Ketika mendengar rencana kedatangannya ke Indonesia menuai kecaman, Maria Ozawa naik pitam.
“Bangsat, biadab, ini penghinaan besar” bibir seksinya tarik ulur meluap amarah.
“Ini pencemaran nama baik, penghinaan harga diri, pelanggaran hak asasi artis, dan yang terutama, penghinaan terhadap bangsa Jepang” bentak Maria Ozawa.
“Sabar Non, tenang, jangan terlalu ditanggapi serius, wajarlah kalau pro dan kontra itu ada, Non kan artis besar?” asisten pribadinya berusaha mendinginkan.
“Justru di situlah letak kepopuleran Non, mana mau orang-orang kampungan itu mengecam kalau Non hanyalah artis picisan” lanjut asistennya. Mendengar perkataan lelaki setengah maskulin yang telah bertahun-tahun mendampinginya Maria Ozawa sedikit bisa meredam emosi. Ia kembali menempelkan pantatnya di permukaan sofa empuk lalu menyalakan sebatang rokok. Tampak dua belah paha putihnya yang semulus sutra menganga begitu saja. Di saat santai seperti ini ia memang gemar mengenakan pakaian terbuka. Ia tak perlu khawatir diperkosa karena pemandangan indah ini sedikitpun tak akan membangkitkan libido asistennya yang lebih doyan kaum Adam.
“Apa saja jadwalku hari ini?” tanya Maria. Asistennya mengecek laptop di hadapannya.
“Eh, kebetulan agenda hari ini kosong Non”
“Bagus, kita ke Indonesia sekarang”
“Lho, kan jadwal syuting filmnya bulan depan Non?”
“Diam! Cepat pesan tiket pesawatnya sekarang” Sahut Maria dengan nada geram.
Beberapa jam kemudian pesawat nyaris menghampiri bandara Soekarno-Hatta. Rupanya berita kedatangannya telah secepat angin menyebar ke seluruh pelosok tanah pertiwi. Segerombolan wartawan TV, Radio, Koran, Infotaiment sudah siap siaga menyambutnya di gerbang bandara. Tak luput pula pada bagian lain beberapa kelompok masyarakat yang menentang kedatangannya tengah bersiaga menanti sang ratu porno asia memijakkan kaki.
Kerlap-kerlip lampu kamera dan teriakan histeris menggema begitu Maria Ozawa melewati pintu depan bandara. Maria hanya melemparkan senyum tipis sembari terus berjalan dengan santai, lalu memasuki sebuah Taxi. Asisten pribadinya sibuk menghadang para wartawan yang mulai meninju Maria Ozawa dengan deretan pertanyaan.
“Kita kemana ya?” tanya supir taxi dengan lagak bodoh. Mungkin ia tak menyangka ada gadis secantik itu di dalam taxinya. Ia juga tak tahu kalau perempuan mulus itu adalah bom sex Asia yang begitu masyhur namanya.
“Jalan dulu pak” perintah Maria.
“Iya, jalan dulu pak asal jangan lewat bundaran HI ya?” sambung asistennya.
“Kenapa tidak boleh?” tanya Maria.
“Eh, begini Non, saya baru menerima informasi kalau di sana telah dipenuhi beratus-ratus orang yang menentang kunjungan Non Maria ke sini”
“Oh, begitu, kita ke sana skarang pak” perintah Maria Ozawa pada supir.
“Tapi Non...”
“Diam!, jangan banyak membantah, nanti saya pecat kamu!”
Dengan santai taxi meluncur ke arah bundaran HI. Ketika mendekati tempat itu hiruk pikuk manusia mulai menyesaki jalan. Bermacam-macam poster dan spanduk yang mencaci maki Maria Ozawa tampak tersebar di seluruh penjuru. Rupanya massa telah mengetahui kalau Maria Ozawa berada di dalam taxi itu. Orasi-orasi yang mencaci maki dirinya semakin meriuh.
“Pergi kau, jangan kotori negeri kami. Pergi kau perusak moral” teriak pemimpin demo lewat mikrofon.
“Sebaiknya kita berbalik saja Non” sahut asistennya yang mulai ketakutan dengan rombongan massa yang tampak beringas itu.
“Jalan terus pak” Maria Ozawa tetap santai dengan sebatang rokok nangkring di bibirnya. Taxi tetap menembus kerumunan orang lalu kemudian berhenti di sekitar bundaran HI. Teriakan-teriakan dan makian semakin gencar terdengar. Maria Ozawa membuka pintu taxi dan melangkah turun. Keributan massa semakin tak terkendali. Namun Maria tak ambil peduli. Ia melangkah dengan santai ke arah pemimpin demo yang berdiri gagah di atas mobil open kap. Begitu melihat Maria tetap tenang dan tak ambil pusing dengan teriakan-teriakan mereka, suasana mendadak hening. Dengan mata tajamnya Maria menatap satu persatu wajah mereka. Entah terhipnotis dengan kecantikannya mereka pun tetap diam dan terpaku seperti mayat hidup.
