lembaran-lembaran omongkosong ini? (menggeleng-geleng tak percaya lalu menunjuk-nunjuk amplop) bangsat!, ngana memang bangsat, ngana brengsek, ngana iblis! Kita nda rela ngana perbudak. Kita tolak pa ngana!!
Pegawai I dan pegawai II memasuki panggung.
Pegawai II
(panik)
Ungke... kiapa kasiang ngana? Masih pagi so beking kerusuhan.
Pegawai I
(ikut-ikutan panik namun tak bisa berkata-kata, lalu mendesis dengan lagak konyol di sebelah perempuan)
Eh, kage karna blum smokol sto.
Pegawai II
Ato.. jangan-jangan kesurupan sto.
Ungke
Apa ngoni bilang ? kesurupan? Ngoni tu kesurupan!! Kita ini manusia paling sehat. Justru karena kita masih sehat, kita memberontak!!. ngoni itu nintau (menunjuk-nunjuk ke arah pegawai I dan II) ngoni selama ini so diperbudak oleh benda sialan ini. (menuding amplop)
Pegawai I
Ungke.. sabar Ungke, nanti bos mo veto pa ngana.
Ungke semakin naik pitam. Ia melompat di atas meja, membuat kegaduhan.
Ungke
(merobek amplop, dan melemparkan sebagian uang di dalamnya)
he, napa ni doi, makang ngoni ni doi. Ha..ha..ha.. (pegawai I dan II berebutan menangkap uang yang berhamburan di udara) Ngoni dengar bae-bae ne, mulai hari ini kita nyanda perlu mo dapa gaji. Mulai hari ini kita menolak menjadi budak! Ada dengar ngoni monyet-monyet?! (berkeliaran di sekitar ruangan sambil membuat gaduh) mulai hari ini.. (berteriak keras berkali-kali) kita menolak menjadi budak!!!, ngoni masih suka doi?
Pegawai I dan II
(Menjawab serentak namun malu-malu)
Suka!!
Ungke
Oke. Mar ngoni musti bataria kras-kras. Hidup doi, hidup doi, setuju?
Pegawai I dan II
Setuju!!
Ungke
(menghamburkan di udara sisa uang di tangannya)
Napa, kunyah bae-bae ni doi!..Ha..ha...ha...
Pegawai I dan II
(saling berebutan lembaran uang yang berhamburan di udara)
hidup doi, hidup doi!!!
Direktur mendadak memasuki panggung.
Direktur
Ungke... (berteriak panjang) ada apa ini! (berjalan sambil memegang pinggang) Halo.....? adakah seseorang yang bisa menjelaskan kericuhan apa yang sedang terjadi? (Pegawai I dan II tersipu, antara malu dan panik) Ungke, boleh nda mo turun dari atas meja?!
Ungke
Boleh bos, Mar kita nimau!!
Direktur
Kiapa kasiang, tolong jelaskan Ungke!!
Ungke
Depe jawaban panjang deng rumit bos. Nyanda perlu kita jelaskan. Mo jelaskan percuma le, bos nyanda akan mengarti....
Direktur
(membuang amarahnya dan mulai membujuk)
Kiapa nyanda? Torang bole mo bicarakan di ruangan laeng kong...
Ungke
(memotong cepat)
Nyanda bos. Jang coba-coba babuju. Hari ini kita menolak gaji, menolak iko bos pe mau, bos pe prenta. Pokoknya menolak apa saja yang seharusnya terjadi. Kita nyanda suka keadaan ini. Kita binci!
Direktur
(mendekat sambil memasang wajah bijaksana)
Ungke,.. ngana suka mo cuti?, ngana boleh ambe cuti besar. Cuti jo barang satu bulan. Ngana so bakarja di sini dua belas tahun.
Ungke
(kembali naik pitam dan menghempaskan ke lantai tumpukan kertas di atas meja)
Apa?.. cuti? Bos bilang tadi cuti? Cuti setelah dua belas tahun bekerja? Ha..ha..ha.. cuti besar kong maso kantor ulang, kong bakarja ulang dua belas tahun lagi? Ha..haa..ha.. ambe jo ngana pe cuti bos!! (meloncat dari atas meja dan mengamuk) bangsat ngoni samua!, bangsat! So dua belas tahun kita bangong tiap pagi kong brangkat deng tergesa-gesa ke kantor ini. So dua belas tahun kita melakukan pekerjaan yang itu-itu delapan jam sehari! So dua belas tahun, dan akan berpuluh-puluh tahun lagi! Memang kita dapa bayar mahal untuk itu. Mar ini semua Cuma omongkosong!, ini bukang ngoni pe salah, ini semua Cuma omongkosong! Ngoni mangarti nyanda monyet-monyet!?. Cuma omongkosong!!