“Apa yang kalian lakukan kawan-kawan?. Cepat usir dia dari sini” tukas pemimpin demo.
“Diam kau!!!” potong Maria Ozawa cepat. Ia lalu naik ke atas mobil open kap dan merampas megafon di tangan sang pemimpin demo. Lagi-lagi lelaki itu dibuat tak berdaya bahkan tampak linglung ketika Maria menohoknya dengan tatapan tajam.
“Selamat sore semuanya” sapa Maria Ozawa.
“Sore..”. jawab rombongan massa dengan setengah malu-malu.
“Kedatangan saya hari ini di negara anda bukan untuk kepentingan syuting film. Saya sudah mendengar selintingan kabar yang mengatakan bahwa saya tidak diterima negeri ini. Apakah hal itu benar!!!!?” ujar Maria Ozawa bak Soekarno era pasca kemerdekaan. Rombongan massa hanya diam membisu. Mereka yang sebelumnya begitu berkoar-koar mendadak ciut dan tampak pengecut.
“Saya juga mendengar kabar bahwa rencana kedatangan saya ke sini telah membuat heboh dan penuh dengan kontrovesi. Selama beberapa jam dalam perjalanan di pesawat saya terus menerus-merenungi hal ini. Renungan itu telah membuat saya tergugah dengan semangat kalian. Saya terharu dan hampir menangis. Ternyata walaupun negara kalian dalam keadaan terpuruk, diteror kemiskinan, korupsi di mana-mana, namun kalian masih sempat mengurusi masalah-masalah sepele ini. Kalian tahu? di negara asal saya Jepang. Saya hampir tidak dipedulikan sama-sekali. Orang-orang di sana terlalu sibuk berpikir, bekerja, dan berkreasi. Mereka terlalu angkuh untuk memperhatikan saya yang hanya bintang porno ini. Mereka selalu mengurusi hal-hal besar. Memang sih, mental seperti itu telah membuat Jepang menjadi bangsa besar, kaya, maju, bermoral, dan berkepribadian kuat. Tapi bagaimana dengan kami publik figur? Kami juga kan butuh perhatian. Namun memang menyedihkan nasib kami, di negara sendiri kami tidak dipedulikan sama sekali. Film-film yang saya perankan hanya menjadi tontonan di waktu senggang yang mereka anggap sekedar karya seni belaka. Saya benar-benar terharu ketika kedatangan saya hari ini disambut ratusan orang dengan sangat meriah seperti ini. Rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya saya ucapkan kepada kalian. Karena walaupun hanya bintang porno, kalian masih memperhatikan saya. Sekali lagi terima kasih”
Wajah Maria Ozawa tampak memelas. Setelah selesai berbicara ia turun dari mobil dan melangkah pergi. Kerumunan massa di sekitar tempat itu tetap diam tanpa kata. Dengan wajah bodoh mereka terbengong-bengong mendengar curhat sang bintang porno. Entah apa yang ada di dalam hati mereka. Malu?, terharu?, marah?. Entahlah............
Perkamil, 18 Oktober 2009......
Miyabi
Label: Cerpen
TAK ADA PAHLAWAN UNTUK INDONESIA
(monumen untuk Munir, Widji Thukul, serta seluruh pencetak cermin yang lenyap di negeri darah)
Wahai Indonesia,
Panggung sandiwara megah
lakon-lakon terpentas gagah
Skenario tersaji indah
Wahai Indonesia,
Rakyatmu penonton setia
Yang tak kunjung tercekik bosan
Walau wajahmu
Seperti film India
Di mana malumu Indonesia?
Kau telanjang di sana
Namun masih melenggok manja
Terus berkata,
“jaketku berwarna cerah”
Sudahlah, Indonesia
Kau bukan lagi balita
Terus sok melucu meski telah renta
Kenakan jubahmu
Jangan sok seksi
Seperti Maria Osawa
Tolonglah Indonesia
Bebaskan rakyatmu
Yang terus-menerus membeli kebenaran
Seperti transaksi DVD porno bajakan
Jangan lagi pengecut Indonesia
Marilah bercinta
kibarkan kelaminmu di udara
Meski gegarnya tak selincah
Peluru negeri eropa
Indonesiaku
Jangan lagi kau tipu diriku
Dengan berita-berita palsu
Yang membuatku gemas itu
Indonesiaku
Jangan lagi kau bunuh pahlawanmu
Cuma karena memajang cermin
di depan wajah kusammu
Aku mohon padamu
Sungguh
Januari 2008
Label: Puisi
Musik Lahir Dari Ketidakpuasan
Semua orang suka musik, Pasti. Tak terhitung alasan yang bisa dibenarkan mengapa kita semua menyukai salah satu bentuk seni paling agung yang diberikan Tuhan ini. Ada yang hanya sekadar suka, ada pula yang memvonisnya sebagai hobi, bahkan ada yang sampai rela menghabiskan bahtera hidupnya hanya untuk berkarya di bidang ini. Manusia memang secara alamiah menyukai keindahan. Media paling awal yang dapat merangsang naluri ini adalah musik. Bahkan, seorang bayi sudah dapat menikmati musik sejak masih dalam kandungan.
Perkembangan musik dunia memasuki puncak kemegahannya pada dekade 60-an. Sejak saat itu musik tidak saja hanya sekadar sebuah karya estetis yang menghibur, melainkan tersulap menjadi sebuah industri mengesankan yang mendobrak paradigma konvensional pada waktu itu. Ditandai dengan kemunculan The Beatles, supergrup paling fenomenal yang pernah ada. Musik bahkan menjadi senjata untuk meruntuhkan nilai-nilai tradisi yang dianggap konservatif dan tidak relevan lagi dengan kehidupan yang telah memasuki era modern. Musisi-musisi yang semula diremehkan keberadaannya karena dinilai sebagai profesi yang tidak mensejahterakan, saat itu mulai mendapat tempat terhormat dimata dunia. Tanpa mengesampingkan sang raja Rock and roll ‘Elvis’, Dalam hal ini kita patut berterimakasih pada The Beatles, empat pemuda asal liverpool yang nekat menuruti kata hati sebagai wujud pencurahan ekspresi terlarang pada masanya.
John Lennon pada masa kecilnya bahkan pernah berucap, ibuku akan memungut kembali puisi-puisi laguku yang ia buang ketempat sampah, setelah aku populer nanti. Sebuah pernyataan yang bagi saya jauh dari kesan lelucon bila melihat kepopuleran John Lennon beberapa tahun setelahnya. Orang tua-orang tua pada waktu itu selalu ingin menyekolahkan anaknya setinggi mungkin dengan harapan kelak bisa menjadi Dokter, BisnisMan, pengacara atau profesi-profesi lain yang mampu menghidupi dan meningkatkan nama baik keluarga. Tentu saja ibunya mencak-mencak melihat John Lennon cilik enggan sekolah dan lebih memilih berdiam diri dikamar sambil menulis lirik-lirik lagu. Namun pilihan yang berani serta kejeniusannya membuat karyanya terus abadi sampai saat ini.
Ya, berani menentukan pilihan. Dalam bidang apa pun setiap revolusi memerlukan orang-orang yang berani menentukan pilihannya. Dari kancah negeri sendiri masih teringat bagaimana Koes Plus dipenjarakan oleh presiden Soekarno lantaran jenis musik yang dibawakan dianggap terlalu kebarat-baratan. Benarkah seni ada batasnya ?
Memang benar kata-kata adalah senjata yang lebih menyayat ketimbang pisau belati. Dengan kata-kata dalam lirik lagunya tercatat sejumlah musisi tanah air diberangus oleh kaum penguasa. Sebut saja Iwan Fals atau Ebiet G Ade. Padahal mereka hanya mencoba jujur dalam berkreatifitas. Ketakutan tak jarang menimbulkan perilaku yang munafik. Dan penguasa adalah sumber ketakutan paling horor pada waktu itu.
Demam The Beatles memunculkan motivasi untuk timbulnya kelompok-kelompok musik yang mempunyai titik berangkat serupa, yaitu ketidakpuasan dengan apa yang sudah ada. Maka lahirlah The Doors, Rolling Stone, The Who, dan lainnya, untuk ikut memberanikan diri mengambil bagian dalam industri ini. Remaja-remaja saat itu mengalami imbas besar-besaran yang berpengaruh pada perubahan gaya hidup. Mereka seperti teracuni dengan tren musik yang berkembang karena kelompok-kelompok musik tersebut tidak hanya merefleksikan karya-karya mereka, melainkan menawarkan sebuah lifestyle baru yang segera mewabah dikalangan anak muda karena dianggap mengaspirasikan hasrat mereka yang lama terpendam. Imbas negatifnya, berbagai jenis narkoba merajalela, free seks sana-sini, semangat memberontak seperti terlecut dan mereka menuntut kebebasan seluas-luasnya. Nama-nama seperti Jimi hendrix, Janis joplin, Led zeppelin, bisa dikatakan sebagai avant garde dalam euforia ini. Setiap pertunjukan yang disuguhkan, tak luput dari bumbu-bumbu yang telah disebutkan diatas.