Pegawai I dan II
(mendesis)
Ungke so butul-butul jadi gila!!
Ungke
Sekarang kita so putuskan. Kita musti kaluar dari samua omongkosong ini. Kita musti secepatnya menyelamatkan diri dari kekonyolan ini! (perlahan mulai meninggalkan panggung). Selamat tinggal semua, selamat tinggal dunia omongkosong!
Pegawai I, II, dan Direktur
(berusaha membujuk)
Ungke,..
Direktur
Capat dusu pa dia. Ado kasiang torang nimbole kehilangan dia. Dia pegawai terbaik di kantor ini!! (menyusul pegawai I dan II mengejar Ungke)
Panggung masih berantakan. Kertas-kertas berhamburan tak beratur. Direktur memasuki panggung.
Direktur
Nda abis pikir kita. Butul-butul nya abis pikir. Manusia jaman skarang so mulai jadi lebe gila. So dapa karja bae-bae deng gaji basar mar masih blum puas. Huh,.. susah jo. Mar so bagitu no, mo beking apa le..
Pegawai I dan II
(memasuki panggung lalu mengucap serentak)
Selamat pagi Bos!!
Direktur
Eh, pagi. Bagimana kemarin dapa dusu jo pa Ungke?
Pegawai II
Adoh, so nyanda bos..
Pegawai I
Iyo. Torang so berusaha. Mar nintau da lari kamana sto dia.
Direktur
(menggeleng-gelengkan kepala dan menghembuskan bafas panjang)
Ungke..Ungke.. kiapa ngana jadi bagini kasiang. Eh, skarang ngoni manimpang dulu ini ruangan. So kurang sama deng kapal pica de pe model. Aktifitas kantor so musti bajalang normal ulang. Lupakan jo tu kejadian kemarin.
Pegawai I dan II memungut tumpukan kertas yang berserakan di lantai. Direktur mondar-mandir, masih tak habis pikir dengan peristiwa yang telah terjadi. Ungke tiba-tiba memasuki panggung dengan wajah ceria.
Ungke
(berteriak keras)
Pagi! he-he.. apa kabar samua di hari yang cerah ini. Oh, lagi sibuk beres-beres ini. (menghampiri direktur lalu menjabat tangannya) pagi bos,. Bos dapa lia gaga komang pagi ini no.
Direktur, pegawai I dan II terpaku sambil menatap Ungke dengan heran.
Direktur
(menepuk-nepuk pipi Ungke)
Ungke.. masih ngana ini!?, Wei, Ungke masih ngana jo ini?!!
Ungke
Tuangala, masa komang bos so lupa, ini kita Ungke, laki-laki gaga yang so dua belas tahun jadi bos pe pegawai kesayangan. He..he..he..
Direktur
Ungke,.. bilang kalamaring ngana so mo brenti karja?
Ungke
Kemarin? tunggu ee, kemarin kang? (menggaruk-garuk kepala) Oh.. kemarin itu.. hah.. sudahlah.. kemarin is kemarin, skarang kita mo bakarja ulang dengan semangat. Lupakan jo tu peristiwa yang so lalu. Skarang torang sama-sama tatap masa depan!
Direktur
Ungke, kiapa ngana so jadi manusia plin-plan bagini dang?
Ungke
Ha?.. plin-plan? Ha...ha..ha... namanya juga orang Indonesia. Bos rupa pura-pura nintau jo. Torang musti pertahankan identitas manusia Indonesia, plin-plan dan tak berpendirian, Iyo to Bos?!.
Pegawai I,II dan Direktur saling bersitatap bodoh. Ruangan hening seketika.
Direktur
(menghentikan keheningan)
Oke!. Nda usah talalu banya bapikir-pikir. Sekarang torang musti bersyukur karena Ungke, pegawai terbaik kantor ini so kembali ke pangkuan pertiwi.. ha... ha..ha.. (pegawai I dan II ikut-ikutan tertawa) skarang,.. torang musti rayakan kembalinya Ungke seperti yang dulu. Khusus hari ini kantor kita kase libur, torang beking pesta makang-makang, samua kita yang traktir. Setuju?...
Ungke, Pegawai I dan II
(berujar serentak)
Setuju......
Direktur
Hidup Ungke!!
Ungke, Pegawai I dan II
(berujar serentak)
Hidup!!!!!
Semuanya meninggalkan panggung dengan semangat.
Label: Drama