Pink Floyd, grup besar beraliran progresif rock, mewajibkan setiap penonton yang menyaksikan konser mereka untuk mengkonsumsi ganja terlebih dahulu, Agar dapat menikmati betul setiap lagu yang mereka suguhkan. Atau pentolan-pentolan The Beatles yang membagikan secara gratis LSD, sebuah jenis obat bius, saat konser mereka berlangsung. Hal-hal tadi hanya sebagian kecil dari kenakalan-kenakalan mereka. Belum lagi Jim Morison, bintang maha besar grup The Doors yang bermasturbasi ria di atas panggung. Keusilannya ini bahkan menghantarkan Morison berurusan dengan kepolisian. Ia kemudian mendekam dibalik terali besi karena perbuatan ini. Musik khususnya Rock and roll adalah sesuatu yang mempunyai daya magis tinggi. Bagaikan bola-bola api yang memporak-porandakan segala bentuk yang sifatnya normatif.
Rock and roll menuju ke tahap lebih garang pada era 80-an. Tampaknya Rolling stone, Deep purple, Led zeppelin, di masa puncak mereka, cukup berhasil memanas-manasi anak-anak muda yang masih hijau untuk melestarikan lantunan hingar-bingar mereka. Tidak hanya itu, seolah kurang puas oleh pendahulunya, pewaris-pewaris ini semakin liar berkarya dengan komposisi musik yang lebih menggetarkan telinga. Pada masa ini eksplorasi teknik gitar semakin menjadi-jadi. Muncullah grup-grup baru dengan gitaris-gitaris handal. Angus Young bersama AC DC, Joe Satriani, Steve Vai, Kirk Hammet, hingga Paul Gilbert bersama Mr Big, semuanya secara gagah berkreasi dengan mengatasnamakan panji Hard rock dan Heavy metal.
Boleh dibilang inilah masa klimaks dari perjalanan mengeksplorasi kegilaan musik rock hingga tahap tertinggi. Banyak aliran-aliran baru bermunculan. Death metal, grind core, thrash, dengan aksi-aksi panggung yang semakin gahar.
Tapi apakah rock selalu butuh teknik ?. Ternyata tidak.
Jenuh dengan liukan-liukan melodi yang menyayat, seorang remaja berlatar belakang suram asal Seattle merasa terusik. Bermodalkan kemauan keras serta dua orang teman yang berjiwa serupa, Kurt Cobain mengibarkan aliran baru. Ia mendirikan sebuah band yang akhirnya menjadi kelompok musik terbesar setelah dekade 80-an, Nirvana.
Tren kembali berubah. Kurt berhasil memberi pengaruh kepada semua orang bahwa dengan komposisi yang simpel, musik rock masih bisa menggigit. Dengan hanya mengandalkan 3 kord, grunge merajalela. Rasanya banyak rocker-rocker sebelumnya merasa sakit hati dengan pengkhianatan Nirvana. Tidak sedikit juga yang merasa mempunyai pegangan baru. Pearl Jam, Alice in Chains, Sound Garden ikut ambil bagian di dalamnya. Nuansa-nuansa pemberontakan yang terkandung pada lagu-lagu mereka menjadi panutan generasi muda pada waktu itu. Hingga pada saat ia meninggalpun (1994), pengaruh cita rasa musik Kurt cobain terus mewabah. Unsur alternative yang kental tak urung membuat band-band seperti Smashing Pumpkins, Stone Temple Pilots, hingga Creed masih mewarisi karakter yang dibangun band-band asal Seattle tadi.
Di sisi lain, timbul keinginan musisi-musisi generasi baru untuk menggabungkan musik Rock dengan unsur-unsur yang lain. Setelah Kurt, Band-band lebih memfokuskan diri bagaimana memberikan sound efek yang bagus pada lagu mereka, Dan tidak lagi terlalu memikirkan teknik permainan gitar yang menonjol. Perubahan lain yang signifikan, mereka semakin tenang di atas panggung. Jingkrak-jingkrakan mulai dikurangi takarannya pada setiap aksi panggung. Generasi ini memunculkan aliran Nu metal dan berkembang menjadi Modern Rock. Band-band macam Korn, Limp Bizkit, RATM, memberikan unsur Hip-hop pada karakter Rock mereka. Atau Blink, Green Day, hingga Simple Plan yang lebih memilih mengeksplorasi unsur Punk. Perkembangan selanjutnya ? kita nantikan saja.
Dimuat dalam Buletin Bengkel Musik edisi 1, September 2005.
Label: Esai
SAJAK “PENYAIR” KARYA: WIDJI THUKUL SUATU TINJAUAN SEMIOTIK
Oleh : Dean Joe Kalalo, SS
Pendahuluan
Dalam menjalankan kehidupan sebagai mahluk sosial, manusia tak akan pernah terelakkan dari suatu proses komunikasi. Segala bentuk komunikasi yang terjadi dalam kehidupan memerlukan tanda-tanda yang akan dijadikan titik tolak manusia dalam bernalar. Ilmu semiotika selalu mengacu pada pandangan bahwa, tidak ada satupun di dunia ini yang bebas nilai. Mimik wajah seseorang, bunyi ban mobil yang pecah di jalan raya, atau pernyataan politik yang dikeluarkan para petinggi partai, merupakan tanda yang selalu memiliki makna yang bisa didapati secara langsung maupun makna tersembunyi di baliknya.
Salah satu bapak semiotika modern, Charles Sanders Peirce (dalam Panuti Sudjiman dan Aart Van Zoest, 1992:1) mengemukakan bahwa, logika harus mempelajari bagaimana orang bernalar. Penalaran itu, menurut hipotesis teori peirce yang mendasar, dilakukan melalui tanda-tanda. Tanda-tanda memungkinkan kita berpikir, berhubungan dengan orang lain, dan memberi makna pada apa yang ditampilkan oleh alam semesta.
Tanda-tanda bisa berupa apa saja. Bunyi, gambar, warna, kata-kata, baik verbal maupun nonverbal, dilakukan dengan sadar maupun tidak, dan lain sebagainya. Kajian semiotik bertugas untuk menelusuri makna dari setiap tanda tersebut.
Pada perkembangannya muncul ilmu semiotika yang memfokuskan penelitian pada penelusuran makna sekunder (konotasi) dari sebuah tanda. Ahli semiotika yang sangat terkenal dari aliran ini adalah Roland Barthes. Penelitian yang dilakukan adalah mencari makna tersembunyi yang sering tidak disadari bahkan oleh pembuat tanda itu sendiri. Makna-makna sekunder atau konotasi seperti itu banyak dijumpai dalam karya sastra, khususnya puisi.
Dalam mencari makna teks (puisi), perlu juga diperhatikan konteks atau teks lain yang menyertainya. Halliday menjelaskan bahwa, pengertian mengenai hal yang menyertai teks itu meliputi tidak hanya yang dilisankan atau ditulis, melainkan termasuk pula kejadian-kejadian nirkata (non-verbal) lainnya – keseluruhan lingkungan teks itu. Karena itu, pengertian ini merupakan jembatan antara teks dan situasi tempat teks itu betul-betul terjadi (M.A.K Halliday-Ruqaiya Hasan, 1992:6).
Dari sekian banyak tanda yang bisa menjadi kajian dalam semiotika, pembahasan ini akan memfokuskan pada objek karya sastra yaitu sajak, yakni sajak “penyair” karya Widji Thukul.
P E N Y A I R
1. jika tak ada mesin ketik
2. aku akan menulis dengan tangan
3. jika tak ada tinta hitam
4. aku akan menulis dengan arang
5. jika tak ada kertas
6. aku akan menulis pada dinding
7. jika aku menulis dilarang
8. aku akan menulis dengan
9. tetes darah!
sarang jagat teater
19 januari 1988
Sajak “Penyair” karya Widji Thukul ini adalah sebuah sajak pendek yang hanya terdiri dari 9 larik. Karya sastra, khususnya puisi, selalu kaya akan tanda-tanda. Bahkan, puisi memiliki komposisi tanda yang lebih rumit daripada bentuk tuturan bahasa lainnya. Makna tanda dalam puisi bisa ditelusuri lewat teks, atau sesuatu di luar teks.
Bagian yang terlebih dahulu dibahas dalam sajak ini adalah judul. Bagaimanapun judul sedikit banyak selalu memberikan gambaran tentang isi sajak. “Penyair”, yang menjadi judul sajak ini memiliki makna denotatif yang berarti penulis syair. Atau dalam perkembangannya lebih diartikan sebagai seseorang yang menulis puisi / sajak. “Penyair” adalah kata umum yang memiliki banyak sekali kategori, sehingga menimbulkan pertanyaan, penyair manakah yang dimaksud? Apakah penyair romantik?, penyair sosialis?, penyair pujangga baru, penyair angkatan 66?.
Untuk itu dalam hal ini perlu dikerucutkan maksud “penyair” yang dimaksudkan dalam sajak. Gaya “aku” lirik yang dipakai penulis segera menunjukkan bahwa penyair yang dimaksudkan tak lain adalah penulis sajak itu sendiri, yakni Widji Thukul. Hal ini diperkuat dengan tidak ditemukannya tanda-tanda yang mengindikasikan bahwa sajak ini didedikasikan atau terinsiprasi dari penyair lain. Setelah itu bisa ditelusuri pula, apa yang membedakan Widji Thukul dengan penyair Indonesia lainnya?. Hal ini dirasa perlu karena tidak semua penyair memiliki semangat atau jiwa seperti yang dirasakan Widji Thukul.
Apabila kata “penyair” memiliki makna yang luas, kenapa Widji Thukul menggunakan kata tersebut sebagai judul sajak, yang pada dasarnya adalah sebuah karya individual. Kenapa ia tidak menggunakan judul “aku” seperti yang digunakan Chairil Anwar misalnya, yang lebih bermakna individual. Dari sini bisa dilihat bahwa sang penyair seperti terkesan ingin memaksakan pandangannya bahwa semua penyair harusnya memiliki semangat seperti yang ia miliki. Keterlibatan Widji Thukul dengan banyak aktivis serta organisasi politik kerakyatan, tentu banyak berperan dalam proses kreatifnya sebagai penyair.
Di dalam sajak, “aku” lirik hadir sebagai satu-satunya pembicara yang mengungkapkan isi batin, penghayatan, dan semangat yang muncul berdasarkan pengalaman dalam kehidupan. Penggunaan kata “jika” dan “akan” secara bergantian dalam larik, menunjukkan sebuah pernyataan sikap penulis terhadap suatu keadaan:
Jika tak ada mesin ketik
Aku akan menulis dengan tangan
jika tak ada tinta hitam
aku akan menulis dengan arang
Kata “jika” dan “akan” memberikan persepsi akan sesuatu yang akan dilakukan Si “aku” lirik dalam merespon sebuah situasi yang bisa terjadi padanya. Prospeksi keadaan yang dibayangkannya menyiratkan kekhawatiran dari gejala yang sedang terjadi di dalam kehidupannya saat itu. Di samping itu, pola “jika” dan “akan” yang dipakai penulis, bermakna sebab akibat yang juga mengindikasikan semangat untuk menghadapi kekhawatiran tersebut. Frase “jika tak ada” yang diulang hingga tiga kali, dapat menjadi ikon yang menunjukkan kuatnya semangat sang penyair yang tetap ingin berusaha meskipun berada di tengah situasi “ketiadaan”.
Pada larik ke tujuh bisa didapati simpulan dari apa yang menjadi kekhawatiran penyair:
Jika aku menulis dilarang
Kilmaks dari inti sajak ini terdapat dalam tiga larik terakhir. Ternyata kekhawatiran yang dimaksud penyair adalah kekhawatiran akan terjadinya pelarangan menulis. Lalu siapa yang melarang?, Jenis tulisan bagaimana yang dilarang? Kenapa dilarang? Di dalam sajak ini tidak ada kata atau pun frase yang bisa dianggap sebagai ikon atau simbol yang menunjukkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tadi. Pemarkah deiksis seperti kata penunjuk waktu yang bisa dijadikan ikon informasi, juga tidak terdapat dalam sajak. Untuk bisa menelusuri jawaban tersebut perlu dibahas sisi ekstrinsik dari sajak ini.
Seperti bisa kita lihat di atas sajak ini ditulis pada tahun 1988. Widji Thukul terkenal sebagai penyair yang menyuarakan pemberontakan melawan penindasan dalam puisi-puisinya. Selain sebagai penyair, ia juga dikenal sebagai aktivis yang sering turun langsung dalam demonstrasi membela kepentingan rakyat bawah. Dapat kita ketahui pula pada masa ketika sajak ini ditulis pemerintahan orde baru masih menapaki puncak kejayaannya. Salah satu ciri rezim ini adalah merepresi segala bentuk tulisan yang menurut definisi pemerintah bisa mengganggu stabilitas keamanan negara. Banyak karya tulis yang mengandung unsur perlawanan dibakar atau dilarang terbit.
Seorang penulis tak akan mungkin membuat puisi kekhawatiran seperti itu jika tak ada suatu situasi yang mendorongnya. Prospeksi “aku” lirik yang ditandai dengan kata “akan”, tidak hanya bermakna futuristik. Ketika Si “aku” lirik melakukan proyeksi ke depan, hal itu memiliki korelasi dengan situasi masa sebelum dan ketika sajak ditulis.
Larik pertama, jika tak ada mesin ketik, menunjukkan bahwa Si “aku” lirik atau Si penyair sering menggunakan media mesin ketik dalam menghasilkan tulisan. Di tahun 1988 penggunaan komputer belum merakyat seperti sekarang ini. Barangkali bila Widji Thukul menulis sajak ini di tahun 2000-an, ia akan memilih diksi, jika tak ada komputer.
Pada larik ke tiga, jika tak ada tinta hitam, dan kelima, jika tak ada kertas, menunjukkan makna yang hampir serupa dengan larik pertama, tentang benda yang digunakan oleh Si “aku” lirik. Jika tak ada, memberi makna bahwa objek yang dimaksud sebelumnya ada atau digunakan.
Nomina yang digunakan penyair pada setiap larik yang menunjukkan pernyataan sikapnya, seperti “tangan”, “arang”, “dinding”, “tetes darah”, adalah nomina yang menyimbolkan propaganda perlawanan rakyat bawah. Ketika semuanya dirampas, rakyat hanya tinggal memiliki (yang oleh penyair) disimbolkan dengan tangan, arang, dinding, tetes darah, di mana bagian-bagian tersebut adalah elemen dasar rakyat tertindas yang tak bisa dirampas oleh penguasa.
Kata “tetes darah” pada larik terakhir, memiliki makna konotatif yang mencitrakan tentang keberanian. Makna konotatif diperkuat oleh kehadiran larik sebelumnya, “jika aku menulis dilarang”. Di samping itu, aku akan menulis dengan tetes darah juga adalah metafora dari keinginan untuk rela berkorban sampai titik darah penghabisan. Tiga larik terakhir dalam sajak ini menjadi satu kesatuan yang membentuk sebuah slogan yang mempertegas inti dari makna sajak. Tiga larik tersebut juga mencitrakan manifesto “Penyair” yang menjadi judul sajak, manifesto versi sang penulis, Widji Thukul.
Kesimpulan:
Setelah dilakukan tinjauan semiotik makna sajak menjadi semakin jelas, namun tetap saja ada beberapa kemungkinan interpetrasi yang bisa terjadi sesuai dengan perkembangan waktu:
a. Aku adalah seorang penulis yang memiliki kegelisahan akan keleluasaannya memperjuangkan kepentingan rakyat tertindas melalui tulisan, dikarenakan adanya pihak lain yang merepresi kebebasannya.
b. Meski tidak terdapat pronomina lain selain aku, setelah dilihat sisi ekstrinsik yang mencakup situasi, waktu, dan aktivitas penulis, dapat disimpulkan bahwa pronomina aku mentujukan isi sajak terutama kepada pemerintah dan kepada sesama penyair sebagai pernyataan sikap akan kegelisahan sekaligus semangatnya untuk menghadapi kegelisahan itu.
c. Walaupun situasi “ketiadaan” datang membelenggu aku, semangatnya tak akan luntur. Bahkan, walaupun pihak lain yang lebih memiliki kekuatan dari dirinya (pemeritah penguasa) mengungkung kebebasannya.
Makna “penyair” yang diangkat penulis dalam sajak ini, adalah refleksi dari suatu situasi yang menekan, yang membuat dihasilkannya sebuah pernyataan sikap untuk pantang menyerah melawan tekanan tersebut.
Daftar Pustaka
Sudjiman, Panuti, dan Van Zoest, Aart. 1992. Serba Serbi Semiotika. Jakarta:Gramedia
Halliday, dan Hasan Ruqaiya.1992. Bahasa, Konteks, Dan Teks. Yogyakarta:Gadjah Mada
University Press
Label: Esai
Setelah Pertemuan
Dengan mata
aku tlah mencintaimu
dengan hati
aku tlah mencintaimu
tapi bukan oleh mata dan hati
kau mencinta
sebab cintamu
adalah serentetan
angka-angka bisu
(untuk perempuan yang tak bisa kubeli dengan hati)
Label: Puisi
Kata-Kata
Adakah puisi dicipta
untuk menaklukkan hati?
Adakah hati mencintai puisi?
“Mereka bukan pasangan romantis”
Kata hujan pada siang
Karena setiap pujangga menyimpan kesepian
dan baginya zaman berlinang membawa nista
Adakah puisi dicipta untuk hati?
Jangan kawinkan mereka
Sebelum langit diselimuti luka
Hingga hujan berganti airmata
2006
Based on: Kumpulan Puisi "Jangan Malu Pada Sepi"
Label: Puisi
Pelacurku
Pelacurku
Yang mencucup nafas dalam
Selembar sayang
Menikam wajah dengan senyum
Terbang, rindu malamku
Yang merekah oleh dosa
Dosamu yang lugu
Tersumpal helaian kertas berwarna
Merdu...
Nafas pelacurku
Mencambuk dunia
Sampai pagi ini
Kutemukan setetes airmata
Di atas bantal
Dan kau tersenyum di sofa
sambil menamainya nurani
Pelacurku
Penjajah yang ulung
Kukembarai bibirmu
Hingga bersimbah darah
Terbanglah..
Basuhi lidah-lidah pengkhotbah
Yang najis itu
Based on: Kumpulan Puisi "Jangan Malu Pada Sepi"
Label: Puisi
Sabda Akhir Zaman
Ketika nabi-nabi terpasung,
Berbahagialah jiwa-jiwa yang memuliakan
Tuhan dengan keringat lelah
Karena lidah adalah senjata
Bukan pangkal kemuliaan
2005
Kumpulan Puisi "Jangan Malu Pada Sepi"
Label: Puisi
Episode X
Ketika sajak harus lahir atas nama airmata
ranting-ranting tumbuh di tepian
aku bersembunyi di balik akar
dan membiarkan anak haram
melintas membawa kepedihannya
Bagaimana dengan musim yang tak mencintai air?
Anak haram di sembelih
menebus dosa seorang pengkhianat
yang telah mengering
lalu meminta nisannya dibangun tanpa kata-kata sedih
Ketika sajak harus lahir atas nama cinta
Di manakah laut terdalam untuk membaringkan
hati yang t’lah membatu?
2006
Based On: Kumpulan Puisi "Jangan Malu Pada Sepi"
Label: Puisi
Kredo Pemuja Sepi
Cinta yang jernih selalu meningkahi jiwa
Karena mata perempuan
adalah sumur dangkal yang kabur
Telinga perempuan
adalah kembang puteri malu
di musim penghujan
Sepi yang sejuk
tempat yang selalu ia diami
Cinta jernih tak pernah tampak
karena perempuan
takut menyeberangi danau sepi
Ia datang dan pergi
persis lalat di atas kepalaku
2007
Based on: Kumpulan Puisi "Jangan Malu Pada Sepi"
Label: Puisi
Sajak Rindu Nan Lugu
Semisalkan zaman Shakespeare
Ku’ kan berlari menjemput rindu
Di depan rumahmu
Karena pasti kau mengeluh
Tak menemukan pak pos
Untuk membalas sayangku
Semisalkan kau mendahului hawa
Kan kutelanjangi hutan rimba
Tuk menimang mata air
Yang berlinang di tubuhmu
Karena kutahu kau tak kan menemukan
Merpati tuk membalas salamku
Tapi bukankah Shakespeare dan Hawa telah lama pergi?
tapi di sini aku masih termangu
Menunggu balasan sms darimu!
2006
Bsed on: Kumpulan Puisi "Jangan Malu Pada Sepi"
Label: Puisi
Sajak Kekanak-Kanakan
Aku cinta damai
Tapi mereka tidak
Aku rindu damai
Namun mereka enggan
Aku haus damai
Sedang mereka benci
Lambat-lambat aku bahkan lupa
Damai pernah ada
2007
Label: Puisi
Setiap Bunga-bunga Gugur
Setiap bunga-bunga gugur
Berserak bangkai-bangkai
Tak termakamkan
Kisah-kisah anggun
Tak terungsikan
Badai-badai pasti menggelinding
Menyapu cerita airmata
Namun rindu yang terselip akan terbang
Membawa hantu-hantu
Yang lupa terbantai
2007
Based on: Kumpulan Puisi "Jangan Malu Pada Sepi"
Air Mata Tuhan
Air mataTuhan mendidih
Lalu jatuh ke Bumi
Karena kompor bermerek dosa
Hati Tuhan tercabik
Darahnya membalut pertiwi
Oleh belati berukirkan dengki
Sabar Tuhan berhenti
Teriris angkuh yang enggan menepi
Menggeleparkan tsunami
Indonesia menangis
Di Natal sedih
Saat Aceh merintih
Karena jiwa-jiwa pergi
Tanpa sempat pamit
Kantong-kantong amal bernyanyi
Mengemis perih
Sayang nyawa tak bisa dibeli
Desember 2004
Based on: Kumpulan Puisi "Jangan Malu Pada Sepi"
Label: Puisi
Semua Tangisan
Di sini semua tangisan berkumpul
Tangisan kematian, tangisan kesunyian
Atau apalah nama tangis yang bersandar
Sepi, kabut, bisik-bisik, lalu gelap
Derap langkah berbunyi, lalu tua beriak-riak datar
Semua hati mengenang
Semua hati ingin membuang
Sekat gerigi tak mau lepas
Gesekannya pelan nan menyayat pekat
Birahi menggelincir dipeluh lelah
Siang-siang begini bulu-bulu beraksi ?
Nyanyian tubuh masih memanas, putih, lalu kelabu
Aku atau hati hati yang lain terkapar karang
Ingin pulang melepas malang
Kala belati semakin curam
Doa-doa tersungut entah kemana
Arah-arah culas enggan menabrak takdir
2004
Based on: Kumpulan Puisi "Jangan Malu Pada Sepi"
Label: Puisi
